CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 65 – SPA BRIDAL TREATMENT



Sesampainya di rumah, mereka langsung makan siang bersama kerabat. Setelah sholat dhuhur, ada utusan dari body spa pesanan Mommy untuk melakukan bridal treatment pada Adisti.


Semua peralatan spa portable dibawa ke kamar Adisti. Karpet yang ada di dalam kamar digulung dulu. Bunda menemani Adisti di kamar saat terapis spa mulai melakukan pemijatan relaksasi.


“Dek, Bunda jadi makin sayang ke Nak Bram,” kata Bunda sambil merapikan bantal di tempat tidur Adisti.


“Kenapa Bun?” tanya Adisti dari massage bed.


“Pagi tadi Nak Bram telepon Bunda,” Bunda duduk di atas tempat tidur Adisti.


“Kok Bunda gak cerita?” tanya Adisti, “Abang juga gak ngomong apa-apa ke Adek.”


“Ini Bunda lagi cerita..” Bunda terkekeh, “Tapi tadi kalian gak sempat ngobrol ya. Ma’af ya, kalian kan lagi dipingit.”


“Iya tahu. Lagian juga Abang sibuk banget sepertinya bahas The Cliff dengan yang lainnya. Cuma Disti aja yang gak dilibatkan. Jadi sedih ih. Merasa tersisih. Disti bukan siapa-siapa sih ya Bun..”


“Eh gak boleh berpikiran seperti itu. Nak Bram kan sayang banget ke Adek.”


“Iya..iya..” Disti tersenyum pada Bunda, “Tadi Bunda mau cerita apa?”


“Hmmh tuh kan mau cerita jadi ke-pending. Bunda atret lagi nih? Mundur lagi?” Bunda menggoda Adisti.


Adisti terkekeh.


“Pagi tadi Nak Bram nelepon ibu. Dia minta ma’af setelah insiden kemarin dia membatalkan makan siang bersama kita padahal Bunda sudah menyiapkan makanannya. Dia gak bermaksud menolak makanan Bunda, gak bermaksud juga untuk menghindari kerabat kita,” kata Bunda sambil mengoleskan salep antiseptik di jahitan kepala Adisti, “Perih gak Dek?”


Adisti menggeleng [Gak seperih hati Adek karena diabaikan Abang tadi sewaktu di butik..], “Gak perih lagi kok Bun. Cepat kering ya bekas jahitannya.”


“Kapan jahitannya dibuka?” tanya Bunda lagi.


“Hari Selasa nanti,” jawab Adisti, “Terus gimana Bun?”


“Ya gitu aja. Intinya Bunda merasa lega. Apa yang Bunda khawatirkan tidak terjadi. Bunda bersyukur banget Adek akan dinikahi oleh pria yang baik dan bertanggung jawab seperti Nak Bramasta.”


“Aamiin.. Do’akan kami terus ya Bun.”


“Insyaa Allah. Semua orangtua pasti ingin anaknya bahagia, Dek,” Bunda mengelus kepala Adisti, “Udah ah, Bunda mau ke ruang tengah dulu.”


Adisti memejamkan matanya menikmati pijatan yang dilakukan terapis spa. Bunda mengobrol sebentar dengan kerabat di ruang tengah. Lalu menghampiri Agung yang tengah menggoda sepupu yang lebih muda darinya.


“Kak, sini dulu,” panggil Bunda.


“Iya Bun?” Agung menghampiri Bunda di ruang tamu. Mereka duduk di atas karpet.


“Adek sepertinya sedang merasa gak enak hati karena dicuekin kalian sewaktu di butik..” kata Bunda.


“Kenapa Bun?” tanya Agung.


“Dia merasa tersisih karena tidak dilibatkan dalam pembicaraan kalian tentang The Cliff.”


“Loh gimana sih? Kan The Cliff dan yang berhubungan dengan acara hari H nanti itu surprise buat Adek.”


“Ya Kakak jelasin sana ke Adek. Dia jadi agak murung begitu. Merasa gak dianggap.”


“Ah Adek baperan amat…”


“Udah, Kakak jelasin aja ke Adek. Hibur Adek. Kasihan mau jadi pengantin kok sedih…”


“Iya Bun,” Indra beranjak dari duduknya.


“Eh, Kakak mau kemana?”


“Ke kamar Adek.”


“Jangan. Adek sedang dipijat dan treatment pengantin lainnya,” Bunda berbisik , “Adek lagi gak pakai baju..”


“Haisssh!”


Agung kembali lagi ke tempat ia duduk tadi. Mengambil gawainya.


Agung_Dek, kata Bunda Adek lagi mellow ya_


Adisti_Iya. Mellow kek marshmelo yang kena air_


Agung_Kenapa?_


Adisti_Tauk ah. Males bahasnya juga_


Agung_Uring-uringan nih? Gak mau curhat ke Kakak?_


Adisti_Hmmm_


Agung_Kangen Abang ya?_


Adisti_Nggak!_


Agung_Beneran? Kakak bilangin ke Abang nih.._


Adisti_Serah_


Agung terkekeh lalu memasukkan gawainya ke saku kemejanya.


“Bagaimana?” tanya Bunda.


“Lagi uring-uringan. Gak mau cerita ke Kakak. Biarin aja dulu Bun. Bentar lagi juga bakal berkicau lagi,” Agung terkekeh.


“Kakak yang paling tahu bagaimana menghadapi Adek. Bunda serahkan masalah ini ke Kakak ya..”


“Iya Bun. Tenang aja. Percayakan ke Kakak.”


Agung membantu Bunda berdiri. Bunda melangkah ke ruang tengah. Baru saja Bunda sampai ambang ruang tengah, notifikasi pesan chat masuk berdering berkali-kali terdengar dari gawai Agung.


Agung menunjukkan layar gawainya, “Tuh, Bun.. Kakak bilang apa. Ini ngaburudul pesan masuknya dari Adek.”


Bunda terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


Adisti_Sebel. Udah gak bisa ngobrol dengan Abang, Adek dicuekin pula_


Adisti_Adek sadar diri, Adek cuma lulusan D3. Kalian semua yang terlibat pembicaraan The Cliff kan S1, S2 dan ada yang lulusan luar negeri pula. Semua berpengalaman sedangkan Adek cuma anak bawang_


Adisti_Kalau dibandingkan dengan Adek, Adek bagai remahan bubuk rangginang. Gak berarti_


Adisti_Sedih tahu!_


Agung terkekeh. Mengetik pesan dengan tersenyum pada Adisti.


Agung_Ciyeee yang ternyata kangen tapi ngomongnya tadi gak kangen. Btw, bubuk rangginang juga enak dimakan pakai nasi panas, Dek_


Adisti_Tauk ah_


Agung_Dek, tahu gak kenapa Adek gak dilibatkan tadi?_


Adisti_Tau. Adek gak selevel dengan kalian kan?_


Agung_Ish Adeknya Kakak kok insecure banget sih? Gak seperti biasanya yang selalu PD. Adek lagi dapet ya?_


Adisti_Hmmm_


Agung_(emot ngakak) Pantesan baper banget. Pantesan galak. Eh, kasihan si Abang dong. Malam pengantinnya zonk (emot ngakak banyak)_


Adisti_Rese ih_


Agung_Dek, Adek tadi gak dilibatkan karena kita lagi ngomongin detil tempat acara. Kan Adek sendiri yang menyerahkan segala sesuatunya ke Abang Bramasta. Dan Abang Bramasta menjadikan semuanya itu surprise buat Adek_


Agung_Masih meragukan sayangnya Abang ke Adek?_


Adisti tidak menjawab lagi chat dari kakaknya. Dia lebih memilih untuk merenungi kalimat-kalimat kakaknya sambil menikmati pijatan terapis. Dia menelungkupkan wajahnya di massage bed yang memang untuk bagian kepala itu ada lubang untuk wajah.


Agung menghela nafas. Menatap chatnya dengan Adisti, memastikan tidak ada kalimatnya yang salah pada adiknya.


Agung_Assalamu’alaikum. Bang sedang apa?_


10 menit kemudian Bramasta baru menjawab chat dari Agung.


Bramasta_Sorry, late to answer. Agak ketiduran tadi. Abang sedang dipijat_


Agung_Kok samaan dengan Adisti sih? Memangnya buat calon pengantin pria juga ada treatment-nya ya?_


Bramasta_Mommy milih paket bridal treatment untuk calon pengantin wanita dan pria_


Agung_Enak dong_


Bramasta_Enak pakai banget (emot tawa)_


Agung_Terapisnya cewek?_


Bramasta_Ya nggaklah. Cowok_


Agung_Bang, Adek lagi ngambek tuh. Merasa diabaikan saat kita lagi ngobrol di butik_


Bramasta_???_


Bramasta_Diabaikan bagaimana?_


Agung mengirimkan beberapa screenshot dari chatnya dengan Adisti.


Bramasta_Sekarang masih ngambek gak?_


Agung_Gak tahu, dia gak balas chat Aa_


Bramasta_OK. Nanti Abang bicara sama Disti_


Agung_Yang sabar menghadapi Adek ya Bang. Lagi mode galak si Adeknya_


Bramasta_(emot tawa) Iya Abang udah tahu dari semenjak di rumah sakit. Mode galaknya sama dengan Kak Layla dan Mommy kalau lagi PMS_


Agung_(emot ngakak)_


Adisti tengah tertidur saat dikejutkan dengan notifikasi panggilan masuk dari Bramasta. Terapis spa tengah memijat pinggangnya. Adisti menyalakan loudspeakernya.


“Assalamu’alaikum..” suara Adisti masih terdengar mengantuk.


“Wa’alaikumussalam. Enak pijatannya?” tanya Bramasta.


“Iya. Bilangin ke Mommy, thanks so much ya.”


“Disti suka?”


“Suka banget.”


“Ya udah nanti dijadwalkan saja rutinitas Disti untuk spa treatment ya? Mau sebulan sekali atau sebulan dua kali?”


“Eh, gak usah Bang. Berlebihan banget.. Nggak, nggak..”


“Udah gak apa-apa. Selama Disti suka dan itu baik buat Disti.”


“Tapi kan mahal, Bang.”


“Insyaa Allah Abang sanggup bayarinnya.”


“Nggak Bang..”


“Udah, nanti Abang yang jadwalin ya. Disti terima beres aja. Jangan nolak. Abang gak suka ditolak.”


“Ya udah. Disti kan jadi enak.”


Bramasta terkekeh.


“Masih uring-uringan dengan yang di butik tadi? Masih merasa tersisih?”


“Eh kok Abang tahu sih? Ish ini pasti Kakak nih cerita ke Abang ya?”


Bramasta tidak menjawab dia hanya tertawa.


“Nggak kok Bang. Tadi udah dijelasin oleh Kakak. Udah gak uring-uringan lagi. Disti sadar Disti yang lebay dan baperan. Maafin ya…”


“Terus masih merasa insecure lagi dengan gelar akademik?”


Adisti terdiam.


“Disti mau kuliah lagi?”


Adisti masih terdiam. Terapis memijat dibagian yang memang terasa pegal semenjak peristiwa tendangan cantiknya. Adisti tanpa sadar melenguh.


Bramasta tidak bersuara.


“Iya Mbak, disitu pegel banget,” kata Adisti kepada terapis spa.


Mbaknya mengangguk, “Iya Nona. Ototnya kaku sekali dibagian ini.”


Dia memijat dengan terampil dan professional. Memberi tekanan yang lebih kuat di area pegalnya Adisti. Adisti melenguh lagi.


“Ng… Disti,” suara Bramasta terdengar berubah, kemudian berbicara cepat, “Mmmm I think I get a wrong time to make a call with you. Nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita ya. Assalamu’alaikum, Disti. Love you.”


Bramasta langsung mematikan panggilannya.


“Halo.. Abang.. Ih, gimana sih. Kok langsung dimatiin?” Adisti mencebik kesal.


Adisti mengetik cepat kepada kakaknya.


Adisti_Kak, Kakak ngomong apa saja sih ke Abang? Adek belum selesai ngobrol kok langsung dimatiin teleponnya_


Agung_Abang sedang sibuk kali_


Adisti tidak menjawab lagi.


Agung menghubungi Bramasta lewat pesan teks.


Agung_Bang, kok Adek jadi marah-marah sih? Katanya dia belum selesai ngobrol dengan Abang tapi langsung dimatiin teleponnya._


Bramasta_Bukan begitu.. saat ditanya Adisti diam saja. Kayaknya sedang menikmati banget dipijatnya sampai mendesah-desah begitu. Abang kan laki-laki normal, Kakak Ipar. Mendengar yang seperti itu kan auto travelling pikiran ini… (emot tawa)_


Agung_Astaghfirullah.. si Adek. Dasar bocah_


Bramasta_Kakak Ipar, Adisti jangan dimarahi ya. Dia gak nyadar aja. Bukan kesengajaan_


Agung_Maaf ya Bang.. kelakuan si Adek bener-bener deh_


Bramasta_It’s OK. Abang jadi makin sayang.._


Agung_Haisssh. Mulai deh… mulai…_


***


**Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..


Haisssssh Adisti kadang ya.. kadang-kadang tuh emang gitu**...