
Hans balas mengangguk lalu memulai berbicara dengan bahasa Inggris. Pemrograman yang dipakai Prince Zuko menyamarkan suara dan aksen berbicara Hans. Teks bahasa Indonesia otomatis muncul di bawahnya.
“Selamat sore, Indonesia. Perkenalkan saya Prince Zuko dari Negara Api. Saya datang dalam damai, tidak bermaksud membuat permusuhan dengan negara yang hijau dan biru ini.”
Hans jeda sejenak, pada layar tampak Prince Zuko tengah menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Saya, Prince Zuko dari Negara Api akan menunjukkan sebuah rekaman video. Real video tanpa settingan yang terjadi 15 menit yang lalu yang terjadi di The Ritz Salon & Boutique milik Rita Gunaldi, istri dari seorang pemilik tempat hiburan malam terbesar dan sangat berpengaruh di Pulau Batam yang kini tengah ditahan di Singapura atas kasus penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur warga negara Singapura dan TKP kejadian di Singapura.”
Hans terdiam lagi untuk memberi jeda. Prince Zuko tampak tersenyum pada layar.
“Tokoh utama yang terlibat dalam video ini adalah Rita Gunaldi sendiri dengan seorang aparat berpangkat jenderal bintang dua yang selama ini dikenal luas oleh warga Indonesia sebagai tokoh yang humble dan humanis. Tokoh tersebut ternyata menjadi backing untuk kegiatan haram yang dilakukan oleh pasangan suami istri tersebut.”
Hans memberi jeda, lalu memberi kode kepada Anton untuk bersiap.
“Indonesia, silahkan saksikan.”
Hans melepas headphonenya. Anton menekan tombol enter. Video dari kamera penyadap berputar saat Tuan Thakur dan anak buahnya berjalan dari pelataran parkir menuju foyer The Ritz.
“Ton, cek kamera CCTV luar saat tembakan terakhir dari senjata Tuan Thakur meletus,” perintah Bramasta yang berdiri dengan wajah tegang.
“Ah ya..” Indra memandang Bramasta dengan wajah yang sama tegangnya, “Suara benturan logam dan suara logam yang terseret itu...”
Bramasta mengangguk. Indra memandang Adisti dengan raut cemas.
Anton mengangguk mengerti. Dia memunculkan lagi penampakan luar gedung The Ritz yang tadi sempat di-off-kan karena fokus pada kejadian di dalam gedung.
Jalanan lengang. Langit juga mulai mendung di luar The Ritz. Dari ujung belokan, motor Honda CBR hitam terlihat dengan pengendaranya yang memakai jaket kulit hitam dan helm full face dengan garis warna oranye stabilo. Di stang motornya tergantung 2 kresek putih dengan logo gerai donat.
“Subhanallah, itu Agung!” seru Indra sambil menutup bibirnya.
Adisti merintih pelan. Tangannya membekap bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangis.
Ada sekelebat benda kecil berwarna putih yang melesat menuju Agung yang berkendara dengan perlahan dari arah gedung The Ritz. Kemudian motor tampak tidak stabil sebelum tubuh Agung menelungkup di atas stang motornya.
Tidak berapa lama, motor oleng, tubuh Agung terjatuh dari motornya. Motornya yang rebah masih melaju meninggalkan pengendaranya di atas aspal sebelum berhenti membentur pinggiran trotoar.
“Allahu Akbar!” Hans berseru sambil berdiri, menyugar rambutnya.
“KAKAK!” seru Adisti yang langsung dipeluk Bramasta.
Gawai Anton berdering. Anton segera menerimanya.
“Wa’alaikumussalam.” Jeda. Anton memandang Bramasta lalu Adisti.
“Ya, kami saat ini sedang melihat tayangan CCTV luar The Ritz saat suara tembakan terakhir terdengar.”
“Kondisi Pak Agung bagaimana?” Jeda.
“Sudah panggil ambulans?” Jeda.
“Ton, loudspeaker!” perintah Bramasta.
Anton mengangguk. Dia menekan tombol loudspeaker. Dari kejauhan terdengar suara sirine ambulans yang ditimpali dengan suara sirine mobil polisi.
“Pak, ada banyak mobil polisi!” Joker melaporkan.
“Pasca kejadian tadi, adakah mobil yang keluar dari The Ritz?” tanya Anton.
“Tidak ada, Pak. Hanya saat terdengar bunyi tembakan pertama, orang-orang dari arah The Ritz berhamburan keluar. Kebanyakan pengunjung salon karena banyak di antara mereka yang mengenakan kain penutup salon.”
“Laporkan kondisi Agung!” suara Bramasta terdengar tegas.
“Pak Agung, saat kami dekati, sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Jalanan basah karena hujan bercampur kopi dan darah Pak Agung.”
“Siapa yang mendampingi Agung saat ini?”
“Sol, Pak. Baru saja ambulans meninggalkan tempat ini. Sol ikut mendampingi Pak Agung di dalam mobil ambulans.”
“Ke rumah sakit mana?”
“Saya kurang tahu Pak. Coba hubungi Sol.”
Kemudian terdengar suara tembak menembak antara polisi dengan orang-orang di dalam The Ritz. Panggilan terputus.
Panik. Itu yang ada di TKP dan di apartemen.
Indra menghubungi Sol. Langsung mengaktifkan loudspeaker.
“Assalamu’alaikum, Sol. Laporkan kondisi Pak Agung.”
“Wa’alaikumussalam,” Sol tampak kebingungan untuk menjawab.
“Sol?”
“Iya Pak Indra, ma’af. Pak Agung masih dalam kondisi tidak sadarkan diri. Para tenaga medis berusaha mengurangi pendarahan yang terjadi. Pinggir punggung Pak Agung tertembak, sepertinya pelurunya tembus ke dada kanan. Saturasi oksigennya turun. Nafasnya tersengal-sengal saat kami mendekati Pak Agung.”
Pecah tangis Adisti mendengar penjelasan anak buah Anton.
“Sol, minta supir ambulans mengarahkan ke rumah sakit XX. Nanti saya siapkan tenaga medis di sana untuk menyambut kalian.”
“Baik Pak Indra.”
Dia langsung membuat panggilan dengan direktur UGD. Menjelaskan kondisi dan situasi pasien. Pihak rumah sakit langsung menyiapkan ruang operasi dan tim dokter untuk menangani Agung.
“Bram, lu dan Adisti langsung ke rumah sakit. Gue jemput Ayah dan Bunda sekalian mengabari Om dan Tante Al. Kita bertemu di rumah sakit.”
Bramasta mengangguk.
“Bang Hans dan Anton tetap di sini untuk menyelesaikan misi kita. Tayangkan juga apa yang terjadi di luar The Ritz.”
Indra memberi perintah dengan cepat.
“Dis, yang kuat ya. Ini tidak mudah bagi kita semua. Kita butuh kamu untuk kuat, menguatkan Ayah, Bunda, juga Agung,” Indra memandang Adisti dengan tatapan seorang kakak kepada adiknya.
Adisti mengangguk cepat sambil mengusap air matanya. Jemarinya memegang erat jemari suaminya. Mencari kekuatan dalam genggaman suaminya.
Bramasta segera ke kamarnya untuk mengambil jaket miliknya dan istrinya. Lalu segera menarik tangan istrinya untuk menuju tempat parkir. Diikuti Indra.
“Kami pergi dulu. Assalamu’alaikum.”
Semua menjawab salam Bramasta.
“Fii amanillah.”
Hans memandang Anton.
“Tarik Joker dari TKP. Gambar yang didapat, gue rasa sudah cukup. Dia harus keluar dari sana tanpa menarik perhatian polisi.”
“Bang Hans, bersiap Bang. Tayangannya sebentar lagi habis. Prince Zuko on stage now.”
Hans mengangguk, dia memakai headphone lagi. Kejadian yang terjadi membuatnya serak. Dia berdehem untuk menghilangkan seraknya.
Anton kembali menghitung dengan jarinya. Pada hitungan ketiga dia menganggukkan kepalanya ke arah Hans.
“Indonesia, Saya Prince Zuko dari Negara Api, tembakan terakhir yang terdengar dari arah The Ritz, mengenai seorang pemotor yang melintas. Kondisinya kritis. Berikut video yang diambil dari CCTV luar The Ritz saat peristiwa terjadi.”
Anton menekan tombol enter. Video yang sudah ia edit, video dalam ruangan saat terjadi perebutan senjata yang terakhir antara Rita dan Tuan Thakur dan saat Agung terjatuh diulang beberapa kali dan diperlambat videonya saat peluru melintas hingga mengenai tubuh Agung. Zoom in pada lintasan peluru untuk memperjelas video. Video singkat sekitar 3 menit 14 detik.
Anton memberi tanda pada Hans untuk berbicara lagi.
“Indonesia, Saya Prince Zuko dari Negara Api, melaporkan saat ini di The Ritz terjadi tembak menembak antara aparat kepolisian dengan anak buah Rita dan Ferdi Gunaldi. Harap untuk tidak mendekati lokasi. Saya, Prince Zuko dari Negara Api, undur diri. Terima kasih.”
Anton mengangguk lalu memutuskan koneksi dengan burung biru dan 2 TV Swasta Nasional yang ia bajak untuk melakukan breaking news.
Gawai Hans berdering, anak buahnya melaporkan tentang kehebohan di sosial media dan masyarakat penonton TV.
Anton membuat panggilan dengan Joker, “Assalamu’alaikum, Jok. Bagaimana situasi di sana?" Jeda.
“OK. Kamu tinggalkan mobil, bawa barang-barang kita. Clean up all_Bereskan semuanya_. Understood?_Mengerti?_” Jeda.
“Selagi suasana di sana masih chaos_kacau_, kamu bisa menyelinap dengan mudah. Undercover mode!_Mode penyamaran!_” Jeda.
“OK. Langsung naik angkot. Lalu turun ganti angkot lainnya. Pakai ojek pangkalan saja jangan ojek online ke tempat makan. Makan malam dulu. Baru kamu pulang, pakai angkot ya. Jangan taksi ataupun ojek online.” Jeda.
“Stay keep in touch_Tetap saling berhubungan_. Fii amanillah, Jok. Assalamu’alaikum.”
Anton mengakhiri panggilannya. Dia memandang Hans yang tengah melakukan panggilan dengan Tuan Alwin. Hans hanya menjawab, “Ya Tuan” atau, “Tidak Tuan”. Wajah Hans tampak tegang.
"Baik Tuan. Kita bertemu di rumah sakit. Tuan Bramasta dan istri sudah berangkat terlebih dahulu ke sana. Indra langsung menjemput Bapak dan Ibu Gumilar.” Jeda.
“Iya Tuan, rumah sakit milik Nyonya.” Jeda.
“Indra sudah mengatur semuanya dengan direktur UGD.” Jeda.
“Saya dan Anton OTW ke rumah sakit sekarang.” Jeda.
“Baik Tuan. Assalamu’alaikum.”
Hans mengakhiri panggilannya.
Anton menunggui Hans.
“Bang, peralatan ini bagaimana?”
“Tinggalkan saja di sini. Sudah rapi logout semuanya kan?”
Anton mengacungkan jempolnya.
Hans mengangguk, “Ayo!”
.
***
Makin menegangkan. Mudah-mudahan Agung gak parah ya.
Jangan sampai jadi amnesia, terus lupa semuanya, lupa Adinda... halaaagh, itu sih cerita cap ikan terbang.
Author gak bakal bikin cerita basi model begitu 😉
Keep stay tune ya Readers🌷