CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 79 – THE UNTOUCHABLE



Pagi itu WAG Kuping Merah ramai yang diawali dengan chat dari Anton yang mengirimkan beberapa cuplikan video yang diambil masyarakat dan juga kehebohan netizen dengan tebing yang mendadak menjadi warna-warni dan dijadikan “layar tancap”.


Leon yang harus dijelaskan tentang kata layar tancap oleh Hans karena dia tidak tahu maksud dari kata layar tancap.


Anton_Bramasta & Adisti mengguncang jagat maya lagi. Mudah-mudahan public gak bosan dengan kemunculan mereka terus_


Leon_Publik baru ngeh mereka menikah kemarin petang ya gegara tebing layar tancap_


Hans_Ide siapa sih, tebing layar tancap?_


Indra_Siapa lagi kalau bukan Anton. Surprise gift dari B Crews juga ide dia tuh. Waktu itu minta tolong gw buat minta copy-an CCTV teras lobby dan lift saat jam 10 an_


Anton_Dih, buka rahasia_


Hans_Tapi keren banget. (Emot jempol banyak)_


Agung_Congrats Bro Anton, bentar lagi bonus cairrrrr. (Emot ngakak)_


Leon_BTW, Bramasta belum muncul juga nih?_


Indra_Yaelah.. kayak yang gak tahu aja. Lagi punya mainan baru ya anteng dong dianya..(Emot ngakak)_


Leon_Ndra, lu gak lupa kan menyampaikan pesan Layla ke Bram?_


Indra_Ya nggak lah. Justru gegara menyampaikan pesan Kak Layla, mata gue dan Agung sudah tidak suci lagi…(emot sedih)_


Hans_Whattt? Kalian ngapain di apartemen Bram?_


Agung_Kita berdua tidur di sana (emot tawa)_


Anton_Ciyus lo?_


Agung_Ciyus lah_


Leon_Mon Dieu! Kalian ngapain tidur di apartemen Bram? Mau gangguin mereka???_


Indra_Issh nuduh. Ya nggak lah_


Anton_Terus ngapain?_


Agung_Mereka berdua butuh dukungan moril dari kita_


Hans_Bener-bener ya kalian!_


WAG mendadak penuh dengan stiker ngakak.


Bramasta_Kalian lagi ghibahin gw ya? Lanjutkan! Gw mau lanjutin main_


Indra_Bram, kita gak diajakin nih?_


Hans_Hissssh!_


Perang stiker ngakak dimulai lagi.


***


The Ritz


10.54


Rita menatap garang pada 3 orang polisi di dalam ruangan kantornya.


“MAKSUDNYA APA INI ??!!”


“Anda kami tangkap sebagai tersangka tunggal penyerangan terhadap Nona Adisti Maharani,” kata seorang polisi berjaket kulit hitam.


“Ini surat penangkapannya. Silahkan ikut kami ke kantor polisi,” seorang petugas polisi bertubuh jangkung menyodorkan surat penangkapan dengan kop surat resmi dari instansinya.


“Enak saja. Tidak bisa seperti itu!” Rita menjawab dengan ketus.


“Mohon Ibu tidak melawan saat ditangkap,” suara lembut dan membujuk seorang polwan sepertinya tidak bisa mendinginkan hati dan kepala Rita.


“Kalian tidak tahu siapa saya?? Kalian tidak tahu siapa orang besar di belakang saya?? Kurang ajar sekali kalian!” Rita merebut surat perintah penangkapan dirinya.


Membacanya dengan penuh emosi. Matanya membelalak saat membaca nama pelapor.


“Alwin Sanjaya?? Saya gak pernah ada urusan dengan Alwin Sanjaya!! Ini pasti salah alamat.”


“Pada saat Anda menyerang Nona Adisti, status Nona Adisti adalah calon menantu dari Tuan Alwin Sanjaya.”


“APAA??!! Anak kampungan miskin sok suci itu calon menantu Alwin Sanjaya?? Hebat banget. Pakai pelet apa dia? Lepas dari calon menantu Hilman Anggoro lalu menjadi menantu Alwin Sanjaya??” Rita meremat surat perintah penahanan dirinya.


“Kemarin Nona Adisti sudah sah menjadi menantu Tuan Alwin Sanjaya.”


“APAA?!!” Rita memandang penuh kebencian kepada tiga orang polisi dalam ruangannya.


“Mereka sudah menikah kemarin petang. Ibu tidak melihat sosial media ataupun televisi?”


“KALIAN PIKIR SETELAH KALIAN MENGAMBIL SUAMI SAYA, SAYA MASIH PUNYA MINAT UNTUK MENONTON TV ATAUPUN MELIHAT SOSIAL MEDIA ??!!!!” Rita menjerit kencang. Tubuhnya berguncang. Dia menangis.


“Kenapa kalian lakukan ini kepada saya? Kenapa ini terjadi berurutan??! KENAPA??”


“Ibu harus mempertanggungjawabkan perbuatan Ibu. Silahkan ikut kami.”


“Saya tidak mau ke kantor polisi bila tidak didampingi oleh pengacara saya!” Rita menyusut air matanya dengan kasar.


“Silahkan hubungi pengacara Ibu. Kita bertemu di kantor polisi.”


Polisi berjaket kulit hitam memberi kode kepada polisi wanita. Polisi wanita itu mengangguk lalu lalu mengeluarkan borgol dari gantungan ikat pinggangnya.


“Gak perlu diborgol! Saya tidak akan melawan. Saya tidak akan kabur!” ketus Rita, “Kalian akan menyesal sudah menangkap saya. Kalian akan menyesal sudah memperlakukan saya dengan hina seperti ini!!”


“Ibu mengancam kami?” petugas polisi bertubuh jangkung maju ke hadapan Rita.


Rita terkejut. Dia mundur selangkah.


“Tidak perlu mengintimidasi seperti itu. Saya tandai kamu!” Rita membaca nama yang tertulis di dada polisi itu, “Ahmad Yani! Pangkat masih bharada tapi belagu!”


“Ibu menghina saya??” Bharada Ahmad Yani maju lagi selangkah.


Rita mundur lagi.


“Sudah cukup!!” polisi berjaket hitam tampak naik pitam, “Terlalu banyak omong. Angkut saja!”


Polisi wanita menggiring Rita keluar. Kehebohan terjadi saat mereka berada di luar ruangan. Para pekerja butik yang menanti di depan pintu langsung memberondong Rita dengan berbagai pertanyaan.


“Dan gak usah mempergunjing saya di depan klien ataupun di tempat kerja. Atau saya pecat kalian!” Rita menaikkan suaranya.


Mereka hampir tiba di foyer. Rita berhenti mendadak lalu memerintahkan kepada salah satu pegawainya, “Blokir foyer. Saya tidak mau klien salon melihat saya dibawa para polisi ini!”


Pegawai itu mengangguk.


***


Apartemen Landmark Residence


Penthouse Floor


10.54



“Ambil koper Disti yuk,” ajak Bramasta.


“Dimana?” tanya Adisti sambil menyuap ravioli bawaan semalam yang dikemas oleh petugas catering.


Sarapan kesiangan karena acara mager dan tidur lagi membuat mereka tidak memasak apapun. Hanya menghangatkan makanan yang dibawa oleh driver dini hari tadi dengan microwave.


“Rumah utama,” Bramasta menatap mata coklat Adisti, “Disti belum pernah ke rumah utama kan?”


Adisti menggeleng, “Tapi Disti pakai baju apa? Ini aja cuma pakai Tshirt Abang. Untung tubuh Disti ceper, jadinya seperti daster.”


[Duh, Ralph Laurent dijadiin daster oleh bini gue. Owner butik bakal kena mental, nih..] Bramasta menggigit bibirnya supaya tidak tertawa.


“Disti juga gak pakai br@…” gumam Adisti sambil menutupi wajahnya karena malu.


“Gak apa-apa. Abang suka kok..” Bramasta mengucapkannya dengan suara pelan dan berwajah merah.


“Udah selesai makannya?” ucap Adisti canggung.


Adisti berdiri sambil membawa piring kotor ke pantry dibantu Bramasta.


“Biar Abang aja yang nyuci piring,” kata Bramasta.


“Nggak.. Disti aja. Sekalian ngapalin laci rak untuk peralatan makan.”


Bramasta mengambil apel di kulkas lalu mengupasnya. Menyuapi Disti yang tengah mencuci piring dengan potongan apel. Suapan terakhir, Bramasta meletakkan dagunya pada kepala Adisti.


“Kena lukanya gak kalau diginiin?” bisik Bramasta.


“Nggak. Asal dagunya jangan digerak-gerakin aja.”


“Iya nggak..”


“Memangnya kenapa?”


“Dari semenjak lihat Disti sudah sadar di rumah sakit, Abang ingin melakukan ini..”


“So sweet banget sih suami Disti..”


“Disti, Kak Layla rupanya sudah menyiapkan baju-baju untuk Disti di samping lemari Abang. Abang baru tahu tadi pagi sewaktu Indra ngomong,” kata Bramasta sambil memeluk Adisti dari belakang.


Adisti menoleh cepat , “Isssh tau gitu mah tadi habis mandi langsung pakai baju bener.”


“Lah, kan itu baju bener? Bukan baju bohongan. Bukan baju sobek-sobek juga.”


“Maksud Disti, pakai baju lengkap. Gak kayak sekarang.”


“Kan Abang sengajain…” Bramasta terkekeh.


“Abang ih, modus!”


***


Sanjaya Group


14.20


Gawai Hans berdering. Hari ini dia memegang kendali Sanjaya Group karena Tuan Alwin masih cuti. Hans yang tengah membaca tabel-tabel angka dari laptopnya menghentikan kegiatannya. Membaca nama yang tertera di layar, Tn. Armand, Hans segera menekan tombol hijau.


“Assalamu’alaikum Tuan Armand.” Jeda.


“Iya, hari ini kan?” Jeda lama.


Hans meremat gawainya dengan kuat.


“Apa tidak bisa dipatahkan jalur belakangnya?” Jeda.


“Give me a name, please?” Jeda.


“Nanti saya akan cek nama tersebut dan keterkaitannya dengan Rita dan Ferdi Gunaldi.” Jeda.


“Hubungi Tuan Alwin. Saya yakin ini akan menjadi berita yang tidak bagus untuk diterima Tuan Alwin. Nanti saya akan hubungi yang lainnya. Kita ketemu di Sanjaya Group saja ya dengan semuanya. Jam berapa Tuan Armand bisa ke sini?” Jeda.


“OK.” Jeda sejenak.


“Wa’alaikumussalam.”


Hans langsung menghubungi orang-orang yang bekerja untuknya untuk menggali informasi. Informasi apapun, baik yang hitam ataupun putih. Orang-orang kepercayaannya dengan akurasi informasi yang disampaikan tidak diragukan lagi.


Hans tidak menggunakan pesan text karena pesan text mudah dilacak. Gawainya mempunyai perangkat anti lacak untuk panggilan telepon.


“Assalamu’alaikum. Tolong cek Jenderal XX. Dan cari keterkaitannya dengan Rita dan Ferdi Gunaldi.” Jeda.


“Butuh waktu berapa lama?” Jeda.


“OK. Saya tunggu infonya. Assalamu’alaikum.” Hans mematikan panggilan teleponnya.


Kemudian dia mulai mengetik cepat di aplikasi pesan chat. Untuk WAG Kuping Merah.


Hans_Laporan dari Tuan Armand, Rita tidak bisa ditahan. Dia punya backing orang berpangkat jenderal bintang dua. Sepertinya dia orang yang sangat kuat_


Hans_Semua anggota WAG, kumpul di Sanjaya Group after office hour ya. Kita meeting bersama Tuan Armand dan Tuan Alwin_


***


Hmmm Rita ini benar-benar ya bikin gremet..