CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 215 – RUANG RAPAT SHADOW TEAM



“Jadi apa maksud Kinanti menanyakan seperti itu pada Adinda?” tanya Pak Dhani saat mereka sudah berkumpul di markas Shadow Team, menunggu Hans membuka meeting sore itu.


“Sepertinya dia ingin membuat rumor mengenai saya yang menyalahgunakan wewenang dengan berkencan saat jam kerja. Dengan mendiskreditkan Adinda yang masih anak sekolahan.”


“Kalau ada rumor yang beredar tentang itu berarti kita sudah tahu sumbernya siapa..” kata Indra sambil mencebik kesal.


“Yang mana orangnya sih Kak?” tanya Adisti terdengar gregetan.


“Yang minjemin selimutnya buat kamu saat kamu dan Abang lagi marahan...”


“Ck... detil amat sih ingatnya,” Bramasta berdecak.


“Kita kan udah gak marahan lagi, Sayang..”Adisti mengelus lengan suaminya.


“Besok akan gue suruh dia menghadap saya. Walau bagaimanapun, Adinda itu adik gue yang harus gue lindungi. Gue juga gak mau kantor gue jadi tempat tukar gosip seperti itu..” Hans datang setelah dia membriefing anggotanya. Anton masih bersama para anggota Shadow Team.


“Thanks Bang..” Agung menatap Hans dengan senyum.


“Kita semua tahu alasan Lu mengundang Adinda ke kantor.Kita juga bisa memaklumi Lu gak bisa makan siang di tempat lain selain di kafetaria kantor,” Han mengangguk lalu menatap Agung, “Untuk sementara, Lu jangan ke tempat umum dulu tanpa kita-kita, Gung. Sambutan hari pertama ke Lu aja seluarbiasa begitu apalagi kalau di tempat umum.”


“Jangan-jangan nanti peristiwa kupat tahu gempol terjadi lagi ya,” Indra menatap Bramasta dan Adisti bergantian.


“Cuma gue yang belum pernah merasakan kupat tahu gempol..” Leon yang sedari tadi diam saja karena sibuk membalas email membuka suara. Membuat semuanya menoleh pada Leon.


Mereka tertawa bersama melihat ekspresi Leon yang kebingungan melihat mereka memandanginya.


“Ma’af Bang, untuk yang satu itu gak bisa dibawa ke Singapura..” Adisti terkekeh.


“Kenapa?” Leon menegakkan tubuhnya.


“Basilah..” Pak Dhani terkekeh.


“Ajak Abah dan Maman ke Bandung kalau mau cobain kupat tahu gempol. Kita makannya di rumah Ayah dan Bunda saja biar enak..”


Agung mengangguk setuju.


“Apalagi kalau makannya di dekat kolam ikan, kita gelar tikar buat lesehan, ya Dek..”


“Yuk.. kita jadiin,” Hans bersemangat menanggapi cerita Agung, “Kapan? Sabtu ini ya?”


“Gue pindahan Bang..” Agung tersenyum lebar.


“Eh? Jadi Lu, ambil unit di dekat Anton?” tanya Hans lagi.


Agung mengangguk.


“Ya udah.. hitung-hitung acara selametan buat pindahan Lu. Nanti kita bantuin deh.."


“Memangnya Kakak pindahan bawa perabotan?” Adisti memicingkan matanya menatap Agung.


Agung menggeleng.


“Paling bawa baju, sepatu, laptop, koleksi Kakak..”


“Bunda sudah tahu tentang koleksi Kakak?”


Agung menggeleng, “Dinda bantuin bersihin sebelum dimasukkan ke kotaknya. Kotaknya dipakaikan bungkus kado sekarang..” Agung terkekeh.


Pak Dhani mengerutkan keningnya, “Koleksi apaan, Gung?”


“ Action figurenya Batman, Pak..”


Pak Dhani tertawa sambil melirik Indra.


Hans menatap dinding kaca di belakangnya. Memperhatikan Anton yang sudah berdiri dari kursinya dan melepas headset dari kepalanya.


Interior markas Shadow Team dibuat seperti dengan beberapa sekat yang saling terintegrasi. Ada ruangan yang penuh layar monitor berbagai ukuran yang menyala. Tampilannya ada yang hanya bilangan binari, bahasa-bahasa mesin, juga bahasa pemrograman.


Ada juga layar yang dibagi menjadi beberapa bagian. Beberapa menunjukkan tulisan ALLERT dengan warna merah berkedip.


Saat ada yang bertanya, Hans menjelaskan, situs Prince Zuko ada yang menyerang tapi baru serangan di pagarnya saja. Yang diwaspadai saat tulisan alert berubah warna menjadi putih, musuh sudah mulai masuk ke halaman situs.


Kata Hans, pada saat Prince Zuko melaunching kasus Adinda yang merambah ke Helena Schmidt, beberapa menit kemudian, layar yang terbagi menjadi beberapa bagian itu menyala merah semua.


Tapi kemudian berangsur reda setelah di takedown oleh team shadow sendiri ataupun dari pihak luar yang membantu Prince Zuko.


“Sudah, beres?” tanya Hans pada Anton yang baru masuk.


Anton mengangguk. Dia menunjuk pada dinding kaca di hadapannya.


“Layar yang baru itu, khusus tampilan para outsider yang membantu Prince Zuko, jadi tidak bercampur dengan kerja Shadow Team,” Anton menunjuk pada monitor dengan list putih, berbeda sendiri dengan monitor lainnya yang semuanya hitam. Monitor itu terbagi menjadi beberapa bagian. Beberapa masih berkedip merah.


“Gak nyangka, damage-nya_daya rusaknya_Lu parah banget, Ton..” Agung menepuk bahu Anton.


“Asal jangan anak gadis orang aja yang dirusak, ya gak Beh?” Hans terkekeh.


Pak Dhani mengangguk-angguk sambil terkekeh.


Hans berdehem.


“Kita mulai?” Hans berdiri memimpin sambil menggenggam remote kecil di tangannya.


Dinding kaca yang tadinya transparan mendadak buram dengan efek suara gemeretak lapisan es di atas danau yang terinjak.


Lampu mendadak temaram dengan cahaya down light dn cahaya pada bagian tengah meja yang cerukannya diisi dengan resin dan zat warna biru laut Kaspia dan lampu-lampu tipis.


“Bang Hans, kalau dari luar, penampakan ruangan ini seperti apa?” tanya Adisti penasaran.


“Hitam.”


“Hitam?” semuanya terperangah menatap Hans.


“Kalian ingat jubah ghaibnya Harry Potter? Atau ruang rahasia di Hogwarts? Ini adalah perpaduannya.”


“Wow Bang.. Keren amat sih!” Agung menatap takjub pada dinding sekelilingnya.


“Means ruangan ini terlihat menghilang?” Pak Dhani menatap Hans.


“This room is not exist?_Ruangan ini gak ada lagi? _” Leon melongo.


Hans mengangguk, “Selama kita menggunakan cahaya warna biru laut Kaspia ini di dalam ruangan, sihirnya bekerja. Tapi kalau menggunakan lampu utama, ruangan ini kembali tampak, begitu pula dengan kita.”


“Kedap suara, Hans?” tanya Bramasta.


Hans mengangguk lagi, “Kedap suara dan anti peluru untuk kacanya.”


Indra mengangkat kedua alisnya, dia menggerakkan kedua telapak tangannya, “Gue gak berani membuat kalkulasi materialnya..”


“Jangan.., “ kekeh Hans dan yang lainnya.


“Tipuan optiknya keren sebanding dengan harganya,” Anton meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sambil bersandar. Semua orang setuju dengan ucapannya.


Hans lalu membuka meeting mereka dengan ucapan salam lalu tentang perkembangan terakhir dari kasus Bryan Ansel yang menyeret nama Helena Schimidt.


Hans menekan tombol, meja meeting berubah menjadi layar-layar kecil sesuai jumlah orang yang hadir. Semua takjub menatap meja masing-masing. Ada foto Bryan dan Helena yang saling berpelukan saat di bandara. Bahkan mereka berjalan meninggalkan bandara sambil berangkulan.


“Dari 2 foto ini menjelaskan seberapa dekat hubungan mereka..”Hans memandang mereka semua, “Sayangnya, info tentang Helena ini sangat sedikit. Dia tidak menikah, dia tinggal seoang diri di apartemennya yang mewah di Muenchen.”


“Kupas Helena sedikit saja Hans, agar tidak bias. Target kita Bryan Ansel,” Bramasta mengingatkan Hans.


Hans mengangguk, “Keterkaitan keduanya sangat erat, Bram.”


“Kupas Helena Schmidt sedikit saja. Biarkan publik dan pers Jerman yang menggalinya lebih jauh lagi. Karena bila kita yang mengupas Helena, pasti Kanselir Ultircht akan turun tangan untuk melindunginya,” Pak Dhani berkomentar.


“Setuju dengan Babeh. Ini juga demi keamanan Prince Zuko sendiri. Para hacker pelindung Helena pasti termasuk orang-orangnya Ultricht,” Leon menambahkan.


“Lagi pula kita sebenarnya tidak ada masalah dengan pemerintahan Jerman sebelumnya.Hanya masalah dengan satu begundal yang bernama Bryan Ansel ini saja. Tuan Karl menelepon gue sore tadi salam perjalanan kemari..” Indra menatap Hans.


“Tuan Karl bilang apa?”


“Kanselir Ultricht marah besar. Menegur Tuan Karl kenapa orang dengan catatan seperti itu bisa menjadi bagian dari kedubes Jerman.”


“Apa jawab Tuan Karl?”


“Tuan Karl menjawab, bukan wewenangnya untuk memilih dan mengangkat para pegawainya. Dan Tuan Karl berhasil menemukan bukti tertulis bahwa Bryan Ansel menjadi atase kebudayaan atas rekomendasi Helena Schmidt.”


“Lalu?”


“Kata Tuan Karl, Kanselir Ultricht mengeluarkan sumpah serapah selama semenit. Sumpah serapah khususon Helena Schmidt,” Agung terkekeh.


“OK.. itu bisa untuk amunisi Prince Zuko untuk memberikan umpan kepada publik Jerman tentang kedekatan mereka.


“Hubungan Bryan dan Helena ini, apakah mereka terlibat hubungan asmara?” Anton menatap Hans sambil memutar-mutar pulpen di tangannya.


.


***


Pengen masuk ruang rapat di markas Shadow Team? Author mau banget. Sayangnya Babang Hans gak ngasih undangan ke Author. Pelit dia.. 😁🤭