CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 266 – KABAR BAIK



“Assalamu’alaikum..” bertiga mereka mengucap salam sebelum masuk ke ruangan Bramasta.


“Wa’alaikumussalam..” Daddy dan Mommy juga kompak menjawab salam.


Mereka salim pada Daddy dan Mommy.


“Kalian gak cerita tentang ini..” Mommy menunjuk lukisan yang ada di belakangnya.


“Tadinya mau bikin surprise buat Mommy dan Daddy, eh udah datang sendiri,” Bramasta duduk di dekat Mommy.


“Keren,” puji Daddy, “Daddy juga mau..”


“Posenya jangan sendiri, harus berdua,” protes Mommy.


Adisti meringis.


“Disti belum melihat pose dan warna yang pas buat Mommy dan Daddy. Tema dan momennya juga belum dapat.”


“Harus seperti itu ya? Gak bisa langsung lukis saja?” Mommy memandangi lukisan Bramasta sambil menyandarkan tubuhnya pada Daddy yang duduk miring bersandar pada sofa. Kaki Mommy ditimpakan pada paha Bramasta.


“Sekalian pijetin kaki Mommy, Bram..”


“Iya, Ibu Ratu..”


“Kan Disti bukan pelukis potret, Mom. Kalau pelukis potret, hanya bermodal potret lalu pindahkan ke kanvas. Jadi lukisan naturalis. Disti gak berani untuk melukis naturalis, bukan passionnya Disti. Beban mental dan moral juga untuk melukis dengan detil seperti itu..” Adisti menjelaskan pada Mommy.


“Kan lagi trend aliran hiper naturalis, Dis. Setiap helaian rambutnya tergambar detil, binar mata dan warna iris matanya terlihat betul-betul hidup, tekstur kulit wajahnya, bahkan pori-porinya juga digambar sedetil mungkin di atas kanvas. Apalagi detil bajunya..” Indra meluruskan kakinya.


“Ah, kalau hiper naturalis, Disti malah takut lihatnya, Bang. Something beautyful but creepy_Sesuatu yang cantik tapi menyeramkan_.”


“Daddy sependapat dengan Disti,” Daddy mengangguk.


“Jadi kapan Disti melukis kami?” Mommy menyeruput lemon tea panasnya.


Adisti menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


Daddy terkekeh melihat Adisti dan Mommy.


“Ya gak bisa ditodong seperti itu, Mom. Pelukis itu bekerja berdasarkan mood dan hati. Iya gak, Dis?"


Adisti mengangguk-angguk sambil terkekeh.


“Nunggu wangsit turun, Mom..” Bramasta menjawab pertanyaan Mommy untuk istrinya.


“Mumpung sedang kumpul ya, ada yang mau Disti perlihatkan. Disti butuh penilaian obyektif kalian ya..” Adisti berjalan ke arah ruangannya.


Semua yang di sofa saling berpandangan. Lalu kompak menatap Bramasta. Bramasta yang ditatap beramai-ramai hanya mengangkat kedua bahunya saja.


"Bram juga gak tahu.."


Adisti datang dengan membawa laptop ungunya. Tanpa risih, dia duduk di atas karpet diantara Daddy dan Mommy. Menggerakkan mouse dan mengarahkan kursornya untuk membuka file gambar.


“Ini foto-foto yang diambil secara candid sewaktu sarapan di rumah ayah tempo hari...”


“WHAT??” Bramasta dan Indra terkejut.


“Kalian berdua beneran gak tahu tentang ini?” tanya Mommy tersenyum lebar.


Keduanya menggeleng. Adisti dan Mommy saling pandang dan terkikik bersama. Daddy hanya senyum-senyum.


“Siapa fotografernya?” tanya Indra penasaran. Dia memajukan tubuhya agar bisa melihat layar laptop dengan jelas.


“Anak advertising yang memang fotografer profesional. Bagus kan hasil jepretannya?”


“Keren!” Mommy mengacungkan kedua jempolnya.


“Dan ini hasil editingnya..” Adisti menggerakkan kursornya lagi lalu melakukan double klik pada mouse-nya.


“Mon Dieu!” seru Bramasta.


Mata Indra melebar. Sementara Daddy dan Mommy melongo melihat editing yang super keren dari tim grafis desain.


“Kolam ikan Ayah jadi telaga bening..”


“Kebun sayur mayur Bunda di samping rumah jadi seluas itu?”


“Dan yang ini,” Adisti mengambil map yang dibawanya, “Ini editing untuk tampil di katalog nanti..”


“Masyaa Allah..” suara Daddy melihat lembar katalog yang diperlihatkan Adisti penuh kekaguman.


“Wajah kita semua jadi gak nampak ya Dis?” Indra memegangi dagunya melihat hasil editing untuk katalog garmen dari B Group.


“Kan memang seperti itu konsepnya, Bang..”


“Tapi gue di foto yang ini kelihatan ganteng banget loh Dis..” Indra menunjuk sebuah foto saat dirinya sedang berada di belakang mikrofon untuk menyanyi.


Tampilan di katalog, sebagian besar wajahnya tertutup daun pokcoy. Foto seolah-olah diambil dari tepi deretan rak hidroponik pokcoy.


 “Tampilan bajunya terlihat jelas gak?” tanya Adisti.


Mommy mengambil katalog, lalu membuka-buka. Mommy mengangguk-angguk.


“Jelas kok. Detilnya juga terlihat jelas.”


“Jadi itu sebabnya saat hendak kumpul di rumah Ayah, kita semua diberi baju yang harus dipakai?” Daddy melihat katalog yang berada di tangan Mommy.


“Nyaman gak Dad, bajunya?” Adisti menatap daddy dengan penuh serius, “Size yang dipakai Daddy itu size terbesar yang kita punya. Sedangkan size untuk Papinya Bang Indra, karena bodinya yang ukurannya di atas rata-rata, size-nya itu custom.”


Indra tertawa.


“Bilangin loh ke Papi..”


Bramasta terkekeh.


“Daddy mah nyaman-nyaman aja pakainya..” Daddy tertawa.


“Alhamdulillah.. padahal harga baju ukuran medium dan small-nya itu dibawah 100 K..”


“Baju pria yang paling mahal itu yang dipakai Papinya Bang Indra karena custom size..”


“Terus baju perempuannya bagaimana, Dis?” Mommy tidak menutupi kekepoannya.


“Baju Mommy, Bunda dan Mami berkisar di bawah 250 K. Nyaman gak Mom?”


“Gak nyangka loh.. Beneran, Dis Cuma segitu?”


Adisti mengangguk.


“Tunik yang dipakai Disti dan Dinda harganya dibawah 100K. Gamis yang dipakai Mbak Hana itu yang paling mahal daripada baju wanita yang lainnya, 450K. Tunik Kak Layla itu 150K.”


“Jadi, misi dari pembuatan katalog ini berhasil ya?” Bramasta tersenyum menatap penuh cinta istrinya, “Ya sudah, terbitkan katalognya juga edarkan di dunia maya juga. Ya gak, Ndra?”


Indra mengangguk. Dia masih membuka-buka lembar katalog yang ada di tangannya.


“Disti mau memberitahu para model terlebih dahulu..”


“Itu sih gampang. Kita broadcast di WAG Kuping Merah saja,” usul Indra.


Bramasta mengangguk setuju.


***


BEVERLY DAGO APARTMENT


Agung melewati pintu apartemen Anton. Dia mengetuk pintunya lalu menekan interkom di dekat bel pintunya.


“Bro, Lu udah pulang belum?”


Tidak ada sahutan.


Agung meneruskan langkahnya. Lima pintu lagi dia sampai di unitnya. Saat sedang memasukkan password pintu, seseorang memanggil namanya.


"Gung!” Raditya datang dengan ransel dan map dokumen di tangannya.


“Yo Bang!” Agung balas melambaikan tangannya.


“Untung ketemu di sini. Saya lupa minta password apartemen kamu,” Raditya terengah.


“Eh iya.. Maaf, Bang,” Agung terkekeh.


Agung mengucap salam saat masuk, dijawab oleh Raditya. Lampu pada dinding foyer otomatis menyala begitu pintu dibuka. Mereka membuka sepatu dan menaruhnya di lemari khusus sepatu juga menyimpan jaket di lemari yang disediakan khusus di dekat pintu masuk.


Agung menekan tombol lampu. Lampu utama menyala.


“Waaaah sudah berbeda lagi layoutnya,” Raditya menatap sekelilingnya.


Ada meja komputer berikut perlengkapannya di antara sofa dengan ruang makan. Meja komputer menghadap tembok, sehinggga konsentrasi tidak terganggu dengan tayangan TV yang letaknya berlawanan arah dengan arah meja komputernya.


Agung membuka pintu ruang tidur tamu yang selama ini menjadi ruang kerjanya.


“Wah.. nyamannya,” Agung memperhatikan layout ruang tidur tamu. Sekarang ada single bed ukuran nomor 3 dengan tempat tidur tambahan di kolongnya.


“Bang Radit, ini kamar Bang Radit ya.. Udah nyaman banget nih Bang. Gak seperti kemarin malam..” Agung terkekeh.


Raditya mendekat. Matanya melebar melihat kamar itu.


“Kamu sengaja belanja tempat tidur segala?”


Agung mengangkat bahunya.


“Memang sudah direncanakan dari dulu kok.”


“Ini.. sampai sedetil begini.. Ada tempat untuk menyampirkan sajadah dan perlengkapan sholat..” Raditya mengelus besi berbentuk seperti tangga yang disandarkan miring di tembok, “Lemari ini juga..”


“Persiapan, Bang. Kalau sewaktu-waktu Ayah, Bunda dan Dinda mau menginap..”


Raditya mengangguk-angguk.


“Terus, nanti pembagian kamarnya bagaimana?”


“Bebas. Terserah Ayah dan bunda mau pakai kamar yang mana. Kalau Ayah dan Bunda mau tidur di kamar utama, silahkan,” Agung menjerang air di pantry, “Nanti di kamar tamu biar ditempati Dinda dan saya..”


“Eh?” Radittya menoleh cepat, “Mana bisa begitu?!”


Agung terkekeh keras hingga terbungkuk.


“Bercanda Bang.. bercanda..”


Raditya menggelengkan kepalanya dan ikut tertawa.


“Bang, besok malam bisa ke rumah Ayah gak?”


“Gak tahu. Jam berapa?”


“Jam 20.00, Bang.”


“Saya tidak tahu jadwal saya besok sampai jam berapa. Apalagi pelantikan diadakan lusa. Memang ada apa?”


“Insyaa Allah, besok malam saya akan mengkhitbah Adinda,” Agung menatap Raditya dengan mata berbinar.


Raditya yang tengah membuka kancing seragamnya mendadak berhenti. Menatap Agung dengan mata melebar. Lalu menghampiri Agung sambil menepuk-nepuk punggungnya.


“Masyaa Allah.. Keren Gung!” Raditya menatap wajah Agung yang tersenyum, “Insyaa Allah besok malam akan saya usahakan hadir ya.”


.


***


Kalian mau ikut juga kan lihat khitbahnya Agung kepada Adinda?


Stay tune ya..😁