
“Kenapa Disti ingin gabung di WAG?” tanya Bramasta.
“Karena Kuping Merah butuh sudut pandang yang berbeda dalam melihat atau bertindak. Setidaknya ada sudut pandang perempuan lah...” jawab Adisti.
“This is not about gender group_Ini bukan grup yang ada hubungannya dengan jenis kelam1n_,” Leon berkata dari balik coffee maker.
“Agree!” Seru Hans.
Indra dan Agung mengangguk setuju.
“Gini aja deh,” Anton berusaha menengahi, “Disti gak perlu masuk WAG. Tapi dia bisa jadi anggota spesial tanpa harus masuk WAG. Keanggotaan Disti itu dengan kehadirannya di setiap pertemuan Gank Kuping Merah.”
“Boleh juga tuh,” Leon dan Hans setuju.
“Lagi pula Disti gak dijewer Daddy. Jadi kupingnya gak merah. So, pardon us, you can’t be member of WAG Kuping Merah_Jadi, ma’afkan kami, kamu gak bisa jadi anggota WAG Kuping Merah_,” Indra menaikturunkan alisnya sambil tersenyum lebar ke arah Adisti, “Don’t be upset, K_Jangan ngambek, ya_.”
“Lagian juga kan repot kalau Adek masuk WAG. Sedangkan kita di WAG terkadang bahas Adek..” Agung.
Bramasta reflek menepuk paha Agung dengan keras. Agung meringis.
Adisti menatap galak kepada mereka semua. Semua yang ada di ruang tengah apartemen langsung siaga 1.
“Jadi kalian sering ghibahin Disti?” bibirnya mencebik.
“Ih, bukan begitu. Kita gak ngomong bagaimana-bagaimana yang gak baik kok, ini terkait dengan kejadian-kejadian yang menimpa Disti..” Bramasta memeluk istrinya sambil membelai punggungnya, “Gak ada yang jelek-jelekin Disti. Gak akan Abang biarkan. Disti percaya sama Abang kan?”
Adisti mengangguk.
Semua bernafas lega. Nyonya rumah tidak jadi mengamuk.
“Alhamdulillah.. langsung dijinakkan oleh pawangnya..” bisik Indra.
Hans, Leon dan Anton tampak berusaha menahan tawa.
“Pawangnya ada dua, kalau gak lakinya ya kakaknya,” kekeh Hans pelan.
Bel pintu berdering. Di saat yang lain tampak kebingungan dengan siapa yang datang, Leon dengan santainya berjalan ke arah pintu.
Membuka pintu dan berbicara dengan orang yang berada di luar. Kemudian masuk lagi dengan membawa beberapa kardus pizza berukuran besar dan tas kain berisi minuman soda 2 botol besar dan beberapa kotak spaghetti.
“Wah.. Bang Leon memang luar biasa!” seru Anton.
“Thank you Bang Leon..” ujar Adisti sambil mengambil kotak spaghetti berikut garpunya.
Dia langsung duduk di dekat suaminya. Menyuapi suami dan dirinya sendiri.
“Ingat...! Ada jomblo di ruangan ini,” Agung mencibir ke arah mereka.
“Ton, lu bisa jadi hacker?” tanya Hans tiba-tiba.
Anton yang sedang menggigit pizza memandang sejenak pada Hans lalu mengangguk. Dia mengunyah dengan cepat lalu menelannya dibantu dengan tegukan cola.
“Dulu gue saat gabut, sering masuk-masuk ke situs instansi pemerintah dalam ataupun luar negeri. Gak ngapa-ngapain sih, cuma ngasih tahu mereka, keamanan situs mereka lemah.”
“Begitu saja?” tanya Agung.
Anton mengangguk.
“Terus lu dapat apa dari hasil gabut itu, Ton?” tanya Indra.
“Namanya juga gabut. Secara materi, gue gak dapat apa-apa. Tapi secara immateri gue dapat kepuasan bisa masuk ke pertahanan mereka,” Anton meneguk colanya lagi.
Hans mengangguk, “Salah satu Shadow Team juga ada yang gabut seperti lu, Ton. Masih bocah sih. SMU kelas 3.”
“Semuda itu jadi anggota Shadow Team?” Adisti membelalakkan matanya.
Hans terkekeh.
“Tadi Bang Hans tanya tentang hacker kenapa Bang?” tanya Anton.
“Siapkan untuk jadi hacker anonymous terkait Tuan Thakur. Dia untouchable person. Yang bisa mengalahkannya hanya sosial media dan netizen yang berisik tentangnya.”
Semua mata memandang Hans.
“Apa yang mau dihack?” tanya Anton.
“Publik harus tahu siapa Tuan Thakur sebenarnya. Yang paling efektif adalah beberapa media TV dengan rating penyiaran yang bagus dan sosial media burung biru,” Hans berkata dengan serius.
Auranya berbeda saat Hans berbicara serius seperti itu.
Anton mengangguk. Dia tampak berpikir lalu memandangi laptopnya. Kemudian menggeleng beberapa kali.
“Kenapa?” tanya Bramasta, “Gak bisa?”
Anton memamerkan cengirannya, “Bukannya gak bisa. Tapi gak mungkin saya pakai laptop saya yang ini, Pak Bos.”
Anton membuka galeri gawainya.
Memperlihatkan foto laptop yang sedang menyala. Tampak seperti laptop biasa. Tapi terhubung dengan kabel-KABEL tipis pada kotak-kotak pipih.
“Saya biasanya pakai laptop yang ini untuk kegiatan gabut saya. Insyaa Allah aman dan tak terlacak. Tapi untuk kasus ini seperti bahkan laptop saya yang itu bisa jebol, Pak Bos. Gak bisa bertahan lama. Paling hanya bisa bertahan beberapa hari," Anton memandang Bramasta dan Hans bergantian.
“Kita tidak akan meng-hack stasiun TV ataupun medsos Burung Biru terus-menerus, Ton. Usahakan tampil kurang dari 15 menit,” kata Hans.
“Saya akan belikan yang lebih canggih dari laptop dan peralatan gabut kamu itu Ton,” Bramasta menatap Anton, “Selama kegiatan gabut kamu dibawah sepengetahuan dan disetujui oleh Kuping Merah, saya akan memback-up kamu dengan dana tak terbatas.”
Anton tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
“Saat tampil menjadi Anonymous, jangan pakai topeng karena pasti akan ada yang bisa mengulik siapa orang dibalik topeng,” Leon memandang Anton.
“Iya nanti seperti B¢orkah yang katanya dari Norwegia ternyata malah ketahuan orang Indonesia juga saat tersingkap lengan bajunya dan ternyata berkulit sawo matang,” Agung memandangi foto dari gawai Anton.
“Pakai avatar saja,” Adisti bersandar pada dada suaminya sambil menaikkan kakinya ke atas sofa, “Atau pakai tokoh kartun di-combine pakai aplikasi yang bisa menggerakkan bibir si tokoh dengan gerakan bibir kita.”
“Siapa?” tanya Anton.
“Detektif Conan Edogawa laah masa Sailormoon??” Adisti menatap Anton sambil tersenyum.
“Detektif yang terjebak dalam tubuh bocil setelah diracuni mafia?” tanya Leon.
Adisti mengangguk.
“Tuh, penggemar Detektif Conan dari jaman masih sekolah,” Leon menunjuk Indra dan Bramasta. Yang ditunjuk hanya senyum-senyum saja.
“Ruangan tidurnya di kantor, komplit tuh mulai dari part 1,” kata Leon.
“Abang punya kamar tidur di kantor Abang?” Adisti menatap suaminya keheranan.
“Lah, kamu belum tahu, Dis?” tanya Indra.
“Abang Bram gak pernah ngomong apa-apa.”
“Lupa,” jawab Bramasta, “Lagipula Disti baru dua kali kan ke kantor Abang. Sekali sewaktu kita belum menikah terus kemarin sewaktu ada temannya Bang Leon. Itu juga Disti saat itu gak ikut masuk ruangan Abang. Disti masih di mushola.”
“Jangan Conan Edogawa,” kata Hans, “Kita butuh sosok yang kuat, smart, berwibawa, berkuasa dan bisa bertindak apa saja dan tidak mengenal rasa takut. Pangeran Zuko dari Negeri Api yang ada di The Legend of Avatar Aang.”
Bramasta mengangguk, “Conan Edogawa lemah dalam tubuh anak kecil, dia butuh orang dewasa untuk menuntaskan kasus.”
“Setuju Pangeran Zuko. Walaupun pada awalnya tampil jahat sebagai musuhnya Aang, pada akhirnya dia mampu membalikkan keadaan. Tidak mau lagi menjadi boneka Raja Uzai, Raja Negara Api, ayahnya sendiri dan malah menjadi bestienya Aang, Katara dan Sakka,” Agung mengambil potongan pizza terakhir lalu menyisihkan potongan-potongan buah zaitunnya di kardus pizzanya.
“Lu gak suka?” Indra keheranan dengan tingkah Agung, “Gue mau..”
Agung menggeleng. Dia menambahkan saus cabai. Lalu membuat gigitan besar pada pizzanya.
“Sepertinya hanya gue yang gak begitu paham dengan cerita Avatar Aang, deh,” Leon berkata sambil memegang kedua pipinya dengan siku di atas meja pantry bar. Dia duduk menghadap ke arah sofa.
“Memangnya Bang Leon gak mengikuti film seri animasi The Legends of Aang: The Last of Air Bender?” tanya Adisti.
“Abang nonton. Tapi gak sampai tamat. Waktu itu sedang ada masalah di perusahaan Abang. Jadinya semua perhatian dicurahkan untuk perusahaan Abang,” Leon mengambil gawainya.
“OK, jadi fix ya.. kita pakai tokoh anime Pangeran Zuko. Tapi versi yang mana nih? Yang botak atau yang gondrong?”
“Versi dia dalam baju kerajaannya saja,” usul Indra.
Semua mengangguk setuju.
“OK.. saya pamit pulang duluan ya untuk mempersiapkan Pangeran Zukko Anonymous..” Anton berdiri sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas ranselnya.
“Jangan begadang ya Ton.. jaga kesehatan. Tidur yang cukup. Jangan lupa tahajud..” kata Bramasta.
Yang lainnya juga ikut pamitan.
Saat yang lainnya sudah pergi, Bramasta meraih tangan istrinya. Lalu menunjuk ke gawainya yang menampilkan foto Adisti tadi pagi berlatar belakang langit pagi hari.
“Disti boleh bermedsos. Tapi pakai foto ini sebagai foto profilnya. Jangan pernah menampakkan wajah Disti karena Abang gak mau laki-laki lain mengagumi wajah istri Abang. Pakai identitas samaran."
Bramasta memandangi wajah Adisti dengan sungguh-sungguh, “Ma’afkan Abang yang terlalu membatasi pergaulan dan ruang gerak Disti. Ma’afkan Abang yang egois ini.”
Adisti menatap wajah suaminya dengan bingung. Dia memeluk suaminya. Membelai punggungnya.
“Ma’afkan Disti juga Bang yang selalu ngeyel. Ma’afkan Disti yang tidak sering salah paham dengan Abang.”
Bramasta balas memeluk.
“Mommy ngomong banyak ke Abang. Kak Layla juga.”
“Disti bisa berteman lagi dengan teman-teman Disti di medsos?” tanya Adisti dengan mata berbinar, “Disti janji akan menyembunyikan identitas Disti.”
“Jangan berjanji untuk sesuatu yang belum pasti,” Bramasta mengingatkan, “Ucapkan saja insyaa Allah.”
Adisti semakin mengeratkan pelukannya.
***
Ada yang mengikuti film kartun animasi The Legend of The Last Airbender: Aang?
Penguasa 4 elemen.