CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 229 – BREAKFAST AT GUMILAR'S



Akhirnya semua anggota Kuping Merah berikut pasangan dan anaknya berkumpul di atas tikar. Menyaksikan penampilan Anton. Lagu kedua dari Danielle Beddingfield, If I'm Not The One.


“Gue gak nyangka..” Hans menatap Anton yang masih menyanyi.


“Sama..” Bramasta dan Indra berbarengan menjawab.


“Oppa Taehyung...” seru Hana disambut cekikikan Adisti, Adinda dan Layla.


Hans menatap istrinya sambil mencebik.


Anton selesai membawakan lagu, semua bertepuk tangan.


“Siapa lagi nih yang mau tampil. Sambil menunggu kupat tahunya datang,” kata Anton.


Adinda tiba-tiba berdiri lalu menghampirinya. Berbincang dengan Anton lalu Anton mengangguk dan mengetik pada laptopnya. Lagu yang diminta Adinda, dibawakan secara karaoke.


Saat mendengar intro awal lagu, semuanya mendadak riuh. Bahkan para orangtua yang berada di dalam gazebo pun mendekati tikar.


“All my bags are packed, I'm ready to go


I'm standing here outside your door


I hate to wake you up to say goodbye...”


Suara Adinda yang jernih memukau semuanya.


“Tiap kali dengar lagu ini gue jadi teringat Bruce Willis nyangsang di bulan. Sedang nemenin Nini Anteh menenun di bawah pohon...” Agung berkata sambil matanya tidak lepas menatap Adinda dengan pashmina biru muda.


“Setdah Lu Gung!” Indra menyenggol keras siku Agung, “Itu kan memang soundtrack film Armagedon!”


Semua yang mendengarnya tertawa. Saat dibagian reffrain lagu, mendadak semua ikut menyanyikannya.


“So kiss me and smile for me


Tell me that you’ll wait for me


Hold me like you’ll never let me go


‘Cause I’m leaving on a jet plane


Don’t know when I’ll be back again


Oh babe, I hate to go”


Melihat semua ikut menyanyi, Adinda tampak terperangah lalu tersenyum lebar.


Lagu berakhir bersamaan dengan Bik Nung mengantarkan bungkusan kupat tahu yang ditata di atas tampah. Masing-masing mengambil piring plastik sebagai alasnya.


Lima menit kemudian, suasana hening karena masing-masing menikmati kupat tahunya. Gumaman tentang rasa yang nikmat dan sedap terdengar.


“Bun... boleh nambah gak?” seru Leon, “Enak banget !”


Layla menyikut suaminya.


“Abang malu-maluin...”


“Biarin. Abang kan baru cobain..” Leon menghampiri tempat bungkusan kupat tahu. Lalu menghampiri gazebo.


“Aku nambah boleh ya Bun..” Leon mengangkat bungkusan kupat tahu yang sudah diambilnya.


“Boleh...” Bunda mengangguk.


“Leon, kesinikan kupat tahunya. Kamu ambil lagi saja ya?” Daddy mengulurkan tangannya meimnta kupat tahu yang dipegang Leon.


“Daddy mau nambah juga?” Leon terbelalak, “Mom, Daddy nambah katanya. Nanti gendut, Mom..”


Semuanya terkikik mendengar ucapan Leon. Daddy menatap sebal pada Leon sambil menepak tangannya.


“Bule bawel nih satu..” Daddy memandang Mommy, “Kita bagi dua, ya. Satu kebanyakan..”


Mommy menggeleng, “Gak Dad. Mommy gak kuat. Kenyang banget.”


“Bagi dua sama saya saja Pak..” Pak Dhani terkekeh.


“Oke. Siiip Pak Dhani..” Daddy dengan semangat membuka bungkusan kupat tahu lalu membagi 2.


“Bang Leon, sekalian ambilin gue ya..” Hans melambaikan tangannya.


“Gue juga Bang...” Anton ikut melambaikan tangannya juga.


“Darling.. aku juga mau..” Layla melambaikan tangannya.


Semua menatap Layla dengan heran membuat pipi Layla bersemu malu.


“Eric doyan banget..”


Indra berjalan ke arah mikrofon. Memilih lagu dari laptop. Intro dari “Sempurna”nya Andra & The Back Bone terdengar.


Bramasta meremat jemari istrinya yang menikmati suara Indra. Adisti menoleh dan tersenyum. Kepalanya disandarkan pada bahu suaminya.


“I love you, Buk istri,” Bramasta mengecup pelan puncak kepala istrinya.


“Love you too, Pak Suami.”


Hana menyandarkan tubuhnya pada dada Hans. Sementara Baby Andra ada di pangkuan Hana.


Leon memeluk erat Layla. Sambil membisikkan sesuatu di telinga istrinya yang membuat istrinya tersenyum lebar dan balas menatapnya.


Eric yang kelelahan dan kekenyangan tertidur di pangkuan Adinda. Agung beberapa kali melirik ke arah Adinda. Adinda yang dilirik menunduk malu dengan pipi merona. Beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Agung.


Anton yang melihat semuanya hanya menggaruk-garukkan kepala yang tidak gatal. Dengan sengaja, mendorong bahu Agung ke arah Adinda.


Tubuh Agung doyong ke arah Adinda. Seakan hendak rebah. Adinda terkejut, menahan bahu Agung agar tidak mengenai Eric.


“Ma’af.. Bukan saya..” telapak tangan Agung menghadap ke arah Adinda, “Tadi Anton mendorong saya..”


Adinda menatap Anton yang cengengesan.


“Kak Anton ngapain sih?”


“Tadi saya mau jatuh, Din. Jadi gak sengaja mendorong Bang Agung ke arah kamu..”


Agung diam-diam menyengir mendengar jawaban Anton.


Saat semua masih terpukau dengan suara Indra, memasuki reffrain terakhir, gawai Indra berbunyi. Frekuensi gawainya menimbulkan suara feedback yang mengganggu telinga saat berdekatan dengan speaker seperti itu.


Anton berlari ke arah laptopnya. Dia mengecilkan volume musik yang tengah mengalun. Lalu membagi dua tampilan layar proyektor. Logo medsos burung biru muncul di salah satu bagian layar monitor.


Aneka cuitan menanggapi Prince Zuko muncul. Prince Zuko menjadi trending topic di seluruh dunia. Anton menatap para abangnya dengan alis terangkat sebelah.


Indra melihat tampilan proyektor lalu mengangguk. Dia masih berbicara di telepon menggunakan Bahasa Jerman.


Hans membuat panggilan telepon pada markasnya. Mendengar laporan terkini dari anak buahnya.


Adinda mengamati semuanya dengan kening berkerut. Kemudian menatap Agung lama.


“Kenapa? Ada apa?” Agung bertanya pelan pada Adinda.


Adinda menatap Agung dan layar proyektor bergantian. Kemudian menatap para abangnya yang lainnya yang tengah mengecek gawainya masing-masing. Begitu juga dengan para istri mereka.


Dia melongokkan kepalanya ke arah gazebo. Sama saja. Masing-masing sibuk dengan gawainya sambil berbicara dengan suara pelan.


“Dinda, ada apa?” tangan Agung menyentuh siku Adinda.


Adinda tidak menjawab. Matanya memperhatikan Bramasta yang duduk di depannya.


Tangan Bramasta tampak sedang men-screenshot layar gawainya tentang cuitan di Burung Biru. Lalu meng-kroping hasil screenshot-nya itu dan mengirimkannya di WAG Kuping Merah.


Adinda mengamati wajah Agung lagi dengan serius. Agung yang dipandang seintens itu menjadi jengah.


“Ada apa? Bicara dengan saya. Jangan diam begini. Saya jadi khawatir.”


Adinda mencekal lengan bawah Agung.


“Siapa Prince Zuko?”


Sepersekian detik Agung terkejut dengan pertanyaan Adinda.


“Dia tokoh anime yang menjadi tokoh Anonymous.”


“Bukan itu maksud saya, Om.”


“Lalu?”


“Apa hubungannya Om Agung dengan Prince Zuko?”


“I don’t know.”


“Bagaimana bisa Om Agung tidak mengerti tentang Prince Zuko sedangkan anonymous itu mengamati Om Agung?”


“Saya masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan kamu,” Agung tampak menghindar.


“Saya sudah menduga, sejak di rumah sakit...” Adinda menatap mata Agung.


Agung gelisah.


“Kalian berbisik di belakang saya.. Saya tahu itu.”


Agung mengedarkan pandangannya. Tidak ada yang dapat dimintai bantuan. Masing-masing tampak khusyu dengan gawainya.


“Dinda.. Boleh gak saya minta dibuatkan kopi?”


“Om menghindar? Mengalihkan pembicaraan kita?”


“Nggak. Saya cuma ingin kopi.”


“Om tidak mempercayai saya?”


“Saya mempercayai kamu. Para Abang dan Teteh kamu juga mempercayai kamu. Tapi tidak sekarang. Kamu fokus saja ke ujian kamu.”


“Tentang Prince Zuko?”


“Simpan dulu. Saat waktunya tiba kamu pasti akan tahu.”


“Om...”


“Kamu sayang pada kami semua? Kepada semua orang yang hadir pagi ini?”


Adinda mengedarkan pandangannya. Menatap gazebo, para orangtua angkatnya berkumpul. Kepada Hans dan Indra yang sedang menelepon. Juga kepada yang lainnya yang berkumpul di tikar yang sama.


Adinda menatap Agung dengan manik coklat tuanya. Agung mengerjap.


“Om percaya pada saya?”


Agung mengangkat sebelah alisnya.


“I do.”


Adinda mengerjap.


“Om sayang pada saya?”


Agung menghembuskan nafasnya. Lalu menatap Adinda.


“Banget.”


Telunjuk Agung menyentuh telapak tangan Adinda yang terbuka. Refleks, Adinda menggenggamnya. Keduanya terkejut dan saling pandang dengan pipi memerah.


Adinda melepaskan genggamannya. Agung mengerjapkan matanya berkali-kali sambil memandang telapak tangan Adinda.


“Bersabarlah. Nanti kami akan menceritakan semuanya kepada kamu. Setelah kamu ujian. Hingga saat itu, simpan saja apa yang kamu duga dan kamu ketahui hanya untuk diri kamu sendiri. Oke? Jangan beritahukan kepada sahabat ataupun teman kamu.”


Adinda mengangguk. Melirik lagi pada Agung.


“Udah dong, wajah kamu jangan tegang begitu. Serem tahu. Saya ingin lihat senyum di wajah kamu.”


“Apaan sih Om..” Adinda memberengut tapi akhirnya tersenyum.


“Kopinya?”


Agung menggeleng.


“Saya baru ingat, itu tugasnya Abang Bram. Pagi ini dia jadi barista. Anton membawa kopi Toraja yang katanya ada aroma berry liarnya.”


.


***


Adinda ternyata diam-diam mengamati. Aktivitas tak biasa dari sekumpulan pria berwajah ganteng dengan karir cemerlang. Bukan hanya persahabatan dan persaudaraan semata. Tapi lebih dari itu.