CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 287 – TAMU YANG TAK DISANGKA



Agung sedang mengatur meja untuk meeting online-nya saat pintu sorong digeser. Seorang pria bertubuh tegap memakai seragam AMANSecure memasuki ruangan diikuti oleh seorang pria berjaket hitam menutupi seragam coklatnya.


“Assalamu’alaikum,” salamnya.


Agung menegakkan tubuhnya sambil menjawab salam. Raditya tengah tertidur setelah sarapan lalu minum obat. Bubur kacang hijau, kue soes dan puding lumutnya masih utuh di meja. Snack pagi dari rumah sakit untuk pasien.


“Pak Raditya?” tanya pria yang memakai jaket kulit hitam.


“Sedang tertidur. Dia mengeluhkan nyeri seluruh bagian dada. Efek samping dari tindakan CPR kemarin..” Agung tersenyum.


“Sepertinya Pak Ilham terlalu keras melakukan push-nya,” orang yang berpakaian seragam AMANSeucre itu tertawa diikuti pria berjaket kulit hitam.


“Loh.. kamu, Man..” Agung terkejut melihat pria bertubuh tegap itu, “Gue kira siapa. Gue gak mengenali kamu pakai seragam AMANSecure, Man..”


“On duty, Kang..” pria yang dipanggil Man itu tertawa lagi.


“Ayo, silahkan..” Agung mengajak mereka untuk duduk di area sofa bed.


“Saya Agung, putra sulungnya Pak Gumilar,” Agung mengulurkan tangannya kepada pria berjaket kulit hitam di hadapannya.


“Saya Budi Darmawan,” pria itu menyambut uluran tangan Agung.


“Ah..Pak Budi yang diceritakan Ayah kemarin. Yang memukul KO si penembak,” Agung melebarkan matanya.


Pak Budi dan Man tertawa. Keduanya mengangguk.


“Kamu yang menyeruduk si penembak kan, Man?” Agung menatap Man.


Man mengangguk sambil menggaruk tengkuknya.


“Reflek saja, Kang. Saat itu, melihat pria berlari membawa bunga di depan panggung podium terasa tidak pada tempatnya di acara seformal itu. Rasanya... lebay banget. Berasa baca chat anak SD yang lagi pacaran tapi sudah saling memanggil Ayah-Bunda, Papa-Mama, Abi-Umi...” Man terkekeh.


Agung dan Pak Budi terbahak mendengar penjelasan Man.


“Saat saya melihat kode 4 jari dari Pak Raditya, saya sudah berlari menuju ke si penembak.”


Suara batuk dari balik tirai menghentikan tawa mereka.


“Gung? Ada siapa?” tanya Raditya.


Agung membuka tirai. Menghampiri Raditya.


“Ada Man, anak buah Bang Hans dan Pak Budi dari Jakarta.”


“Ah, ya..” Raditya terbatuk lagi.


“Minum dulu, Bang,” Agung menyodorkan botol air mineral pada Raditya.


“Air hangat saja, Gung..”


“OK. Saya dorong meja makannya ke sini ya Bang. Barangkali Abang mau makan snack. Enak kok snacknya. Saya juga dapat dari rumah sakit. Menu snack yang sama...” Agung membuka tirai.


Pak Budi dan Man sudah berdiri di luar tirai.


“Assalamu’alaikum, Pak Raditya. Bagaimana keadaannya pagi ini?” Pak Budi menjabat tangan Raditya.


“Alhamdulillah masih diberi umur walau rasanya masih tidak karuan seperti ini. Buat bergerak sakit sekali,” Raditya mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


Agung mendorong meja makan pasien ke arah bed.


“Ini sekalian air hangatnya. Abang mau ke kamar mandi dulu gak?”


Raditya menggeleng.


“Makan sendiri atau disuapi?” Agung menatap Raditya.


Raditya terkekeh.


“Manja banget disuapi, Gung. Kapan saya sembuhnya..”


Agung menekan pengendali bed agar Raditya bisa duduk agak tegak.


“Ya sudah.. saya tinggal dulu ya Bang. Saya ada meeting. Abang ditemani oleh Man dan Pak Budi dulu.”


“Kamu mau ngantor?”


“Nggak. Meeting online, Bang. Meeting rutin mingguan. Dengerin anak buah melaporkan pekerjaan mereka juga curhatan mereka,” Agung terkekeh sambil menunjuk ke arah ruang TV di depan sana, di sofa U.


“OK. Happy meeting ya. Terimakasih banyak, Gung..”


Agung hanya terkekeh.


“Pak Budi dan Man, saya tinggal dulu. Titip Bang Radit..” Agung tersenyum lebar, “Kalian kalau mau buat kopi atau teh, bikin sendiri ya di pantry. Bang Radit belum boleh minum kopi, jadi kalau Bang Radit merengek minta buatin kopi, cuekin saja..”


“Memangnya Pak Raditya tadi merengek minta kopi?” Pak Budi bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


Agung mengangguk.


“Pagi tadi, setelah mandi, minta kopi. Memang biasanya seperti itu kalau di apartemen saya..” Agung terkekeh diikuti Pak Budi dan Man.


Gawainya diletakkan pada tripod di atas meja. Kopi diletakkan di sebelahnya. Laptopnya sudah menyala sejak pagi.


Dia memakai headset bluetoothnya. Lalu melakukan panggilan video untuk untuk meeting online. Saat panggilannya tersambung, pemilik gawai yang dihubunginya langsung meletakkan gawainya di tripod yang di ujung meja sehingga bisa menjangkau keseluruhan peserta meeting.


Ada kabel yang menghubungkan gawai dengan laptop sehingga semua peserta meeting bisa melihat wajah Agung.


“Sudah selesai settingnya?” tanya Agung.


Salah seorang head section mengangkat jempolnya ke kamera.


“Suara saya terdengar jelas?” Agung bertanya lagi.


Beberapa jempol terangkat. Agung tersenyum lebar.


“OK. Kita mulai ya meeting mingguan kita. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Akhir minggu kemarin, kita ada trouble dengan jaringan data dari Sanjaya Tea. Sudah ada data yang masuk? Saya belum menerima laporan neraca ekspornya. Trouble-nya sudah diatasi atau belum oleh tim IT Sanjaya Group?”


Agung terdiam mendengarkan anak buahnya berbicara. Beberapa kali dia terlihat mengangguk lalu matanya menatap laptop di depannya, membaca laporan keuangan yang dibuat oleh anak buahnya.


Dia membuat catatan pada buku agendanya. Saat meletakkan lagi pensilnya di atas meja, pensilnya menggelinding ke lantai.


Dia bisa mendengar beberapa peserta rapat perempuan tertawa melihatnya membungkukkan tubuhnya untuk mengambil pensil. Tubuhnya menghilang dari pandangan peserta meeting.


Agung bisa mendengar suara pintu geser dibuka dan suara langkah kaki bersepatu berat memasuki ruangan. Suara dua sepatu yang berbeda.


Suara sepatu yang satu terdengar seperti didorong dan diseret. Insting Agung, ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.


Dia bergerak dengan tubuh membungkuk tersembunyi dari sandaran sofa. Mendekat pada tripod. Memutar tripod hingga kamera belakangnya menghadap ke arah bed pasien. Lalu mengganti kamera menggunakan kamera belakang.


Orang-orang di ruang meeting terkesiap kaget.


“Jangan berisik. Hubungi Sekretaris Hans untuk ke ruang meeting ini. Sekarang!” perintah Agung jelas walau diucapkan dengan berbisik.


“Ma’af mengganggu waktu Anda semua, bapak-bapak,” suara pria yang asing dengan aksen daerah Indonesia Timur terdengar jelas di telinga Agung.


Lewat gawainya, ia melihat seorang pria tengah memiting leher salah seorang pengawal dari AMANSecure yang berjaga di luar pintu, salah satu tangannya menggenggam senjata pendek berperedam.


Agung memastikan pintu geser tertutup rapat. Lalu mendekat ke arah mereka dengan membungkuk.


Suara-suara dari ruang meeting mengganggu konsentrasinya. Dilepaskannya headset yang terpasang di telinganya. Dimasukkan di saku kemejanya.


Raditya diam tak bergerak di atas bednya. Begitu juga dengan Pak Budi dan Man.


“Kamu siapa?” tanya Raditya.


“Tidak perlu tahu siapa saya. Yang jelas, Pak Jenderal tidak suka dengan kejadian kemarin.”


“Pak Jenderal? Pak Jenderal siapa?” Raditya berusaha mengulur waktu dengan mengajaknya berbicara.


Dari bednya, dia bisa melihat pergerakan Agung.


“Jangan pura-pura tidak tahu!” orang itu semakin marah, pitingannya dieratkan, membuat pengawal yang dipitingnya memerah wajahnya.


“Semua Jenderal hadir pada acara kemarin. Siapa jenderal yang tidak hadir?”


“Jenderal yang Anda jebloskan ke penjara!”


“Dia sudah tidak menjadi jenderal lagi. Pagi tadi pemecatan dan pencabutan pangkatnya,” Raditya berkata dengan tenang.


“Bohong kamu!”


“Saya tidak berbohong.”


“Pak Raditya tidak berbohong. Saya saksinya. Pagi tadi orang tersebut sudah dilucuti semua pangkat dan jabatannya. Saya baru datang dari Jakarta,” Pak Budi ikut berbicara.


“Bagi kami, dia tetap seorang jenderal!”


“Jenderal yang tidak punya apa-apa lagi?” Raditya tersenyum, “Bahkan rekening dan kekayaannya dibekukan dan disita. Kalian akan dibayar dengan apa?”


“Jangan berusaha mempengaruhi saya. Pesan Jenderal, Anda harus mati, Pak Raditya!” tangannya yang memegang senjata diarahkan lurus ke kepala Raditya.



“Kalau Anda menembak saya, Anda yakin bisa lolos dari ruangan ini?”


.


***


Duh..kok gak ada habisnya sih anak buah Tuan Thakur?🫣


Apa? Kependekan?


Hampir 1200 kata nih. Kalian aja yang bacanya kecepatan 😉😁


Selalu tekan tombol like ya untuk menghitung retensi pembaca.


Utamakan baca Qur'an ❤️