CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 19 – TRAUMA



“Ngomong-ngomong, Pak Gumilar kok belum pulang?” tanya Bramasta.


“Kemarin katanya ada yang berminat dengan tanah kami. Harusnya kemarin mereka bertemu tapi pihak sana tiba-tiba ada halangan. Rencananya sore nanti mereka bertemu.”


“Berapa luasnya? Dan sekarang dipakai apa tanahnya?” tanya Bramasta.


“1,5 hektar. Masih sawah dan kebun. SHM.”


“Wah, lumayan luas ya. Akses jalan ada?”


“Muka lahan menempel jalan propinsi sekitar 75 meter.”


“OK tuh Bos buat proyek bersama B dan Sanjaya Group yang tertunda kendala belum menemukan lahan yang cocok,” Indra menatap serius Bramasta. Bramasta mengangguk.


“A, minta Pak Gumilar pulang aja deh sekarang. Kita bicarakan tentang tanah yang di Garut. Jangan dijual, sayang banget. Lebih baik disewakan saja. B Group bersedia menyewa tanah Pak Gumilar untuk 10 tahun kedepan. Dan kemungkinan sewanya akan diperpanjang bila bisnis berjalan lancar. Tapi kami butuh lahan lagi. Kira-kira lahan sekitarnya bersedia disewa tidak ya?” Bramasta menatap Agung.


“Coba kita tanya Ayah saja, ya,” Agung menekan tombol panggilan kepada Ayahnya.


“Assalamu’alaikum Ayah.” Jeda.


“Iya ini sudah di rumah. Ada Bang Bramasta dan Indra juga Ibunya Bang Bram di sini.” Jeda.


“Nanti aja ceritanya, Yah,” Agung terkekeh, ”Yah, tentang tanah kita, Ayah sudah bertemu dengan peminatnya?” jeda.


“Batalkan saja Yah. Ayah pulang saja. Ada penawaran yang menarik. Paling tidak kita masih bisa memiliki tanah tersebut tanpa harus menjualnya. Sayang banget kalau harus dijual.” Jeda.


“Pulang saja Yah. Daripada Ayah nungguin tapi ter-pending terus. Itu sama saja dengan kita tidak berjodoh untuk berbisnis dengan orang tersebut kan? Kakak dapat penawaran menarik mengenai tanah kita.” Jeda.


“Iya nanti kita bicarakan di rumah. Insyaa Allah ada jalan untuk kita masih bisa memiliki tanah tanpa harus menjualnya.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam. Fii amanillah, Yah.”


Agung mengakhiri panggilannya bersamaan dengan Bramasta juga mengakhiri panggilannya dengan Daddy.


“Ndra, minta driver buat ambilin berkas yang ada di meja gue dong. Sekalian laptopnya juga. Males gue kalau balik lagi ke kantor. Macetnya itu, so boring_sangat membosankan_. Wasting time_Buang waktu_.”


Indra mengangguk setuju. Matahari bersinar terik saat itu. Segera ia menghubungi stafnya di kantor. Butuh waktu 30 menit, supir mengantarkan berkas dan laptop milik Bramasta dan Indra.


Bramasta hendak ke kamar mandi ketika melihat Adisti tengah berjalan perlahan menaiki tangga rumah.


“Disti ngapain?” bergegas Bramasta menaiki tangga.


“Mau ke atas. Pengen rebahan.”


“Kamar Disti di atas?”


Disti mengangguk.


“Di bawah ada kamar lagi kan selain kamar utama?”


“Ada kamar untuk tamu yang menginap.”


“Ya udah, selama masa pemulihan Disti pakai kamar bawah dulu. Jangan naik turun tangga dulu, ya. Abang takut Disti jatuh. Kakinya kan belum kuat.”


Adisti mengangguk. Hati Adisti menghangat oleh kalimat Bramasta yang tidak bersaya-kamu tetapi Disti-Abang. Disti, bukannya Dis. Pipinya bersemu merah. Hatinya berdesir.


“Ayo turun. Hati-hati..” Bramasta menunggu 3 anak tangga dari Adisti.


Adisti tidak bergerak. Dia menatap Bramasta yang sedang menatapnya. Keduanya merasakan gelenyar aneh yang meresahkan. Bramasta berdehem untuk meredakan degup jantungnya.


“Pelan-pelan saja. Bisa?”


Adisti menatap ke bawah, melihat anak-anak tangga. Terlihat semakin jauh jaraknya. Tengkuknya merinding, terasa gamang. Ingatan jatuhnya, bagaimana daun-daun diterabas oleh tubuhnya, menyeruak jelas. Tubuhnya limbung. Tangannya bergerak otomatis mencari pegangan. Memegang erat selusur tangga.


“Eh! Disti.” Bramasta bergegas menaiki 2 anak tangga. “Ma’af. Ma’afin Abang, ya.”


Bramasta memegang lengan kanan Adisti.


“Disti gak apa-apa. Disti gak jatuh. Disti aman sekarang. Ada Abang jagain Disti,” tangan Adisti diarahkan menyentuh bahu Bramasta. Adisti mencengkeram kuat bahu Bramasta. Menganggapnya sebagai pegangan agar tidak terjatuh.”Jangan, jangan lihat ke bawah. Lihat Abang, OK?”


Adisti menatap Bramasta. Matanya terkunci pada mata Bramasta.


“Kita turun pelan-pelan. Sama-sama. Satu…” Bramasta mulai melangkah mundur menuruni undakan.


“Dua…”


“Tiga…”


“Kalian sedang apa?!” suara Agung terdengar terkejut. Bramasta segera memberi isyarat kepada Agung dengan tangannya untuk diam tanpa mengalihkan tatapannya dari Adisti. Indra menatap dengan mulut ternganga dengan tangan kanan menenteng 2 laptop dan tangan kiri membawa map-map berkas.


“Empat…”


“Lima…”


“Enam…”


“Tujuh… ini yang terakhir. Disti aman kan? Gak jatuh kan?”


Postur tubuh yang tidak imbang membuat tangan Adisti merosot dari bahu Bramasta. Mencengkeram kuat lengannya.


Tubuhnya bergetar karena shock yang melanda. Hampir merosot tetapi Bramasta menahan tubuhnya untuk tidak jatuh. Bramasta menekuk lututnya. Meletakkan satu tangannya di belakang lutut Adisti. Tubuh Adisti dibopong olehnya.


“Kamar bawah, A tolong buka pintunya. Ndra, tolong air putih hangat buat Adisti.”


Bramasta meletakkan tubuh Adisti dengan hati-hati. Indra membawakan air hangat.


“Disti minum dulu ya?”


Agung membantu Adisti untuk duduk. Dia mengangsurkan gelas ke bibir Adisti untuk diminum. Tubuhnya sudah tidak bergetar lagi seperti tadi. Tatapannya penuh tanya kepada Bramasta.


Bramasta menceritakan kejadiannya


“Sekarang Disti tidur aja ya. Katanya tadi pengen rebahan di kamar,” Bramasta tersenyum memandang Disti.


“Sementara Adisti di kamar bawah dulu, A. Dia belum bisa mengatasi traumanya. Dia bisa naik tangga tapi menuruninya tidak bisa,” kata Bramasta sambil menyelimuti kaki Adisti.


“Bunda kemana sih?” tanya Agung sambil berjalan ke jendela samping.


“Mereka berdua sepertinya sedang tidur siang di Gazebo,” Indra menyingkap tirai vitrage, “Kelambu pelindung nyamuknya diturunkan, tuh.”


“Biarkan saja, A. Gak usah dibangunkan. Bunda pasti capek mengurus Adisti di rumah sakit,” Bramasta membuka laptopnya. Agung mengangguk setuju.


Agung mengambil laptopnya lalu membuat panggilan telepon dengan teman kantornya.


“Assalamu’alaikum, Lim.” Jeda.


“Iya, saya udah di rumah sekarang. Tolong nyalain komputer di meja saya ya. Aktifin anydesk-nya. Saya mau nyicil kerjaan. Password-nya tahu kan?” jeda.


“OK, hatur nuhun pisan ya Lim. Assalamu’alaikum.”


“Pakai wifi rumah aja Bang, Ndra,” kata Agung saat melhat mereka berdua menyalakan laptopnya, “Password-nya uget-uget 3. Tanpa spasi, huruf t terakhir pakai huruf besar.”


“Whattt?”_Apaa?_


“UgetugeT3, siapa yang ngasih nama password se-absurd itu sih?”


“Who’s else_Siapa lagi_? Adik gue lah.”


Mereka bertiga terkekeh bersama.


Ruang tengah sunyi. Hanya terdengar suara ketikan keyboard dan klikan mouse, sesekali suara gesekan kertas. Semuanya tenggelam dengan pekerjaannya. Mereka semua duduk lesehan di atas lantai. Mengeliingi meja.


“Masyaa Allah,” suara Bunda memecah kesunyian, “Kalian sedang kerja kelompok?”


“Bram, Indra.. bener-bener ya kalian berdua ini. Rumah orang kalian jadiin kantor..” Mommy mencolek bahu Bramasta dengan keras, tepat di bekas tangan Adisti yang mencengkeram keras di sana. Bramasta mengaduh, merasakan pedih.


“Mom, ih. Sakit tahu..”


“Lebay ih. Cuma gitu aja..” Mommy menambahkan keplakan keras pada bahunya. Bramasta berjengit nyeri.


“Mommy ih.. KDRT ke anak sendiri. Sakit banget, beneran,” Bramasta membuka 3 kancing kemejanya lalu menyingkap kemeja yang menutupi bahu kirinya. Semuanya terheran melihat tingkah Bramasta. Mommy terbelalak.


“Astaghfirullah.. Bram, maafin Mommy ya. Sakit ya. Memarnya masih baru nih. Eh, apa ini? Kuku? Ada 3 bekas kuku,” Mommy menatap heran pada Bramasta, “Bekas kuku siapa?”


“Adisti, Mom.”


Bunda dan Mommy terkesiap.


“Hah??!” Mommy secepat kilat memberi beberapa keplakan lagi pada punggung anaknya, “Kamu apain anak gadis orang???!”


“Mooommm,” Bramasta pasrah.


“Tante..Tan, “ Agung dan Indra berusaha melindungi Bramasta dari amukan Mommy.


“Sabar Tan.. Tadi Bram nolongin Adisti di tangga,” Indra berusaha menjelaskan.


“Hah, Adisti?” Mommy terduduk kelelahan.


“Adisti kenapa tadi?” tanya Bunda cemas.


Agung menceritakan semuanya. Bunda menutup mulutnya dengan raut menyesal. Mommy memeluk Bramasta.


“Maafin Mommy, Bram. Maaf ya..” tangannya menggosok-gosok punggung Bramasta sebagai ungkapan penyesalannya.


“Harusnya Bunda nemenin Adek terus ya,” Bunda berkata dengan penuh penyesalan.


“Gak apa-apa Bun. Semuanya sudah teratasi. Kita jadi tahu Adek belum pulih dari traumanya,” Agung menenangkan Bundanya sambil mengusap punggung Bunda dengan lembut.


Indra terkekeh geli, “Awalnya keren banget, seperti lagi syuting video klip musik di tangga. Romantis beud.. Ujung-ujungnya dikeplakin emaknya..” Indra berkata pelan sambil terkekeh hingga mengeluarkan air mata diikuti Agung.


Bramasta memandang kesal pada keduanya sambil mengelus bahunya yang terasa perih.


“Terus kalian ngapain sekarang?” tanya Mommy.


“Kerja,” mereka serempak kompak menjawab.


“Kenapa di sini?” tanya Mommy.


“Nunggu Ayah datang,” kata Agung berbarengan danga Bramasta dan Indra yang menyebut Pak Gumilar.


“Kenapa ditungguin?” tanya Mommy lagi.


“Ada urusan bisnis,” mereka masih kompak menjawab.


Mommy memandang takjub tidak percaya.


“Bu Gumilar, mereka kok bisa kompakan seperti ini sih?”


Belum sempat Bunda menjawab, terdengar suara salam.


“Assalamu’alaikum,” Ayah berjalan sambil memasuki ruang tengah. Tertegun melihat ada banyak orang di ruang tengah. Semuanya menjawab salam Ayah. Bunda menyalimi Ayah diikuti Agung, Bramasta dan Indra.


“Ini Ibunya Nak Bram. Bu Almira.”


Mommy menangkupkan kedua tangannya sambil menunduk. Ayah mengangguk tersenyum ramah.


“Silahkan, Bu. Anggap saja di rumah sendiri.


“Memang sudah dianggap seperti di rumah sendiri kok, Pak. Malahan tadi tertidur di Gazebo,” Mommy duduk di sofa belakang tubuh Bramasta.


“Eh?” Ayah menoleh pada Bunda. Bunda terkikik sambil menepuk bahu Ayah, mengajaknya ke meja makan. Bramasta, Agung dan Indra terkekeh geli.