CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 243 – LAGI



Malam itu Prince Zuko tampil dari unit penthouse-nya Bramasta dan Adisti. Para istri tetap di rumah Keluarga Gumilar. Hanya para pria yang pergi ke penthouse termasuk para orangtua.


Rencananya Prince Zuko akan mengunjungi Burung Biru selama 3 malam berturut-turut. Dimulai dengan malam ini. Dengan mengambil judul The Villain’s Vacation_Liburannya Penjahatnya Penjahat_.


Semua bukti rekaman CCTV juga foto Tuan Thakur sedang melakukan swing dengan tongkat golfnya. Foto yang diperoleh dari salah satu caddy yang dibayar oleh The Shadow.


Tak tertinggal hasil analisa Leon tentang outfit yang dikenakan Tuan Thakur hari itu berikut harganya dalam mata uang Euro.


Juga pengawalan yang berlebihan dengan menggunakan Barakuda diluar batas kecepatan maksimal di jalan raya tengah kota sehingga menyebabkan tewasnya seorang pengemudi ojol.


Tugas untuk Adisti besok, mengunjungi keluarga korban untuk memberikan uang duka. Tidak peduli akan diliput wartawan atau tidak. Bila diliput, setidaknya mengajak masyarakat yang apatis untuk berempati kepada keluarga korban.


Besok mereka kembali berkumpul lagi di penthouse untuk mempersiapkan Prince Zuko sesi kedua dengan tema penyerangan Agung oleh orangnya Tuan Thakur.


Sementara Shadow Team bertugas untuk mengkroscek isi flashdisk yang diserahkan oleh Raditya. Pembagian tugas agar semua bisa digelar sesuai rencana.


Tayangan sesi pertama seperti biasa mendapat tanggapan yang luar biasa dari netizen. Mereka mengecam aksi kolusi dan aksi tipu-tipu yang terjadi. Juga mengecam hilangnya nilai kemanusiaan terhadap rakyat kecil demi membela penjahatnya penjahat.


***


Malam itu, malam pertama Agung tidur di unit apartemennya. Terasa asing bagi Agung. Tetapi dia harus berusaha belajar untuk membiasakan diri.


Apalagi Anton dan anak buahnya sudah membantu untuk mendekor interior ruangan unit yang ditinggali Agung agar membuatnya nyaman dan betah.


Agung menatap kotak kue yang tinggi yang dibawa dari rumah. Dia belum memeriksa isinya.


Kegiatan pertama setelah keluar dari kamar tidurnya pagi ini, memasak air dengan menggunakan teko listrik. Membuka kotak kue pemberian Adinda lalu tersenyum lebar menatap isinya.


“Cantik. Secantik yang bikin,” gumam Agung.


Dia yang biasanya tidak pernah membuat status WA, mendadak membuat status WA. Penampakan carrot cake dalam bentuk kuntum mawar yang tinggi.


“Terima kasih. Kuenya cantik seperti kamu. Tapi ma’af saya membuatnya berantakan karena saya bingung untuk memotongnya," caption dalam fotonya.


***


Sementara di apartemen yang berbeda, Bramasta tengah merayu Adisti agar diperbolehkan untuk ikut mendampinginya ke Jakarta.


“Pak Suami boleh ikut ya..” bujuknya sekali lagi.


“Gak boleh, Bang. Kata Bang Hans dan Daddy, kalau Disti pergi dengan Abang, terlalu mencolok. Lagipula Abang kan ada tugas dari Bang Hans..” Adisti memoleskan lipstik berwarna pink natural.


“Disti.. tapi sekarangkan Ahad. Libur...”


“Kantor libur tapi Prince Zuko? Nggak.”


“Disti...”


“Hmmm.”


“Disti tega..”


Adisti menghentikan kegiatannya yang hendak mengenakan pashmina. Dia menatap suaminya dengan tersenyum lebar.


Memeluk suaminya yang tengah duduk di tepi tempat tidur menghadap cermin meja rias.


“Sayangnya Disti kenapa jadi manja seperti ini?”


“Abang cuma ingin ikut. Memastikan semuanya aman untuk Disti.”


“Bang, Disti gak sendiri. Disti nanti didampingi 4 pengawal dan seorang driver. Insyaa Allah, Disti aman karena dalam lindungan Allah..”


“Aamiin..” Bramasta menatap sendu mata Adisti, “Tapi kan Abang masih kangen..”


“Kangen bagaimana? Semalam kita sampai dini hari loh..” Adisti duduk di atas pangkuan suaminya. Kepalanya ditelusupkan di dada suaminya, “Abang yang baik ditinggal Disti ya. Matanya jangan jelalatan ngelihatin cewek-cewek bening glowing..”


“Abang gak gitu loh...”


“Iya...tapi kali aja kan?”


“Abang bukan tipe cowok seperti itu..” Bramasta mencebik kesal, “Disti di sana jangan genit..”


“Disti tuh galak, Bang. Genitnya cuma ke Abang...”


“Seperti apa? Contohnya?” Bramasta mengangkat sebelah alisnya.


“Seperti ini...” Adisti menciumi tepi rahang suaminya hingga ke telinga.


Setengah mati Bramasta menahan rasa geli yang menggelitik, “Cuma itu?”


“Ini....” hidung Adisti disentuhkan pada kedua alis Bramasta yang seperti sayap elang, sebelum akhirnya mengecup lama kelopak mata Bramasta yang terpejam.


“Disti...”


Mata Adisti mengerjap terbuka menatap mata suaminya. Adisti menyentuhkan hidung mereka. Lembut. Pucuk hidungnya menggosok sepanjang tulang hidung suaminya.


Saat pucuk hidung mereka bersentuhan, Bramasta menahan kepala belakang Adisti. Bibirnya meraup bibir istrinya. Dirinya menjatuhkan punggungnya ke belakang dengan membawa Adisti.


“Lanjutkan yang dini hari tadi...” bisiknya.


***


Bramasta terkekeh melihat istrinya bergerak dengan kalang kabut. Dia mengamati sambil berbaring miring di atas tempat tidur dengan rambut basah. Mandi untuk kedua kalinya pagi itu.


“Apa?” Adisti mencebik menatap suaminya, “Gara-gara Abang nih, telat sejam dari jadwal..”


“Tapi suka kan?”


Adisti hanya mengengus kesal.


“Tadi siapa ya yang berisik banget pakai teriak-teriak segala..? Bramasta tersenyum lebar sambil menatap istrinya yang makin manyun.


“Gak usah dibahas!” Adisti mencubit lengan suaminya, “Malu tahu!”


Bramasta terkekeh senang. Tangannya menekan tombol untuk membuka plafon. Plafon terbuka, membuat pemandangan langit terang jam 9 pagi berhiaskan awan putih tipis yang berarak.


“Disti gak ingin berbaring di sini mengamati langit bareng Abang?” alis Bramasta naik turun saat bertanya.


Adisti tidak bereaksi. Dia memeriksa gawainya.


“Disti.. tuh llihat, burung elang. Masyaa Allah, hari gini masih ada burung elang..” Bramasta berbaring menatap langit di atasnya.


Adisti penasaran. Dia merangkak di atas tempat tidur untuk melihat apa yang dilihat suaminya.


“Elang Jawa. Dari hutan di area Dago Pakar, mungkin Bang. Alhamdulillah, kelestariannya masih terjaga ya,” Adisti tengadah menatap langit.


“Jangan seperti itu, nanti lehernya pegal. Sini, baring di dada Abang..” Bramasta tersenyum kecil penuh muslihat.


Adisti menatap suaminya sambil mencibir.


“Modus..”


“Mau lihat elang gak?” Bramasta duduk di tengah pembaringan.


Adisti menatap curiga pada Bramasta. Matanya tertuju pada risleting celana suaminya.


“Bang, jangan macam-macam deh... Ini Disti sudah telah loh..”


“Eh?!!” Bramasta terkejut melihat arah tatapan istrinya. Segera ia bangkit lalu menjentik dahi istrinya.


“Ngeres pikirannya...”


“Isssh sakit, tahu!”


“Abang nanya beneran, mau lihat burung elang gak? Kok malah ke sana lihatnya...”


“Disti kan tahu jalan pikiran Pak Suami. Hafal banget..”


“Khalid baru datang kemarin dari Qatar. Dia bawa burung piaraannya, Thunder. Elang Gurun. Dia mau main ke The Cliff. Menerbangkan Thunder di sana.”


“Laah kalau terbang nyasar gak balik lagi bagaimana?”


“Gak mungkin. Thunder sudah jinak banget dengan Khalid. Disuapin saat masih bayi.”


“Kapan?”


“Sepulang Disti dari tugas. OK?”


“Insyaa Allah. Mudah-mudahan lancar semua urusannya dan lalu lintasnya.”


“Aamiin.. Jadi makin sayang ke istri sholeha Abang..”


“Makanya jangan dihalangi terus dong Distinya..”


“Atau pulangnya Disti langsung saja ke rooftop Sanjaya Group di Jakarta? Abang jemput, kita langsung ke The Cliff?”


“That’s better,” sedetik kemudian Adisti yang tengah menyemat bros menoleh cepat ke arah Bramasta, “Yang bener aja langsung ke The Cliff. Mau mendarat dimana? Atap membran The Cliff bisa rusak terkena angin helikopter.”


“Abang sudah beli lahan di samping The Cliff yang waktu itu kita pinjam untuk parkiran saat kita menikah..”


“Kok Abang gak cerita..”


“I'm telling you rightnow.._Ini sekarang Abang sedang cerita kan.. _”


“Dih Abang.. Disti pamit ya..” Adisti mengambil tas totebag sederhana dari kain belacu dengan tali bahu terbuat dari kulit. Ada gambar gelas kopi diantara daun pakis dengan tulisan Peace With Coffee.


“Tas baru?”


“Iya.. Sewaktu belanja bareng Dinda. Nemu ini, lagi trend di kalangan anak muda loh.”


“Yuk.. Abang antar sampai bawah. Sekalian Abang ke markas Shadow Team.”


Mereka bergandengan tangan keluar dari apartemen. Bramasta menghubungi para pengawalnya.


.


***


Yang punya heli, enak ya bisa terhindar kemacetan.


Kalau kita? Berharap punya baling-baling bambunya Doraemon.. 🤪