CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 156 – TENTANG IBU TIRI DAN TEMAN PRIANYA



Hans membaca laporan Shadow Team yang dikirim lewat email. Keningnya berkerut. Berkali-kali dia menghela nafas kasar.


Kemudian memutuskan untuk mem-forward laporan tersebut ke WAG Kuping Merah.


Belum sempat mengetik, sebuah chat pesan masuk dari Bramasta.


Bramasta_Seorang tetangga melihat keberadaan ibu tirinya Adinda berserta teman laki-lakinya di daerah Bogor Barat, tepatnya di Cibatok_


Indra_Sedang apa mereka di Bogor?_


Bramasta_Info yang dihimpun dari tetangganya, orang-orang yang saat itu bersama mereka berdua adalah para calo tanah_


Anton_Ibu tirinya mau beli tanah di Bogor?_


Hans_Gue baru dapat laporan dari Shadow Team. Ternyata teman pria si ibu tiri ini tersangkut dengan jaringan Ferdi Gunaldi_


Agung_What?? Jaringan apa?_


Hans_Woman trafficking_


Bramasta_Innalillaahi.._


Agung_Ya Allah!_


Indra_Keluarkan Adinda dari rumah itu!_


Anton_How? Sudah jam 23.27 sekarang. Adinda pasti sudah tertidur_


Leon_Gung, Adinda sudah tidur belum?_


Agung_Tadi gue berpesan untuk langsung tidur sepulang dari sini, Bang. Besok ada ujian praktek olahraga, jam pelajaran pertama. Dia juga sudah offline kok_


Leon_Pantauan CCTV bagaimana?_


Anton_Aman, Bang. Ibu tiri dan teman prianya belum pulang_


Hans_Setidaknya malam ini dia aman_


Agung_Bagaimana dengan ibu tirinya, Bang Hans?_


Hans_Ini yang bikin gue agak bingung. Dia bukan dari wanita terhormat saat dinikahi oleh Pak Adang Rahmat. Ini membuat gue tidak habis pikir bagaimana mereka bertemu dan mengapa Pak Adang mau menikahinya_


Bramasta_Adisti pernah cerita tentang ibu tirinya Adinda, dinikahi oleh Pak Adang 2 tahun yang lalu karena merasa kasihan. Mereka tidak pernah tidur dalam kamar yang sama_


Bramasta_Cerita tentang bagaimana mereka bertemu sepertinya karena Pak Adang merasa berhutang budi pada wanita tersebut yang sudah menyelamatkan dirinya dari sebuah kecelakaan_


Anton_Maksudnya bagaimana?_


Bramasta_Saat itu di Jakarta, sesudah Isya, Pak Adang menyebrang jalan. Dia tidak menyadari sebuah mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Wanita tersebut yang saat itu hendak menyeberang ke arah yang sama, langsung menarik tubuh Pak Adang_


Hans_Saat itu Pak Adang sudah kenal dengan wanita tersebut?_


Bramasta_Tidak. Pak Adang menyeberang untuk ke tempat ia memarkirkan mobilnya sedangkan wanita itu menyeberang untuk mangkal menjajakan diri_


Leon_****! Dia PSK?_


Bramasta_Ya begitulah. Kemudian mereka berbincang dan berkenalan. Pak Adang memintanya untuk berhenti menjajakan diri, dia akan membantu membiayai hidup si wanita tersebut_


Hans_Dia setuju?_


Bramast_Iya. Rupanya, si wanita ini pandai membaca karakter orang. Dia bisa membaca karakter Pak Adang yang selalu ingin menolong dan berhati lembut juga lugu. Dia memperdaya Pak Adang_


Indra_Bisa ditebak jalan ceritanya ya, si wanita menjual cerita sedihnya untuk mendapat simpati Pak Adang. Mirip-mirip cerita sinetron cap ikan terbang_


Leon_Mereka langsung menikah?_


Bramasta_Ya nggaklah. Tiga bulan setelah pertemuan mereka dan selama itu mereka kerap saling menanyakan kabar, Pak Adang menawarinya untuk menjadi istrinya_


Agung_Adisti bagaimana?_


Bramasta_Awalnya, Adisti menyetujuinya karena ia ingin Papanya bahagia. Adisti berpikir Papanya sedang jatuh cinta lagi_


Leon_Tapi?_


Bramasta_Sebulan pertama, ibu tiri berperilaku manis walaupun bukan sebagai istri sesungguhnya. Mereka tidak pernah tidur bersama. Bagi Pak Adang, istrinya hanyalah Mamanya Adinda. Sedangkan dengan wanita tersebut, ia hanya ingin menolongnya agar terangkat derajatnya, bisa memberinya perlindungan dan kehormatan juga membiayai hidupnya. Mereka tidur di kamar terpisah_


Anton_Memangnya boleh seperti itu?_


Agung_Ya nggaklah. Selama keduanya sehat, yang namanya suami ada tugas untuk memberi nafkah lahir dan bathin_


Bramasta_Wallahu’alam, Ton. Nafkah bathin tidak melulu berarti harus gabruk-gabrukan kan?_


Indra_Setdah, gabruk-gabrukan lagi yang dibahas..._


Hans_Bisa dimengerti Bang.._


Leon_Lanjutin lagi Bram, setelah sebulan pertama manis terus selanjutnya bagaimana?_


Bramasta_Kata Adinda, tabiat asli ibu tirinya mulai muncul. Pemalas, gak bisa menurus rumah, sukanya keluar masuk mall walau tidak ada yang dibeli_


Indra_Hedon setelah menjadi nyonya?_


Bramasta_Puncak kemarahan Adinda adalah saat dia tahu, ibu tirinya baru membuat tato di panggulnya. Tidak sengaja kaosnya tersingkap saat hendak mengambil stoples camilan di lemari atas dapur_


Anton_Wow_


Bramasta_Tato kupu-kupu, kulit panggulnya masih dibungkus plastik wrap untuk menjaga warnanya tidak rusak dan tidak terkena air_


Agung_Adinda langsung memberitahu Papanya?_


Bramasta_Right. Saat itulah perang dingin mulai terjadi. Setelah diancam tidak akan diberii uang lagi, barulah si ibu tiri mulai jinak dengan terpaksa, menutup aurat dan mengikuti kegiatan di masjid lingkungan_


Hans_3 hari suaminya meninggal, dia tidak berhijab lagi ya?_


Hans mengirimkan foto ibu tiri Adinda bersama teman laki-lakinya. Rambut pirang hasil cat salon murahan tergerai hingga punggungnya. Sedangakan teman prianya berambut pendek dan dicat pirang juga.


Indra_Wow! Janda pirang tato kupu-kupu!_


Bramasta_Isssh apaan sih Lu Ndra_


Indra_Ah payah Lu Bram, gak up to date_


Anton_Itu istilah yang lagi trend, Pak Bos. Janda yang meresahkan para kaum Adam. Karena bisa menghabiskan uang gaji ataupun honor mereka... (Emot tawa 3x)_


Leon_Ternyata ada ya istilah seperti itu_


***


RUMAH SAKIT XXX


RUANG RAWAT INAP VIP 2


Setalah chat di WAG berakhir, Agung merasa gelisah. Dia tidak bisa tidur. Laporan Hans yang mengatakan teman pria ibu tiri berhubungan dengan Ferdi Gunaldi membuatnya cemas.


“Kakak, tidur.. sudah malam,” kata Ayah mengingatkan.


“Iya Yah, sebentar lagi. Ayah tidur saja. Bunda kan sudah tidur dari tadi.."


Agung menyalakan laptopnya. Beruntung petang tadi sebelum berpamitan, Anton memberi akses kepada Indra terhadap CCTV di rumah Adinda. Ruangan tengah rumah Adinda tampak temaram.


00.20, pintu kamar Adinda terbuka. Tampak Adinda keluar dengan wajah bangun tidurnya berjalan entah kemana.


Agung tersenyum menatap Adinda, dia sudah mewanti-wanti pada Adinda untuk tetap mengenakan hijab saat kekuar dari kamarnya karena ada CCTV yang sedang diamati oleh beberapa orang, Juga karena teman pria ibu tirinya yang selalu dibiarkan masuk ke dalam rumah hingga berjam-jam lamanya.


Tidak berapa lama Adinda muncul dengan gelas dan botol air mineral, kembali lagi ke dalam kamarnya. Agung hanya bisa melihat pintu kamar Adinda saja.


Kemunculan Adinda walau hanya sebentar sudah cukup membuat hatinya bahagia dan menghangat. Perasaan yang baru bagi dirinya.


“Hai jantung, baik-baik sajalah kau di tempatmu,” bisik Agung sambil memegang dada sebelah kiri, “Gak usah seperti bedug yag ditabuh saat takbiran..”


“Hai Dinda.. bobo lagi sana.. biar Aa yang jagain kamu,” bisik Agung pada layar laptop yang memperlihatkan pintu kamar.


01.15, tidak ada yang terjadi. Memandangi pintu kamar ternyata cukup membosankan juga. Dirinya sampai hafal dengan corak urat kayu yang terlihat pada daun pintu kamar.


Beberapa kali dirinya menguap. Hingga akhirnya tertidur dengan telinga masih memakai earphone wireless-nya.


Suara berisik gedoran pintu membuatnya terjaga. Dia melihat pada jam pada sudut kanan bawah laptopnya, 03.58. Tubuh Agung menegang.


Ibu tirinya tampak di depan pintu kamar Adinda sambil memukuli pintu kamar dan sebelah tangannya bertolak pinggang. Dia beberapa kali memanggil nama Adinda.


Teman pria si Ibu Tiri ikut berdiri di depan pintu. Dia menatap si Ibu Tiri dengan senyum lebar di wajahnya. Dia berkata dengan suara pelan. Tidak terdengar jelas di earphone Agung.


Kemudian tangannya merengkuh pinggang si Ibu Tiri. Menyentak kuat ke arahnya. Tubuh mereka saling menempel begitu pula wajahnya.


“Sh*ttt!” umpat Agung sambil turun dari tempat tidur. Langsung menyambar gawainya di atas nakas, menghubungi driver.


.


***


Ma'afkan telat up. Butuh penyegaran biar moodnya naik lagi dan daya halunya naik lagi.


Insyaa Allah hari ini double up ya, Readers.