CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 171 – KETERKAITAN



Anton berkali-kali menggelengkan kepalanya sambil mengoyangkan telapak kanannya. Sedangkan Hans terkekeh sambil mengusap wajahnya.


“Kenapa?” tanya Hana.


“Gak.. gak bisa..” jawab Anton.


Semuanya memandang Anton dengan tatapan bertanya.


“Lu gak mau dengan Bulan?” tanya Indra.


“Jangan-jangan Lu masih nungguin mantan Lu itu?” sergah Leon yang mendapatkan lirikan judes dari Anton.


“Isssh Abang Leon, apaan sih..”


“Sayang, udah dong, jangan mengungkit-ungkit luka lama,” Layla menepuk lengan suaminya.


“Terus kenapa, Ton?” tanya Bramasta penasaran.


“Bulan itu... dia sudah dikhitbah. Tunangannya seorang anggota polisi yang kebetulan ikut dalam operasi penyergapan,” Hans mejelaskan sambil tertawa, “Padahal Anton sudah mulai suka semenjak Bulan mencegah si Ibu Tiri melukai Anton..”


Anton mencebik, “Gak usah diumumin gitu kali, Bang..”


“Kalau sudah dikhitbah, gak boleh diganggu ya,” kata Ayah dari gawai Adisti.


Bunda dan Agung tampak tertawa.


“Sabar, Hyung... dalam bulan ini harus dua kali merasa suka pada orang yang salah. Pasti rasanya seperti kejedug tembok dua kali ya..” Adisti memberi cengiran pada Anton.


Anton mencebik lagi. Nelangsa.


“Sabaaaar. Jodohnya Hyung 1-2 tahun lagi baru ketemu. Hyung akan menikah sebelum umur 30 kok,” Adisti berkata sambil meraih keripik kentang dalam kemasan tabung dan tampak serius mengeluarkan isi keripiknya yang tinggal sedikit.


Semua orang memandang Adisti dengan tatapan aneh. Adisti yang mulai memasukan keripik ke dalam mulutnya dengan cuek mendadak terdiam. Menatap mereka semua.


“Ada apa? Kenapa?” Adisti balas menatap mereka dengan heran.


“Disti ngomong apa tadi?” Bramasta mengangkat sebelah alisnya.


“Ngomong apa?” Adisti mengerutkan dahinya, “Memangnya Disti ngomong apa?”


“Ah.. yaelah.. kejadian lagi nih..” Indra menepuk pahanya sendiri, “Gung.. adek Lu tuh Gung..”


“Biarin aja dah. Anggap saja pemberitahuan diawal. Diaminkan saja. Toh baik buat Anton supaya gak nelangsa mulu jadi jones, jomblo nestapa..” Agung menanggapi melalui video call sambil meraih botol air mineral di depannya.


“Video ini bakal di-release di TV dan media massa?” tanya Babeh.


Hans mengangguk, “Jam 22.00 akan ada breaking news lagi terkait penyergapan. Sejauh ini pihak kedutaan sudah menunjukkan itikad baiknya. Ini berkat campur tangan Indra.”


Semua memandang Indra. Menunggu Indra untuk bercerita. Yang dipandangi hanya menyengir dan balas memandangi mereka.


“Isssh, mulai lagi deh, Indra ini bertingkah menyebalkan. Tinggal cerita aja kenapa sih?” Leon yang duduk di hadapan Indra menimpuk Indra dengan kulit jeruk.


“Hmmh.. mulai lagi nih kalian petakilan, kelakuan seperti bocah lagi. Mau dijewer lagi?” Daddy memandangi Leon dan Indra.


Indra mendadak mode serius.


‘”Jadi, setelah gue nelepon Bram, gue langsung hubungi dubes. Dia kaget saat diberitahu gue punya bukti-bukti kalau si Bryan ini penjahat kelam1n bagi gadis-gadis yang baru remaja dan juga predator anak laki-laki di bawah umur,” Indra berhenti sejenak untuk memperbaiki posisi duduknya.


“Dia bilang, selama ini kecurigaan dari pemerintahannya selalu dipatahkan oleh Bryan melalui alibi-alibinya yang masuk akal. Termasuk kejadian saat perkemahan anak-anak di Australia dan mayat gadis remaja di gudang villa di Filipina. Dia juga membeberkan beberapa kasus lain yang ditenggarai ada keterlibatan Bryan,” Indra menunjuk keranjang yang berisi jeruk di depan Leon.


Leon mengangguk lalu mengambilkan tiga buah jeruk shantang mini kepada Indra.


“Terus?” tanya Bramasta yang melihat Indra mengupas jeruk.



“Ya intinya, Mr. Karl merestui penyergapan yang dirancang oleh kepolisian bekerjasama dengan Hans untuk operasi tangkap tangan terhadap kejahatan Bryan. Maksud hati ingin menyergap kejahatan Bryan untuk tuduhan woman trafficking, ternyata yang kita dapat malah lebih. Penyerangan, pengancaman dan penyanderaan..” Indra terkekeh.


“Tapi...” Indra melanjutkan lagi, “Mr. Karl sempat merasa heran dengan antusiasme pihak Sanjaya Group dan B Group dalam menangani kasus ini.”


“Wah!” seru Daddy sambil memandang Pak Dhani dan Bramasta.


“Lu jawab apa, Ndra?” tanya Hans dengan raut wajah serius.


“Ya gue jawab, karena calon korban Bryan adalah kerabat dari Sanjaya dan B Group.”


Daddy dan Bramasta mengangguk setuju.


“Mr. Karl mengorek lebih jauh tentang calon korban?” tanya Hans lagi.


Indra menggeleng, “Gue cuma memberitahu garis besarnya saja tentang identitas korban. Remaja putri 17 tahun, yatim piatu, ditipu dan dijual oleh ibu tiri dan teman prianya. Mr. Karl juga tidak bertanya lebih jauh tentang identitas korban karena hubungan kekerabatan dengan kita.”


Hans mengangguk mengerti, “Good.”


Gawai notifikasi pesan chat Indra berbunyi. Indra melihat tampilan pop up pemberitahuan chat. Lalu membuka pesannya.


“Dari Mr. Karl. Malam ini juga, Bryan dipulangkan ke negaranya untuk diproses sesuai jalur hukum di negaranya. Semua kasus-kasus yang diduga ada keterlibatannya dengan Bryan akan dibuka kembali dengan memanggil semua mantan asistennya selama bertugas di negara yang dikunjunginya untuk dimintai keterangan,” Indra men-scroll up layarnya.


“Ini akan menjadi kasus besar di negaranya karena menjadi kejahatan internasional. Mr. Karl berterima kasih kepada kita. Titip salam untuk Tuan Alwin, Bramasta, Hans dan Anton,” Indra mengakhiri membaca sekaligus menerjemahkan isi chatnya dengan Mr. Karl.


Layla mencubit lengan suaminya.


Indra tampak meringis menatap Leon.


“Lu kan dari Kerajaan Iskandardinata,” sergah Daddy disambut kekehan lainnya.


“Tapi kan Leon sudah jadi anak Daddy..” Leon tak mau kalah.


“Secara keluarga, iya. Tapi secara bisnis, tidak,” Daddy memasang wajah menyebalkan.


“Merger yuk, Dad,” seloroh Leon yang membuat Bramasta menaikkan sebelah alisnya. Sementara Hans dan Indra tersenyum lebar.


Daddy menggoyangkan telapak kanannya, “No thanks.. Sanjaya Group tidak tertarik dengan bisnis maskapai.”


“Rancang bangun, Dad..” Leon memeluk lengan Daddy yang kebetulan duduk di sebelahnya.


“Issh.. Leon, apaan sih. Tuh peluk Layla saja, jangan lengan Daddy. Daddy punya Mommy,” Mommy mengeplak tangan Leon.


Semua terkekeh.


Daddy menunjuk pada Bramasta dan Anton, “Rancang bangun ada di B Group..”


Bramasta dan Indra mencibir. Anton hanya meringis.


Perhatian mereka terpecah oleh bunyi panggilan masuk dari gawai Hans. Hans hendak berdiri untuk berpindah tempat saat menjawab panggilan masuknya tapi dicegah oleh Hana. Hana mempererat pelukannya pada lengan Hans.


“Assalamau’alaikum..” jeda.


“Ya, selamat malam, Pak Radit. Bagaimana hasil pemeriksaannya?” Jeda.


“Hans, loud speaker,” kata Bramasta karena dia tahu siapa lawan bicara Hans.


Hans mengangguk.


“... hasil interogasi dengan Reyhan, asistennya Bryan, ternyata berkaitan dengan The Ritz,” kalimat Raditya, seorang perwira polisi yang menjadi lawan bicara Hans mengejutkan semua yang ada dalan ruangan.


Hans meletakkan jemari telunjuknya di bibirnya, menyuruh semua orang untuk tidak gaduh.


“Lanjutkan, Pak Radit,” suara Hans terdengar sangat serius.


“Rita Gunaldi mempunyai usaha gelap sebagai penyedia jasa prostitusi online untuk kalangan eksekutif. Seperti yang Pak Hans pernah ceritakan kepada saya waktu itu.”


“Ya..” Hans mengangguk.


“Bryan terdaftar sebagai membernya.”


“Menjadi member berarti ini bukan kasusnya yang pertama mengenai woman trafficking?”


“Selama ini untuk memuaskan nafsunya, dia memakai jasa The Ritz yang menyediakan aneka layanan dan menu sajian,” Raditya terdengar terkekeh.


Hans ikut terkekeh, “Sudah seperti restaurant saja ya.”


“Karena The Ritz sudah ditutup, makanya Bryan memerintahkan asistennya untuk mencari gadis belia yang bisa dijadikan mainannya. Bertemulah si asisten dengan Endah Mawarti dan Safrudin Mulyana, yang kita kenal sebagai ibu tiri korban dan teman prianya.”


“Pak Radit, bisa telusuri para gadis yang dipesan Bryan melalui The Ritz? Saya khawatir, kondisi mereka. Mengingat kasus di Filipina dan beberapa negara lain tempat dia melakukan tugas kerjanya,” Hans berbicara sambil mengetuk-ngetuk lututnya.


Semua mengangguk setuju dengan ucapan Hans.


“Baik Pak Hans, nanti akan kami cross chek dengan Rita Gunaldi.”


“Buku Hitam penguna jasa gelap The Ritz sudah ditemukan?” tanya Hans.


“Tidak.. Rita tidak menyimpannya dalam buku catatan karena terlalu riskan. Dia menyimpannya dalam bentuk flashdisk. Tapi sampai sekarang dia belum mau memberitahu dimana dia menyimpan flashdisk tersebut.”


“Oh begitu.. Tentang Bryan sendiri baru saja saya mendapat kabar, malam ini dia dipulangkan ke negaranya dan kejahatannya akan diproses di sana.”


“Kekebalan diplomatik itu... merepotkan ya.” Raditnya terkekeh. Hans juga.


“OK Pak Hans, nanti kalau ada perkembangan baru, akan saya kabari langsung.”


“Terimakasih banyak, Pak Radit,” jawab Hans.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


***


Rita Gunaldi menjadi benang merah Bryan.


Ferdi Gunaldi menjadi benang merah si Teman Pria ibu tirinya Adinda.


Pasangan pikasebeluleun mereka mah..


Bantu promosikan novel ini ya Readers


Jangan lupa jejaknya...❤️