CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 51 – MODEL RAMBUT



Indra menatap nanar pada layar gawainya. Pesan dari Leon yang terasa begitu menohok kesadarannya. Dia mengetik sesuatu untuk membalas tapi menghapusnya lagi. Beberapa kali. Akhirnya dia meletakkan gawainya di atas meja konferensi pers. Pikirannya tidak mau terbagi saat ini.


Hans menaikkan sebelah alisnya sambil memandang Indra. Tatapan_What’s up?_


Indra hanya mengedikkan bahunya sebagai ganti kalimat_Abaikan saja_


Akhirnya konferensi pers usai. Semua pihak bernafas lega. Dan cerita Bramasta dan Adisti pun mengisi portal-portal berita online.


Adisti merasa kaku pada bahu dan lehernya. Mungkin karena terlalu tegang menghadapi para wartawan. Mengeluh pada kakaknya. Agung memijati tengkuk dan bahu kanan Adisti.


Bramasta melihatnya. Mereka berkumpul di lobby VVIP usai maghrib berjamaah di mushola.


“Kenapa?”


“Kaku katanya. Efek tegang tidak terbiasa dengan hal seperti ini,” jawab Agung.


“Abang gak bisa janji untuk next-nya tidak akan ada konferensi pers lagi, Disti. Kedudukan Abang, keluarga Abang, perusahaan Abang, pasti akan menjadi sorotan media. Apalagi bila nanti kita sudah menikah nanti,” Bramasta duduk di sofa lobby VVIP di dekat Adisti. Sementara Agung duduk di sandaran tangan sofa yang diduduki Adisti, masih memijati bahu adiknya.


Bramasta menatap mata Adisti yang balas menatapnya dengan pandangan khawatir.


“Tapi Abang akan usahakan tetap menjaga privacy kita. Jangan khawatir, OK?”


Adisti mengangguk dan tersenyum.


“Beri Adek waktu, Bang untuk beradaptasi dengan keluarga dan kehidupan Abang,” kata Agung, “ Saat sudah menjadi istri, Adek harus ikut suami, ya. Karena makmum harus mengikuti imam. Kakak yakin Adek sudah paham kan?”


“Iya Kak..”


“Kok Kakak jadi mendadak melow begini ya, Dek..” Agung mengusap ekor matanya.


“Ya ampun A..” Bramasta menatap Agung, “Kalau sudah nikah nanti paling Disti cuma pindah kamar doang tidurnya. Jadi tidur di kamar Abang, nemenin Abang di rumah Abang..”


“Dih, kenapa ngomongin tidur dan pindah kamar sih?” Agung meringis menatap Bramasta.


“Eh, nggak gitu. Bukan itu maksudnya..” Bramasta bingung sendiri.


“Kalian tuh ya,” Adisti berdiri sambil menunjuk kepada Agung dan Bramasta, “Mikirin jorok ya? Bilangin ke Ayah sama Bunda loh..”


“Kakak nggak, Abang Bramasta tuh..” Agung membela diri.


“Nggaaak,” Bramasta panik.


“Nggak salah lagi, iya kan?” Indra ikut nimbrung sambil terkekeh.


“Au ah. Disti mah masih bocil. Gak bakal ikut denger kalian ngomongin jorok..” Disti berjalan pergi ke arah kamarnya, “Bang Hans, omongin mereka tuh. Bang Hans kan yang rada tuaan dari mereka..”


“Abang belum tua, Dis..” Hans memprotes Adisti.


Adisti menoleh pada Hans, “Tapi Abang sudah jadi bapak-bapak.”


“Anak Abang baru 1, Dis. Masih bayi pula..” Hans makin tidak terima.


“Lah, Disti benar kan? Artinya Abang Hans sudah jadi bapak?”


Hans terdiam. Tidak tahu harus berkata apa. Yang lainnya tertawa terbahak, makin keras tawanya saat Adisti sudah lenyap dari pandangan.


“Kita 4 cowok keren, kalah menghadapi 1 ras terkuat di muka bumi..” kata Indra sambil terkekeh.


“Adeklu, Gung. Kalau ngomong banyak benernya ya..” kata Hans sambil mengusap wajahnya.


“Gak ada Bang Leon nih, kurang afdol jadinya..” Bramasta terkekeh.


Ucapan Bramasta menyadarkan Indra tentang pesan Bang Leon yang belum dia balas.


“Tadi saat konpers, Abang Leon nge-chat gue,” Indra menunjukkan chat dari Leon, “Dan gue baru sadar saat itu.”


Semua mengerubungi Indra.


“Eh iya tuh,” kata Agung, “Gimana dong?”


“Ketahuan deh..” Hans ikut bersuara.


“Gimana Bos?” tanya Indra pada Bramasta.


“Bukannya lu pakai alat penyamarannya milik Anton?” tanya Bramasta.


“Iya.”


“Amanlah. Gak perlu dikhawatirkan lagi.”


“Tapi cuma gue cuma pakai kacamata.”


“Superman nyamar jadi Clark Kent cuma pakai kacamata doang kan?”


“Itu fiksi, Bro..”


“Bruce Wayne menyamar jadi Batman wajahnya ditutupi topeng mata saja kan?”


“Come on_Ayolah_...”


“Tanyakan saja ke Adisti. Dia sebagai seniman matanya lebih jeli daripada kita yang awam,” Bramasta berdiri diikuti ketiganya meninggalkan lobby VVIP.


“Assalamu’alaikum,” berempat mereka kompak mengucap salam ketika memasuki kamar. Ada Mommy dan Daddy di dalam kamar sedang berbincang sambil menonton TV. Adisti tengah berada di bed-nya dengan tirai tertutup. Seorang perawat tengah memeriksa luka jahitan Adisti. Agung langsung masuk ke bilik bed Adisti.


“Ya Allah, Dek. Rambutnya dipotong? Kapan?” tanyanya. Adisti terkekeh.


Bramasta yang tengah duduk di sofa bed langsung menoleh ke arah bilik bed Adisti.


“A, beneran?” tanya Bramasta dari balik tirai.


“Iya, masa bohongan..” seru Agung.


Bramasta mencebik. Lalu berjalan ke arah sofa U. Indra dan Hans bergabung dengan Mommy dan Daddy menonton TV.


“Mom..” Bramasta mengoyangkan kaki Mommy yang selonjor di sofa dengan menyenderkan punggungnya ke dada Daddy.


“Apa?” tanya Mommy.


“Rambut Adisti kenapa di potong sih?”


“Memangnya kenapa?”


“Bram lebih suka Adisti dengan rambut panjang.”


“Darimana tahu Adisti rambutnya panjang?”


DEG. Bramasta terdiam.


“Nebak aja..”


“Kasihan tahu Adisti. Dari semenjak jatuh di jurang sampai hari ini dia belum keramas. Gerah dan gatal pasti, ditambah lagi ada rambut yang masih ada darah keringnya. Apalagi harus dipitakin untuk jahitannya. Udah kamu tenang aja. Adisti bakal tetap kece dengan potongan rambut barunya,” Mommy menepuk-nepuk tangan Bramasta.


“Memangnya Mommy potong model apa rambut Adisti?”


“Model bob.”


DEG. Bramasta membayangkan helm half face tanpa kaca.


DEG lagi. Bramasta membayangkan kecambah pendek pada rawon.


“Oh NO!” Bramasta beranjak dari duduknya bergegas menghampiri Agung yang masih ada di dalam bilik bed Adisti.


“A Agung,” panggil Bramasta dari balik tirai, “Rambut Adisti bagaimana?”


“Udah nggak bau lagi sih. Kata Adek tadi ditaburi baby talc oleh Mommy..”


“Kakak! Ih kok dibilang-bilang sih rambut Adek bau? Malu tahu..!”


Yang berkumpul di sofa U terkikik tertahan.


“Kan Kakak ditanya, Dek. Ya wajib Kakak jawab dong.”


“A, maksud Abang, rambut Adisti bagus gak yang sekarang?”


“Pendek, Bang. Bagus sih daripada sebelum-sebelumnya gak karuan bentuknya. Pas di bawah telinga. Mirip model rambut Kak Seto.”


“Ya Allah… mirip rambut Pak Tarno dong…” Bramasta lemas.


“Kalian ini banding-bandingin yang old style banget sih. Yang kekinian dong: Dora The Explorer,” seru Indra dari sofa U. Hans terkekeh kencang.


“Kalian jahat deh,” Adisti kesal, “Udah sana Kakak jangan di sini. Sana keluar, gabung sama yang lainnya nertawain Adek.”


“Ngusir nih?”


“Emang iya.”


Agung muncul dari balik tirai lalu menatap Bramasta.


“Marah beneran loh.. Abang sih..”


“Kok Abang sih?”


“Lah, yang nanya-nanya rambut Adek siapa?”


“Terus gimana?”


“Tau ah..” Agung melirik arlojinya, “Bang, Aa pamit dulu ya. Aa harus nemenin Ayah dan Bunda sebentar. Titip Adek. Jangan dibikin ngambek lagi.”


Agung menghampiri Daddy. Berbicara dengan suara perlahan khawatir Adisti mendengarnya.


“Om, malam ini Tuan Hilman jadi menemui Ayah dan Bunda?” tanya Agung.


“Nanti Om hubungi dulu,” Daddy mengetik pesan chat kepada Hilman Anggoro.


“OK, kita otw sekarang. Come on, Hans. Let’s go.”


“Gak makan dulu?” tanya Mommy.


“Nanti saja di rumah Pak Gumilar,” jawab Daddy.


“Ikuuuuut,” Mommy meraih tas tangannya.


Hans dan Agung terkekeh.


“Lah, terus yang jagain Bram dan Adisti siapa? Lagi marahan tuh. Kalau gak ada wasitnya bisa berabe,” kata Daddy.


“Kan ada saya, Om,” Indra menunjuk dadanya.


“Ah lu mah bakalan ngomporin doang, Ndra..” Agung menoleh kepada Indra sambil terkekeh, “Yang nyebut Dora The Explorer siapa?”


Indra terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Iya deh.. Mommy jadi wasit. Lagian juga kalian nih ya,” Mommy memukulkan tas tangannya pada lengan atas Indra, Agung dan Hans bergantian, “Pakai ngetawain rambut Adisti. Itu Mommy yang motong, tau! Jahat ya kalian semua. Sama aja dengan ngatain hasil kerja Mommy gak bagus!”


“Iya Tante..maaf..” kata Indra dan Agung bersamaan. Hans hanya memberikan cengiran terbaiknya sambil mengelus-ngelus lengan atasnya .


“Kita berangkat sekarang, Tuan?” tanya Hans pada Daddy, alih-alih menghindari amukan Nyonya Almira lagi dengan melarikan diri dari TKP.


“Iya. Ayo..” Daddy memimpin jalan diikuti Hans dan Agung.