
Mereka sedang mendengarkan menggunakan headset ketika pintu diketuk. Leonardo Iskandardinata, memasuki ruangan setelah mengucap salam. Bramasta kembali naik ke bednya karena merasa kepalanya kembali berdenyut.
“Are you OK_Kamu baik-baik saja_?” tanya Leon. Bramasta mengangguk.
Hans memesankan makan malam untuk mereka semua. Sementara Bramasta dan Adisti mendapat makan malam sebagai pasien rumah sakit.
“Keinginan Daddy terkabul, ingin dinner di rumah sakit,” kata Bramasta sambil terkekeh.
Daddy, Hans dan Indra masih mengingat percakapan mereka beberapa hari yang lalu pun terkekeh.
Adisti tidak menghabiskan makan malamnya. Tubuhnya demam. Dokter jaga memeriksanya.
“Kemungkinan akibat luka dari jarum pentul itu,” Dokter Wanita itu menambahkan obat penurun demam.
Setelah makan malam dan para pasien minum obat, mereka membahas lagi video pertama.
“Jadi penyerangan Disti kali ini bukan atas perintah Nyonya Hilman Anggoro, ya,” kata Bramasta.
“Si Penyerang bahkan sangat kesal sekali dengan Nyonya Hilman Anggoro,” kata Indra.
“Si Penyerang meluapkan kemarahannya terhadap perilaku si Nyonya kepada Adisti,” Mommy menambahkan, “Luar biasa.”
“Jadi bagaimana?” tanya Agung.
Pintu diketuk dari luar, Pak Armand masuk sambil mengucap salam.
“Apa yang sudah saya lewatkan?” tanyanya to the point. Indra dan Hans menjelaskan secara bergantian pada Pak Armand.
Pak Armand mengangguk. Bramasta hanya mengamati di atas tempat tidurnya. Obat yang diminumnya membuatnya merasa mengantuk.
“Sebaiknya besok pagi kita ke Anggoro Putro tepat pada saat Hilman baru tiba di kantornya. Morning attack_serangan pagi_ akan membuat Hilman tidak siap dan panik sehingga mau mengikuti skenario kita,” Pak Armand menerima teh dalam paper cup yang disodorkan Bunda.
“Informan saya, Hilman Anggro selalu tiba pukul 08.50 setiap harinya. Jadwalnya besok tidak ada yang istimewa. Sepanjang hari ia akan berada di ruangannya,” kata Indra sambil melihat layar gawainya.
“OK, kita semobil saja datangnya ya, supaya praktis,” kata Daddy.
Pak Armand dan Hans mengangguk.
“Tentang kejadian di rumah sakit, kita tuntaskan melalui jalur hukum?” tanya Pak Armand.
“Tentu. Kejadian tersebut sudah mengancam nyawa Mommynya Bram dan Calon Istrinya Bram juga calon besan kami,” Daddy menambahkan lagi, “Tidak ada damai.”
Pak Armand mengangguk lagi.
“Buat Leon dan Indra, ada tugas untuk kalian,” Daddy memandang mereka berdua.
Leon dan Indra saling berpandangan lalu memandang Bramasta yang sudah tertidur.
“Ada apa Dad?” tanya Leon.
“Kalian berdua datangi The Ritz secara terpisah. Ambil bukti sebanyak-banyaknya, kita hancurkan The Ritz. Daddy tidak mau perempuan itu masih bisa bergaya dan berbisnis setelah menyakiti dan menghina Adisti sedemikian rupa,” Indra dan Leon mengangguk mengerti.
Hans dan Pak Armand membicarakan teknis besok pagi, Daddy dan Mommy mengobrol bersama Ayah dan Bunda, sementara Indra dan Leon berembuk mengenai pembagian tugas mereka.
“Bang, Abang kan rambutnya udah agak gondrong dikit, Abang besok nyalon aja ya di The Ritz,” bujuk Indra.
“Mana gondrong? Segini kamu bilang gondrong?” Leon tampak kesal.
“Bilang aja mau dirapiin dikit..” kata Indra, “Lagipula itu bukan khusus salon wanita kok..”
“Kenapa gak kamu aja sih?”
“Bang, Abang gak lihat rambut saya sependek ini?” Indra mendekatkan rambutnya pada wajah Leon.
“Isssh.. jauh-jauh sana,” Leon mendorong bahu Indra yang terkekeh.
“Abang nyamar jadi bule Perancis aja. Cuma bisa bahasa Indonesia sedikit itupun pakai medok Perancis. OK?”
“Lha, terus kamu ngapain?” tanya Leon sambil memeriksa gawainya. Ada beberapa chat pesan dari Layla. Leon membalas chat dengan senyum lebar di wajahnya.
“Indra nanti pura-puranya mau pesan baju.”
“Kamu mau pesan baju pengantin?” Leon kaget, “Emang udah ada calonnya? Kok Daddy atau Bram gak cerita sih?”
“Isssh, PURA-PURAnya Abaaaang. Makanya kalau diajak ngobrol jangan sambil jawab chat pakai senyum-senyum segala..” Indra memandang jengkel pada Leon.
Leon terkekeh, “Kangen tahu ke istri walau gak ketemu beberapa jam..”
“Halagh.. dasar bule bucin.”
“Buruan gih, nikah. Enak tau..”
“Besok, mampir ke B Group. Kita pakai alat spionasenya Anton,” kata Indra.
“Dia bakal pantau kita?”
“Di dalam mobil van di parkiran?” Indra terkekeh, “Abang kira kita lagi main spionase-spionasean seperti di film-film Hollywood? Nggak lah. Dia lagi sibuk banget mengawasi pekerjaan di site dan mempersiapkan kejutan untuk hari H.”
Pintu diketuk dari luar, Agung membukakan pintu sambil menjawab salam. Sosok besar tubuh bosnya, Kusuma Wardhani memenuhi ambang pintu.
“Bagaimana Bramasta dan Adisti?” tanyanya.
“Hai Pak Dhani, masuk Pak,” Daddy memanggil Pak Dhani.
“Assalamu’alaikum semuanya,” Pak Dhani melambai ke semuanya. Semuanya menjawab salamnya. Indra mendekati papinya untuk salim.
“Kirain bakal datang bareng Mami,” kata Indra.
“Papi belum sempat pulang. Barusan meeting di luar. Tadi sore melanjutkan meeting yang ditinggalkan oleh Agung. Memperkenalkan kepada para manajer di divisi Papi. Juga memberitahu bahwa Agung adalah sosok pegawai pecatan yang viral kemarin supaya tidak ada kecemburuan sosial dan sangkaan nepotisme. Apalagi tadi Agung meninggalkan meeting dengan cara yang heboh..” Pak Dhani terkekeh.
“Saya dalam mode panik, Pak,” Agung tersenyum malu.
“Bisa dimaklumi..”
“Bramasta dan Adisti bagaimana?”
Menjelang pukul 22.00, Pak Armand dan Leon pamit pulang.
“Ndra, kamu pulang. Kamu besok harus ada di B Group. Orang nomor satunya gak ada di kantor, orang nomor duanya harus standby,” kata Daddy, “Bram gak usah ngantor dulu. Biar istirahat sehari aja dulu, kerjaan kantor bisa dikerjakan dari sini kan?”
Indra mengangguk.
“Malam ini yang jagain mereka siapa, Om?” tanya Indra.
“Biar kami saja yang jaga mereka,” kata Ayah, “Kalian semua sibuk dan lelah hari ini. Pulanglah. Istirahat di rumah. Besok kondisi kalian harus benar-benar fit untuk menjalankan rencana yang sudah disusun.”
Semuanya mengangguk.
“Semoga tidak merepotkan Pak Gumilar dan Ibu,” kata Daddy.
“Insyaa Allah nggak, Pak.”
“Kalau begitu Agung besok tidak usah ke kantor dulu. Ngantornya di sini saja ya,” kata Daddy, “Walau di luar sudah ada orang yang menjaga ditambah security VVIP tapi kita tidak tahu manuver yang akan dilakukan Nyonya Hilman dan Rita Gunaldi. Kamu sama dengan Adisti kan? Sabuk hitam taekwondo?”
Agung mengangguk.
“Nanti saya akan kirim orang untuk membawakan laptop dan berkas-berkas yang harus kamu pelajari,” kata Pak Dhani.
“Baik Pak.”
“OK, kita pamit dulu ya..” Daddy memeluk Ayah dan Mommy memeluk Bunda. Lalu mendekati bed Adisti dan Bramasta. Mommy mengecup kening Adisti dan Bramasta yang terlelap tidur.
Agung sudah mematikan lampu-lampu utama. Ayah dan Bunda sudah terlelap di bed keluarga. Bed keluarga di VVIP lebih besar daripada di VIP. Ayah dan Bunda bisa tidur dengan nyaman tanpa berdesakan. Agung menyalakan lampu tanam pada plafon yang temaram. Dia merebahkan dirinya di sofa bed dekat bed pasien.
Matanya mulai terpejam ketika ia mendengar tombol lampu tidur di atas bed dinyalakan. Bramasta terbangun.
“Kenapa Bang?” tanya Agung.
“Jam berapa sekarang, A?”
“Baru jam 11. 45 Bang. Tidur lagi aja.”
“Aa tidur aja. Abang gak apa-apa. Sudah gak pengen tidur lagi.”
Infus di lengan Bramasta sudah dilepas sejak setelah makan malam. Bramasta bisa bergerak dengan leluasa. Dia berjalan menuju kamar mandi. Agung menunggui Bramasta di atas sofa bednya sambil membuka gawainya. Dahinya berkerut saat menonton video.
“Ada apa?” tanya Bramasta yang sudah ada di sampingnya.
Agung menunjukkan layar gawainya. Sebuah video yang diambil dari kamera CCTV. Judulnya “1 Jam sebelum Part 1,2&3”
“Oh my God..” Bramasta menatap layar handphone, “Ini di pelataran parkir tempat kami makan siang.”
“Kameranya terlalu jauh. Wajah Tiyo tidak terlihat jelas ya. Tapi baju yang Abang dan Disti kenakan bisa dikenali dengan jelas, apalagi Disti memakai gendongan tangan.”
Bramasta mengangguk.
“Abang pukul dia?” tanya Agung.
“Abang tidak tahan untuk memukulnya setelah tuduhannya terhadap Adisti. Abang tidak akan memukul kalau dia menghina Abang secara pribadi, tapi kalau dia menghina orang-orang yang Abang sayang, Abang tidak akan tinggal diam.”
Agung memeluk Bramasta, “Terimakasih Bang sudah mewakili saya untuk memukul pecundang itu.”
Bramasta mengangguk. Dia menepuk-nepuk punggung Agung.
“Tidurlah, A. Biar Adisti saya yang jaga. Tadi apa yang sudah saya lewatkan dari pertemuan?” tanya Bramasta.
“Pengaturan dari Daddy, kita berdua ngantor di sini,” Agung terkekeh diikuti Bramasta.
“Tidurlah. Aa pasti sangat lelah dengan kejadian sepanjang hari ini.”
Agung menangguk.
Lewat tengah malam, Adisti terbangun. Bramasta menghampirinya.
“Ada apa?” Bramasta menyodorkan botol air mineral di meja nakas. Adisti menyesapnya.
“Tidur lagi aja. Masih tengah malam.”
Adisti menggeleng.
“Masih sakit kulit kepalanya?” tanya Bramasta.
“Sudah mendingan, tidak sesakit tadi.”
“Disti, maafkan Abang ya. Seharusnya Abang tidak meninggalkan Disti di mobil.”
“Abang kenapa minta maaf begitu sih? Disti gak apa-apa. Lagian Abang juga kan meminta Disti untuk menunggu Abang di dalam mobil, tapi Distinya bandel keluar mobil buat beli boba.”
“Abang tidak terima melihat Disti disakiti perempuan itu,” Bramasta menyentuh pelan perban yang membalut kepala Adisti, “Abang tidak tega saat melihat kepala Adisti berdarah.”
Adisti menatap Bramasta, melihat ada kesedihan pada matanya.
“Abang ingin menghajar perempuan itu tapi sayangnya dia sudah menggelinding jauh.”
Bramasta menatap mata Adisti, “Abang bangga kepada Adisti. Tendangan memutarnya keren banget.”
Adisti terkekeh.
“Selamat ya, Disti punya banyak fans sekarang. Videonya viral banget.”
“Apaan sih Abang..”
“Udah punya banyak fans tapi jangan buat Abang cemburu, ya. Suer, gak enak banget rasanya.”
Adisti terkekeh.
Agung yang belum tertidur, tersenyum mendengarkan pembicaraan mereka.