CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 267 – BUSSINESS DINNER?



APARTEMEN LANDMARK


UNIT PENTHOUSE


Adisti selesai menyiapkan makan malam. Dia tengah menatanya di atas meja makan saat suaminya menghampiri meja makan dengan rambut basah.


Aroma shampo mahal menguar di udara. Bramasta tersenyum melihat istrinya tengah menghidu aroma shamponya.


“Kenapa?”


“Segar banget yang habis keramas..”


“Woyyyadooong.”


“Gak capek habis olahraga sejam penuh?”


“Udah segar lagi karena mandi.. Terus mau makan juga.”


Saat Adisti memasak, Bramasta berolahraga sambil mendengarkan tayangan bursa saham dan berita ekonomi internasional. Sesekali dia menoleh pada layar TV bila ada berita yang menarik perhatiannya.


Adisti meladeni suaminya di meja makan. Mereka berbagi tugas. Adisti yang menyiapkan makan malam sedangkan Bramasta nanti akan mencuci piring dan membereskan meja makan.


“Tadi saat berita tentang New Zealand, Abang kok terlihat sangat tertarik sekali?”


“Ada peternakan besar sapi dan domba yang terancam gulung tikar di sana. Saham mereka anjlok saat pandemi. Mereka sudah melakukan banyak pengurangan pegawai untuk bertahan.”


“Bang,” Adisti mengambilkan sepotong perkedel jagung lagi untuk suaminya, “Kita bisa gak?”


Bramasta menatap istrinya sambil mengunyah. Lalu mengerutkan keningnya. Berpikir sejenak.


“Itu peternakan sapi perah dan domba biri-biri yang diambil wool-nya..” Bramasta tahu kemana arah bicara istrinya.


Bramasta menunjuk kerupuk di samping Adisti.


“Kembangkan jadi ada sapi potong dan domba potongnya juga,” Adisti mengambilkan kerupuk untuk suaminya.


“Untuk?” Bramasta menikmati kerupuk sambil mengamati wajah istrinya.


Rambutnya sudah mulai panjang sekarang. Layer sisa-sisa potongan model pixy masih terlihat. Walau begitu, rambutnya masih membingkai wajah istrinya seimut wajah peri Thinkerbell.


“Untuk memenuhi kebutuhan daging potong dengan label halal ke seluruh negeri. Konsep kita, halaalan thoyyiban. Kita besarkan ternak dengan organik. Tidak pakai vaksin, antibiotik, vitamin sintetis, pakan biji-bijian GMO dan lain sebagainya. Biarkan ternak merumput secara alami. Untuk obat-obatan, banyak ahli peternakan kita yang memakai herbal untuk mengelola peternakan organik.”


Bramasta menaikkan sebelah alisnya.


“Jamu?”


Adisti mengangguk.


“Seperti itu, kalau mau lebih jelasnya lagi, Bunda bisa jelaskan.”


Bramasta mengangguk.


“Berapa luas lahannya?” Adisti bertanya.


“30 Acres, sekitar 12 ribu lebih hektar."


“Tanyakan kepada para ahli, untuk membuat perbandingan ideal berapa jumlah ternak per acre-nya bila ternak dilepas di alam habitatnya.”


“OK... Buk Istri minat?”


Adisti mengangguk.


“Para pekerja yang dirumahkan, panggil lagi untuk bekerja kembali. Kasihan..”


“Buk Istri, ini seperti makan malam bisnis..” Bramasta tersenyum, “Nanti besok insyaa Allah, Abang akan diskusikan dengan Indra..”


“Dinner for bussiness?” Adisti melambaikan tangannya, “Ini cuma percakapan suami istri biasa yang kebetulan suaminya tajir melintir...”


Bramasta terkekeh.


“Apapun keinginan Buk Istri, selama Abang mampu dan itu tidak berlebih-lebihan dan mubazir, tidak ada unsur riya’, tidak mengandung mudhorot, insyaa Allah akan Abang penuhi..”


“Masyaa Allah.. senangnya punya Pak Suami yang baik banget dan sholeh banget seperti Abang..” Adisti bangkit dari kursinya lalu memeluk suaminya yang terkekeh.


“Nanti kita survey langsung ke sana ya,” Bramasta menepuk-nepuk punggung istrinya.


“Ah, kita juga gak pasti bisa berangkat kapan..” Adisti mencebik.


Bramasta tertawa, “Nggak..nggak gitu.. Bukan survey kelayakan tapi survey untuk melihat apa yang bisa kita kembangkan di sana. Potensi apa yang ada di sana..”


“Berarti saat kita ke sana segala urusan hukum jual-beli sudah selesai kan?” Adisti terlihat antusias lagi.


“Insyaa Allah.. Keputusannya besok ya, Buk Istri. Abang tetap harus membicarakan ini dengan Indra. Perspektifnya luar biasa dengan pengalamannya selama ini..”


Adisti mengangguk setuju. Dia menuangkan air putih dengan irisan timun dan lemon di dalam water pitcher-nya.


“Pak Suami beneran mau beres-beres sendiri? Gak dibantuin Buk Istri?” Adisti menyerahkan gelas untuk suaminya.


“Hmmm,” Bramasta mengangguk, “Memangnya Buk Istri mau ngapain setelah makan?”


“Mau me time..” Adisti tersenyum lebar sambil mengerling genit.


“Means?” Bramasta menaikkan sebelah alisnya.


“Mau mandi, Bang...”


“Laaah, mandi aja bilangnya me time..” Bramasta terkekeh sambil meneguk air minumnya.


Bramasta tengah berkonsentrasi membersihkan dust room-nya robot penyapu. Semua kotoran yang masuk dijadikan satu berupa gulungan spiral sehingga mudah untuk membersihkannya.


Bagi dirinya rasanya aneh menamai peralatan di rumah walaupun itu sebagai robot. Sedangkan Adisti memperlakukan Mochi selayaknya hewan peliharaan. Terkadang diajak bercakap-cakap, terkadang disentuh.


Ia menanggapi kelakuan istrinya dengan kekehan sambil menggelengkan kepalanya.


Adisti berdiri di sampingnya dengan handuk membentuk tulban menutupi rambutnya. Mengenakan kimono satin warna olive, Adisti menundukkan tubuhnya memperhatikan suaminya yang tengah membersihkan robot penyapunya.


“Makasih Pak Suami.. sudah bersihkan Mochi... Bagaimana? Hari ini Mochi makannya banyak?”


Bramasta mengerutkan keningnya mendengar kalimat istrinya.


“Iya.. Mommi.. hari ini Mochi maemnya banyak, “ Bramasta meniru seuara anak kecil, “Pup-nya juga banyaaaaak.”


“Dih!” Adisti tergelak, “Langsung cuci tangan, Bang!”


Bramasta mencuci tangannya setelah meletakkan si Mochi di tempat charger station-nya. Menoleh menatap handuk di atas kepala istrinya lalu membuka gulungan handuknya.


“Pak Suami bantu keringin ya..”


“Udah... pusing nih kepalanya diuyeg-uyeg begitu..”


“Ma’af..” Bramasta menyibak rambut di tepi kepala istrinya, “Jahitannya sudah mulai tenggelam...”


“Keloid gak?”


“Nggak..” tangannya berhenti menyibak saat istrinya bergerak menjauh, “Buk Istri mau kemana?"


"Naruh handuk basah di keranjang cucian..”


“Ya sudah,” Bramasta meraih remote untuk mematikan lampu dan menutup tirai jendela tengah.


Bramasta masih memegang gagang pintu saat menatap istrinya berdiri di depan meja riasnya dengan ikatan kimono yang terlepas. Matanya mengerjap.


Dari pantulan cermin, Adisti melihat kelakuan suaminya. Seperti yang tengah melamun sambil menatap dirinya.


“Abang?” tanyanya.


Bramasta masih bergeming. Dia masih menatap istrinya. Matanya mengerjap lagi.


Bramasta mendekat ke arah Adisti dengan mata masih terpaku pada matanya.


“Pak Suami kenapa sih? Halowww. Ih, jadi takut nih..”


“Buk Istri cantik banget.”


“Ngegombal?”


“Nggak. Abang gak bisa dan gak pernah ngegombal..”


“Baru nyadar kalau Disti cantik?”


“Dari semenjak lihat Disti di tengah jurang, Abang sadar kok kalau Disti cantik..”


“Terus kenapa tadi bilang Disti cantik?”


“Lihat Disti pakai kimono setengah terbuka begitu. Lingerie di dalamnya jadi terlihat...”


Adisti menunduk menatap kimononya.


“Buk Istri sengaja ya?”


“Issh, nggak.. ikatannya lepas sendiri.."


"Masa?" Bramasta tersenyum miring sambil mengambil sejumput rambut yang menutupi alis Adisti.


“Ya sudah. Besok Disti ke kantor pakai baju ini saja..”


Bramasta langsung bergerak cepat, melempar tubuh istrinya ke atas tempat tidur lalu menindihnya.


“Please deh, jangan nakal. Jangan ngasih ide yang iya-iya..”


“Bang, bahu bekas cedera Disti sakit lagi nih tertindih miring seperti ini...”


Bergegas bangun lalu menatap cemas istrinya yang meringis. Lengan kimono merosot, menampakkan bahu yang terbuka dengan seutas tali spaghetti lingerie-nya.


“Maaf.. Abang gak sengaja. Sakit banget? Ma’af ya.. Duh, gimana dong. Beneran, Abang gak sengaja..”


Bramasta menatap cemas istrinya. Adisti masih meringis sambil memenangi bahunya.


“Kita ke rumah sakit ya sekarang..”


Adisti menggeleng keras, “Gak usah. Ngapain ke rumah sakit?”


“Tapi kan bahu Disti...”


“Gak usah rumah sakit-rumah sakitan. Di sini saja kalau mau main dokter-dokteran!” dengan gerak cepat, Adisti melepaskan kimono sakitnya lalu menjatuhkannya dengan provokatif ke lantai.


.


***


Minggir...minggiiiir


Bubaaaaar


Mereka mau main dokter-dokteran...


🤓🤣