
Menjelang jam kantor usai, Adisti menghampiri Agung di ruangannya. Bersama Bramasta tentu saja, hanya saja Bramasta berada di ruangan Daddy bersama Hans.
Indra menyusul kemudian. Ada beberapa hal penting yang dibicarakan terkait perusahaan.
Adisti seperti biasa langsung menuju ke lemari penyimpanan cemilan di belakang kursi Agung. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat isi cemilan di dalam lemari bagian bawah.
“This is heaven...” gumamnya.
Agung yang sedang membuat laporan melirik ke arah adiknya.
“Lebaaaaaay.” Agung mencibir, “Memangnya di ruangan Abang atau Adek gak ada lemari cemilan?”
“Ada doooong.”
“Terus, kenapa masih ijo saja tuh mata melihat isi lemari cemilan Kakak?”
“Issssh, Kakak seperti yang tidak tahu saja dengan istilah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput di halaman rumah sendiri.”
“Jiaaaaah!” Agung makin mencibir, “Bilang aja lapar mata!”
“Biarin...”
“Dah ah, Kakak mau menyelesaikan laporan ini dulu. Nanti malah gak kelar-kelar.”
“Awas loh jangan telat pulangnya.”
“Makanya Adek diam, jangan ngerecokin Kakak terus..”
“Kak!” Adisti berdiri sambil tangannya membawa sebungkus biskuit asin yang berbentuk lembaran persegi tipis.
“Apa lagi?” suara Agung terdengar tidak ramah.
“Adek sekalian bacakan rundown acaranya ya.”
“Hmmm,” Agung menatap adiknya yang tengah menyantap biskuit tipis, “Bukannya tadi sudah di-share di WA?”
“Kan afdhol lagi kalau dibacakan. Jadi kalau ada pertanyaan bisa langsung dijawab..”
“Sok weh.. mangga. Kumaha Neng Disti weh..._Terserah deh.. silahkan. Gimana Neng Disti aja.._”
“Kakak usahakan pulang tepat waktu supaya bisa mandi dulu. Bebersih biar gak bau ketek.”
“Ketek Kakak gak bau kok!” Agung mengendus ketiaknya.
Adisti hanya mencibir menanggapinya.
“Acara berubah tempat. Kakak udah tahu belum?”
“Laaah? Gak jadi di rumah kita?”
“Nggak. Kurang besar rumah kita Kak untuk menampung keluarganya Adinda.”
Agung mengernyit menatap Adisti.
“Dinda kan yatim piatu. Udah gak punya paman dan bibi juga, Dek?”
“Keluarga angkat maksudnya,” Adisti tersenyum, “Keluarga Sanjaya, Keluarga Kusumawardhani, Keluarga Fernandez...”
Agung mengangguk lalu mengetik lagi.
“Hitung saja itu berapa orang termasuk para krucil.”
“Terus Anton ikut siapa? Kasihan tahu...” Agung memandang Adisti.
“Isssh, kan dari dulu juga Mommy dan Daddy sudah menganggap Hyung Anton sebagai anak mereka. Adiknya Bang Bram, suami akoooooh.”
Agung menatap adiknya dengan pandangan sebal.
“Be aja kenapa sih ngomongnya..”
“Kami kan memang Be, Be Group!” Adisti terkekeh senang menjahili Kakaknya. Ia yakin kakaknya tengah gugup menjelang sore ini.
“Dah ah. Jadinya dimana tempatnya?”
“Di rumah Daddy. Ruang tengahnya kan luas banget tuh. Bisa nyambung ke ruang makan juga. Untuk makanan, pakai tenda di halaman samping.”
Agung menghentikan pekerjaannya. Memutar kursinya lalu beranjak dari sana untuk menghampiri lemari pendingin. Mengambil satu cup kecil es krim coklat. Kemudian duduk di samping adiknya.
Adisti menyembunyikan senyumnya melihat es krim coklat di tangan kakaknya. Artinya, totally nervous alias benar-benar gugup. Ditambah lagi saat Agung menggunakan kepingan biskuit sebagai sendoknya.
“Dek, beneran nih?” Agung menatap serius pada adiknya, “Kan rencananya gak seperti ini, Dek. Cuma acara khitbah sederhana. Lagipula Adinda yatim piatu..”
“Mommy dan Mami bersikeras untuk dilibatkan dalam acara ini karena mereka juga orangtua angkat Adinda. Tapi kata Bang Bram, mereka akan mempersiapkanya secara sederhana.”
“Dek, sederhananya mereka beda dengan sederhananya kita...” suara Agung terdengar cemas sekarang.
"Itu juga yang Adek sampaikan pada Abang Bram pagi tadi sewaktu Ayah dan Bunda mampir ke kantor.”
“Terus apa kata Ayah?”
“Nikmati saja...”
“Ah...” Agung meraup wajahnya.
Gawai Adisti berbunyi. Ia melirik gawai yang ia letakkan di depannya. Melirik notifikasi pesan chat lalu membukanya. Tidak berapa lama ia sibuk menjawab pesan.
“Dah ah..” Adisti berdiri sambil merapikan baju dan kerudungnya, “Adek pergi dulu ya Kak. Salliiiim.”
“Laaah katanya mau bacakan rundown acara.”
“Baca sendiri aja di WA.”
“Dih!”
***
Sudah ada mobil Bramasta dan para pengawalnya di rumah Ayah saat mobil Innova yang dinaiki Agung berhenti di depan pintu gerbang. Seorang pengawal membukakan pintu mobil dan membantu Agung membawakan tas laptop dan berkasnya.
“Nanti ini ditaruh dimana, Pak Agung?”
“Simpan di kamar saya saja,” kemudian Agung teringat ada Adinda di kamar atas, “Eh, di taruh di sofa ruang tengah saja nanti saya yang bereskan.”
“Baik, Pak.”
“Assalamu’alaikum..” salam Agung saat memasuki rumah.
“Wa’alaikumussalam..”
Langkah Agung terhenti di antara ruang tamu dan ruang tengah. Memandang sekelilingnya dengan tatapan seperti kecewa.
“Kenapa Kak?” Bunda menghampiri Agung memberikan tangannya untuk disalimi.
“Kok biasa aja ya suasana rumah. Kok gak seperti mau ada acara...” Agung menatap Bunda.
Bunda memeluk Agung, mengelus-elus punggungnya.
“Kan acaranya bukan di sini. Tapi di rumah orangtua angkatnya Adinda.”
“Betul.. untuk dititipkan. Daripada tinggal di sana tapi gak ada yang menemani dan mengawasi. Dua keluarga angkat Adinda kan orang-orang sibuk semua.”
“Tapi kok Kakak merasa sedih ya Bun..”
“Ada apa ini? Kenapa Kakak merasa sedih?” Ayah masuk dari pintu samping.
“Kakak sedih karena suasana rumah biasa-biasa saja. Gak seperti mau ada acara penting..” Bunda menjelaskan sambil masih mengelus punggung Agung.
Ayah terkekeh.
“Kata siapa?” Ayah menunjuk dengan dagunya, “Semua barang-barang seserahan ada di kamar depan.”
“Tapi kamarnya tertutup.”
“Kan ada Adek dengan suaminya.”
“Ngapain mereka jam segini di dalam kamar?” Agung mengernyit.
Dihampirinya pintu kamar depan.
“Dek.. buka, Dek.”
“Kak!” Bunda menegur sambil melotot, “Hisssh! Jangan..”
“Sebentar lagi maghrib juga ngapain juga di dalam kamar berduaan begitu..” Agung mengetuk pintu kamar dengan lebih keras, “Dek... buka dulu napa?”
“Kak, mandi dulu gih sana. Sudah hampir maghrib. Supaya gak masbuk di masjid,” Ayah mengambil gelas tehnya.
“Kakak mandi
dimana?” Agung memandang Bunda.
“Ya di kamar mandi lah. Mau Kakak mandi di teras? Jadi tontonan tetangga?” Bunda menatap jengkel pada Agung.
“Issssh Bunda nih ya kadang sebelas dua belas dengan Adek.Maksud Kakak, mandi di kamar mandi mana? Kamar mandi bawah atau atas?”
“Kamar Kakak dimana?” Ayah menghampiri Agung.
“Di atas..”
“Ya udah, mandi di atas!”
“Maksud Kakak, ada Dinda di atas kan? Kakak .. Kakak malu kalau ketemu Dinda..” Agung memamerkan cengirannya sambil menggaruk kepalanya.
“Ciyeeee Kakak.. malu-malu tapi mau..” Suara tawa Adisti dan Bramasta terdengar begitu nyaring dari arah pintu ruang depan.
Sontak, Agung menoleh ke belakang.
“Abang dan Adek sudah berapa lama berdiri di sana?”
“Cukup lama untuk mendengar semua dialog Kakak Ipar dengan Ayah Bunda,” Bramasta tersenyum lebar.
“Adinda gak ada di sini, Kak. Nanti malam juga sepertinya menginap di rumah Mommy,” Adisti menghampiri Agung, “Dah, sana mandi dulu.”
“Iya...” Agung bergegas menaiki tangga.
“Kak!” Adisti menengadah untuk menatap kakaknya yang baru saja menginjakkan kaki di lantai atas.
“Apaan?” Agung memandang ke bawah.
“Yang bersih mandinya. Masa mau tunangan, burik dan dekil...!” Adisti terkekeh senang bisa membalas kalimat kakaknya kala dirinya melakukan perawatan tubuh saat hendak menikah dengan Bramasta.
“Hisssh! Gegabah nih Adek.”
“Ribut mulu nih kalian berdua. Udah mau maghrib juga..” Bunda mulai bersungut.
***
Setelah sholat Isya di masjid, para tetangga mulai berdatangan ke rumah Keluarga Gumilar. Mereka para tetangga dekat yang selalu sigap membantu bila ada acara di rumah.
Mereka membantu membawa barang-barang seserahan yang nanti akan diberikan kepada Adinda.
Ada sekitar 15 mobil termasuk mobil Bramasta dan mobil Keluarga Gumilar juga satu mobil yang berisi para pengawal. Agung satu mobil bersama Ayah dan Bunda.
Agung terlihat tampan dengan baju batik lengan panjang dengan model baju koko. Motif batik di bagian bawah, tetapi bukan kain batik yang dijahit tempel dengan kain polos. Bagian polosnya berwarna hijau botol.
Sementara Ayah dan Bramasta mengenakan kemeja koko batik bermodel sama tetapi warnanya hijau sage. Sama dengan warna gamis yang dikenakan Bunda dan Adisti walaupun beda modelnya tapi warnanya hijau sage.
Sementara hantaran seserahan didominasi dengan warna baby pink, warna kesukaan Adinda.
“Bunda kok belanja hantaran gak ngomong-ngomong dulu ke Kakak?” Agung yang duduk di depan melongokkan kepalanya ke belakang.
“Memangnya kenapa Kak?” Bunda balas bertanya.
“Jangan pakai uang Bunda atau Ayah. Pakai uang Kakak saja.”
Bunda menepis tangannya ke udara.
“Gak usah dibesar-besarkan. Alhamdulillah Bunda dan Ayah gak mengeluarkan uang sama sekali kok. Acara ini disponsori penuh oleh B Group divisi Fashion & Accesoris. Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” Bunda tersenyum lebar.
Agung mengerutkan keningnya.
“Apa syaratnya?”
“Acara ini akan tampil di katalog divisi tersebut, seperti acara breakfast di rumah kita tempo hari..”
“Tanpa wajah kita kan Bun?”
Bunda mengangguk. Ayah terkekeh.
Saat memasuki kawasan rumah Keluarga Sanjaya, Agung tercengang. Dia memegangi dada kirinya.
“Masyaa Allah! Gak salah nih?”
“Apanya?” Ayah memajukan tubuhnya untuk melihat lebih banyak.
“Gak salah ini acara tunangan? Atau jangan-jangan langsung akad nikah malam ini juga, Yah?”
Ayah menepuk gemas pundak anaknya. Pak Salim yang menjadi driver tertawa geli.
“Jangan ngelunjak, Kak. Dinda baru saja selesai ujian.”
Agung terkekeh.
“Sederhana? Sederhana apanya??”
.
***
Selera Mommy gabung dengan Mami memang bisa sesederhana kita? Impossible deh kayaknya...
😁😉