CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 92 – GRAND OPENNING THE CLIFFF



“Sarapan di bawah yuk?” ajak Bramasta, “Abang selama tinggal di sini belum pernah sarapan di bawah. Soalnya kelihatan banget jadi jomblonya.”


Adisti terkekeh. Tangannya ditarik oleh suaminya menuju foyer. Sebelum sampai di foyer, Bramasta membalikkan tubuhnya, mencium Adisti sambil mengangkat tubuhnya.


Saat melintas, tangkai bunga anggrek bulan di atas meja kabinet foyer bergoyang. Bramasta terkekeh saat melihat Adisti terkejut. Menarik tubuh Adisti di foyer untuk memakai sandal santai.


“Abang pegel harus nunduk terus.”


“Jadi sekarang Abang nyesel nih karena Adisti ceper?”


“Kata siapa? 158 cm buat cewek, gak ceper laahh.”


“Abang berapa?”


“185 cm. Angkanya sama ya, hanya tata letaknya yang berbeda.”


“Iya karena kita jodoh..”


“Istri Abang pintar banget deh..”


Sarapan khas bule, begitu Adisti menamakannya membuat Bramasta terkekeh.


“Abang pernah berenang di kolam renang itu?” Adisti menunjuk kolam renang fasilitas apartemen ini.


“Nggak. Abang gak nyaman berenang di tempat umum. Kalau mau berenang tinggal pulang aja ke rumah utama.”


“Alhamdulillah... aurat Abang terjaga ya... Kecuali kalau Abang berenangnya pakai baju selam,” Adisti terkekeh.


“Hari ini Abang kerja ya. Tapi dari rumah kok. WFH_Work From Home_, gak enak ninggalin urusan kantor kelamaan.”


“Kita ke The Cliff jam berapa?”


“Acara grand openningnya jam 15.00, kita ba’da dhuhur ya berangkat, sekalian briefing dulu di sana.”


“OK..


Di dalam mobil saat menuju The Cliff.


“Bang, Disti minta sesuatu boleh?”


Bramasta menoleh sambil mengangguk.


“Buatin ruang melukis untuk Disti.”


“Dimana? Di rumah atau di kantor Abang?”


“Abang maunya Adisti melukis di mana?”


“Nanti kita undang Anton ke rumah kita ya? Supaya dia dan teamnya mendesain ruang lukis untuk Disti.”


Adisti mengangguk.


“Pakai sunglasses, suami Disti ganteng banget sih... sek$i abis. Nanti kalau dilirik pelakor bagaimana??” Adisti bergumam sambil memandangi wajah suaminya yang tengah mengemudi.


Bramasta menoleh sambil terkekeh.


Mereka tiba di The Cliff, Mommy dan Daddy sudah ada di sana. Kak Layla tidak ada karena sudah pulang ke Singapura. Ayah dan Bunda juga sudah ada.


Adisti menatap takjub pada penataan The Cliff. Beberapa tenda glamping_glamour camping_ sudah didirikan sebagai contoh. Agar pengunjung tahu bagaimana suasana perkemahan glamping di The Cliff.



(Source: Google)


“Bang, gak ada tenda glamping yang kecil?”


Bramasta menggeleng, “Kita punya team survey. Terlalu riskan untuk menyediakan tenda glamping ukuran 4 orang apalagi 2 orang. Rawan disalahgunakan oleh pasangan yang belum halal. Abang gak mau tempat Abang jadi tempat maksiat.”


“Adisti selalu takjub melihat bentuk atap The Cliff apalagi dengan latar tebing yang menjulang di atasnya,” Adisti menengadah sambil menaungi matanya dengan tangannya karena silau.


Bramasta melepas sunglassesnya lalu memakaikannya pada Adisti. Frame-nya tampak terlalu besar untuk wajah Adisti yang mungil. Bramasta terkekeh karena Adisti jadi terlihat imut menggemaskan.


“Dari sini kita belanja ya, Abang ingin dandanin Disti,” Bramasta memegang dagu istrinya.


“Gak.. jangan sekarang. Disti gak ingin kemana-mana. Ingin diam di rumah. Disti sedang ingin melukis setelah dari sini. Makanya Abang buruan ngomong ke Bang Anton ya..”


Bramasta menatap Adisti lama dengan tatapan heran.


“Beneran gak mau belanja? Baru kali ini Abang nemuin cewek yang menolak diajak belanja..”


“Weekend saja Bang..”


Anton datang menghampiri mereka.


“Insyaa Allah. Kemarin peralatan dapur sudah diuji, alhamdulillah tidak ada kendala. Air juga OK. Listrik OK. Kita punya genset besar untuk backup kebutuhan listrik bila ada pemadaman dari PLN.”


“Alhamdulillah. Indra belum datang?”


“Dia masih di jalan.”


Bramasta mengangguk.


Bunda melambaikan tangannya pada Adisti. Adisti berlari ke arah Bunda sambil tertawa.


“Bun, sudah gak marah lagi kan?”


“Marah kenapa?”


“Kucay..”


“Sejak kapan Bunda marah pakai lama?” tanya Ayah sambil tertawa.


“Bunda gak marah, Bunda cuma kaget melihat kucay dicabuti begitu saja.”


“Memang biasanya, panen kucay gak dicabuti?” tanya Mommy.


“Nggak Mom. Kita pangkas pendek,” jawab Adisti sambil nyengir.


Mommy terkekeh.


“Hari Ahad nanti Bu Al sibuk gak?”


“Kenapa?”


“Kita jadiin yuk, acara a la Lizi Qi.”


Mommy terdiam memandang Bunda dengan mata berbinar.


“Hayuuuuu mauuuu!” kehebohan Mommy membuat Bunda tergelak dan semua mata memandang Bunda dan Mommy, “Nanti Mommy minta Layla datang Sabtu ya. Eric sudah tidak sabar ingin pegang pancingan. Dia sudah latihan.”


Adisti tertawa membayangkan Eric memegang pancingan.


Bramasta tampak berbincang dengan Anton dan Indra. Juga beberapa B Crews yang baru Adisti lihat. Tampak serius. Bramasta membuka lembar laporan membacanya dengan kening berkerut lalu mengangguk.


Tamu-tamu mulai berdatangan. Ada wartawan, ada pula rekan bisnis juga beberapa tetangga dari komplek rumah Keluarga Gumilar.


MC membuka acara. Pembacaan ayat suci al Qur’an dibawakan oleh salah seorang B Crew. Indra memberikan kata sambutan tentang The Cliff mulai dari menu andalan hingga fasilitas penunjangnya. Lalu memperkenalkan chef utama dan manajer The Cliff.


Bramasta memberi sambutan. Bramasta menyebut nama Daddy dan Mommy, Ayah dan Bunda, Adisti, Indra, Anton dan B Crews untuk mengucapkan terima kasih.


“Tempat ini sangat bersejarah bagi Keluarga Sanjaya dan Keluarga Gumilar, khususnya bagi saya dan Adisti, istri saya. Oleh karena itu, dihari grand openning The Cliff, saya umumkan, saya persembahkan The Cliff untuk istri saya, Adisti Maharani.”


Hadirin bertepuk tangan. Bramasta menarik tangan Adisti. Mengecup tangannya.


Lalu berbicara lagi, “ Satu hal lagi, ada sesuatu yang akan saya persembahkan kepada Ayah Mertua saya, sesuatu yang ingin Adisti ambil di tebing tetapi tidak bisa dia raih yang mengakibatkannya jatuh ke jurang.”


Bramasta perlahan menarik kain penutup berwana coklat kemerahan yang menutupi meja centerpiece. Para hadirin terkesiap.


Daddy dan Ayah langsung berdiri, penasaran dengan sesuatu yang diomongkan oleh Bramasta. Bonsai dengan suiseki.


“Ini terletak di bebatuan yang menonjol. Tanaman ini tumbuh di atas batu, entah sudah berapa tahun. Perjuangan yang luar biasa untuk bisa tumbuh di tempat yang minim unsur hara dan media tanam. Saya melihat, tanaman ini seperti kita yang berjuang keras ditempa aneka badai yang menerpa kita,” Bramasta tersenyum kepada hadirin.


Foto bonsai tersebut saat masih berada di tebing diperlihatkan.


“Jangan kira saya tidak berjuang seperti anda semua yang hadir di sini. Saya berjuang dari nol saat membangun B Group. Sejak saya SMP, saya sudah memulai bisnis pertama. Bermodal uang tabungan saya yang tidak banyak. Daddy dan Mommy tidak pernah memanjakan anak-anaknya dengan uang jajan yang berlebih.”


Daddy dan Mommy tersenyum memandang Bramasta.


“Kalian tahu beratnya menjadi pebisnis pemula saat seumuran SMP? Beratnya berkali lipat bila dibandingkan dengan pebisnis di usia dewasa," Bramasta tersenyum memandang seluruh hadirin.


"Masalah kepercayaan, diremehkan karena umur, waktu yang terbatas dengan sekolah, ekskul dan tugas sekolah, belum lagi saat ujian.”


Para hadirin tersenyum membayangkan anak SMP yang berbisnis.


“Beruntung saya mempunyai sahabat yang sangat baik yang bisa membantu dan men-support saya. Sekretaris saya, Indra Kesuma adalah sahabat yang membersamai saya, sama-sama membangun B Group dari nol.”


Indra memandang Bramasta. Tidak menyangka namanya bakal disebut.


“Saya tidak menjual nama Daddy ataupun Sanjaya Group pada pendirian B Group. Daddy membiarkan saya untuk menangani sendiri, bantuannya hanya berupa saran-saran bisnis, selebihnya saya dan Indra yang menjalankannya. Saya ingin menunjukkan pada semua orang, saya bukan hanya seorang pewaris tetapi saya juga seorang perintis.”


***


Memberi motivasi kepada anak untuk menjadi seorang enterpreneur muda akan membuat anak menjadi mandiri, bertanggungjawab dan tidak manja dengan bergantung pada fasilitas yang disediakan orangtuanya.


🌷🌷🌷