CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 268 – AGUNG FEELING GUILTY



BEVERLY DAGO APARTEMENT


Menjelang Subuh, Agung mengirim pesan chat kepada Adinda.


Agung_Assalamu’alaikum Calon Ma’mum_


Menunggu beberapa menit, pesannya terbalas.


Adinda_Wa’alaikumussalam Calon Imam (emot ngakak)_


Agung_Kenapa pakai emot ngakak segala?_


Adinda_Geli tahu Om.._


Agung_Geli bagaimana? Noel juga nggak.._


Adinda_Ya geli aja. Kalau ketemu kita kan gak pernah pakai bahasa-bahasa seperti itu. Kok mendadak di chat kok Om Agung pakai bahasa seperti itu_


Agung_Kalau ketemu sama kamu, bicara langsung dengan kamu, kok rasanya degdegan ya_


Adinda_Pantesan Om Agung gaya bahasanya jadi formal dan kaku banget kalau kita bertemu. Tapi kalau di pesan chat bahasanya lebih santai_


Agung_Begitu ya?_


Adinda_Iya Om. Makanya Teh Disti menyebut Om Agung dengan kanebo kering_


Agung_Isssh_


Adinda menanggapinya dengan emot ngakak.


Agung_Bagaimana persiapan ujian terakhir? Sudah siap?_


Adinda_Insyaa Allah Om_


Agung_Kalau gak bisa jawab, jangan nangis lagi seperti kemarin. Bikin deg-degan saja. Kirain ada apa.._


Adinda_Terus bagaimana kalau saya gak bisa jawabnya, Om?_


Agung_Saya yakin kamu bisa. Kerjakan semampu kamu. Kalau bingung, hitung kancing saja. (emot ngakak)_


Adinda_Laaah! Nasehat apa itu?_


Agung_Persiapan buat acara malam nanti bagaimana?_


Adinda_Saya gak tahu Om. Semuanya kompak merahasiakannya dari saya. Bahkan Bunda, Mommy dan Mami melarang saya untuk membuat kue buat acara nanti malam_


Agung_Saya juga akan melakukan hal yang sama_


Adinda_Kenapa Om? Kan saya jadi gak enak hati melihat yang lainnya sibuk untuk acara kita_


Membaca kata “kita” membuat Agung tersenyum lebar. Hatinya menghangat.


Agung_Gak apa-apa. Kan gak setiap hari. Din, sudah adzan di sini, saya mau ke bawah dulu ya sholat di mushola gedung_


Adinda_Iya Om. Ajak Pak Raditya juga. Hati-hati ya Om.._


Agung_OK. Insyaa Allah_


Agung menatap foto profil Adinda sambil tersenyum. Meletakkan gawainya di atas nakas lalu segera berwudhu.


“Bang Radit.. Sholat di mushola yuk..” Agung mengetuk pintu kamar sebelah.


Tidak ada tanggapan dan jawaban dari dalam kamar.


“Bang Radit.. Subuh, Bang. Bangun..”


“Saya di sini, Gung.”


Agung terlonjak kaget melihat ke belakangnya sambil memegangi dadanya.


“Astaghfirullah.. astaghfirullahal adzhiim,” masih mengelus-elus dadanya sendiri dengan rasa dongkol, “Ya Allah.. Bang. Bisa gak sih, nggak ngagetin seperti itu?”


Raditya tertawa melihat reaksi Agung. Tertawa sampai mengeluarkan air matanya.


“Ya Allah.. Gung.. ma’af, tapi tadi lucu banget. Suer!”


“Girang banget Bang Radit ini melihat saya kaget begitu..”


“Ma’af Gung.. Ma’af. Tadi saya dari kamar mandi habis wudhu..”


“Eh, iya. Baru ingat. Kita sholat berjama’ah di mushola gedung yuk. Masjid jauh dari sini, Bang.”


“OK. Yuk langsung. Supaya sempat qobliyah shubuh.”


Koridor tampak sangat sepi. Penghuni lantai ini mungkin lebih banyak yang masih terlelap dalam mimpi. Walau sepi, suasana koridor tidak terlihat menyeramkan.


Saat hampir melewati unit Anton, pintu apartemennya terbuka dari dalam. Anton muncul dengan baju koko dan peci hitamnya.


“Alhamdulillah ketemu di sini. Jadi bisa bareng deh.”


“Nyenyak tidurnya?” Agung mengamati Anton yang terlihat segar.


"Nyenyak banget. Kan gue dapat bonus perawatan spa dari Pak Bos di Pare Padi,” Anton terkekeh.


“Wuih enak banget dong,” Raditya tersenyum lebar, “Diapain aja sih di spa?”


“Fullbody massage, body scrubbing, terapi batu panas atau apalah, saya gak begitu mengerti, berendam di air mineral khusus yang dicampur bunga dan akar-akaran, terakhir perawatan wajah dan rambut. Nih Bang, nih.. gue wangi banget kan?” Anton mendekatkan tangan ataupun rambutnya kepada Agung dan Raditya.


Diperlakukan seperti itu, keduanya kompak mendorong Anton ke luar lift karena saat itu pintu lift terbuka di lantai dasar.


“Laaah, kan gue hanya ingin membuat kalian tahu aroma men spa di Pare Padi.”


“Nggak. Gue mah gak penasaran, Ton. Gue mah termasuk kaum mendang-mending. Gak tahu nih kalau Bang Radit..” Agung terkekeh menunjuk Raditya dengan ibu jarinya.


“Apalagi saya, Gung..” Raditya terkekeh.


“Tapi kan sebentar lagi Abang naik jabatan, mungkin berkunjung juga ke spa..” Anton tersenyum lebar.


“Nggak ah.. Kalau capek, tinggal panggil tukang urut tuna netra saja yang sudah jadi langganan. Pahe saya mah, paket hemat..” Raditya tertawa.


“Belok kanan Bang..” Agung memberi tahu arah.


Sebuah ruangan di lantai dasar yang disulap menjadi mushola dengan lengkung pintu seperti masjid.


“Musholanya gede amat..”


“Alhamdulillah di sini, pemilik gedungnya baik. Ini seluas 4 kali tempat sewa untuk gerai bisnis,” Anton melepas sandalnya lalu mengucap salam.


Masih belum iqomah, mereka bertiga melaksanakan sholat qobliyah shubuh 2 raka'at. Usai salam, terdengar muadzin mengumandangkan iqomah.


“Shaf-nya lumayan ya. 2 shaf,” Raditya memasuki lift.


“Alhamdulillah penghuni di sini banyak yang sadar pentingnya sholat berjama’ah. Mungkin karena difasilitasi ya,” Anton sebagai penghuni terlama di antara mereka bertiga menjelaskan kepada yang lainnya.


“Ton, nyabu yuk. Tempat biasa..” Agung bersandar pada dinding lift.


“HEEEEH?!” Raditya berjengit kaget.


“Nyabu, Bang. Nyarapan bubur..” Agung terkekeh.


“Laaah..” Raditya menggelengkan kepalanya.


Anton tertawa. Beberapa penumpang lift lainnya juga ikut tersenyum.


“Kita gak sarapan di rumah Ayah?” tanya Anton saat mereka keluar dari lift.


“Nggak. Gue takut ribut lagi sama Adinda. Gue jadi feeling guilty_merasa bersalah_ ke dia. Kemarin siang, sepulang ujian dia ke kantor. Nangis..”


Anton dan Raditya menoleh bersamaan ke arah Agung. Membuat Agung memasang cengiran tengilnya sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya.


“Nah lo!”


“Kenapa?”


“Dia gak bisa mengerjakan soal ujiannya. Kemarin dia merasa di-prank soal ujian. Yang dipelajari apa, yang keluar soalnya apa... Mana jawabannya semua mirip-mirip lagi...”


Anton cekikikan.


“Terus?” Raditya penasaran.


“Saya tarik aja ke kafetaria karena kebetulan jam makan siang.”


Agung tidak bisa memakai bahasa non formal kepada Raditya. Karena selain belum akrab juga karena usia Raditya jauh di atasnya. Raditya lebih tua tiga tahun darinya.


“Kenapa?”


“Karena saat lapar itu pasti bawaannya baper, Bang,” Agung menjelaskan, “Dan cewek, kalau lagi melow, moodbooster-nya kalau gak bakso ya mie ayam plus es krim sebagai penutupnya.”


Raditya menggelengkan kepalanya sambil tertawa.


“Hafal banget, Gung..”


“Kan saya punya adik perempuan, Bang..” Agung terkekeh.


“Terus feeling guilty-nya kenapa?”


“Karena paginya setelah Abang berangkat, saya ledekin Adinda terus sampai dianya marah. Mungkin karena itu dia jadi bad mood sehingga gak bisa mengerjakan soal ujiannya.”


“Emang dasar Lu, Bro.. 11 12 dengan Bang Indra..”


“Kan biasanya yang gue bikin jengkel si Adek... Adek udah punya laki, gue gak berani lagi gangguin dia. Bisa-bisa gue di-smackdown oleh Bang Bram mengingat bucinnya mereka berdua.”


“Depan Adinda, mendadak kamu gak bisa dewasa, Gung?” Raditya mengangkat sebelah alisnya, “Kelakuan kok gabut banget seperti anak sekolahan yang jahilin terus cewek yang sedang diincarnya.”


“Depan Adinda, dia mendadak jadi kanebo kering juga, Bang. Mendadak bersaya-kamu. Mendadak jaim, sok cool..”


“Padahal aslinya?”


“Pecicilan dan petakilan!”


Anton dan Raditya tertawa terbahak bersama. Agung mencebik.


“Ngopi dulu di tempat saya yuk. Semalam saya singgah ke bakery beli cake dan beberapa kue,” Anton membuka pintu apartemennya, mempersilahkan mereka masuk.


.


***


Bang Anton, Author diajak juga gak?


Ngopi Bang...ngopi..


Biar gak ngantuk, biar rajin ngetiknya... 🤓


☕☕