CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 284 – MERAJUT SILATURAHMI YANG KOYAK



Hans memandang Agung.


“Gung, kerjaan Lu bisa dihandle yang lainnya gak?”


Agung mengangguk.


“Hanya laporan biasa. Bisa dikerjakan oleh anak buah ataupun kalau mendesak, saya bisa mengerjakannya dimana saja. Ada apa, Bang?”


“Lu sebagai orang yang dekat dengan Raditya, temani Raditya di rumah sakit. Kalau gue muncul di rumah sakit untuk saat sekarang ini bisa menimbulkan polemik,” Hans menjelaskan.


“Betul. Lagipula kehadiran Ayah dan Bunda di acara kenaikan pangkat dan pelantikan jabatan barunya semakin menunjukkan memang ada hubungan kekerabatan di antara kalian,” Indra ikut menjelaskan.


“OK. Saya berangkat sekarang,” Agung yang tengah berdiri lalu menghentikan gerakannya, “Ijin ke Pak Dhani, bagaimana?”


Hans mengibaskan tangannya.


“Gampang itu.. Ada Tuan Alwin..”


Daddy yang tengah mengobrol bersama Bramasta menoleh saat namanya disebut.


“Apa Hans?”


“Agung saya minta untuk menemani Raditya di rumah sakit. Ijin kepada Pak Dhani...”


“Ya sudah. Nanti saya yang bicara padanya.”


“Terimakasih, Tuan Alwin,” Agung mengangguk hormat.


“Gung, bawa laptop Lu..” Hans memerintahkan lagi.


“Siap Bang..”


30 menit kemudian, Daddy memerintahkan Mommy, Bramasta dan Adisti untuk bersiap ke rooftop, menyambut kedatangan Ayah dan Bunda.


Agung melaporkan kondisi Raditya. Kondisinya semakin membaik dan sudah mulai sadar. Dia mengenali orang-orang yang mendampinginya di UGD.


Hans sudah mengatur pengaturan pengamanan dengan pihak security rumah sakit. Bahkan penanganan di UGD, bilik kanan kirinya harus dikosongkan.



Raditya ditempatkan di ruangan VVIP. Pengamanannya lebih mudah. Walau begitu tetap saja ada 2 orang pengawal yang berjaga bergantian di depan pintu kamar perawatannya.


Ayah dan Bunda datang membesuk 2 jam kemudian bersama Daddy dan Mommy. Perwira Tinggi yang menemani Raditya bernama Ilham Setiaji.Nantinya Raditya bertugas di gedung yang sama dengannya di Jakarta.


Isya menjelang. Pak Ilham pamit untuk kembali ke Jakarta. Penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang terlibat dengan penyerangan Raditya pagi tadi juga pembakaran rumahnya tengah dilakukan oleh orang-orang Pak Ilham atas petunjuk dari Raditya.


Agung sudah menceritakan pengejaran rombongan Ayah dan Bunda siang tadi. Orang-orang di dalam mobil Terios dan Rush sudah diidentifikasi. Semuanya adalah anggota, anak buah dari perwira tinggi yang menghadang mobil pemadam kebakaran.


Suara salam dan pintu digeser terdengar. Seorang pengawal masuk. Lalu menatap Agung untuk meminta persetujuannya.


“Pak Agung, di luar ada seorang wanita yang mengaku sebagai ibu mertua dari Pak Raditya, ibu dari almarhumah Bu Masayu.”


Raditya yang sedang makan malam disuapi Bunda mendongak menatap tak berkedip kepada pengawal.


“Ibu Senna?” Raditya menatap ragu tapi berharap pada pengawal, “Persilahkan masuk, Pak.”


“Baik Pak.”


Raditya memegang tangan Bunda.


“Bun.. Ibunya Masayu..”


Bunda tersenyum lalu mengangguk.


"Semoga kunjungannya adalah kunjungan yang membawa kebaikan untuk menyambung silaturahmi yang terganggu."


Raditya mengangguk cepat.


Seorang wanita berumur beberapa tahun lebih tua daripada Bunda dan Mommy berdiri dan tersenyum canggung kepada semua orang di sana.


Dia mengucap salam dengan suara pelan. Matanya menatap semua orang di ruangan itu dengan berhati-hati sebelum akhirnya menatap Raditya yang berada di atas bednya.


“Silahkan duduk, Bu,” Agung mempersilahkan duduk kepada wanita itu.


Wanita itu mengangguk.


“Terima kasih banyak,” ucapnya, “Saya... Senna Utoyo. Istri dari Hari Utoyo. Kami orangtua dari almarhumah Masayu Utoyo, mendiang istri Raditya Pradipta.”


“Saya Almira Sanjaya,” Mommy mengenalkan diri dengan senyum cerahnya, “Dan ini suami saya, Alwin Sanjaya.”


Ibu Senna mengangguk dan tersenyum walau kaku.


“Saya Gumilar dan yang sedang menyuapi Raditya adalah istri saya, Ida Gumilar,” Ayah memperkenalkan diri.


Bunda mengangguk dan tersenyum ramah. Wanita itu menatap lama pada Bunda lalu tersenyum.


"Saya Agung Aksara Gumilar,” Agung memperkenalkan diri, “Bang Raditya sudah seperti keluarga bagi kami.”


Ibu Senna menatap Agung dengan tatapan heran.


“Jadi kalian sebenarnya bukan kerabat yang ada pertalian darah?”


“Bukan, Bu. Kejadian yang menimpa Bang Raditya dan salah satu anggota keluarga kami membuat kami dekat bagai keluarga,” Agung mengangguk hormat.


“Maksudnya?” Ibu Senna mengerutkan kening.


“Kasus calon istri saya, yang menjadi anak angkat kelurga kami, Keluarga Sanjaya dan Keluarga Kusumawardhani, kebetulan ditangani olehh Bang Raditya.”


Raditya terdiam di atas tempat tidurnya. Bunda masih berusaha menyuapinya tapi Raditya menggeleng. Dia mengamati dialog antara Ibu Senna dan Agung.


“Ma’af, kasus apa ya?”


“Kasus pembunuhan berencana ayah dari calon istri saya oleh istri yang baru dinikahi, juga kasus percobaan woman trafficking..”


“Ah yang viral itu ya?”


Agung tersenyum dan mengangguk.


Ibu Senna menunduk. Beberapa kali dia menghela nafasnya.


“Tentang kematian Masayu, anak kami...” Ibu Senna terdiam sejenak.


Dia menatap Raditya yang menunggunya menyelesaikan kalimatnya.


“Untuk itulah saya berada di sini. Setelah menonton acara pelantikan Raditya pagi tadi, saya... kami, merasa telah berbuat tidak adil kepadanya,” Ibu Senna menatap Raditya.


Pandangan mata Raditya sudah berkabut. Bunda menepuk-nepuk lembut punggung Raditya.


Mommy memberi kode kepada Daddy dan Ayah untuk pergi dari ruangan.


“Kalian bukannya tadi mau ngopi dulu di bawah?” Mommy mengedipkan matanya.


“Oh iya. Kita pergi dulu ya. Nak Radit, kami tinggal dulu ya. Nak Raditya ditemani para ibu-ibu saja..” Daddy terkekeh diikuti Ayah.


“Kak, yuk ngopi dulu. Kakak yang traktir ya..” Ayah menepuk punggung Agung.


Mommy mendekati Ibu Senna. Tangannya berada di punggung Ibu Senna. Mengajaknya untuk berdiri dan menghampiri Raditya.


“Yuk, kita ke Nak Raditya,” ajak Mommy.


“Saya.. saya merasa tidak pantas untuk mendekatinya. Kami.. sudah banyak berbuat salah padanya. Kami sudah banyak berbuat dzolim, menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak kepada putri kami,” sebutir air menetes di pipinya.


“Percayalah, Nak Raditya itu orang yang berhati luas. Dia juga bijaksana dan pema’af. Dia pasti tahu alasan kalian untuk berbuat seperti itu,” Mommy memberikan dukungan kepada Ibu Senna.


Perlahan, Ibu Senna mendekati Raditya.


“Bagaimana keadaanmu, Dit?” tanyanya.


“Alhamdulillah sudah membaik, Bu.” Raditya menyalimi ibu mertuanya.


“Kami.. kami cemas dengan apa yang terjadi pagi tadi. Juga mengetahui apa yang kamu alami selama beberapa hari terakhir ini..” ibu Senna menudukkan wajahnya.


“Bapak menangis tadi pagi menjelang siang saat melihat kamu jatuh tertembak. Dan juga saat mengalami henti jantung.”


“Bapak.. Bapak di rumah dengan siapa sekarang, Bu?” Raditya menatap Ibu Senna.


“Ada sepupunya Masayu yang menjaganya..” ibu Senna terdiam sejenak, tangannya memilin ujung cardigannya, “Tentang Masayu, tolong ma’afkan kami.Kami sudah berbuat dzolim sekali dengan melontarkan tuduhan-tuduhan keji kepadamu, Dit.”


“Saya.. saya bisa memahami perasaan Bapak dan ibu terkait kepergian Masayu. Bapak dan Ibu tidak bersalah. Sayalah yang salah, sebagai suami tidak dapat melindungi istrinya dengan baik,” Raditya menundukkan kepalanya.


Tangannya mencengkeram selimutnya.


“Andai waktu itu saya aya melarangnya pergi untuk mengambil jahitan baju seragam bhayangkarinya yang baru... Masayu memutuskan untuk mengenakan hijab makanya dia membutuhkan seragam bhayangkari yang baru..” suara Raditya bergetar.


“Masayu mengenakan hijab? Masyaa Allah. Kenapa kamu gak pernah cerita kepada kami, Dit?” ada binar di mata Ibu Senna yang berbalut kesedihan.


“Bapak dan Ibu tidak memberi kesempatan bagi saya untuk berbicara..” Raditya terisak, “Masyaa Allah.. Masayu cantik sekali saat memakai hijabnya, Bu..”


Suara Raditya serak. Airmatanya membasahi pipinya.


“Kata Masayu, Bapak dan ibu pasti bangga meliahtnya mengenakan hijab..”


Airmata di pipi Ibu Senna semakin deras. Dia menghampiri Raditya. Memeluknya.


“Allahu ya Rabb! Saya kangen sekali dengan Masayu, Bu,” tangisan meledak dari Raditya, membuat alarm monitor denyut jantung dan tekanan darah berbunyi nyaring.


Bunda dan Mommy saling berangkulan dan sesunggukan bersama.


Ibu Senna mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kita semua kangen Masayu. Kamu punya foto saat dia mengenakan hijab, Dit?”


“Foto-fotonya terbarunya banyak tersimpan di kamera. Bagian depan rumah sudah habis terbakar, Bu. Termasuk kamera yang berisi foto-foto dan video Masayu terakhir.”


Ibu Senna terisak.


“Hanya laptop yang selamat. Tapi di dalamnya berisi foto-foto lama..”


“Handphone Masayu, masih ada?” tanya Mommy, “Perempuan selalu selfie dengan penampilan terbarunya kan?”


“Handphonenya hancur saat kecelakaan terjadi. Tapi saya masih menyimpannya. Ada di lemari di kamar kami. Kamar kami tidak ikut terbakar.”


“Serahkan saja pada anak buah Hans. Mungkin masih bisa diperbaiki..” Mommy tersenyum pada Raditya dan ibu Senna.


“Baik Nyonya. Terimakasih banyak..”


“Ma’afkan kami ya, Dit..” Ibu Senna membelai punggung Raditya.


Raditya mengangguk-angguk.


“Sudah saya ma’afkan jauh-jauh hari, Bu.”


“Sebenarnya.. Masayu pernah berkata kepada kami. Sebagai istri dari seorang petugas aparatur negara, pasti akan ada dampak dari tugas suami bagi para istrinya. Bila nanti dia akhirnya harus kehilangan nyawa akibat dari pekerjaan suaminya yang bersinggungan langsung dengan para penjahat, dia ikhlas dan harus siap menerimanya. Dia meminta kamu harus ikhlas dan merelakannya bila memang hal itu terjadi.”


Ucapan Ibu Senna membuat Raditya meraung dan terisak keras.


“Masayu...!”


Bunyi alarm terdengar saling bersahutan. Bunda dan Mommy menatap cemas pada Raditya dan pada layar monitor.


2 orang perawat datang berlari. Langsung mengecek monitor dan kondisi Raditya.


.


***


Ruang perawatan VVIP dan VIP memang beda. Monitor peralatan fungsi organ vital tubuh terhubung di ruang perawat. Makanya gak perlu pencet tombol memanggil perawat, mereka sudah langsung gercep datang dengan sigap.


Bang Radit, cepat sembuh Bang..


Jangan lupa pencet tombol like-nya ya Readers supaya pihak NT bisa melakukan penilaian retensi pembaca.


Utamakan baca Qur'an ya❤️