
Sesaat kemudian dia tersadar, suara itu berasal dari kamar Adinda. Sontak ia melemparkan selimutnya ke lantai. Bangkit dengan cepat yang membuatnya terhuyung menabrak tembok dekat pintu.
Membuka dengan cepat pintu kamar Adinda. Adinda terpejam dengan pipi basah. Tangannya terkepal memukul udara. Kakinya juga menendang udara.
“Pembunuh!!“
“Bajingan kalian!!”
Agung menyapukan pandangannya pada kamar tidur Adinda. Ada kerudung segi empat disampirkan di sandaran kursi. Dia mengambilnya lalu menutupi rambut Adinda.
“Din..” Agung menggoyangkan lengan Adinda, “Bangun..”
Adinda tidak menanggapi. Tangannya sekarang mencakar udara. Kakinya masih menendang. Selimutnya sudah jatuh ke lantai dari tadi.
Agung menepuk-nepuk pelan pipi Adinda.
“Adinda, bangun..”
Agung menepis tangan Adinda yang hendak mencakarnya. Dia menahan kedua pergelangan tangan Adinda dengan jemari kanannya.
Jemari kirinya menepuk lengan Adinda.
“Puput, bangun. Kamu cuma mimpi. Kamu sudah aman sekarang. Bangun, Put!”
Tangan Adinda melemah, Agung mengurangi tenaga cekalannya pada pergelangan tangan Adinda.
Mata Adinda mengerjap. Menatap wajah Agung dengan bingung.
“Kamu bermimpi buruk,” Agung langsung menjelaskan kepada Adinda tentang keberadaanya di dalam kamarnya sebelum Adinda berpikir macam-macam tentangnya dan membuat kegaduhan yang bisa membangunkan seisi rumah.
Adinda memegangi tepi kerudung segiempat yang Agung kenakan pada kepalanya.
“Ini Om yang mengerudungi saya?” Adinda beranjak duduk.
Agung mengangguk.
“Makasih, Om.”
Agung mengangguk. Dia hendak meninggalkan kamar Adinda saat ekor matanya melihat Adinda berdiri.
“Kamu mau kemana?”
“Ke dapur, Om. Haus.”
“Sekalian bawa perlengkapan sholat kamu..” Agung melanjutkan lagi saat melihat Adinda yang termangu bingung, “Kita tahajud bareng. Di bawah.”
Adinda mengangguk.
Agung menunggui Adinda di ujung tangga. Berjaga-jaga bila Adinda masih mengantuk saat turun tangga. Lalu menyodorkan gelas yang ada di tangannya. Air putih hangat.
Usai sholat witir sebagai sholat penutup, saat mereka masing-masing melipat sajadah mereka, Bunda keluar dari kamarnya.
“Loh, kalian? Habis sholat?”
Keduanya mengangguk.
“Bunda sudah sholat?” tanya Agung.
“Sudah. Ini Bunda mau masak air. Ayah minta dibuatkan teh.”
“Gak pakai air panas dispenser saja Bun?” Adinda menghampiri Bunda.
Bunda menggeleng, “Teh seduh gak akan enak kalau pakai air panas dispenser.”
“Nanti biar Dinda yang buatkan Bun..”
Bunda mengangguk lalu mengelus kepala Adinda yang masih berbalut mukena.
Agung menarik kursi di depan Adinda. Sebelah tangannya menyangga dagunya. Dirinya bebas mengamati wajah Adinda dibatasi oleh meja makan.
“Kamu gak tidur lagi?”
Adinda menggeleng.
“Kenapa?”
Adinda menatap Agung dengan ragu-ragu.
“Takut..”
“Takut?”
“Takut mimpi yang sama. Mereka jahat banget.”
“Siapa?” Agung berpura-pura tidak tahu.
“Perempuan itu dan teman laki-lakinya.”
“Penjarakan mereka lebih lama supaya mereka merasakan siksa dunia akibat perbuatan mereka."
“Caranya?”
“Jerat mereka dengan pasal pembunuhan berencana.”
“Bukankah mereka memang dijerat dengan pasal itu?”
Agung menggeleng, “Baru diduga melakukan pembunuhan berencana.”
“Tapi Papa kan meninggal karena diracuni mereka? Mereka yang bilang sendiri kan? Ada pada rekaman CCTV yang dipasang di rumah Dinda?” suara Adinda meninggi penuh emosi.
Agung meletakkan telunjuk di bibirnya, meminta Adinda untuk berbicara dengan suara pelan.
“Masih terlalu pagi untuk bersuara kencang..” Agung tersenyum.
“Ma’af..”
“Penyidik butuh bukti untuk memulai penyelidikan kasus pembunuhan.”
“Bukti yang bagaimana lagi? Bungkus racunnya pasti sudah dibuang pada saat Papa meninggal. Gelas kopi Papa juga pasti sudah dicuci bersih atau mungkin di buang..” Adinda menunduk sedih.
“Bukti ada di tubuh Papa.”
“Tapi Papa kan sudah dikubur sebulan lebih.”
“Polisi butuh ijin dari putri satu-satunya almarhum Pak Adang Rahmat untuk melakukan pembongkaran makam agar bisa melakukan autopsi jenazah.”
Adinda menatap Agung tak berkedip.
“Pembongkaran makam?” akhirnya Adinda berbicara setelah terdiam beberapa lama.
Agung tidak menyahut. Dia membelakangi Adinda karena sedang menyeduh teh hijau untuk Ayah.
“Om..?”
“Hmm.”
“Om sedang apa?”
“Kok Om yang nyeduh?”
“Kan kamunya sedang bengong. Bunyi teko air menjerit saja kamu gak dengar kan?”
“Bukan bengong, Om. Tapi sedang berpikir... “
“Tentang proses pembongkaran makam?” Agung membuka laci untuk mencari tutup gelas.
Adinda mengangguk.
Agung mengangsurkan gelas teh untuk Ayah kepada Adinda.
“Antarkan ke Ayah.”
Adinda menggeleng.
“Kenapa?”
“Segan masuk ke kamar Ayah dan Bunda. Om aja. Om kan anaknya...”
“Kan kamu sudah jadi anak Ayah dan Bunda..” Agung tersenyum menggoda.
“Tetap saja beda, Om..” Adinda tersenyum malu.
“Nunggu dihalalin dulu supaya kamu gak merasa beda?”
“Isssh, apaan sih Om ini.”
Agung terkekeh sambil membawa gelas teh ke kamar Ayah.
“Tungguin saya ya. Jangan kemana-mana. Kita ngobrol lagi sambil menunggu subuh,” Agung menoleh pada Adinda yang diangguki olehnya.
10 menit kemudian, Agung kembali lagi ke ruang makan. Menghampiri Adinda yang sedang meletakkan pipinya di atas meja makan.
Agung menoel telinga Adinda yang tertutup mukena. Adinda terlonjak kaget.
“Melamun teruuuuus.”
“Om ngagetin ih!” Adinda mencebik.
Agung terkekeh. Saat hendak menarik kursi di samping Adinda, Adinda menahan kursinya.
Agung menaikkan sebelah alisnya untuk bertanya pada Adinda. Adinda tidak menjawab, dia hanya menunjuk pada kursi di hadapannya. Kursi yang tadi diduduki Agung.
“Kenapa saya gak boleh duduk di sebelah kamu?”
Adinda menggeleng.
“Risih Om.”
“Why?”
“Takut khilaf, Om!” Adinda menangkupkan jemarinya menyembunyikan wajah.
“Memangnya kamu mau ngapain saya?” Agung bersidekap menatap lurus Adinda yang menyembunyikan wajahnya.
“Bukannya saya yang mau ngapa-ngapain Om. Tapi justru Om yang mau ngapa-ngapain saya...” bahu Adinda tampak berguncang, terkekeh pelan.
Mata Agung membulat, mulutnya ternganga.
“Sembarangan kamu..”
“Kan saya masih polos, Om..” Adinda terkekeh lagi kali ini sambil menatap Agung.
Agung hanya mendengus karena speechless.
Agung berdehem.
“Dinda, ada yang akan saya bicarakan dengan kamu.”
“Tentang apa, Om?” Punggung Adinda tegak, matanya menatap lurus pada mata Agung.
“Semalam, saat saya dan abang-abang kamu lainnya sedang berkumpul di apartemennya Abang Bramasta, Bang Hans mendapat telepon dari Pak Raditya,” Agung menatap mata Adinda, untuk melihat reaksi Adinda.
Adinda masih menunggu kelanjutan cerita Agung.
“Pak Raditya itu seorang perwira tinggi polisi yang bekerja sama dengan Bang Hans untuk membekuk Bryan dan ajudannya.”
Adinda mengangguk lalu menunggu kelanjutannya.
“Pak Raditya meminta ijin pada Bang Hans supaya bisa mendapatkan tanda tangan kamu untuk ijin pembongkaran makam dan proses autopsi jenazah Papa.”
Tatapan mata Adinda bergetar. Berkedip untuk mencegah air matanya keluar. Adinda mengalihkan tatapannya pada lampu gantung di atas meja makan. Berkedip beberapa kali. Hingga akhirnya menatap Agung kembali.
“Lakukan saja. Kapan dokumen pembongkaran jenazah dan autopsi bisa saya tandatangani, Om?”
Giliran Agung yang terdiam. Tidak menyangka dengan reaksi Adinda yang begitu mudah menerima apa yang baru saja dia ceritakan.
“Om?” Adinda bertanya lagi.
“Kalau kamu ingin hari ini juga ditandatangani, pagi nanti saya bisa hubungi Bang Hans.”
Adinda mengangguk lagi.
“Let’s do it.”
“Are you sure?”
Adinda mengangguk “Lebih cepat, lebih baik kan? Papa jadi tenang di sana, saya pun demikian. Tidak dikejar-kejar mimpi buruk lagi. Juga mereka lebih cepat mendapatkan hukumannya.”
Agung mengangguk dan tersenyum, “Saya bangga dengan kamu. Saya kira tanggapan kamu akan dipenuhi airmata ataupun serangan panik lagi...”
Adinda menatap Agung dengan jengah.
“Om terlalu meng-underestimate-kan saya.”
“Eh, nggak.. saya gak bermaksud begitu..”
“Tapi nyatanya memang begitu..”
“Dinda...” Agung menyerah.
“Apalagi, Om?” Adinda mendongak malas. Menatap sebentar pada Agung lalu menempelkan lagi dahinya di atas meja.
“I love you, more..” ucap Agung pelan yang membuat Adinda mendongakkan kepalanya dengan cepat.
.
***
Ehem! Ciyeeeeeee
Maaf late posting.
Too much to do..