
Agung meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Semalaman terjaga di depan laptop untuk mengerjakan program akuntansi yang dibuatnya.
Setidaknya dia merasa puas dengan hasil kerja semalamnya. Programnya berjalan dengan baik saat ia mencoba mengoperasikannya. Tidak ada yang macet ataupun masalah lainnya.
Dia melirik lagi buku catatannya. Semua yang sudah ia lakukan, ia beri tanda centang merah. Sementara catatan baru untuk yang belum ia lakukan atau ide-ide yang datang menyusul ditulis dalam bentuk bubble dengan tanda panah.
Teringat saat Anton melihat buku catatannya. Saat membaca diagram-diagram pemrograman.
“Ini sih mirip proses menyusun konsep dalam arsitektur. Kita harus melakukan survey kelayakan, survey lingkungan, survey bentuk, dan lain-lainnya. Nanti hasil outputnya berupa konsep rancangan..”
Agung meregangkan tubuhnya lagi. Dia melirik arloji di tangannya. Belum jam 6.
Agung menyetel alarmnya untuk 30 menit ke depan. Merebahkan diri di atas sofa U dan langsung terlelap dibuai suara pembawa berita yang membacakan berita ekonomi.
Rencana joging pagi ini hanya tinggal rencana. Rasa kantuk mengalahkan semuanya. Berharap tidur singkatnya merupakan tidur yang berkualitas yang benar-benar membuatnya deep sleep.
Indra terbangun dengan terkejut. Alarmnya berdering tepat di pukul 06.30. Ia meregangkan tubuhnya lagi.
Gegas ke kamar mandi untuk mandi. 20 menit kemudian ia sudah rapi dan segar.
Man sudah menyiapkan teh panas di meja pantry bar. Ia tengah berbincang dengan Raditya.
“Assalamu’alaikum Bang. Ma’af tadi saya tidur lagi sebentar..”
“Kamu gak tidur semalaman, Gung?”
Agung menggeleng.
“Kenapa?”
“Kebanyakan ngopi, Bang..” Agung terkekeh sambil meregangkan tubuhnya, “Abang mau mandi di-washlap sekarang?”
“Saya mau mandi di kamar mandi saja, Gung. Gak enak cuma dilap saja..”
“Abang yakin bisa? Saya bantu ya untuk mandinya..”
“No thanks..” Raditya tertawa, “Saya gak obral aset..”
“Diiih Bang Radit..” Agung bergidik.
Man tertawa.
“Abang ada meeting jam berapa?” Agung menurunkan handrail bed suaya Raditya bisa menurunkan kakinya.
“Jam 9. Saya meeting di atas bed saja. Belum sanggup terlalu lama untuk duduk di sofa. Dada rasanya sesak..”
“OK.. Abang mandi dulu. Sambil duduk saja ya Bang mandinya.”
Saat memakaikan kemeja seragam Raditya, Man menepuk punggung Agung.
“Tuan Hans meminta Akang untuk mengaktifkan handphone..”
Agung mengangguk. Dia mengambil gawai dari saku celananya. Menyalakan sambungan data.
Suara notifikasi pesan masuk berturut-turut masuk. Segera memeriksa pesan masuk dari WAG Kuping Merah.
Keningnya berkerut saat melihat foto siluet dirinya yang tengah duduk di bangku taman di bawah pohon. Di bawahnya foto hasil screenshot dari gawai Anton tentang postingannya di sosia media.
Anton_What’s up, Bro?_
Indra_What’s going on?_
Agung mulai mengetik balasan. Ia tidak mau membuat mereka mencemaskannya.
Agung_I’m fine. Everything is OK. Thanks a lot (emot senyum)_
Ada pesan dari Halim, menanyakan kabarnya. Agung menjawabnya dan menanyakan kabar anak-anak akunting Buana Raya.
Ada pesan dari Adinda. Tetapi ia tidak membukanya. Ia fokus menunggu Halim yang tengah fokus mengetik.
Man membantu Raditya menyisir rambutnya. Hentakan peluru dan dada yang ditekan berulang kali membuatnya merasa nyeri untuk mengangkat tangannya.
Tidak ada cedera serius hanya memar tulang. Tapi itu membuatnya menolak memakai kaos karena tidak sanggup untuk mengangkat tinggi lengannya.
“Perfect, Bang,” Agung mengangkat jempolnya, “Ganteng.”
Raditya terkekeh.
Petugas makanan rumah sakit membawakan sarapan untuk Raditya juga untuk keluarga pasien.
“Abang sudah boleh berolahraga belum, Bang? Supaya melatih otot yang kaku,” Agung bertanya saat mereka sarapan bersama di tempat yang berbeda.
Raditya sarapan di atas bednya sedangkan Agung dan Man sarapan di pantry bar.
Raditya menggeleng.
“Belum boleh, Gung. Saya juga sudah tidak nyaman dengan kondisi saya ini yang lemah..”
“Sabar Bang. Jantung Abang sempat terhenti beberapa menit. Itu yang membuat Abang harus lebih bersabar untuk bisa bergerak bebas lagi.”
Raditya mengangguk.
Gawai Agung berdering. Panggilan masuk dari Hans. Agung menerimanya.
“Assalamu’alaikum, Bang Hans. Sedang sarapan ini.." Jeda.
“Boleh, kalau tidak merepotkan,” Agung tertawa, “Gak kenyang Bang.. porsi rumah sakit. Rasanya juga tidak memuaskan.”
“Nanti saya tanyakan dulu..”
Agung memandang Raditya.
“Bang, mau bubur ayam gak?”
Raditya yang tengah memakan sarapannya dengan tidak bersemangat langsung mengacungkan ibu jarinya.
“Bang Hans, mau katanya. Tapi rendah garam ya Bang. Dokter menyarankan makanan Bang Radit itu rendah garam tapi bagian dapur malah meniadakan garam di makanannya Bang Raditya,” Agung terkekeh.
“OK Bang Hans. Fii amanillah.”
Agung menyimpan gawainya di atas meja.
“Man, jangan terlalu kenyang. Sebentar lagi Bang Hans datang bawa bubur ayam.”
Man hanya mengangguk sambil menyuapkan nasi gorengnya. Suapan terakhir.
Agung membantu menyiapkan laptop dan headset Raditya untuk meeting nanti.
Hans datang dengan memakai stelan resmi. Akan ada meeting mewakili Tuan Alwin di Sanjaya Group dan langsung disambung dengan menjadi narasumber di sebuah acara seminar.
Bubur ayam dalam mangkuk thinwall diedarkan oleh Man. Bukan untuk mereka saja yang berada di dalam ruangan, bahkan para pengawal yang berada di luar ruangan pun mendapat bagian.
Mereka sarapan bersama lagi. Kali ini Raditya memakan dengan semangat dan lahap.
Hans mengajak Agung ke arah sofa U. Melihat berkas-berkas di meja sofa dan laptop yang masih menyala membuat Hans mengernyit.
“Lu gak tidur semalaman?” melihat Agung menggeleng, hans bertanya lagi, “Kenapa?”
“Kebanyakan minum kopi Bang..”
“Lu kenapa semalam gak jujur ke gue, Gung? Gue jadi salah paham dengan Lu. Gue minta ma’af. Benar-benar minta ma’af.”
Agung menaikkan sebelah alisnya.
“Salah paham bagaimana, Bang”
“Gue,, su’udzhon dengan Lu.”
“It’s OK. Gue juga minta ma’af karena tidak jujur dengan Abang dan yang lainnya. Karena gue juga gak mengerti dengan pikiran gue sendiri. Gue gak ngerti dengan hati gue...”
Hans menatap Agung agak lama.
Agung menggeleng.
“Nanti saja Bang. Kalau pikiran dan hati gue sudah tenang.”
“Tentang apa sih?”
Agung menggeleng lagi.
Hans menghela nafas.
“Gue gak akan maksa Lu buat cerita. Tapi gue ingin Lu gak memperpanjang apa yang tengah terjadi di pikiran dan hati Lu. Gue gak mau kerjaan Lu terbengkalai ataupun ada yang terluka akibat Lu membiarkan masalah di pikiran dan hati Lu berlarut-larut.”
“Insyaa Allah, Bang..” Agung menundukkan pandangannya.
“Lu masih belum mau cerita?”
“Nanti saja Bang, kalau kepala dan hati gue udah dingin. Untuk sementara tolong biarkan gue mendinginkan dulu. Gue akan pakai kerjaan gue sebagai pengalih perhatian agar gue bisa beristirahat sejenak dari apa yang mengganggu pikiran gue, Bang.”
“OK.”
Hans mengangguk dan berdiri. Dia melihat ke arlojinya. Kemudian menatap Agung lagi.
“Dinda menyampaikan pesan tadi. Dia akan ke sini sebelum ke sekolahnya. Lu susah banget dihubungi sejak semalam.”
“Habis batere, Bang,” dusta Agung, “Sampa sini lupa nge-charge.”
“Ngapan Dinda ke sekolah?”
“Untuk persiapan acara perpisahan.”
“Oooh..” Agung mengangguk.
Hans menghampiri Raditya yang tampak menekuri gawainya. Bertukar pesan dengan entah siapa.
“Pak Raditya, hari ini kabarnya Bapak mendapat ajudan untuk membantu tugas-tugas Bapak. Salah satunya adalah Pak Budi yang nanti akan bertugas sebagai ajudan Bapak.”
Raditya meletakkan gawainya menatap bengong pada Hans.
“Saya sendiri malahan belum tahu berita ini sama sekali.”
Raditya semakin merasa hormat pada Hans. Dia bisa menembus berbagai lapisan untuk info yang bahkan ia sendiri belum mengetahuinya.
Hans tertawa.
“Orang-orang saya sudah mengecek nama-nama yang akan menjadi ajudan Pak Radit. All is clear. Aman.”
Raditya mengangguk.
“Terima kasih banyak Tuan Hans. Anda sudah membantu kami terutama saya banyak sekali..”
“Don’t mention it, Pak Radit,” Hans menoleh pada Agung yang berdiri di sebelahnya, “Saya pamit dulu ya. Assalamu’alaikum..”
Hans berlalu.
Agung mengecek arlojinya.
“Bang, ada yang mau dibeli gak? Saya mau belanja. Kita kehabisan teh, gula dan kopi.”
“Roti sisir..” Raditya memandang Agung sambil tersenyum.
“Setdah Bang! Jadul amat seleranya..” Agung tertawa, “Sudah, itu saja?”
“Sama pencukur jenggot, Gung. Punya saya sudah kurang tajam pisaunya.”
“OK..”
Man menghadang langkah Agung. Agung mengernyit.
“Kang, biar saya saja yang belanja. Keamanan Kang Agung...”
Agung menepuk lengan Man.
“It’s OK Man. Saya pakai masker dan sunglasses,” Agung tersenyum, “Lagipula ada sesuatu yang harus saya beli yang gak bisa saya titipkan ke orang lain.”
“Apa Kang?” Man penasaran.
“Pakaian dalam,” Agung terkekeh diikuti Raditya yang ikut terkekeh, “Sudah ah. Saya pergi dulu ya. Assalamu’alaikum.”
Agung memakai masker. Berjalan menunduk di lobby. Di dalam lift, ia mengenakan sunglassesnya.
Orang-orang di lobby tidak mempedulikannya. Agung lega. Masker dan sunglasses mnejadi pelindungnya saat ini.
Agung lebih memilih berjalan kaki. Dia butuh refreshing dan juga berolahraga. Jarak antara rumah sakit dan supermarket besar itu ada beberapa gedung. Tidak begitu jauh tetapi juga tidak begitu dekat juga.
10 menit setelah Agung berlalu, suara Adinda mengucap salam terdengar sambil membuka pintu geser.
Man sedang berada di kamar mandi. Raditya tengah bersiap memulai meeting online dan tengah memasukkan alamat link aplikasi zoom meeting.
“Dinda?” sapa Raditya.
“Om Agungnya ada Bang?”
“Agung baru saja pergi. Tadi mau belanja. Kehabisan teh dan kopi.”
“Lama gak ya Bang?”
“Gak tahu.. Soalnya baru pergi sih sekitar 10 menitan..”
Man keluar dari kamar mandi. Melihat Adinda berseragam sekolah, Man menghampirinya.
“Baru saja pergi Pak Agungnya, Nona. Gak berapa lama setelah Tuan Hans kemari..”
“Belanja di minimarket bawah?”
“Waduh.. saya kurang tahu, Nona.”
“Ya sudah, nanti saya ke sini lagi deh sepulang sekolah. Terimakasih banyak ya Pak, Bang Radit. Assalamu’alaikum..”
Agung memasang headset di telinganya. Matahari pagi ini sudah bersinar terik. Tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang di trotoar pagi ini.
Agung menunduk untuk memilih murotal al Qur’an yang akan ia dengarkan. Lalu memasukkan lagi gawainya ke dalam saku celananya.
Sebuah Innova hitam melintas di sampingnya. Agung terkejut. Dia bergeser di dekat pohon. Menutupi tubuhnya dengan batang pohon. Dia bisa melihat Adinda tengah mengetik di gawainya di bangku penumpang tengah.
Adinda berjilbab putih dengan seragam putih abu tampak cantik dari balik jendela mobil. Ada yang berdenyut nyeri menelusup di dada Agung.
Agung sudah mematikan sambungan data semenjak tadi. Tidak akan ada pesan chat atau panggilan masuk dari aplikasi hijau ke gawainya.
Agung hanya ingin menepi sejenak. Menekan rasa kangen yang ada. Menekan ego yang menyeruak. Menepi sejenak. Hanya itu yang ia butuhkan saat ini.
.
***
Gung curhat saja sama Author lah.
Sebenarnya Lu kenapa sih? Nanti supaya Author bisa jembrengin semua isi kepala Lu, isi hati Lu.
Lu pengen menepi sejenak?
OK. Fine.
Tapi jangan kelamaan. Kasihan Dindanya...
☕Jangan lupa like dan minta update ya, Readers☕
Utamakan baca Qur’an🌷