CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 137 – RENCANA UNTUK ANTON



Ruang Rawat Inap VIP 2


Rumah Sakit XXX


“Boleh ya Suster, saya turun dari bed,” pinta Agung pada perawat yang bertugas pagi.


Perawat yang sedang memeriksa tekanan darah Agung mendongak menatap Agung.


“Kita tunggu apa kata dokter dulu ya Tuan. Saya tidak berani bertindak gegabah mengingat luka operasi Tuan.”


“Lukanya bagus kan? Tidak infeksi?" Agung mendesak perawat.


Peawat itu mengangguk dan tersenyum.


“Alhamdulillah semuanya bagus. Tapi Tuan Agung harus bersabar dulu ya.”


“Kakak.. jangan terlalu memaksakan diri dulu apalagi memaksakan kehendak. Kasihan Mbak Susternya, kalau ada apa-apa dia kan yang bertanggung jawab,” Bunda menengahi pembicaraan Agung dan perawat.


“Tentang bunga-bunga di lobby bawah, apakah Tuan Agung bersedia melihatnya? Para wartawan sejak kemarin berkumpul di sudut lobby.”


Agung menatap Bunda. Ayah pagi tadi pulang dahulu untuk berganti baju. Siang nanti Ayah ada jadwal mengajar sebagai dosen tamu di salah satu perguruan tinggi teknik.


“Hubungi Adek dan Bramasta, saja ya,” kata Bunda.


Agung mengangguk. Dia meraih gawainya sambil duduk miring saat perawat tersebut membersihkan jahitan di punggung kirinya.


“Kira-kira nanti bekasnya menimbulkan parut di kulit gak, Suster?”


Perawat itu terdiam sejenak, “Kalau dilihat dari bekas luka yang sekarang sih saya rasa tidak, Tuan. Kulit Anda elastisitasnya sangat baik.”


“Kalau saya turun ke lobby, apa nanti tidak akan terjadi kehebohan?”


“Kalau Tuan sudah merasa nyaman dengan tubuh Tuan, nanti bisa menggunakan kursi roda untuk ke lobby bawah,” Perawat tersebut membenahi peralatan di atas trolly.


“Masalah keamanan Tuan, akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab rumah sakit. Selain perawat nanti pihak direksi juga akan mendampingi Tuan.”


“OK.. Nanti saya kabari lagi ya Suster.”


Perawat itu mengangguk lalu mohon diri pada Agung dan Bunda.


“Kakak sudah siap untuk turun ke lobby? Bunda rasa nanti akan jadi konferensi pers. Menurut Bunda, pihak rumah sakit memanfaatkan momen ini sebagai ajang promosi,” Bunda membenahi selimut Agung.


“Iya, Kakak juga merasa seperti itu. Tapi gak apa. Mommynya Kakak Ipar kan pemilik rumah sakit ini juga,” Agung terkekeh.


Bunda juga ikut terkekeh, “Tapi jangan memaksakan diri ya. Jangan sok kuat. Jangan buat Ayah dan Bunda khawatir lagi..”


Agung mengangguk.


***


Sanjaya Group


Ruang Sekretaris


Hans memijat keningnya sambil mendengarkan lawan bicaranya di gawainya.


“Hmm..” Jeda.


“Sudah positif ini?” Jeda.


“OK. Pantau terus.” Jeda.


‘Wa’alaikumussalam.”


Hans meletakkan gawainya di atas meja. Kemudian meyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Mencerna kembali apa yang baru saja ia dengar dari salah satu anggota Shadow Team yang berada di intansi Tuan Thakur.


Alarm pengingat di gawainya berbunyi. Setelan alarmnya 10 menit sebelum ia mengingatkan Tuan Alwin akan jadwalnya. Dia mengambil berkas yang sudah anak buahnya siapkan. Lalu berjalan ke ruangan Tuan Alwin.


Hans mengetuk pintu lalu membuka pintunya.


“Assalamu’alaikum, Tuan. Meeting dengan CEO Persada Gemilang, 25 menit lagi.”


“Wa’alaikumussalam. Dimana?”


“Di Ruang Meeting 2.”


Tuan Alwin mengangguk.


“Kamu sudah persiapkan semuanya, Hans?”


Hans mengangguk, " Sudah, Tuan."


“Beri saya poin-poin pentingnya,” Tuan Alwin mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Hans menyerahkan map berkas yang dibawanya, “Silahkan, Tuan.”


Tuan Alwin membaca berkas. Kemudian keningnya berkerut.


“Itulah yang harus kita tanyakan kepada Persada Gemilang, Tuan.”


“Ah, CEOnya kurang cakap dalam menjelaskan sesuatu. Seperti yang tidak menguasai materi. Minta kepada pihak Persada Gemilang untuk membawa orang yang tempo hari, siapa namanya?” Tuan Alwin memandang Hans sambil berusaha mengingat.


“Pak Bambang, beliau pimpronya, Tuan.”


“Ah ya, Pak Bambang. Dia menjelaskan dengan gamblang.”


“Baik Tuan, akan saya hubungi pihak Persada Gemilang.”


“Hans..” panggil Tuan Alwin saat Hans melangkah ke arah pintu.


“Ya Tuan?” Hans membalikkan tubuhnya.


“Bagaimana anak-anak Kuping Merah?”


Hans mengangguk dan tersenyum, “Sejauh ini aman Tuan.”


“Prince Zuko?”


“Masih tak terlacak. Anton hacker handal dan kuat, Tuan. Shadow Team juga mem-back up-nya.”


“Anak itu.. memang luar biasa ya,” Tuan Alwin memandang Hans, “Keluarganya masih bersikap tak peduli padanya?”


Hans mengangguk. Lalu berjalan menuju kursi di depan meja Tuan Alwin. Ia menceritakan apa yang ia dengar di rumah sakit.


“Dia anak yang baik ya. Tidak membenci orangtua dan kakak-kakaknya.”


Tuan Alwin tampak berpikir. Hans menunggu Tuan Alwin untuk berbicara lagi sambil mengirimkan pesan kepada Persada Gemilang.


“Bisa tidak.. kita mengatur semacam sweet revenge untuk keluarga besar Anton?”


Hans tercenung. Berpikir sejenak. Lalu mengangguk.


“Bisa saja. Selama ini keluarganya tidak tahu siapa dan bagaimana Anton, The Hidden Gems."


Hans melanjutkan lagi, "Mereka tidak akan menyangka mereka telah mengabaikan dan membuang berlian. Selama ini Anton selalu bermain di balik layar,” Hans menatap Tuan Alwin kemudian ia meraih gawainya, mencari foto-foto berita tentang B Group ataupun Bramasta.


“Kalau saya amati dari foto-foto yang beredar tentang acara ataupun kegiatan B Group dan Sanjaya Group, Anton selalu menyembunyikan wajahnya dengan baik dari sorotan kamera,” Hans menyodorkan gawainya kepada Tuan Alwin.


Ada sosok Anton dalam salah satu foto, bisa dikenali dari siluet tubuhnya yang paling jangkung di antara anggota Kuping Merah. Namun dengan wajah tertunduk ataupun tangan yang menutupi wajah seolah sedang menyibak rambut sebahunya yang menyentuh wajah.


Tuan Alwin mengangguk-anggukkan kepalanya.


Hans memandangi tanaman di atas meja Tuan Alwin.



“Jadi wajah Anton tidak pernah terlihat di foto media manapun?” Tuan Alwin mengangkat sebelah alisnya.


Hans mengangguk. Dia berdiri lalu menyentuh pot tanaman di atas meja kerja Tuan Alwin. Matanya fokus memandang tanaman.


Tangannya menyibak daun-daun, memeriksa batang tanaman. Tuan Alwin mengernyitkan keningnya.


“Ngapain?”


“Hanya memeriksa saja, Tuan. Setelah kejadian kiriman bunga di apartemen Bramasta, kita harus lebih berhati-hati.”


“Sudah saya lakukan tadi,” Tuan Alwin terkekeh, “All is clear. Sudah pakai detektor yang dibelikan oleh Bram.”


“Tentang Anton, sebaiknya jangan terburu-buru, Tuan. Biarkan Anton berdamai dengan hatinya terkait dengan perempuan masa lalunya,” Hans duduk kembali di kursi.


“Hmm.. anak bungsunya CEO Gong Xi Group ya. Kita pernah ketemu gak?” Tuan Alwin berusaha mengingat pesta-pesta yang ia hadiri baik bersama Hans ataupun istrinya yang diselenggarakan oleh CEO Gong Xi Group.


Hans ikut mengingat juga lalu mengangguk.


“Pernah, Tuan. Sekali sewaktu ulang tahun Gong Xi tahun lalu. Saya duga saat itu dia berusaha menjodohkan Aline dengan Bramasta, pernikahan bisnis. Untung saja Bramasta cepat membaca situasi apalagi setelah tahu Aline adalah mantannya Anton ”


“Ah ya... terlalu mencolok dan kampungan caranya. Kasihan anak gadisnya dijadikan bahan perluasan bisnis demi ambisi orangtuanya,” Tuan Alwin teringat dengan gadis berkulit kuning dengan mata sipit yang indah.


“Sebentar lagi kita mendapat undangan pernikahan dari Gong Xi Group. Aline dijodohkan dengan taipan muda asal Taiwan. Satu marga.”


“Wow.. Targetnya luar biasa. Ingin go international dengan cara instan rupanya Gong Xi Group. Sangat ambisius sekali ya."


Hans terkekeh kemudian berdiri, “Saya permisi dulu, Tuan. Masih banyak yang harus saya kerjakan.”


“Iya..”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


...****************...


Sweet revenge settingannya kolaborasi antara Tuan Alwin dengan Hans sepertinya tidak dibahas di novel ini ya. Novel khususon Anton dengan jodohnya. Nanti saja... alurnya masih di awang-awang 😁