
“Sebenarnya Lu sedang apa sih Ton?” Agung penasaran, berdiri di belakang kursi Anton untuk mengamati layar monitor Anton.
"Ini untuk melindungi kalian semua. Kita semua..” Anton menjawab dengan nada lambat lalu menekan tombol enter dengan dramatis, “Done! _Udah beres!_”
Anton melihat keempat pria yang ada di sekitarnya tengah memandanginya dengan alis terangkat . Menunggu penjelasannya kembali.
“Gue menghapus jejak-jejak digital yang kalian buat saat membantu memasukkan alamat-alamat IP palsu sebagai pengecoh hacker yang mencoba melacak Prince Zuko...”
“Kami meninggalkan jejak?” Indra mengernyit.
“Yupz.. walaupun jejaknya samar tapi untuk pengulik yang jeli khawatir bisa menelusurinya,” Anton melepas headsetnya, “Gue lapar Pak Bos dan Pak Ketu...”
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Anton.
“Apa itu Pak Ketu? Siapa Pak Ketu?” Hans menggaruk belakang kepalanya.
“Pak Ketu maksudnya Pak Ketua. Kan Lu, Hans yang jadi head chief-nya Kuping Merah,” Indra terkekeh.
“Gue?” Hans terheran, “Sejak kapan gue diangkat jadi Ketua Gank?”
“Secara gak langsung, Bang. Kita lihat umur. Bang Hans kan yang paling senior,” Agung terkekeh.
“Maksud Kakak, karena Bang Hans yang paling tua?” Adisti memandang Hans dengan meringis.
“Bram.. Bini Lu dengan Kakak Ipar Lu benar-benar deh..” Hans menatap kesal.
“Benar-benar apa Bang? Benar-benar benar?” Adisti sekarang memamerkan cengirannya, “Gak usah melotot ke Disti, Bang... nanti Disti laporkan ke Mbak Hana loh. Palingan malam ini Bang Hans gak dapat jatah...”
Semua tergelak mendengar ucapan Adisti. Kecuali Hans, tentunya.
Hans meraih gawainya.
“OK.. Disti mau pesan apa?”
“Bang.. yang lapar gue, Bang... Gue!” protes Anton.
“Tar dulu, Ton. Gue lagi negosiasi dulu dengan bininya Bos Lu. Supaya dia gak laporan yang nggak-nggak ke bini Gue. Bisa berabe kalau gue gak bisa iya-iya sama bini gue..” ucapan Hans membuat ruangan yang kedap suara itu dipenuhi tawa.
“Dih!” Adisti mencibir lalu tertawa lagi.
“Hans dalam mode srimulat nih..” Bramasta menggelengkan kepalanya, “Jarang-jarang loh!”
“Bang, gue to the point aja deh. Gue ingin mie goreng pakai telur tapi didadar aja jangan diaduk,” Anton meletakkan kepalanya di atas meja.
“OK. Yang mie goreng berapa? Yang nasi goreng berapa?” Hans menatap mereka semua.
Masing-masing mengacungkan tangannya sambil menyebut pesanannya.
“Bang..” Adisti melambaikan tangannya ke Hans, “Disti mau mie kuah pedes.”
“Ma’af Dis, gak ada di list. Pilihannya cuma dua: mie goreng dan nasi goreng. Gak ada mie kuah mie kuahan..” Hans tersenyum senang bisa membalas Adisti.
“Isssh Bang Hans ini..” Adisti mencibir, “Kasihan yang jualannya, Bang..”
“Kasihan kenapa?” Hans mengernyit.
“Dia sudah buat dan bawa kuah kaldu untuk dagangannya. Tapi malah gak terpakai. Apa gak sedih tuh pedagangnya? Mana berat lagi bawanya...”
“Astaghfirullahal adzhiiim...” Hans mengusap wajahnya.
Agung dan Bramasta menyembunyikan tawanya.
“Sering-sering deh kalian berdua ngobrol ya..” Indra mengambil tempat duduk di samping Anton.
“Kenapa?” tanya Anton penasaran.
“Supaya Hans lebih banyak beristighfar!” Indra menjawab dengan tenang dibawah sorotan mata Hans yang menatapnya jengkel.
Agung dan Bramasta tidak tahan lagi. Mereka terbahak bersamaan.
“Nggak.. maksud gue tadi bukan nanya tentang Pak Ketu. Tapi gue nanyain Lu, Bang!” Anton menatap Indra.
“Gue?” Indra menunjuk dirinya sendiri, “Kenapa?”
“Gue nanya kenapa Bang Indra pindah tempat duduk ke dekat gue,” Anton menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. Menatap Indra.
“Ooh.. Karena gue tahu kebiasaan Lu, Ton. Kalau makan nasi goreng atau mie goreng, Lu pasti gak mau makan kerupuknya. Daripada mubazir mending kerupuknya gue makan nanti..”
“Woiyy Bang.. Dipesan juga belum, udah atur posisi saja..” Anton menggelengkan kepalanya.
“Demi kerupuk, Ton.. kerupuk..” Indra tersenyum lebar.
***
10 menit setelah makan malam selesai, mereka masih berkumpul sambil membaca komentar-komentar yang masuk di Burung Biru. Juga membaca cuitan tentang tayangan Prince Zuko malam ini.
Gawai Hans berdering.
“Silent, please.._Tolong diam ya..” Hans berkata sebelum menerima panggilannya, “Raditya.”
“Wa’alaikumussalam.. Pak Raditya..” Hans sudah menyalakan loudspeaker.
Suara di ujung sana hanya terdengar suara tarikan nafas berat. Sesekali terdengar suara ingus yang ditarik dari hidungnya.
Yang ada di ruangan rapat saling berpandangan. Mereka bisa merasakan kesedihan Raditya.
“Tuan Hans..” suara Raditya terdengar sengau, "Anda melihat Prince Zuko malam ini?"
“Ya, saya melihatnya. Saya turut berduka cita atas apa yang terjadi dengan istri Bapak..”
“Saya.. saya tidak menyangka. Saya mengira kematian istri saya karena kecelakaan tunggal seperti laporan dari instansi saya,” suara Raditya memelan, “Ma’af Tuan Hans.. saya mengganggu waktu istirahat Anda. Saya.. saya tidak tahu lagi dengan siapa saya bisa berbicara tentang masalah ini. Setelah tayangan Prince Zuko, sulit rasanya saya mempercayai rekan-rekan kerja saya meskipun dia bagian dari tim saya..”
“Tidak.. Pak Raditya tidak menganggu istirahat saya. Saya masih di kantor sekarang. Saat saya mengetahui tentang ihwal kematian istri Bapak, saya langsung memerintahkan anak buah saya untuk mengecek lokasi dari CCTV jalan ataupun bangunan di sekitar lokasi.”
“Bagaimana hasilnya?” suara Raditya terdengar mulai bersemangat.
‘Ma’af, peristiwa itu sudah setahun yang lalu. Banyak gedung yang menggunakan memory card berulang untuk menghemat anggaran. Lagi pula, di sekitar TKP tidak terdapat gedung yang memiliki CCTV. Hanya lahan kosong dan kebun. Lokasinya betul-betul sepi. Tidak ada CCTV jalan juga di sana,” suara Hans terdengar penuh prihatin.
“Mereka merencanakannya dengan baik.." Raditya menghela nafas panjang lagi.
“Pak Raditya, Anda ada dimana sekarang ini?”
“Saya di rumah.”
“Untuk beberapa hari ke depan, hingga mereka semua diringkus, tinggalkan rumah Anda. Untuk sementara tinggal bersama Pak Agung di apartemennya. Bawa semua seragam termasuk juga seragam formal Anda.”
Agung yang disebut namanya mendengak menatap Hans. Lalu kemudian mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya.
“Tinggal dengan Pak Agung?” Raditya keheranan, “Tapi kenapa?”
“Karena saya yakin, anak buah Tuan Thakur jadi semakin kalap ingin melenyapkan Anda.”
“Saya tidak takut bila mereka ingin melenyapkan saya.”
“Pak Raditya, please.. mengertilah. Keberadaan Bapak sangat diperlukan untuk membuat perubahan di dalam tubuh instansi Bapak. Pak Raditya sebagai tokoh sentral orang yang berani melawan kekuasaan Tuan Thakur.”
“Tapi sampai kapan saya harus tinggal bersama Pak Agung?”
“Seperti yang saya katakan tadi, hingga semuanya berhasil diringkus. Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk bergerak mencari orang-orang yang tampak pada video CCTV GOR Saparua. Driver mobil APV yang menjadi eksekutor pembunuhan istri Bapak beberapa menit yang lalu sedang bergerak ke Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Lampung. Sudah berhasil diringkus dan akan diamankan di tempat rahasia.”
“Masyaa Allah, secepat itu?” Raditya terdengar bersemangat lagi, “Tuan Hans, ijinkan saya bertemu dengan orang itu.”
“Tidak,” Hans tegas menjawab, “Belum waktunya.”
“Saya ingin mendengar langsung keterangannya!”
“Anda percaya pada saya?” Hans menatap gawainya, “Segeralah berkemas sekarang. Orang saya akan menjemput Anda. Orang yang sama yang mengantarkan handphone kepada Anda.”
“Saya sedang berkemas sekarang. Tapi ijinkan saya, malam ini untuk bertemu dengan orang itu!”
“Sabar, Pak Raditya. Tahan diri dulu. Kalau Anda mengejar orang ini, maka yang Anda dapatkan hanya ekor ular. Sedangkan kepala dan badannya masih utuh dan bersatu. Ular masih bisa hidup. Ada pepatah asing yang mengatakan, untuk membunuh seekor ular, maka kamu harus memotong kepalanya.”
Raditya terdiam. Hanya terdengar nafasnya yang berderu.
“Ada pejabat negeri ini yang mengumpamakan dengan ikan busuk. Ika busuk dimulai dari kepalanya. Maka sebelum busuknya menyebar ke seluruh tubuh ikan, maka buanglah kepalanya,” Hans berbicara sambil mengetik pesan pada gawainya.
.
***
D4rah seperempat mafioso dalam tubuh Hans berperan besar sebagai Pak Ketu di Kuping Merah ya.
Ma'af late repost.🙏🏼🙏🏼🙏🏼