
“Kapan spill tentang sisi gelap Tuan Thakur ke publik?” tanya Bramasta.
“Hehehe... Lu ketinggalan amat sih Bram? Udah tadi siang. Kuping Merah duet dengan Shadow Team,” Indra terkekeh.
“Kok gue gak diberitahu.”
“Pak Bos kan dari pagi sibuk,” jawab Anton.
“Gue suka penampilan Prince Zuko siang tadi. Background hackernya keren!” Indra mengacungkan dua ibu jarinya kepada Hans dan Anton sambil berjalan ke arah pantry.
Bramasta menjadi penasaran. Segera membuka sosial media burung biru kemudian tersenyum lebar.
“Kalian melakukannya di mana?”
“Di markas Shadow Team. Saya cuma mengirim kode untuk masuk ke burung biru. IPnya ditambah oleh anggota Shadow Team karena banyak pihak yang memburu Prince Zuko,” Anton memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana. Matanya menerawang.
Kemudian memandang Bramasta, Leon dan Hans bergantian, “Kita jadi akan memakai rekaman CCTV gerai donat?”
Hans mengangguk cepat.
“Jadi. Malam ini juga. Karena gue baru saja menerima kabar, kasus The Ritz akan dibuat blur.”
“What?? How possible is it?!_Apa?? Bagaimana mungkin ?!” seru Leon tak percaya.
Untung saja para orangtua sedang berada di bawah untuk makan malam ditemani oleh Adisti.
“Damn!” Bramasta meremukkan botol air mineral yang tadi telah kosong di tangannya.
Indra datang dari arah pantry dengan membawa air mineral dingin dari kulkas. Bramasta langsung merebutnya. Menempelkannya di tengkuknya.
“Lu kenapa?” Indra menatap heran pada Bramasta.
“Ngadem. Berita yang dibawa Hans bikin mendidih.”
Indra terkekeh, “Sudah bisa diprediksi sih. Gue gak aneh lagi. Kaki tangannya banyak dan masih setia.”
“Bagaimana dia bisa seberkuasa itu?” tanya Leon.
“Dia punya jabatan dan pangkat yang membuatnya berkuasa. Dia mempunyai kartu truff yang akan dipakai bila anak buahnya yang satu instansi dengannya mencabut kesetiaannya kepada dirinya,” Indra berkata sambil berjalan lagi ke pantry untuk mengambil air mineral dingin.
“Seperti?” tanya Anton, “Bro, gue juga mau, please..”
Indra kembali lagi ke sofa U dengan membawa 2 botol air mineral dingin. Meletakkannya satu di atas meja.
“Contohnya, peredaran uang panas yang dicuci di The Ritz. Tidak mungkin Tuan Thakur menjadi pemain tunggal tanpa melibatkan teman-temannya.”
“I see_Gue ngerti_” Anton mengangguk.
“Terus anak buahnya yang membelot pada Rita Gunaldi yang kita lihat di Tha Ritz itu siapa?” tanya Leon menyugar rambutnya.
“Mereka orang sipil. Bukan rekan sejawat Tuan Thakur,” Hans menghempaskan tubuhnya di sofa, “Oh My God.. I’m very tired today_Ya Allah.. Gue capek banget hari in_”.
“Tidur saja dulu Hans,” kata Bramasta menunjuk pada sofa bed di dekat bed pasien.
“Gue sudah gak pewe di sini...” suara Hans lenyap terganti dengan suara nafas yang teratur dari Hans.
“That’s nuts_Gile bener_. Langsung pulas!” bisik Leon.
“Sepertinya Hans mempelajari deep sleep a la militer,” bisik Bramasta.
“Wow keren. Andai gue bisa...” bisik Anton.
Bramasta menoleh kepada Anton, “Lu kesulitan tidur deep sleep?”
Anton mengangguk malu.
“Pada saat memejamkan mata, selalu terbayang tatapan dan perlakuan keluarga terhadap saya, Pak Bos.”
Indra dan Leon menepuk-nepuk punggung Anton sebagai dukungan terhadapnya.
“Karena kamu memilih hijrah keyakinan? Sampai sekarang mereka masih memusuhi kamu?” Bramasta menatap lurus pada Anton.
Anton menundukkan kepalanya. Matanya sendu menatap pola nat lantai di bawahnya.
“Saya sudah tidak peduli lagi kepada mereka untuk melindungi kewarasan saya,” Anton berhenti sejenakuntuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa tercekat, “Seperti mereka juga tidak peduli kepada saya dengan membuang saya, mencoret nama saya bukan hanya di KK saja tapi juga dari silsilah keluarga untuk melindungi martabat mereka sebagai keluarga ningrat dinasti yang berusia ratusan tahun yang lalu.”
Anton menatap Bramasta dan Indra.
“Saya beruntung Pak Bos dan Bro Indra menemukan saya saat sedang berada di titik nadir kehidupan saya hingga bisa menjadi seperti sekarang ini.”
“Pertemuan kita sudah ditakdirkan oleh Allah. Kamu menjadi seperti ini bukan karena kami tapi karena Allah sudah menggariskannya dan juga usaha kamu sendiri untuk berada di posisi kamu sekarang ini,” Bramasta tersenyum kepada Anton, “Kami hanya perantara saja untuk pencapaian kamu.”
“Lu betul-betul sudah tidak berhubungan lagi dengan keluarga Lu, Ton? Juga dengan keluarga besar Lu?” Indra bertanya dengan hati-hati, “Termasuk Aline?"
Bramasta melirik Indra. Berharap Indra tidak terlalu mendesak Anton.
Anton mengangguk.
Anton berbicara dengan mata berbinar. Raut kebanggaan terpancar dari sinar matanya saat berbicara. Bramasta dan Indra yang melihat dan mendengarnya berbicara turut berbangga hati.
Namun kemudian sorot matanya meredup menjadi sayu, “Tentang Aline, dia cinta pertama gue. Mungkin memang dia ditakdirkan menjadi jodoh gue dan membuat gue harus berdarah-darah dulu untuk mendapatkannya.”
“Terus kalau ternyata dia bukan jodoh Lu?” Indra mengernyit saat bertanya.
Anton mengangkat kedua bahunya.
"Lu mau sendirian terus berharap Aline akan menoleh ke Lu? Berharap jandanya Aline? Gila Lu!” Indra berkata dengan penuh emosi.
“Ndra..!” Bramasta mengingatkan.
“Gak bisa, Bram. Ni bocah harus disadarkan. Lu stalking medsosnya Aline kan?”
Anton yang menunduk lalu mengangguk.
“Lu tahu kan dengan baik, Aline yang dulu Lu kenal tidak sama dengan Aline yang sekarang?”
Anton terdiam. Dia memandang ke arah Indra.
“People changed by time_Waktu mengubah orang-orang_. Sama seperti gue yang juga sudah berubah.”
“Tapi Lu berubah ke arah yang lebih baik, Ton. Sedangkan Aline??”
Anton tampak meremat tangannya.
“I love her. Here!_Gue cinta dengan dia. Di sini!_” Anton menunjuk ulu hatinya.
“Forget her. She is not yours, not for you. Love is not blind, Bro! We are not teenagers anymore!_Lupakan dia. Dia bukan milik Lu, bukan buat Lu. Cinta itu gak buta, Bro. Kita sekarang bukan abege lagi!" Indra menatap gemas kepada Anton yang keras kepala.
“Indra betul, Ton. Lupakan Aline. Dia akan menikah, beberapa bulan lagi,” Bramasta berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus kepada Anton yang tengah memandanginya tak percaya.
“Impossible! Cewek kalau mau married selalu pamer di medsosnya kan?” Anton menatap Bramasta dengan tatapan terluka.
“Lu lupa, Aline bukan cewek biasa. Kalian dulu satu marga. Marga bangsawan yang sangat disegani. Ada aturan-aturan yang baku sebagai keluarga bangsawan kan?” Bramasta menyipitkan matanya.
Anton terdiam. Ya, dia lupa. Dia lupa siapa keluarga Aline. Selama ini dia hanya berpikir tentang Aline dan Aline seorang. Dia melupakan keluarganya.
Justru pihak keluarga Alinelah yang begitu membenci Anton. Mereka pulalah yang mengusulkan penghapusan dan pelarangan Anton untuk memakai nama marganya.
Suaranya parau dan tercekat saat bertanya kepada Bramasta, “Dengan siapa Aline akan menikah?”
“Salah satu taipan muda asal Taiwan. Bermarga sama.”
“Ah..!” Anton menyisir rambutnya dangan jari, “Damn!”
Kalimat yang Bramasta ucapkan semakin membuat jarak dirinya dengan Aline semakin tak terjangkau.
“Lupakan dan tinggalkan semua kenangan tentang dia. Kamu harus move on, Ton!” Leon yang sedari tadi diam saja mengikuti percakapan kini bersuara.
“How?” tatapan terluka dan kalah tampak jelas di wajahnya.
“Buka hati kamu untuk diisi dengan nama lain, buka pikiran kamu untuk diisi dengan wajah gadis lain,” Leon memandang Anton dengan penuh simpati seorang kakak kepada adiknya.
“Dengan latar belakang gue tanpa ada keluarga? Bagaimana gue bisa diterima oleh keluargnya untuk diterima sebagai menantu??!” suara Anton terdengar penuh emosi, “To say is easy than to do!_Ngomong sih gampang tapi melaksanakannya susah!"
"Gue orang buangan, Bang!" ada setitik air mata yang meloncat keluar dari sudut matanya yang langsung diusap dengan cepat
“Anton,” suara Agung terdengar.
Semua menoleh ke arah bed dengan terkejut. Bed sudah berubah, sandaran punggungnya ditinggikan sehingga Agung bisa dalam posisi duduk.
“Lu bangun sejak kapan?” tanya Indra keheranan.
“Semenjak kalian membicarakan tentang Anton,” Agung memandang Anton, “Come here_Kemari_!"
Anton berjalan mendekati bed Agung. Yang lainnya mengikuti.
“Sit down_Duduk_!” Agung menunjuk kursi di dekat bednya.
Anton menurut.
“Lu meragukan kemampuan Lu untuk move on? Yakin Lu?” Agung menaikkan kedua alisnya, “Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri bagaimana Lu menatap dan bersikap kepada Adinda.”
.
***
OMG...
Btw, Tentang Anton gak akan dibahas di novel ini ya. Juga tentang Babang Agung.
Terus Babang Indra gimana? Masa mau dijadikan bujang lapuk sih? 😁
Sesuai antrian saja..🤣🤣