
Agung menghembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya menatap pintu kamar Adisti yang tertutup rapat.
“Neng, coba tengokin Teh Adisti sedang apa,” Agung meminta tolong sepupunya untuk melihat Adisti.
Sepupunya mengangguk lalu membuka pintu kamar Adisti.
“Teh Adistinya sedang dilulur tapi Tetehnya bobo,” lapor sepupunya.
Agung mengangguk, “Ya sudah Neng temani Adisti di dalam kamar ya. Bareng dengan Leni juga.”
Sepupunya mengangguk lagi lalu memanggil saudaranya. Keduanya menghilang di balik pintu kamar Adisti.
Agung men-screenshot chatnya dengan Bramasta lalu mengirimkannya pada Adisti.
[Biar Adek baca sendiri deh apa yang sebenarnya terjadi. Biar mikir juga untuk lebih berhati-hati dalam bersikap] Agung menatap pintu kamar Adisti sekali lagi.
“Gung, kadieu_ke sini_,” kata seorang pamannya.
“Iya Mang. Sakedap_Sebentar_,” Agung menghampiri pamannya yang mengajaknya duduk di karpet ruang tengah.
Dering notifikasi pesan teks masuk berbunyi. WAG Kuping Merah. Agung langsung membuka chat-nya.
Leon_Ferdi Gunaldi sudah dijemput Interpol yang bekerja sama dengan polisi siang tadi_
***
The Ritz, 13.45
Bunyi dering telepon interkom memenuhi ruangan lantai teratas gedung. Lantai hunian Rita dan Ferdi Gunaldi. Keduanya baru saja makan siang bersama. Meja makannya belum dibersihkan. Bungkus-bungkus makanan dari delivery order masih berserakan. Rita dan Ferdi memlilih duduk bersama di sofa ruang tengahnya menonton film action super hero Hollywood.
Ferdi menyuruh Rita segera mengangkat teleponnya karena deringnya sangat mengganggu.
“Ya?” jeda.
“Siapa?” jeda.
“Baik, saya akan turun.”
“Siapa?” tanya Ferdi.
“Gak tahu tapi maksa ingin bertemu. Tamu dari jauh katanya,” Rita mengendikkan bahunya lalu menyapukan spons bedak di wajahnya.
“Sayang, beresin meja makannya,” Rita menoleh pada suaminya sambil beranjak menuju pintu.
“Iya..” Ferdi menjawab malas, matanya masih menatap TV layar lebarnya.
“Hai, selamat siang, saya Rita Gunaldi,” kata Rita dengan ceria kepada para tamunya yang bertubuh tegap dan proporsional yang menunggu di ruang duduk,“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya Chandra Wiguna dari Jakarta dan ini Alex Liem dari Singapura,” Chandra menunjuk pria bertubuh tegap dengan raut wajah campuran antara Eropa dan Cina yang berada di sampingnya, “Kedua orang lainnya adalah asisten kami.”
Mereka saling bersalaman. Mata Rita tidak berkedip memandang Alex. Kemudian menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kita berbicara di ruangan saya saja ya,” Rita langsung memimpin jalan. Dibenaknya tersusun deretan angka untuk minimal 2 stelan jas yang akan dibuatnya. Dia tersenyum senang.
Mereka memasuki ruangan kerjanya. Rita duduk di belakang meja bulan sabit. Para asisten tamunya tampak mengamati ruangan kerjanya. Lalu salah satunya berbisik kepada Alex Liem kemudian berbisik pada Chandra Wiguna. Alex Liem menganguk dan tersenyum tipis.
“Waiting outside, please_Tunggu di luar_,” kata Alex Liem, “Both of you_Kalian berdua_!”
Rita tersenyum senang. Pengguna Grade A jasa online terselubungnya memang selalu menuntut privasi yang berlebihan. Dia membuat grade tersendiri bagi para kliennya. Grade A berarti untuk kalangan VVIP, bisa pejabat ataupun pengusaha papan atas
.
Chandra mengamati Rita dengan lekat. Tatapan tajamnya membuat Rita merasa berada di bawah sorot lampu panggung. Dan dia merasa bahagia ditatap seperti itu. Bahagia.
“Ferdi Gunaldi adalah suami anda?” tanya Chandra.
“Betul,” Rita mengerutkan keningnya, heran.
“Beliau pemilik tempat hiburan malam XXX di Batam?” tanya Chandra lagi.
“Betul,” Rita mulai mengerti arah pembicaraan Chandra. Dia tersenyum memandang Chandra dan Alex bergantian, “Kalian kalau main ke Batam, mampirlah ke tempatnya. Cukup sebut nama saya saja ke bartender maka kalian akan mendapatkan layanan yang memuaskan dan eksklusif dari tempat milik suami saya.”
Chandra tersenyum dan menggeleng. Dia menunjukkan tabletnya kepada Rita. Foto yang agak buram.
“Benar ini suami Anda, Ferdi Gunaldi?” tanyanya.
Rita mengangguk. Dia mulai merasa ada yang tidak beres.
“Sebenarnya saya dari Mabes Polri dan Alex Liem dari Interpol,” Chandra dan Alex menunjukkan ID card mereka, “Kami mengantarkan surat penangkapan untuk Ferdi Gunaldi, suami anda terkait kasus penculikan, penyiksaan, pemerk*saan dan pembunuhan anak dibawah umur, korban adalah warga Negara Singapura dengan tempat kejadian perkaranya di Singapura. Foto suami anda yang tadi diambil dari rekaman kamera ATM di seberang jalan TKP penculikan.”
Rita terkejut dan panik. Matanya menatap CCTV yang ada di tembok yang menghadap ke arahnya. Berusaha memberitahu suaminya untuk lari.
“Gak mungkin Ferdi membunuh anak kecil. Gak mungkin! Fitnah kalian!” Rita memandang geram kepada Chandra dan Alex.
Alex memandang dingin kepada Rita. Dia menunjukkan surat penangkapan dari Interpol atas nama Ferdi Gunaldi. Lalu menunjukkan foto-foto korban saat ditemukan dan saat korban masih hidup.
“Vivian Wang, 14 years old, student of junior high school_Vivian Wang, 14 tahun, murid SMP_,” Alex menunjukkan foto korban semasa hidupnya, “She is a teenager pretty girl, right? _Dia seorang ABG yang cantik kan?”
“Vivian Wang’s body, found in garbage dump, died _Tubuh Vivian Wang, ditemukan di dalam tempat pembuangan sampah, mati_” Alex menunjukkan beberapa foto tubuh Vivian Wang di dalam tempat pembuangan sampah.
Mata Rita terbelalak menatap foto-foto gadis malang tersebut dalam kondisi yang tidak layak. Bajunya tidak lengkap. Ada banyak bekas siksaan dan sayatan pada tubuhnya. Wajahnya hampir tidak dikenali lagi kecuali tahi lalat di pelipis kanannya. Tubuh Rita bergetar. Air matanya luruh saat melihat bekas cambukan yang sering Ferdi buat juga di tubuhnya. Tanda tangannya. Beberapa bekas cambukan berbentuk huruf F terlihat jelas di kulit putih pucat keabuan milik mayat si gadis.
Kotak pandoranya terbuka. Dia merasa terluka dan dikhianati. Luka lama yang dia kubur menyeruak kembali. Rita berdiri tiba-tiba. Matanya nyalang penuh amarah.
“Ibu mau apa?” tanya Chandra.
Rita tidak menjawab. Dia menuju ke arah pintu. Chandra hendak mencegah Rita untuk keluar dari ruangan tapi Alex menghalanginya.
“Let her go_Biarkan dia pergi_” Alex menahan lengan Chandra, “Just follow her_Ikuti saja dia_”
Kedua asisten yang siaga di pintu dan tangga terkejut melihat kedatangan Rita dengan gesture seperti mayat hidup. Alex memberi kode untuk tidak menghalangi Rita. Keduanya mengangguk. Rita bergerak menaiki tangga dengan bergegas. Keempatnya mengikuti dari belakang tanpa bersuara.
Rita membuka pintu huniannya dengan kasar. Pintu menjeblak terbuka. Ferdi yang tengah tertidur di sofa terlonjak kaget.
“What the fu…” belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Rita langsung menerjang marah dengan menjambak rambutnya.
“Hey! Brengs*k! Kamu kenapa?? Gegara gue belum bersihin meja makan??” Ferdi menahan tangan Rita dengan marah,“Rita! Apa-apaan sih kamu? Sakit tahu!!” Ferdi mendorong Rita. Jambakan rambutnya terlepas.
“Sakit kamu bilang??!!” Rita menampar dengan keras wajah Ferdi, “Kamu pikir tiap kali kamu mencambuki aku itu gak sakit?! Kamu gila Fer! Gila!!”
“Kamu kenapa sih??!!” teriak Ferdi.
“Gak cukup kamu dengan aku, Fer?? Gila kamu Fer! Anak 14 tahun kamu culik, siksa, perk*sa dan kamu bunuh. Kamu pembunuh, Fer!”
“Damn!! Anak 14 tahun yang mana?”
“Gak usah ngeles, Fer! Dari bekas luka cambukannya saja aku sudah tahu itu tanda tangan kamu! Brengs*k kamu Fer! Bajingan kamu!!” Rita memukuli Ferdi dengan membabi buta, “Kamu jadi pembunuh di Singapura, Fer!”
Ferdi menangkap tangan Rita dan menahannya. Dia mengguncangkan tubuh Rita.
“Kamu tahu darimana?! Bilang!!”
“Jadi benar itu kamu pelakunya? Tega kamu Fer! Anak umur 14 tahun. Kamu tahu masa lalu aku kan Fer. Kamu belum lupa kan? Aku diperk*sa saat umur 14 tahun. Lalu aku dijual di lokalisasi. Gila kamu Fer! Kamu membuka luka lama yang aku simpan. Biadab kamu Fer!”
Ferdi terdiam. Dia duduk di sofa sambil memegangi kepalanya.
“Aku bukan pembunuh, Rita. Aku gak bunuh anak itu. Aku gak sengaja. It’s out of my control. It’s an accident!_Itu diluar kendaliku. Itu kecelakaan!_”
“Kamu gila Fer. Penyakit kamu gak pernah kamu obati dan kamu gak pernah menahan diri akhirnya membuat kamu jadi pembunuh. Kamu pembunuh Fer,” Rita kehilangan tenaganya untuk menyerang suaminya, “Kita selesai sampai di sini.”
“Nggak Sayang.. nggak! Itu kecelakaan. Kita masih tetap kita, gak akan aku ijinkan kamu untuk mengakhiri tentang kita. Gak akan, Sayang! Aku cinta kamu!” Ferdi menangis.
“Gak Fer. Kita selesai. Kita sudah selesai. Kesalahan kamu terlalu menyakitkan buat aku,” Rita menoleh ke arah pintu, “Silahkan bawa dia, Pak.”
Ferdi terperanjat melihat 4 orang pria berbadan tegap memasuki ruang huniannya, “Rita? Tega kamu??”
“Kamu yang tega, Fer. Kamu yang merusak semuanya. Ego kamu, keingingan gelap kamu, sisi gelap kamu bukan hanya merusak kamu tapi juga merusak kita. Kamu tahu perasaan aku ke kamu bagaimana. Kamu tahu hati aku ke kamu bagaimana. Cuma kamu yang tahu. Tapi semuanya rusak karena biadabnya kamu memperk*sa dan membunuh anak dibawah umur. Kamu pembunuh,” Rita berdiri menuju meja makan, membereskan semua sisa-sisa bekas makan siangnya. Makan siang terakhir mereka berdua.
Dia tetap sibuk membereskan meja, tubuhnya membelakangi suami dan para petugas penegak hukum. Dia tidak mau melihat itu semua. Bahkan ketika para petugas hukum menyebutkan hak-hak penjahat yang ditangkapnya.
“Rita..” Ferdi memanggil lirih, “Sayang..”
Rita bergeming membelakangi. Dirinya sibuk mengelap meja makan yang terbuat dari kaca.
“Sayang.. ma’afkan aku,” Ferdi memandang ke arah Rita dengan tangan terborgol.
Rita masih membelakangi. Tapi tangannya diam tak bergerak. Dia hanya berdiri mematung dengan mata yang basah.
“Kalian pergilah. Tinggalkan tempat ini,” suara Rita tercekat. Dia masih berdiri membelakangi.
“Ma’afkan aku, Sayang,” suara Ferdi terdengar menjauh saat dia digiring oleh petugas hukum.
***
.
Selalu tinggalkan jejak ditiap babnya.
Beri rating bintang 5nya dong sebagai mood booster Author 🙏🏼
Love you Readers