CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 152 – PEMBALASAN



Adinda menoleh cepat pada Agung. Agung mengangguk dan tersenyum padanya.


Rekan-rekan akunting heboh. Wanita yang tadi melepaskan pegangannya pada bed handrail. Menatap Agung dan Adinda bergantian.


“Wah Pak Agung seleranya daun muda banget ya..” seloroh seorang rekannya.


“Kinanti mudur, Kin..” seorang pemuda menepuk-nepuk bahu wanita tadi, “Kita jadian aja, gimana?”


Wanita tersebut tampak cemberut.


“Apaan sih, Bas..”


“Baru saja Pak Agung dinobatkan sebagai lajang yang paling diinginkan di republik ini, tiba-tiba sudah buat pengumuman, sudah punya calon istri,” pemuda berbaju lengan pendek biru muda itu berkata sambil memandang Adinda.


“Tapi memang mereka mirip sih. Kata orang kalau wajahnya mirip berarti jodoh ya?” lanjutnya lagi yang diiringi suara yang mengiyakan dari rekan lainnya.


“Kamu ngapain?” tanya Agung dengan suara pelan.


“Handphone saya tertinggal, Om. Di saku jaket,” Adinda menunjukkan handphonenya.


“Pantas tadi saya chat kamu, gak ada balasan. Masih centang dua abu-abu.”


“Om nge-chat?”


Agung mengangguk sambil tersenyum.


“Ada apa?”


“Baca saja sendiri nanti.”


Adinda mengangguk sambil tersenyum.


“Ayah dan Bunda mana?”


“Mengantar para tetangga di bawah.”


“Om..”


“Hmm?”


“Om serius dengan ucapan Om tadi?”


“Banget.”


Mereka masih berbicara dengan perlahan. Pipi Adinda merona.


“Baca chatnya gih.”


“Ya sudah, saya pergi dulu Om,” Adinda beranjak.


“Kemana?” Agung menahan siku Adinda.


“Ke taman. Teh Disti nungguin,” Adinda menatap sikunya yang ditahan Agung.


Agung melepaskan pegangannya.


“Biarkan saja Adek. Sudah ada suaminya ini..”


“Pak Agung mesra banget sih?” tanya seorang rekannya, “Ngomongnya bisik-bisik melulu..”


“Daripada kalian nguping? Nanti yang ada malah baper lagi terutama yang jomblo,” kata Agung disambut ciyee-ciyee.


Agung berbisik lagi pada Adinda, “Temani saya. Ayah dan Bunda sedang gak ada. Ada teman perempuan yang gencar mendekati saya. Saya tidak mau memberi harapan apapun pada dia. Tapi saya tidak mau menyinggung perasaannya.”


Adinda menoleh denga bibir terbuka berbentuk O. Lalu mengangguk.


Agung menatapnya tak berkedip. Adinda tampak begitu menggemaskan.


“Tapi saya harus bagaimana, Om?”


“Di depan teman-teman saya, jangan panggil saya Om. Bisa?”


“Abang?” alis Adinda terangkat.


Agung menggeleng, “Kamu memanggil semuanya dengan panggilan itu kecuali pada Anton.”


“Kakak?”


Agung menggeleng lagi, “Kita bukan kakak adik kan?”


“Terus maunya dipanggil apa?”


“Aa. Panggil Aa,” Agung tersenyum lebar.


Adinda mengangguk dengan pipi merona.


Seorang wanita memperhatikan interaksi keduanya yang berbicara dengan berbisik dengan bibir mencebik sementara yang lainnya tengah asyik mengobrol dengan rekan lainnya.


“Terus, saya harus bagaimana A?”


“Bersikaplah seperti selayaknya calon istri.”


[Eh! Apa? Bagaimana?] benak Adinda dipenuhi tanya.


***


Adisti mendekati suaminya saat Adinda berjalan dengan tergesa ke ruangan kakaknya.


Bramasta memandangi wajah Adisti dengan tatapan penuh kerinduan di matanya. Ia meraih tangan Adisti. Lalu mencium punggung tangannya dengan gemas berkali-kali.


Indra melihatnya. Lalu mencibir sambil menyenggol lengan Anton, “Mulai deh bucin show-nya.”


Anton ikut melihat lalu mengangkat kedua bahunya.


“Hissh. Julid amat, Ndra. Buruan kalau udah ada calonnya, langsung jadiin aja. Pusing gue lihat Lu misuh-misuh mulu setiap lihat pasangan yang sedang mesra.”


“Tahu nih, nanti kita lihat bakal sebucin apa Bang Indra ke istrinya. Awas kalau bucinnya melebihi mereka,” ancam Anton.


Hans mengangguk setuju.


“Gak bakal bucin gue sih..”


“Halaaagh, sekarang ngomong begitu karena masih jomblo.. “


Ketiganya terkekeh.


“Hampir Maghrib, kita masuk yuk,” kata Daddy.


Mereka beralih ke lobby lantai 6 dengan sofa-sofa nyaman di dalamnya sambil menunggu Maghrib. Mushola ada di dekatnya.


Usai sholat Maghrib, mereka kembali ke dalam ruangan. Ayah, Bunda, Agung dan Adinda sedang sholat berjamaah di area sofa L. Mereka berkumpul di sofa bed.


Indra menunjukkan gawainya kepada mereka semua dengan berita yang sedang viral di media sosial petang ini. Tuan Thakur berhasil ditangkap di sebuah rumah petak di Kota Batam.


Sementara dari ruangan kantor Rita di The Ritz, berhasil disita buku hitam pembukuan yang berisi daftar transaksi money laundry antara Tuan Thakur dengan The Ritz.


Semua menekuri gawainya masing-masing untuk membaca berita dan mencari ulasan berita.


Netizen masih mengulas Prince Zuko dan kejadian yang terbaru di Pulau Batam.


Sementara publik Singapura betul-betul menghujat aksi barbar yang dilakukan aparat aspal di Tosca Imperium yang mengakibatkan selebriti mereka ditembak dari jarak dekat saat hendak menunjukkan paspornya.


Publik semakin geram karena Tuan Thakur ada dibalik ini semua. Nama Ferdi Gunaldi disebut-sebut kembali oleh publik Singapura.


“Wow!” komentar Anton setelah membacanya.


“Bola panas sudah bergulir. Kalian rehat dulu kan?” tanya Daddy.


“Dad...” Bramasta mengingatkan adanya orang lain dalam ruangan.


Daddy mengangguk paham.


“Kami rehat dulu, Tuan Alwin. Sambil menunggu perkembangannya.”


“Ah, ya.. Daddy dapat berita dari Tuan Armand tentang persidangan yang melibatkan Liliana Sukma akan dilaksanakan mulai Senin nanti. Selain Mommy, nanti Adisti dan Bunda juga akan dimintai hadir sebagai saksi. Kalian sudah pernah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian kan?”


Adisti mengangguk, “Sudah Dad.”


Daddy mengangguk puas.


Saat Ayah dan Bunda selesai sholat, Om Dhani, Anton dan Hans berpamitan.


“Kakak mau kemana?” tanya Adisti saat melihat Agung berjalan ke arah pintu bersama Adinda.


“Mau ke taman sebentar. Bosan di kamar terus.”


“Gak bisa. Gak boleh.”


“Sebentar, Dek..”


“Kalian mau pacaran ya?”


“Hisssh Adek ini..”


“Gak boleh.”


Bramasta terkekeh, “Kok Abang berasa deja vu dengan dialog ini ya..”


Indra ikut terkekeh, “Memangnya pernah?”


Bramasta mengangguk, “Sewaktu gue dan Disti di rawat diruang yang sama. Mau turun ke bawah buat traktir Disti di gerai bakery bawah saja gak dibolehin sama Kakak Ipar..”


“Jadi sekarang Disti balas dendam nih?” Indra terkekeh.


Para orangtua yang mendengar dialog mereka hanya menggelengkan kepala.


“Kenapa Kakak gak boleh ke taman?”


“Di luar hujan, Kak. Gak bakalan bisa ke taman.”


“Kakak cuma di terasnya doang..”


“Kak.. yakin kaki Kakak kuat ke sana? Lumayan jauh loh..”


“Kan ada Dinda.”


“Kenapa memangnya kalau ada Dinda?”


“Kakak.. Adek.. kalian bisa akur gak?” Ayah menimpali pembicaraan mereka.


“Kalian tuh kalau ketemu pasti ada aja yang diributkan. Gak malu ada Daddy, ada Nak Bramasta, Nak Indra dan Dinda?” suara Bunda terdengar jengkel sekarang.


“Ma’af..” kata Adisti dan Agung bersamaan.


Bramasta mengambil tangan Adisti untuk menjauhi medan pertempuran.


“Gak boleh begitu ke Kakak..” Bramasta menasehati dengan suara pelan di sofa L.


Adisti menundukkan wajahnya.


“Tapi dulu Kakak seperti itu ke kita.”


“Jadi niat Disti hanya karena ingin membalas Kakak Ipar?” Bramasta terkekeh, “Itu lebih gak boleh lagi.”


“Disti sebagai adik harus bisa menjaga marwah kakak sebagai laki-laki di depan wanita yang ia sukai juga di depan umum, ya?” Bramasta membelai lembut kepala istrinya.


Adisti mengangguk lalu menelusupkan wajahnya ke dada suaminya. Menghidu aroma parfum yang begitu ia kenal. Aroma yang menenangkan jiwanya.


“Disti sudah keterlaluan ke Kakak ya?”


Bramasta menepuk-nepuk punggung Adisti.


"Mau kemana?” tanya Bramasta ketika Adisti hendak bangkit.


“Mau minta ma’af ke Kakak.”


“Nanti saja. Kakak sedang keluar bersama Adinda pakai kursi roda. Disuruh Ayah tadi.”


Adisti menatap ke arah pintu, sudah tidak ada kakaknya dan Adinda di sana.


“Kakak dan Adinda tuh perlu berbicara setelah salah paham yang terjadi di antara mereka. Istri Abang kok gak peka sih?”


“Kan di sini juga bisa..”


“Dimana? Mereka butuh privasi buat berbicara.”


“Dulu kita kan...”


“Kita punya banyak waktu privasi tanpa diganggu siapa pun,” Bramasta mengingatkan, “Saat di mobil berdua dengan Abang, mengantar Disti ke Lunar Gallery, ke butiknya Umi Khalid... Bahkan kita diberi waktu untuk berbicara berdua saat di tepi tebing untuk menggali ingatan Disti.”


“Di kantor Abang juga ya...”


“Jangan diingatkan yang itu. Abang malu...” pipi Bramasta merona.


“Pulang yuk, Bang..”


“Mau sekarang?”


“Disti kangen Abang..”


“OK..”


***


Babang Bramasta suami loveable banget ya ..


Jadi nganan ke Disti nih..


😁