CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 204 – BIG SURPRISE



“Bro Agung, kalau berminat tinggal di apartemen, di unit gue masih ada yang kosong tuh..” Anton menyodorkan gawainya ke arah Agung.


Agung meraih gawai Anton, melihat-lihat foto unit apartemen yang kosong di tempat Anton.


“Ini lantai yang sama dengan tempat Lu, Ton?” Agung membuka lokasi apartemen. Mengukur jarak dengan kantor dan rumah.


Anton mengangguk, “Lantai yang sama, koridor yang sama juga, beda deret doang. Jaraknya 4 pintu dari tempat gue tapi terletak di seberang pintu.”


“Maksud Lu, berhadapan pintunya?”


Anton mengangguk.


“Di sana aja Kakak Ipar. Orang-orangnya Bang Hans sudah men-screening para tetangga di situ dan dinyatakan aman,” Bramasta melirik Hans yang tersenyum lebar ke arahnya.


Agung tampak terdiam berpikir.


“Gue minat sih lihat foto-fotonya. Bayar booking fee dulu ya.”


Anton mengangguk sambil tersenyum senang, “Asyiik ada teman..”


“By the way, kejadian apa sih yang ngebuat Lu ingin cepat-cepat pindah?” Indra menuang teh hangat ke dalam gelasnya.


Wajah Agung sedikit merah jambu saat memulai ceritanya.


“Dini hari tadi, Adinda bermimpi buruk lagi...” Agung menceritakan semuanya.


“Saat menunggu adzan subuh, kami mengobrol berdua di ruang makan. Melihat bagaimana dia meletakkan wajahnya di atas meja itu...” Agung menghela nafas panjang, pipinya merona lagi, “ Gemes tau lihatnya. Imut banget.. Jadi pengen cepat-cepat halalinnya...”


“Jam segitu memang jam biologisnya kita, ya?” seloroh Indra.


Gelak tawa terdengar lagi dari arah gazebo.


“Tadi, sewaktu lihat Bang Bram meletakkan wajahnya di meja saat ngambek, gue jadi teringat Dinda menjelang subuh tadi. Auto deg-degan jadinya...”


“Gue gak ngambek..” protes Bramasta.


“Iyaaa iyaaa kita semua caya..” Hans terkekeh.


!4.00, semuanya membubarkan diri, kembali ke rutinitas kantor.


Di dalam mobil, Bramasta menjawab telepon dengan singkat, "Iya. Letakkan saja di tempat biasa.”


Adisti menangkat sebelah alisnya, “Siapa sih?”


“Kepo...” Bramasta tergelak pelan sambil memeluk istrinya, “Love you so much.”


Adisti menoleh menatap suaminya. Mata mereka bertemu.


“Love you too, Hubby.”


Meeting sore itu berjalan lancar walaupun sempat terlambat 7 menit dari jadwal karena kemacetan yang tidak biasa.


Sekembalinya dari tempat meeting, Bramasta disibukkan dengan berkas begitu pula dengan Adisti di ruangannya.


Bramasta tersenyum menatap Istrinya dari kursinya. Adisti di ruangannya tengah membaca berkas dengan serius. Terkadang memberi spidol stabilo pada berkas yang dibacanya.


Tangan Bramasta meraih paper bag yang semenjak tadi diletakkan di rak paling bawah dari meja sampingnya. Tidak akan terlihat bila tidak berdiri di dekat meja tersebut.


Tanpa suara, dia mendekati ruangan istrinya. Tangan kanannya menjinjing paper bag krem dan emas dengan motif kelopak bunga sakura yang tertiup angin.


“Assalamu’alaikum, Buk Istri. Sibuk amat..” Bramasta membungkukkan tubuhnya supaya bisa mengucup pipi istrinya.


Adisti yang terkejut menoleh. Membuat bibirnya bertemu dengan bibir suaminya. Kecupan singkat yang membuat keduanya tertawa.


“Jangan nakal. Tahan dulu. Setengah jam lagi jam kantor usai,” bisik Bramasta tepat di telinga Adisti.


“Apaan sih Abang. Kan Abang yang kagetin Disti..” Adsti melirik pada benda yang dijinjing suaminya, “Itu apa?”


Bramasta berdecak, “Ah Disti.. tadinya Abang ingin memberikannya dengan cara yang romantis.”


Adisti terkekeh, “Ya udah. Gimana coba romantisnya Abang. Disti ingin tahu.."


“Moodnya udah buyar..”


“Jadi batal dikasihin dong..”


“Nggak. Abang masih punya plan B saat plan A gagal dilakukan.”


“Apa itu?”


Bramasta meletakkan paper bag itu di atas meja.


”Buka setelah Abang kembali ke tempat Abang.”


Adisti mengangguk sambil tersenyum dan matanya terpaku pada paper bag di depannya. Bramasta kembali ke ruangannya.


Dia duduk di kursinya setelah mengarahkan kamera gawainya menghadap istrinya. Istrinya sedang menatap penuh harap padanya.


“OK. You can open it now..” Bramasta tersenyum pada istrinya.


Tanpa menunggu lagi, Adisti langsung membuka paper bag. Membuka simpul pita berwarna emas, krem dan pink yang mengunci paper bagnya.


Didalamnya ada kotak kardus berwarna emas yang bagian atasnya saling mengait membentuk hati.


“Pelan-pelan, Sayang.. Jangan sampai terguncang karena bisa merusak isinya..” Bramasta tersenyum.


Senyumnya makin lebar saat melihat ekspresi istrinya yang terkesiap dan mata melebar menatap hadiah yang dipesannya khusus dari Hokaido melalui Hikaru-san.


“Abang.. ini apa?” bahkan suara Adisti yang berbisik pun bisa terdengar dari kursi Bramasta karena sunyinya ruangan.


Bramasta tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul. Adisti meraih kartu dengan sampul ungu muda. Gambar kartunya berupa gambar abstrak aneka warna ungu.


Let’s go honeymoon.


Kita kunjungi anak-anak versi dunia halunya Buk Istri semenjak gadis.


Sambil kita bikin anak-anaknya kita dalam dunia real.


Love you,


Yours:


Pak Suami.”


Adisti mengeluarkan wadah kaca itu dengan hati-hati. Matanya berembun menatap suaminya. Lututnya terlalu lemas untuk menghampiri suaminya.



“Abang...” Adisti mulai terisak sambil memanggil suaminya.


Bramasta berjalan pelan sambil tersenyum simpul.


“Jadi? Bagaimana Buk Istri?”


Adisti tidak menjawab. Cepat ia memeluk tubuh suaminya. Seerat yang ia bisa.


“Whoaaa, sesak nafas Abang, Sayang..” Bramasta membelai punggung istrinya dan meletakkan dagunya di kepala Adisti.


“Buk Istri suka?”


Adisti mengangguk, “Suka banget.. Tapi jelasin dulu itu apa? Kenapa bisa seimut itu?”


“Moss terrarium dengan hiasan sapi perah hitam putih, Abang pesan khusus dari Hokaido.”


“Hikaru-san?”


Bramasta mengangguk.


“Ada petunjuk perawatannya kan dalam bahasa Inggris?”


Adisti menemukannya di dasar kotak emas. Lalu mengangguk.


“Gak perlu disiram, cukup disemprot dengan semprotan halus agar terjaga kelembabannya.”


Bramasta meraih jemari istrinya.


“Disti belum jawab mau atau tidaknya untuk honeymoon.”


“New Zealand? Mau!”


Bramasta terkekeh.


“OK. Kita pergi setelah launching ya. Supaya lebih tenang saat bepergian,” Bramasta meraih jemari istrinya lagi, “Letakkan terrariumnya di meja, Sayang.”


“Ya?” Adisti memandang Bramasta dengan tatapan bertanya saat tangannya ditarik.


“Sekarang ikut Abang. Mumpung cerah, kita lihat sunset yuk.”


“Kita mau kemana sih?” Adisti bertanya saat Bramasta membawanya ke lift.


“Topfloor.”


Adisti menyangka dia akan diajak menikmati sunset di atas topfloor. Dia salah besar. Dia ternganga begitu melihat topfloor.


“Bang.. ciyus ini?”


Bramasta tidak menjawab. Dia hanya terkekeh kecil sambil memakaikan headset yang terhubung dengan mikrofon interkom. Dia memakai headsetnya sendiri. Mulai menekan tombol rotor baling-baling. Lalu menoleh pada istrinya, “Siap untuk terbang, Buk Istri?”


Tidak berapa lama, helikopter berwarna silver bergaris coklat kemerahan itu dengan logo huruf B yang khas pada bagian dekat ekornya, berada di langit senja Kota Bandung. Terbang dengan mulus, ke arah Pusat Kota Bandung lalu ke tepiannya, ke arah pegunungan yang mengelilingi Bandung. Warna silver pada bodinya memantulkan warna langit senja saat itu. Keren sekali!


***


PEMAKAMAN


08.05


Keluarga Gumilar sudah tiba di lokasi pemakaman yang sudah ramai oleh warga setempat. Ada tenda berwarna putih dikelilingi terpal biru di sudut makam tidak jauh dari makam Bapak Adang Rahmat berada.


Semenjak tiba, Adinda memeluk erat lengan Bunda. Ayah dan Agung tampak mengobrol dengan Pak RT dan juga tetangga Adinda. Bramasta dan Adisti tiba 20 menit setelah mereka datang. Hans datang bersamaan dengan Pak Raditya.


Pak Raditya menganggukkan kepala kepada anak buahnya yang berada di dekat makam. Anak buahnya lalu menyuruh para penggali makam untuk mulai menggali. Semua menunggu dengan cemas dan khawatir.


Penggalian makam pasti akan menimbulkan perasaan seperti itu. Membayangkan kondisi jenazah yang sudah rusak karena sudah dikubur lebih dari sebulan. Itulah sebabnya semua yang berada di sana memakai masker. Antisipasi terhadap bau jenazah yang sudah rusak.


Teriakan takbir dari penggali kubur mengejutkan semua orang. Mereka semua bertanya-tanya ada apa dan kenapa para penggali kubur itu bertakbir.


Anak buah Pak Raditya yang berada di atas makam berkali-kali mengucap, “Masyaa Allah... Masyaa Allah...”


Pak Raditya mendekati makam diikuti Hans, Ayah, Agung dan Pak RT. Mereka semuanya ikut bertakbir. Lalu tanpa sungkan, mengulurkan tangannya ikut membantu mengangkat jenazah yang dioper dari liang lahat ke atas.


Kain kafan jenazah masih putih bersih dan bagus seperti kain kafan baru. Jenazah Pak Adang Rahmat juga terlihat utuh seperti jenazah baru meninggal. Jenazahnya juga tidak berbau bangkai sebagaimana layaknya tetapi berbau wangi. Seperti aroma pandan tetapi bukan. Aroma wangi yang sukar dijelaskan.


.


***


Catatan Kecil:


“Terrarium adalah replikasi mini tanaman suatu ekosistem yang terdiri dari elemen tanaman, mikroorganisme, dan mineral di dalam sebuah wadah kaca.


Moss terrarium adalah terrarium yang menggunakan lumut sebagai bahan utamanya.”