
Adisti mengajak Adinda ke madrasah. Anak-anak riuh rendah melihat kedatangan Adisti ditambah dengan Adinda.
Sengaja mengajak Adinda supaya ada pengalih perhatian rasa sedihnya. Hujan turun dengan deras. Agung datang mengantarkan payung untuk mereka berdua.
Kehadiran Agung menambah semarak suasana madrasah. Beberapa anak yang masih kecil terlihat manja pada Agung. Duduk di pangkuan Agung sembari menunggu jemputan orangtuanya ataupun menunggu hujan reda.
Adisti sibuk memeriksa kartu kemajuan santri. Sesekali bertanya pada pengajar yang lainnya tentang perkembangan madrasah.
Agung tersenyum simpul memandangi Adinda yang tengah membantu santri-santri cilik yang sedang belajar menulis arab.
Seorang ustadz, menyapa Agung dengan menggunakan bahasa Arab.
“Assalamu’alaikum, A. Kayf haluk_Apa kabar?_” tangannya disodorkan pada Agung.
Agung menerima tangannya dan menjabatnya dengan erat lalu memeluk ustadz tersebut.
“Wa’alaikumussalam, alhamdulillah. Ana bikhayr_Saya baik-baik saja_,” Agung tersenyum, “Madha ean al’ustadh ‘anwar waeayilatuh?_Bagaimana dengan Ustadz Anwar dan keluarga?_”
“Alhamdulillah.. alhamdulillah..” ucapnya senang, “Madha ean alnudub min aljirahati?_Bagaimana dengan luka bekas operasinya?_”
“Alhamdulillah, la yazal fi alshifa’ _masih dalam pemulihan_.”
“’Ana asf li’anah lam yakun ladaya alwaqt alkafi liruyat A Agung ‘athna’ wujudi fi almustashfaa_Ma’afkan saya tidak sempat menengok A Agung saat berada di rumah sakit_”
Agung melambaikan tangannya, “Laa alaamur bikhayri. Baed kuli alzuwaar mahdudat ‘aydan_Tidak. Tidak apa-apa. Lagipula pengunjung juga dibatasi_.”
“Faqat saluu_Cukup do’akan saja_,” Agung tersenyum.
Ustadz tersebut mengangguk. Lalu menunjuk pada Adinda dengan menggunakan ibu jarinya, “Tilk alfatat hi ‘ukhtuk?_Gadis itu saudara kalian?”
Agung mengangguk, “Alfatat hi ‘ukhtuna bialtabniy. Yatimun_Dia adik angkat kami. Yatim piatu.”
Ustadz Anwar menatap Adinda dengan tatapan simpati.
“Hi zawjat almustaqbal_Dia calon istri saya_,” Agung menambahkan lagi sambil tersenyum dengan pipi merona.
Mata Ustadz Anwar melebar menatap Agung.
“Masyaa Allah.. masyaa Allah. Mabruk..mabruk..”
Beberapa kali Adinda mencuri-curi pandang pada Agung yang tengah mengobrol dengan seorang ustadz muda pengajar di madrasah itu. Hujan sudah berubah menjadi gerimis.
Adisti dan Adinda masing-masing memakai payung. Agung menggeleng saat ditawari payung. Dia mengenakan jas hujan warna hijau alpukat.
“Om Agung bisa berbahasa Arab?” Adinda bertanya dengan suara pelan pada Adisti yang berjalan di sebelahnya.
Adisti mengangguk, “Kami bisa. Tapi Teteh gak sefasih Kakak. Kenapa?”
“Tadi Dinda melihat Om Agung sedang mengobrol dengan seorang pengajar muda di madrasah menggunakan bahasa Arab.”
“Dengan Ustadz Anwar,” Agung tiba-tiba ada di belakang mereka. Lalu menatap Adinda, “Ustadz Anwar itu salah satu idola di komplek ini. Beliau ustadz muda yang cerdas, lulusan Malaysia. Selain menjadi ustadz, Beliau juga seorang pengusaha muda.”
Adinda mengangguk-angguk mengerti.
“Teteh dulu mengidolakan Ustadz Anwar juga gak?”
Agung terkekeh, “Adek mah setiap suka dengan laki-laki langsung auto pakai kacamata kuda.”
“Issh Kakak nih.. Nggak Din.. Teteh gak mengidolakan Beliau. Teteh mah tipe cewek setia. Matanya gak suka jelalatan lihat cowok lain..” Adisti terkekeh diikuti Adinda.
“Tuh.. dengerin kata Adek..” Agung melirik Adinda.
“Apa Om?”
“Matanya jangan suka jelalatan lihat cowok lain..”
“Kakak darimana sih?”
“Singgah di warung dulu. Jajan..” Agung terkekeh sambil menyodorkan choki-choki dan momogi rasa jagung bakar kepada mereka.
Adinda terkekeh, “Seleranya bocil banget sih Om..”
Sampai rumah, ruang tengah sudah beraroma cuko empek-empek.
“Dek, pesanannya udah datang. Nanti Adek dijemput jam berapa sama Nak Bram?”
“Pulang kantor, Bun. Gak tahu jam berapa.”
“Nanti kalau Nak Bram datang, kita ngaji dulu ya semuanya. Kirim do’a untuk almarhum Papa dan Mamanya Dinda,” kata Ayah.
“Ajak Bang Indra juga Yah?” tanya Agung sambil mengambil gawainya.
“Iya.. ajakin aja yang bisa datang.”
Dinda bergegas ke pantry. Lalu mengeluarkan peralatan baking dan bahan-bahannya.
“Din..ngapain?” tanya Adisti heran.
"Mau ada pengajian kan? Dinda mau bikin kue buat cemilannya.”
“Memangnya ada bahan-bahannya, Din?” tanya Bunda yang baru masuk membawa sapu.
“Insyaa Allah ini sudah cukup, Bun.. Dinda terbiasa memakai bahan apa yang ada..”
Bunda tersenyum senang.
“Pinternya anak gadis Bunda.. Memangnya mau buat kue apa?”
Bunda mengangguk.
“Itu.. wortel buat apa?”
“Dinda pakai wortel yang ada buat Carrot Cake, boleh Bun?”
“Boleh banget. Mau bikin 2?”
Adinda mengangguk.
“Bikin yang manis dan yang asin. Supaya ada pilihan.”
“Dek.. bantuin Dinda supaya kamu juga pinter bikin kue..”
“Calon istri Kakak...” Agung bergegas ke meja makan lalu duduk di kursinya untuk menonton Adinda membuat kue.
“Kakak sebaiknya jangan di sini deh,” Adisti mencebik.
“Kenapa? Suka-suka Kakak dong. Kakak kan mau lihat Dinda bikin kue.”
“Justru itu.. kalau dilihatin Kakak, nanti bolunya malah bantat. Gagal mengembang. Gegara Dinda grogi dilihatin Kakak..”
“Kakak, sini. Jangan ganggu mereka,” Ayah memanggil Agung yang diikuti dengan kekehan Adisti dan Adinda.
Bramasta datang berbarengan dengan Anton dan Indra saat menjelang Maghrib. Adisti dan Adinda masih memakai apron karena masih membuat cake kedua.
Hans datang bersama Hana dan Baby Andra bersamaan dengan rombongan Ayah dan Gank Kuping Merah pulang dari masjid. Tidak lama kemudian Leon datang bersama Layla dan Eric.
Sambil menunggu yang baru datang selesai sholat Maghrib, mereka menggeser sofa ruang tengah dan memasang karpet. Semua saling membantu.
Ayah memimpin pengajian. Membaca surat Yaasin juga do’a untuk keluarga yang sudah mendahului khususnya untuk Almarhum Bapak H. Adang Rahmat dan Ibu Ayu Ningtyas, orangtua Adinda Amelia Rahmat.
Pengajian hingga adzan Isya berkumandang. Para lelaki sholat berjama’ah di masjid.
Makan malam dengan menu pecel ayam, Bunda pesan dari tetangga sudah siap menanti mereka di rumah. Pukul 20.00 mereka bersiap menuju ke apartemen Bramasta.
“Lu gak usah bawa mobil, Bro Agung. Nebeng gue aja. Arah apartemen gue searah dengan rumah ini kok.." kata Anton.
Agung mengangguk, “Thanks ya..”
Dia menjinjing tas berisi kotak mika berisi bolu yang dibuat Adisti dan Adinda sore tadi.
“Dinda di rumah saja ya. Supaya bisa istirahat. Jangan lupa belajar. Besok mau sekolah kan?” Agung tersenyum menatap Adinda yang sepertinya ingin ikut.
Andai saja malam ini tidak ada acara launching Prince Zuko, tentu saja Agung tidak akan keberatan untuk mengajak Adinda.
Adinda mengangguk lalu menatap Agung dengan muram.
“Sepi lagi deh rumah..”
“Kamu nonton TV bareng Bunda aja, volumenya digedein biar rame..”
“Ngomong apa sih Kak? Tuh Nak Anton sudah nungguin Kakak di mobil. Pamitannya kok lama banget..” Bunda mencolek punggung Agung membuat Adinda tertawa.
“Iya.. salim Bun..” lalu menghadap ke Adinda, “Gak usah salim. Kamu hati-hati di rumah ya. Jangan terlalu larut tidurnya..”
“Siapa juga yang mau salim dengan Om Agung..” Adinda mencebik.
“Dah buruan sana..” Bunda mendorong Agung.
“Iya..iya.. Titip Dinda ya Bun..”
“Bawel ih Kakak. Tuh salim ke Ayah..”
Ayah tengah mengobrol dengan Anton yang sudah ada di belakang kemudi. Agung meletakkan kantong berisi kue dijok penumpang tengah. Lalu salim pada Ayah.
Ayah memasuki rumah bersama Bunda dan Adinda.
"Besok Ayah ke Garut ya Bun. Lihat tanah kita dan tanah lainnya.”
“Sama siapa?”
“Sama Nak Anton.”
“Pakai mobil innova?”
Ayah menggeleng.
“Pakai helikopter milik B Group. Melihat lokasi tanah dari atas supaya tahu batas-batasnya dan potensi apa nanti yang akan direncanakan.”
Ibu menatap Ayah dengan tatapan tidak percaya.
“Helikopter?”
“Beneran Yah pakai helikopter?” Adinda menatap Ayah.
“Insyaa Allah. Mudah-mudahan besok cuacanya cerah.”
.
***
Karena aktifitas Gank Kuping Merah itu sangat rahasia, masih dirahasiakan dulu dari Adinda. Apalagi bahasan Prince Zuko nanti berkaitan dengan kasusnya Adinda.
Dinda sabar aja ya.. Nanti juga dikasih tahu kok oleh Om Agung tapi bukan di novel ini..