
Langkah mereka tergesa menuju ruang tunggu UGD. Indra melambaikan tangan ke arah seorang anak buahnya yang lain di ruang tunggu. Ia segera menghubungi Bramasta.
Tidak berapa lama, Bramasta muncul dari balik pintu UGD. Melambai ke arah Indra lalu tersenyum dan mengangguk ke arah Agung. Keduanya bersalaman.
“Saya Bramasta, panggil saja Bram. Mari saya antar ke bed-nya Adisti sekalian mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Adisti.”
Agung menatap tak berkedip, ia merasa familiar dengan wajah Bramasta. Sayangnya ia lupa lagi pernah melihatnya dimana.
“Keluarga Adisti?” perawat memanggil dari arah pintu UGD, matanya tertuju pada Bramasta karena semenjak pasien datang, dialah yang selalu mendampingi pasien bahkan mengurus administrasinya, “Hasil CT scan sudah keluar, silahkan masuk untuk dijelaskan tentang kondisi pasien.”
“Ayo,” ajak Bramasta kepada Agung.
“Maaf, Pak. Hanya boleh satu orang yang masuk,” kata perawat.
“Dia kakak pasien,” Bramasta menatap perawat dengan tersenyum. Entah karena senyumnya ataukah karena wajah gantengnya yang membuat perawat tadi mengangguk ramah lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk. Tapi yang jelas, seorang Bramasta memang mempunyai aura “tak terbantahkan”.
Perawat membuka kain tirai yang menutupi ruang bed pasien. Agung terkesiap melihat kondisi adiknya. Kepala Adisti dibalut perban. Goresan darah kering di kedua pipinya membuat Agung merasa ngeri membayangkan adiknya terjun bebas ke jurang. Apalagi bahu kirinya yang dibalut erat membuat hatinya terasa ngilu. Tubuhnya diselimuti hingga leher untuk menutupi bahu kanannya yang terbuka. Ada infus yang dipasang di lengan kanannya.
“Ya Allah… Dek, ini Kakak udah datang. Maafin Kakak yang tidak bisa jagain Adek,” terisak sambil menciumi dahi adiknya, “Tapi kenapa harus begini, Dek? Kamu adik Kakak yang sholehah, kenapa harus memilih jalan seperti ini?”
Bramasta menepuk bahu Agung pelan.
“Yang sabar ya, A. Sebaiknya kita dengar penjelasan dokter dulu.”
Seorang pria berbaju putih memasuki tirai pasien didampingi perawat yang memegang map besar dengan logo rumah sakit dan tulisan tebal, CT Scan. Dia berdehem sebelum memulai bicara membuat Bramasta dan Agung menoleh.
“Selamat siang, saya Dokter Felix, internis. Kondisi pasien saat ini masih dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tetapi syukurnya tidak ada cedera yang berarti pada kepalanya. Tidak gegar otak juga. Tidak ada tulang yang patah. Hanya engsel bahu kirinya terlepas dari persendian. Memar pada beberapa tulang rusuk kiri belakang. Sepertinya benturan dari arah punggungnya yang menyebabkan persendiannya terlepas. Pendarahan pada organ internal, negatif. Luka terbuka ada pada bahu kiri, sepertinya terbentur dinding tebing karena ada serpihan pasir dan batu saat dibersihkan. 7 jahitan untuk bahunya dan 13 jahitan untuk kepalanya,” Dokter Felix menepuk pundak Agung, “Adik anda wanita yang kuat. Jatuh dari ketinggian seperti itu tapi luka-lukanya tidak mengkhawatirkan. Patut disyukuri. Sekarang kita tinggal menunggu saja dia siuman dari pingsannya. Untuk observasi, dirawat inap dulu ya Pak.”
Agung mengangguk. Bersamaan berucap hamdalah dengan Bramasta.
“Silahkan mengurus administrasi untuk rawat inapnya, Pak,” kata perawat yang mendampingi dokter tadi.
Agung masih termangu sambil memegangi tangan Andisti. Bramasta mengangguk kepada perawat. Mengikutinya menuju bagian administrasi rawat inap.
Sambil menunggu prosesnya, Bramasta melambai ke arah Indra.
“Bagaimana kalian bertemu?” tanya Bramasta.
Indra menyodorkan sebotol air mineral dingin lalu menjelaskan tentang pertemuannya dengan Agung juga menceritakan tentang dugaan Agung terkait percobaan bunuh diri adiknya.
“Kasihan banget ya, Adisti. Wajar saja sih kakaknya menduga seperti itu,” ujar Bramasta, “Tapi ada yang tidak pas bila dikatakan sebagai percobaan bunuh diri”.
“Kenapa?”
“Dia tidak sedang dalam posisi ingin bunuh diri saat gue ngelihatnya. Dia menuruni tebing dengan hati-hati. Entah apa yang dicarinya atau menarik perhatiannya di tebing itu. Orang yang memang berniat bunuh diri pasti melompat tanpa ragu. Adisti tidak melompat tapi berjalan dengan hati-hati.”
“Are you sure_kamu yakin_?”
“Absolutely sure_Benar-benar yakin_,” Bramasta mengusap wajahnya yang terlihat lelah, “By the way_omong-omong_, gue udah ngasih keterangan ke polisi perihal jatuhnya Adisti.”
“Buat apa?”
“Pasien kecelakaan pasti ditanyai polisi. Ini juga berguna apabila keluarga pasien hendak mengklaim asuransi.”
“Suster, dimana anak saya Adisti?” tanya ibu tersebut. Sang suami memegangi bahu istrinya.
Seorang perawat bergegas menghampiri Ibu tersebut.
“Anak Ibu sudah ditangani petugas medis. Kondisinya masih belum sadarkan diri semenjak pasien dibawa kemari. Ibu kalau mau masuk tenangkan diri dulu ya supaya tidak mengganggu pasien lainnya,” kata perawat, “Masuknya bergantian ya Bu karena ini UGD bukan ruang rawat inap. Di dalam ada kakaknya pasien yang mendampinginya. Sebentar saya panggilkan supaya Bapak dan Ibu bisa masuk.”
Mereka mengangguk. Duduk kursi berlapis chrome ruang tunggu sambil saling berpegangan tangan untuk menguatkan. Si Ibu terisak. Suaminya menepuk-nepuk lembut punggung istrinya. Tak berapa lama, Agung keluar dari ruangan diikuti perawat tadi.
“Bunda, Ayah..” Agung menyalimi keduanya.
“Bagaimana adikmu, Gung?” tanya Bunda.
“Alhamdulillah dari hasil CT Scan tidak ada cedera yang berarti. Tidak ada tulang yang patah, tidak gegar otak. Hanya sendi bahu kirinya terlepas dan beberapa luka saja. Bunda yang kuat ya, jangan sampai Adek melihat Bunda menangis sedih, Adek akan merasa semakin terbebani,” Agung menggenggam tangan Bundanya. Bunda mengangguk.
“Silahkan Pak, Bu kalau mau masuk melihat kondisi pasien. Saya antar,” suara perawat membuyarkan genggaman tangan Agung pada Bunda.
Agung menghampiri Bram dan Indra. Indra menyodorkan botol air mineral dingin kepada Agung. Agung menerimanya sambil mengucap terimakasih. Bersamaan dengan itu, Anton muncul di pintu masuk lalu melambai ke arah mereka.
“Assalamu’alaikum, maaf lama. Macetnya parah beud,” ujarnya sambil menyalami semua, “Eh, ini siapa?”
“Saya Agung, kakaknya Adisti,” Agung menyalami Anton.
“Ah, iya. Ini saya membawa barang-barang Adisti yang ada di lokasi,” Anton menyerahkan tas Adisti kepada Agung.
“Oh iya,” Indra berdiri merogoh saku celananya, “Ini kunci motor Adisti sekalian dengan tiket parkirnya.”
Agung menerima dengan hati bergetar, dia merasa bersalah kepada Indra.
“Ndra, gue minta maaf ya. Tadi kita bertemu dengan tidak baik. Gue kasar ke elu.”
“It’s OK, Gung. Gue bisa ngerti kok.”
Pintu UGD terbuka. Ayah Agung keluar langsung menghampiri Agung.
“Gung, teman-temanmu datang, Nak?” tanyanya.
“Bukan, Yah. Mereka ini yang menolong Adisti,” jelas Agung.
“Ya Allah.. terima kasih banyak ya Nak. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah Subhanahu wa ta’ala,” Ayah memeluk satu persatu.
“Saya ada rekaman evakuasi Adisti. Bapak dan Agung mau lihat?” tanya Anton sambil mengambil kamera dari tasnya. Semua ingin melihat video yang dibuat Anton. Anton duduk di tengah, Ayah dan Agung duduk di sebelah kanan Anton, sementara Indra dan Bramasta duduk di sebelah kiri. Yang lainnya berdiri di belakang Anton.
Rekaman dimulai dengan dahan tempat Adisti tertahan tubuhnya. Ada sisa kain pashminanya yang tertinggal di ranting karena dipotong oleh Bramasta. Kemudian terdengar suara Indra, “Boss, are you OK?!”
Kamera bergerak ke arah dinding batu, mencari keberadaan bosnya. Tampak Bramasta dengan tangan memegang ascender sedang mengelap keringat di dekat matanya dengan menggunakan lengan kanannya. Kemejanya basah oleh keringat. Sementara Adisti tubuh bagian dadanya terikat pada sling yang ditautkan pada full body harness yang dikenakan Bramasta. Lengan dan kaki Andisti menjuntai lemas. Bahu kirinya tampak tidak simetri. Tubuhnya terguncang setiap kali Bramasta memanjat naik. Lalu berhenti lagi untuk berisirahat.
Dua orang turun membantu mengenakan tali. Proses evakuasi menjadi lebih cepat. Mereka menaikkan tubuh Adisti terlebih dahulu. Bramasta naik ke tepian dibantu oleh Indra yang menarik tangannya. Kamera selanjutnya bergeser kembali ke jurang tempat Andisti terjatuh. Lalu berpindah shoot menyapu seluruh area lokasi. Tampak Bramasta sedang melepas harnessnya sambil berbincang dengan Indra.
Video berakhir dengan gambar bagian belakang mobil Bramasta yang melaju kencang meninggalkan lokasi.