CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 144 – ULTIMATUM PRINCE ZUKO



“Saya, Prince Zuko, sudah tahu siapa Anda, nomor identitas kependudukan Anda, nomor SIM Anda, nomor plat nomor kendaraan-kendaraan Anda, nomor-nomor semua polis asuransi Anda, hingga nomor-nomor akun Anda di beberapa bank plat merah dan swasta.”


“Jangan menyesal bila saya, Prince Zuko membekukan semuanya by system. Anda mau bermain-main dengan Prince Zuko? Mengira kemampuan Prince Zuko hanya seperti anak kemarin sore?” Hans tertawa, “Bagaimana kalau Prince Zuko memulainya dengan semua akun bank Anda tepat pukul 00.00 hari ini? Akun akan diaktifkan lagi setelah ada permintaan ma’af dari Anda. Jangan lupa untuk tag saya, Prince Zuko.”


Hans memberi tanda pada Anton untuk mengakhiri semuanya. Anton mengangguk mengerti.


Semua yang menyaksikan Hans beraksi sebagai Prince Zuko tampak bengong menatapnya.


“Gile bener.. Hans.. Lu bener-bener ya bikin gue deg-degan,” Indra meninju pelan lengan atas Hans.


Hans yang ditinju meringis geli.


“Hans, ini di luar skenario..” Bramasta menatap Hans dengan kedua alis terangkat, “Lu gak ngasih tahu."


“Sengaja supaya kalian terkejut,” Hans tersenyum lebar.


“Surprise Bang Hans bikin penasaran. Beneran, Bang semua yang Abang bicarakan tadi?” Adisti mengambil kerupuk lagi dari bungkusnya.


Hans mengangguk sambil terkekeh.


“Team gue langsung bergerak mencari tahu begitu juga dengan Anton, pasca wartawan menanyakan tentang bunga papan dari Prince Zuko tadi saat konferensi pers.”


“Ton, Lu kok gak cerita?” Indra menatap Anton yang masih berkutat mengetik perintah-perintah dan rintangan untuk menutupi jejak Prince Zuko.


“Gak sempat, Bro. Sibuk..” Anton tidak mengalihkan tatapannya dari laptop.


“Bang Hans, siap-siap Prince Zuko diserang oleh para hacker dari beberapa negara..” Anton mengingatkan Hans.


Hans mengangguk, “Sudah diprediksi oleh Shadow Team. Kemungkinan malam ini IT Shadow Team akan lembur. Meronda online.”


“Bang Hans sendiri bagaimana?” tanya Adisti.


“Abang cuma mengawasi lewat handphone saja, Dis. Abang harus tidur, besok ada meeting penting dengan petinggi pabrik kaca.”


“Bareng Daddy?”


Hans menggeleng.


“Tuan Alwin menangani meeting di kantor Sanjaya Group. Gue tangani meeting di pabriknya langsung, di Tangerang.”


“Berangkat jam berapa ke Tangerang?” tanya Adisti.


Hans menggeleng, “Abang pergi seperti biasa ngantor. Abang ke Tangerang pakai heli Sanjaya Group. Lebih irit waktu.”


“Heli? Helikopter?” alis Adisti terangkat.


Para pria tersenyum lebar menatap Adisti.


“Dis, belum pernah ke top floor B Group?” tanya Anton sambil masih mengetik cepat.


“Belum, Hyung. Pak Suami dan Bang Indra gak pernah ajak Disti touring kelliling gedung. Pak Suami cuma ngajak touring ruangan kerjanya doang..” Adisti melirik suaminya yang tengah terkekeh.


“Tahu lah ending touring-nya kemana dan dimana..” cibir Indra.


Semuanya terkekeh menatap Indra.


“Ndra, Lu kaya yang keki banget sih?” Hans tergelak.


“Ya iyes lah. Hari pertama mereka ngantor, mata suci gue ternoda. Hari kedua mereka ngantor, telinga suci gue ternoda. Besok kalian berdua mau berulah apalagi??” Indra menatap Bramasta dan Adisti bergantian.


Hans dan Anton terbahak bersama.


"Perjaka yang ternoda..." seru Anton dari balik laptopnya.


“Hissh. Gegabah banget kalau ngomong!” Indra menatap dongkol pada Anton.


“Ma’afin kami ya Bang Indra..” Adisti tersenyum manis yang kian lama kian melebar akirnya tak tahan untuk terkikik melihat ekspresi wajah Indra yang dongkol.


“Haisssh, suami istri ini sama aja. 11 12,” Indra menghembuskan nafas keras sambil menyandarkan punggungnya pada sofa.


“Btw, memangnya di top floor gedung B Group ada apa?” tanya Adisti polos.


“Ada helipad dan bajay berbaling-baling,” Indra menjawab asal sambil mengambil kerupuk.


“Dih.. udah tua juga masih gede ambek..” Adisti mencebik menatap Indra yang diikuti kekehan yang lainnya.


Indra menaikkan kedua alisnya menatap Adisti.


“Gak usah galak-galak, Bang ke Disti. Nanti kalau pulang, jatah asinan buat Bang Indra gak jadi Disti kasihin nih...”


“Iya.. nggak,” Indra tersenyum manis bermodus, “Tapi besok bawain salad buah ya.”


“Ma’af, gak bisa. Disti ada janji dengan Dinda. Girl time..”


Indra mencibir.


Bramasta dan Hans yang duduk berdekatan tengah memeriksa medsos burung biru.


“Langsung ramai..” kata Bramasta pelan diikuti gumaman Hans.


Notifikasi pesan chat berbunyi semua. WAG Kuping Merah.


Agung_Bang Hans, siapa sebenarnya pengirim bunga papan yang mengatasnamakan Prince Zuko?_


Hans_Lulusan IT dari Universiti Kebangsaan Malaysia dengan predikat cumlaude, 2 tahun yang lalu. Lalu mendirikan perusahaan startup IT. Newbie tapi bertingkah_


Leon_Wah.. CEOnya?_


Hans_Yupz. Mungkin karena masih muda jadi belum banyak pengalaman dan tidak ber-attitude baik_


Agung_Maksud dia memesan bunga mengatasnamakan Prince Zuko itu apa?_


Hans_Cari panggung. Ingin mendadak viral buat menaikkan pamor perusahaannya_


Bramasta_Dia pikir mengembangkan perusahaan itu seperti mematangkan buah yang belum tua untuk dipetik dengan menggunakan karbit_


Leon_Sama saja dengan mengundang macan masuk ke dalam rumah ya_


Hans_Pastinya_


Indra_Kita lihat saja besok. Bisa apa dia kalau semua rekening bank-nya dibekukan. Beneran Lu bisa bekukan rekening-rekeningnya, Hans?_


Hans_Bukan gue. Noh.. yang dari tadi masih anteng depan laptop (Emot ngakak)_


Pukul 21.15, mereka berpamitan. Masing-masing membawa satu kotak plastik asinan Bogor sebagai buah tangan malam ini.


“Abang...” Adisti memanggil suaminya yang menutup pintu apartemen, “Disti gak beres-beres ya. Capek banget. Dapur sudah rapi semua...”


Bramasta meloncat di atas sofa langsung memeluk Adisti. Adisti terkejut dengan gerakan suaminya.


“Abang juga capek banget. Gak mood beres-beres. Besok jadwal orang-orang dari rumah utama bersih-bersih rumah. Nyantai aja. Abang gak mau Disti merasa terbebani dengan bersih-bersih. Enjoy aja. Yang penting rumah rapi, bagi Abang itu sudah cukup,” Bramasta meletakkan kepalanya di atas pangkuan Adisti.


“Senangnya punya istri...” Bramasta memejamkan matanya saat Adisti membelai keningnya.


“Besok Abang ngapain aja?”


“Kalau gak ada meeting di luar kantor ya berarti Abang di kantor aja seharian. Berkutat dengan angka-angka. Berkutat dengan email, surat kontrak, telepon-telepon, dan sebagainya.”


“Boring gak?”


“Suka gak suka kan harus dilakukan. Kewajiban Abang sebagai pemimpin. Jadi sebisa mungkin Abang berusaha menikmatinya supaya tidak merasa dipaksa. Sesuatu yang dilakukan karena terpaksa hasilnya kurang baik kan?” Bramasta membuka matanya.


Mengamati raut wajah Adisti dari tempat ia berbaring.


“Besok beneran mau girl time?”


“Kan Disti udah janji dengan Adinda. Kata Abang juga tadi boleh..”


“Tapi Abang ditinggalin..”


“Ck...” Adisti mencebik, “Biasa juga sendiri di kantor, Abangnya gak apa-apa..”


“Itukan dulu sebelum ada Disti. Abang kan sudah terbiasa berada di dekat Disti.”


“Dih.. bucin akut.”


“Biarin.”


Bramasta memiringkan tubuhnya, memeluk pinggang Adisti.


“Kalian mau kemana sih besok? Makan siang doang?”


“Ya nggaklah. Besok rencananya mau shopping. Mau make over Adinda. For her new look.”


“Ke salon? Potong rambut?”


Adisti menggeleng sambil tersenyum.


“Warnain rambut?”


Adisti menggeleng lagi, senyumnya semakin lebar.


"Apa dong?"


"Isssh kan dari awal Disti udah bilang, rahasia.."


"Main rahasia-rahasiaan sekarang?"


Adisti terkekeh.


“Abang anterin deh..”


“Gak bisa. Abang harus kerja. Masih jam kantor.”


“Tapi kan..”


“Udah gak apa-apa. Biar nanti kita bisa kangen-kangenan..”


Bramasta tersenyum lebar. Pipinya bersemu.


“Kita bertemu di rumah sakit ya nanti,” Adisti menepuk bahu suaminya untuk duduk, “Kesemutan Bang..”


“Besok Kakak Ipar kan mulai menerima kunjungan bezuk setelah sebelumnya dibatasi hanya keluarga saja. Pasti akan ramai sekali,” Bramasta menyandarkan punggungnya. Kakinya selonjor di atas sofa.


Adisti ikut menyelonjorkan kakinya. Berhimpitan di atas sofa, bersandar di dada suaminya.


“Hmmmh,” Adisti memejamkan matanya, menikmati kebersamaan mereka, “Jadi begini rasanya bersandar di dada pria yang disukai..”


Bramasta menunduk sambil tersenyum melihat tingkah istrinya.


“Disukai?” tanyanya.


Adisti mengangguk, “Dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa.”


Bramasta tersenyum lebar, pipinya merona, “Bagaimana rasanya?”


“Hangat di sini,” Adisti menunjuk dadanya, “Nyaman, terlindungi...”


Adisti mendongak, pipinya juga merona. Tangannya menyentuh tepi rahang Bramasta.


“Rasanya melelehkan hati,” Adisti berkata pelan, nyaris berbisik.


.


***


Yang sedang bucin, ngacung... 😁


Bagaimana weekend-nya Readers?