CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 238 – FLASHDISK



“Ada pada pemimpin tertinggi dari hirarki kami,” Raditya melajutkan lagi, “Tetapi untuk berjaga-jaga, saya punya salinannya. Orang saya baru saja menyalinnya.”


Raditya berdiri untuk mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Lalu meletakkan benda itu di meja.


“Saya rasa, saya lebih mempercayakan benda ini di tangan kalian semua.”


Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam dengan bentuk umumya flashdisk kebanyakan diangsurkan ke tengah meja oleh Raditya.


“Kenapa Pak Raditya mempercayai benda yang sangat berharga itu ke tangan kami.”


“Saya mempercayai perusahaan AMAN-Secure yang berada di bawah kendali Sanjaya Group.”


Tim yang dibawahi langsung secara rahasia oleh Hans, Shadow Team berada dibawah perusahaan AMAN-Secure untuk kamuflasenya.


Jasa pengawalan dan hal-hal yang berkaitan dengan security khusus disediakan oleh perusahaan itu.


“Selain itu,” Raditya memandang kepada Agung, “Prince Zuko rupanya menaruh minat yang sangat besar terhadap Agung. Saya berharap, Prince Zuko bisa mendapatkan flashdisk itu dan membocorkannya kepada publik.”


“Saya tidak terhubung dengan Prince Zuko. Saya tidak tahu bagaimana Prince Zuko mengamati saya..” Agung mengangkat bahunya sambil menatap Raditya.


“Prince Zuko sudah memilih Pak Agung. Mungkin karena Pak Agung korban dari peristiwa The Ritz..” Raditya balas menatap Agung.


“Bagaimana kami tahu kalau isi flashdisk ini adalah asli?” suara Hans yang dingin membuat semua menoleh ke arahnya.


“Silahkan periksa saja,” Raditya mengangguk dan tersenyum.


Hans memandang pada Anton. Anton mengangguk lalu mengambil flashdisk itu. Men-scan kemungkinan virus yang ada. Setelah memastikannya bersih dan aman lalu mulai membuka isi flashdisk.


Semua mata tertuju pada layar proyektor. Sebuah tabel muncul. Nomor, tanggal, nama klien, data klien, nama pelayan, data pelayan, alamat janji temu, permintaan khusus klien.


“My God! Ini seperti membuka kotak pandora..” gumam Indra.


Deretan nama muncul. Nama perusahaan ataupun instansi berikut jabatannya tertera. Deretan nama pelayan dengan usia, tinggi, berat dan ukurannya. Deretan nama hotel ataupun nama cafe maupun restauran. Juga permintaan klien yang terlihat menjijikkan dan aneh terpampang di layar monitor.


“Oh my God!” Hans bergumam, “Sebagian besar dari mereka saya kenal. Gak nyangka saya. Ini.... real?”


Raditya mengangguk.


“Saya juga mengenal mereka,” Bramasta menatap Indra, “Saat kita bertemu mereka nanti, apakah kita akan bersikap sama seperti sebelum kita mengetahui daftar ini?”


Indra terkekeh sambil mengangkat kedua bahunya, “Tentunya sudah tidak sama lagi. Kita mengetahui rahasia tergelapnya.”


“Bahkan ada klien wanita yang meminta dilayani oleh lelaki muda...” Leon menggelengkan kepalanya.


“Bukan cuma satu pemuda, Bang Leon. Lihat ada nama lain yang muncul di bawahnya..” Anton menunjuk pada layar monitor dengan menggunakan laser pointer.


“Mon Dieu! Tiga pemuda??”


Bramasta mengetik cepat di gawainya. Mengirim pesan chat untuk istrinya.


Bramasta_Kalian tetaplah di pantry. Jangan ke ruang tengah. Pembicaraan kami sangat tidak baik untuk kalian_


Adisti_Iya Bang. Dari sini saja kami bisa mendengar kok pembicaraan kalian. Kami jadi silent listener_pendengar yang diam_ saja_


Bramasta_Love you!_


Adisti_Love you more!_


Indra menunjuk pada layar proyektor, “Tidak menyangka para bapak pejabat itu liar dan bej4t juga ya..”


“Itu.. pejabat yang sedang jadi pembicaraan masyarakat, ternyata dia penyuka sesama jenis?” Anton menatap layar proyektor dengan tatapan tak percaya.


“Nomor 32, Bryan Amsel!” Agung duduk dengan tegak, “Ton, Lu bisa cari ada berapa nama Bryan Amsel disebut dalam daftar itu?”


Agung mengangguk. Dia mengetik pada keyboard laptopnya. Deretan nama Bryan Amsel berikut nama pelayannya muncul di layar proyektor.


“Tujuh gadis. Semuanya dibawah 20 tahun. Innalillaahi..” Bramasta bergumam marah.


“Saya baru saja menemui salah satu di antaranya. Yang sedang koma. Saya hanya bertemu dengan keluarga dan sahabatnya,” Raditya mengusap kasar wajahnya, “Saya kemarin sore berangkat ke Malang. Dia dirawat di rumah sakit sana.”


“Enam gadis lainnya bagaimana?” Agung bertanya dengan geram.


“Mereka dalam keadaan trauma. Salah seorang diantaranya mengalami gangguan kejiwaan.”


“Monster!” Hans meremas botol mineral kosong yang ada di tangannya.


“Rita lepas tangan terhadap nasib mereka setelah mempekerjakan mereka, menyerahkan mereka ke tangan monster perusak yang bengis?” Leon menatap Raditya.


“Dia hanya memulangkan mereka ke kampung halamannya seperti keamuan para gadis-gadis itu setelah mendapatkan pengobatan sementara di sini.”


“Bagaimana kami menyampaikannya kepada Prince Zuko?” Hans memiringkan kepalanya.


“Entahlah. Apakah Prince Zuko masih mengamati Agung? Saya rasa masih dan akan terus seperti itu apalagi mengingat kejadian pagi tadi yang baru saja terjadi dan tengah viral di media sosial.”


“Bila itu terjadi, tolong, minta sebarkan isi flashdisk ini. Agar orang-orang busuk bisa disingkirkan,” Raditya tersenyum, “Bahkan keamanan saya sendiri terancam karena flashdisk ini.”


“Ada yang tahu Anda memiliki salinan black list ini, Pak Radit?”


“Sepertinya begitu. Saya curiga, menghilangnya Tuan Thakur dari tahanan bisa jadi sedang menyusun rencana dengan anak buahnya untuk menyingkirkan penghalang dan kebebasannya.”


“Anda menerima ancaman?” Hans bertanya lagi.


“Tidak secara jelas. Hanya saja ada kejadian yang mencurigakan di jalan tol tadi. Mobil saya mendadak dipepet hingga menggesek beton pembatas jalan.”


“Jam berapa? Kira-kira Anda berada di daerah mana?” suara Anton terdengar begitu antusias untuk memeriksa.


Raditya menjawab pertanyaan Anton. Anton langsung mengetik di laptopnya.


“Mobil Pak Radit, kalau tidak salah Toyota Rush silver?”


Raditya mengangguk.


Kemudian di layar proyektor muncul gambar Toyota Rush silver yang melaju kencang. Dikejar oleh mobil boks double gardan dari arah belakang.


Mobil boks berhasil menyalip dan berusaha menyejajarkan dengan mobil Toyota Rush. Jaraknya terlalu dekat sehingga memaksa Toyota Rush untuk memepetkan mobilnya ke beton pembatas jalan yang diisi dengan pohon bugenvil yang tengah berbunga semarak.


Sekitar 50 meter, Toyota Rush melaju dengan bodi mobiil menggesek beton pembatas jalan. Hingga di jalan bercabang, mobil boks membanting setirnya ke kiri untuk masuk ke cabang jalan lainnya sekaligus kabur dari Toyota Rush.


Toyota Rush berhenti di bahu jalan, sekitar 100 meter dari arah cabang jalan. Terlihat Raditya keluar dari mobilnya untuk memeriksa bodi mobil sambil melakukan panggilan telepon.


Kemudian dia kembali lagi ke belakang kemudinya dan melanjutkan perjalanannya.


“Anda melihat pengemudi mobil boks tersebut?” tanya Indra.


Raditya mengangguk.


“Saya melihatnya tetapi saya tidak mengenalinya. Saat dia memepet mobil saya, dia melakukannya sambil tertawa dan berteriak, “Mampus Lu!” sebelum akhirnya dia membanting setir ke arah jalan yang berbeda.”


“Pengemudi mabuk?” Bramasta mengerutkan keningnya.


“Saya gak yakin..” Raditya tampak berpikir, “Tapi bisa jadi seperti itu.”


“Anggap saja itu sebagai ancaman agar Pak Radit selalu waspada,” Hans menimpali.


“Lalu sekarang bagaimana dengan Tuan Thakur?” Indra menatap Raditya dan Hans bergantian.


“Pak Raditya, hubungi penanggung jawab di sana, katakan Anda sedang dalam perjalanan akan mengunjungi Tuan Thakur. Kita lihat seberapa paniknya mereka,” Bramasta menatap Raditya.


“Nice idea!” Hans menjentikkan jarinya.


“Malah tidak terpikirkan oleh saya..” Raditya terkekeh sambil mengambil gawainya. Loudspeaker diaktifkan.


“Selamat siang Pak Victor. Ya.. saya baik-baik saja. Saya sedang otewe ke arah tempat Bapak sekarang ini. Ada yang ingin saya tanyakan kepada salah satu tahanan di tempat Bapak.”


“Siapa dia? Apakah terkait dengan kasus yang Pak Radit hadapi sekarang ini?” tanya lawan bicaranya dengan aksen bicara yang kental dari salah satu suku di Indonesia.


Kemudian Raditya menyebut nama Tuan Thakur kepada lawan bicaranya. Lawan bicaranya terdiam cukup lama. Tampak gugup dan sibuk berbicara dengan orang lain sambil menutupi mikrofon gawainya.


“Beri saya waktu 30 menit ya Pak Radit. 30 menit saja!” suaranya terdengar panik.


Raditya tidak menjawab tetapi dia langsung mengakhiri panggilannya.


.


***


Nah loh !


Panik tuh pastinya ...


Mampir di cerita Bang Indra ya. Masih sepi like karena banyak yang baca bukan dari aplikasi jadi gak bisa nge-like. Bantuin Author yuk.


Ingin tahu bagaimana Bang Indra bertemu dengan anak-anak dalam mimpinya?


Cerita Bang Indra ada di NovelToon.


Mr. Secretary: Destiny Bound.