CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 37 – TERKUAK



“Tuan, hasil dari lab identifikasi CCTV sudah ada. Tuan Leon mengirimkannya pada saya. Sore ini juga dia terbang ke sini,” Hans memberitahu.


“Forward.”


Hans mengangguk. Gawai masing-masing saling bersahutan dering notifikasi pesan masuk.


“Identitas mobil bisa dikenali. Plat nomor mobil dapat terbaca dengan pembesaran gambar beberapa puluh kali. Wajah orang di dalam mobil tidak bisa terlihat karena jendela hanya terbuka sedikit dan latar di dalam mobil terlalu gelap. Tapi dari tangannya saat menyodorkan layar handphone untuk memperlihatkan bukti transfer, dapat dipastikan dia adalah seorang wanita. Dia memakai nail art yang mahal. Ada hiasan kristal swaroszky yang menggantung pada ujung nail art-nya,” Hans membacakan laporan dari lab identifikasi CCTV kepada mereka semua.


“Pelacakan plat nomor, mobil sedan hitam Jaguar terdaftar atas nama Hilman Sanjaya.”


“Gotcha_dapat_!!” seru Indra.


“Wajah eksekutor, sama sekali tidak dapat diidentifikasi karena memakai masker, kacamata hitam dan sarung tangan. Tapi,” Hans menghentikan membacanya melihat ke semuanya yang menantinya melanjutkan laporan, “Ada bagian tubuhnya yang bisa dikenali dengan jelas. Yaitu tengkuknya.”


“Ada apa dengan tengkuknya?” tanya Daddy.


“Ada 3 bulatan putih kecil-kecil dengan pinggiran berwarna kemerahan di tengkuk kirinya yang saling berdekatan.”


“Tanda lahir?”


“Tato?”


Hans menggeleng, dia menundukkan wajah menahan tawa.


“Kadas atau kurap. Sebangsa itulah..”


“Oh My God_Ya Tuhan_!” seru Mommy.


“Are you kidding_Kamu bercanda_?” Daddy berseru.


Indra tidak kuat lagi. Dia terbahak hingga terduduk di lantai. Bramasta memandang Agung dengan tatapan tidak percaya. Keduanya terkekeh keras.


Hans berdehem. Dia melanjutkan lagi membaca laporannya, “Dari hasil pembesaran puluhan kali, nomor rekening si eksekutor bisa terbaca jelas tertera pada layar M-Banking wanita di dalam mobil tersebut.”


“OK, kita hubungi Armand.”


“Print pesan-pesan ancaman dari Nyonya Hilman Sanjaya pada Adisti juga sudah ada di tangan Pak Armand,” kata Bramasta.


“Jika ini tentang Nyonya HIlman, biarkan Mommy yang menghadapinya,” kata Mommy menghalangi jalan Daddy, “Woman’s battle_Pertempurannya perempuan_.”


“Almira, would you please_tolonglah_?” Daddy memandang mata Mommy, kedua tangannya memegang lengan istrinya. Daddy jarang menyebut nama Mommy bila bukan hal yang urgen.


“I wanna help_Aku ingin membantu_,” Mommy berbisik pada Daddy.


“It will be a help if you stay away from danger and trouble_Akan membantu jika kamu jauh-jauh dari bahaya ataupun masalah,” Daddy memeluk Mommy.


“Mom.. biarkan Daddy, Hans dan Pak Armand menangani ini semua,” kata Bramasta.


“Lagipula Tante kan gak bisa tendangan memutar seperti yang Adisti lakukan. Woman’s battle-nya nanti malah jadi jambak-jambakan seperti perempuan gila yang menyerang Adisti. It’s very not classy at all_Benar-benar gak berkelas sama sekali_, Tante,” Indra menimpali.


Mommy memandang Indra dengan cemberut. Lalu duduk di sofa sambil melipat jemarinya. Melihat lekat pada kuku-kukunya yang polos tanpa nail art ataupun pewarna kuku.


“Iya.. Mommy nurut.”


Daddy menarik nafas lega, dia memberi 2 jempol pada Indra. Daddy berlutut di depan Mommy.


“There will not woman’s battle_Gak akan ada pertempuran sesama wanita_. Daddy gak akan menghajar dia. Biarlah suaminya nanti yang akan menertibkan istrinya. Itu tugas suaminya bukan tugas kita,” Daddy mengecup dahi Mommy lama, “I love you more_Aku lebih mencintaimu_.”


“Me too_Aku juga_.”


Agung bertanya pada Bramasta dengan suara lirih, “Daddy dan Mommy beneran seperti ini di rumah setiap harinya?”


Bramasta menjawab dengan cengiran di wajahnya, “Selalu always, gak pernah never.”


Agung geleng-geleng kepalanya.


Hans berbisik pada Indra, “Jadi kangen bini di rumah..”


Indra melirik pada Hans, “Ngomporin…ngomporin…”


Adisti bergumam tidak jelas. Agung berbalik menghadap Adisti.


“Dek.. Adek mau minum?”


Adisti bergerak gelisah. Wajahnya mengernyit kesakitan sambil memegang kepalanya.


“Perih. Sakit Kak,” mata Adisti masih terpejam.


“Yang sabar ya..” Agung membelai pipi adiknya.


Tangannya menepuk-nepuk lengan Adisti.


“Gak apa-apa ya. Disti sudah aman di sini.”


Adisti membuka matanya. Menatap wajah Bramasta. Mengingat kejadian menjelang sore tadi.


“Abang Bramasta, maaf, kap mesin mobilnya ketumpahan minuman boba Disti..” tangan Adisti meraih rambut depan Bramasta, “Kenapa berantakan rambutnya?” Adisti memejamkan matanya lagi.


Semua melongo mendengar ucapan Adisti.


“Disti… Disti.. bangun..” Bramasta menggoyang lengan Adisti.


Agung menekan tombol panggil perawat. Seorang perawat dan dokter jaga masuk.


“Ada apa?” tanya dokter wanita dengan paras manis.


“Tadi pasien bangun kemudian seperti ini lagi.”


“Saya periksa dulu ya,” Bu Dokter memeriksa Adisti dengan stetoskop, perawat mengecek tekanan darah Adisti. Kemudian mengecek mata Adisti dengan menggunakan senter kecil, “Gak apa-apa. Pasien cuma tertidur. Sepertinya pasien mengalami kelelahan yang sangat. Pasien ini yang ada dalam video viral itu ya? Tendangan memutar?”


Agung mengangguk tersenyum.


“Nanti kalau sudah sehat, saya mau minta tanda tangannya ya..” kata dokter tersebut disambut kekehan yang lainnya, “Saya tinggal dulu. Nanti kalau ada apa-apa tinggal pencet tombol saja.”


“Video apa?” tanya Bramasta bingung.


Agung menyodorkan gawainya. Mata Bramasta terbelalak.


“Jadi sebenarnya banyak orang yang menyaksikan kejadian itu tapi tidak mau menolongi Adisti? Malah sibuk merekam??!” Bramasta berseru marah.


“Welcome to the real world_Selamat datang di dunia nyata_,” kata Agung, “Saat like, share dan jumlah viewer menjadi barometer kebahagiaan para pengguna medsos. Don’t you forget_Jangan lupa_ ini bagian dari fitnah akhir jaman.”


Bramasta mengangguk geram.


“Wow!” Bramasta mendekatkan wajahnya saat melihat aksi tendangan berputar Adisti.


Dia menekan tombol pengulangan, menontonnya lagi.


“Wow, she is my girl_dia gadisku_!” Daddy dan Mommy terkekeh.


Bramasta membaca komentar, “Wah, netizen sudah bongkar semua identitas yang ada dalam video kecuali Adisti. Identitas Bram terbongkar dari nomor plat mobil, pemilik butik dan salon The Ritz, gadis penjual minuman boba. Mereka masih kepo tentang Adisti.”


“Bram, buruan kamu cuci muka. Mungkin Adisti empet lihat wajah kamu yang berantakan seperti itu makanya dia memilih untuk merem lagi daripada lihatin wajah calon suaminya yang nggak banget..” kata Mommy.


“Mom, Bram udah cute sejak lahir loh,” Bramasta bangkit juga dari kursinya menuju kamar mandi sambil menenteng kantong infusnya.


“Yang tinggi ngangkat infusnya, Bram,” Daddy mengingatkan, “Jangan sampai lebih rendah dari jarumnya, darah kamu bisa mengalir ke selang infusnya nanti..”


Suara pintu diketuk dari luar. Ayah dan Bunda mengucap salam. Semua menjawab salamnya.


“Adek sudah sadar?” tanya Ayah pada Agung. Ayah dan Bunda sudah mengetahui semuanya dari Agung yang mengabari saat mereka hendak pindah kamar.


Mereka mengobrol bersama di sofa. Ayah dan Bunda tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi Adisti sekarang ini karena sudah tertangani dengan baik. Selain itu mereka bangga, Adisti bisa melakukan serangan balik kepada penyerangnya.


“Masalah media, nanti biar media milik Mommy yang akan merilis identitas Adisti sekalian pertunangan kalian ya. Untuk pernikahan tidak usah disebutkan tanggalnya. Supaya tetap jadi private party. Mommy tidak mau penyerang Adisti ataupun keluarga Anggoro mengacau acara sakral nanti.”


“Para tetangga yang hadir pada saat malam lamaran tempo hari, sepakat merahasiakan hari H. Karena salah seorang tetangga ada yang kerja di salah satu perusahaan Anggoro Group, menceritakan bagaimana buruknya perilaku Nyonya Hilman kepada para pekerja di perusahaan suaminya. Dia tidak segan mempermalukannya di depan umum,” kata Bunda.


“Di kalangan sosialita juga begitu. Rupanya sudah menjadi watak dari Nyonya Hilman. Tapi dengan kejadian di rumah sakit yang sampai memerintahkan orang untuk mencelakai kita semua, apa ini tidak menunjukkan adanya perilaku kelainan jiwa?” kata Mommy, “Kapan Daddy mengurus keluarga Anggoro?”


“Hans?”


“Pak Armand baru bisa bertemu dengan kita sekitar jam 20.00 nanti malam.”


“Ketemu di sini saja. Berarti kita mulai bergerak besok.”


Hans dan Mommy mengangguk.


“Manuver Nyonya Hilman ini juga sudah keterlaluan ya. Entah apa yang ia katakan pada Gunawan Tan, Komisaris Buana Raya sehingga membuat Agung harus terusir dari kantor dengan cara yang tidak pantas seperti itu,” kata Daddy.


Agung menatap dengan panik pada Bramasta dan Indra. Ayah dan Bunda belum tahu tentang pemecatannya. Bramasta dan Indra memberi kode pada Daddy tapi sepertinya Daddy tidak mengerti.


“Agung harus meninggalkan gedung saat itu juga. Terusir dari ruangan meeting. Pemecatan sepihak oleh komisaris tanpa persetujuan dari dewan direksi dan dewan manajer. Satu hal yang tidak disadari oleh Gunawan Tan, dia tidak tahu bahwa sesungguhnya motor dari Buana Raya adalah Agung. Entah bagaimana nanti nasib Buana Raya tanpa Agung.”


Ayah melihat Daddy dengan terperangah. Bunda menutupi bibirnya yang bergetar.


“Agung Aksara Gumilar,” Ayah memanggil Agung dengan nama lengkapnya. Pada saat itulah Daddy menyadari ia berbicara pada saat yang salah, “Kemari, Kak.”