
Pengawal yang menjadi driver menurunkan mereka di lobby UGD. Bramasta menggandeng Adisti ke dalam lobby.
Petugas security yang mengenali langsung mengantarkan mereka ke dalam ruangan UGD. Seorang perawat mengangguk pada mereka.
“Lewat sini, Tuan dan Nona. Kita menuju ke ruang operasi.”
“Kondisi Kakak saya bagaimana, Suster?” suara Adisti terdengar tercekat.
Bramasta mengetatkan rangkulannya pada pundak istrinya.
“Tuan Agung datang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Dari hasil foto Rontgen dan CT Scan, tidak ditemukan peluru didalam tubuh Pak Agung. Peluru menembus tubuhnya tapi ada serpihan yang tertinggal yang harus diambil,” perawat tersebut menjelaskan sambil berjalan.
Adisti terisak. Bramasta menepuk-nepuk pundak istrinya.
“Apakah ada organ v1tal yang terkena peluru ataupun pecahannya?" tanya Bramasta.
"Itulah yang membuat para dokter heran. Melihat posisi luka tembakan dari tepi punggung kiri menembus dada kanan, seharusnya paru-parunya terkena peluru. Tapi nyatanya, tidak ada organ v1tal yang terkena peluru. Tuhan masih melindungi Pak Agung,” perawat tersebut tersenyum kepada Bramasta dan Adisti.
“Alhamdulillah..”
“Silahkan menunggu di ruang tunggu operasi. Saya tinggal dulu. Nanti setelah keluar dari ruang operasi, pak Agung akan ditempatkan di ruang ICCU, apabila kondisinya membaik maka akan dipindahkan ke ruang rawat inap,” Perawat itu mengangguk hormat lalu meninggalkan mereka.
Di kursi ruang tunggu, ada seorang laki-laki yang langsung berdiri melihat Bramasta dan Adisti. Dia langsung menghampiri Bramasta.
Leon tampak berlari di koridor menghampiri mereka. Dia langsung memeluk Bramasta dan menepuk pundak Adisti. Wajahnya terlihat cemas.
Bramasta kembali menoleh pada lelaki yang tadi duduk yang kini menghampirinya. Dia mengulurkan tangannya, “Terima kasih sudah mengantarkan Kakak Ipar saya ke rumah sakit.”
Pria tersebut menyambut uluran tangan Bramasta, “Sama-sama Pak.”
Adisti mengangguk dan tersenyum kepada pria tersebut. Pria dengan nama samaran Solitaire ternyata pria muda berusia pertengahan 20 an. Memakai kacamata minus bingkai kotak tipis warna coklat.
“Kemeja Bapak basah?” tanya Adisti. Di ujung lengan kemejanya terdapat noda darah yang ia yakin itu adalah darah kakaknya.
“Pada saat Pak Agung jatuh, tiba-tiba hujan deras.”
“Kamu tidak apa-apa dengan kemeja lembab begitu?” tanya Leon dengan aksen Perancis yang kental.
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya membawa jaket.”
“Ceritakan kejadiannya,” pinta Leon sambil menunjuk ke arah kursi, “Sambil duduk saja. Saya terlalu gugup untuk berdiri terus.”
“Jadi saat terdengar tembakan pertama, para pengunjung salon dan pegawai wanita berhamburan dari The Ritz. Para wartawan yang sedang berkumpul di seberang pun terkejut. Mereka ingin masuk tapi tidak berani. Apalagi setelah mendengar tembakan kedua yang katanya mengenai orang di dalam sana,” Sol memandang Leon dan Bramasta bergantian.
“Kemudian terdengar tembakan ketiga. Kebetulan Pak Agung sedang melintas. Saya dan Joker tidak tahu dan tidak melihat langsung bagaimana kejadiannya,” dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya sambil mengingat kejadian tadi.
“Tapi pada saat kami mendengar bunyi keras dan bunyi logam yang terseret, saya dan Joker langsung keluar dari mobil mencari tahu apa yang terjadi.”
Sol menundukkan wajahnya kemudian mendongak lagi, mengingat kejadian dan pemandangan yang mengerikan lagi membuatnya mengernyit ngeri.
“Sudah ada para wartawan yang mengerubungi tubuh Pak Agung. Kami semua tidak ada yang berani membuka helm yang dikenakan oleh Pak Agung. Khawatir akan memperparah cederanya.”
Sol menghela nafasnya.
“Jok mengambil payung dari mobil. Saya berusaha menekan luka untuk menghentikan pendarahan. Saat itu kami masih belum tahu identitas korban.”
Adisti meremat lengan atas Bramasta.
"Kemudian seorag wartawan membuka kaca helm. Dia bilang, kok wajahnya seperti kenal... Lalu teman-temannya yang lain ikut mengamati, barulah mereka berseru itu Agung, kakak Adistinya Bramasta, begitu kata mereka. Joker dan saya sangat terkejut dan semakin panik.”
“Saya memang diberitahu Joker, pak Agung akan datang membawa kopi, tapi kami tidak menyangka Pak Agung datang dengan mengendarai sepeda motor. Saat kami melihat cup kopi yang tumpah dan juga kotak donat yang berantakan, barulah kami yakin itu adalah Pak Agung.”
“Siapa yang memanggil ambulans?” tanya Leon.
“Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin salah satu dari wartawan yang berkumpul.”
“Apakah selama di ambulans, Kakak tersadar?” tanya Adisti dengan suara tercekat.
"Ma'af Nona, Pak Agung dari semenjak terjatuh, tidak sadarkan diri."
Adisti mengangguk.
“Kamu sudah makan malam?” tanya Bramasta.
Sol menggeleng sambil tersenyum.
“Makan malam dulu di kafetaria. Kamu pulang pakai taksi online saja ya. Ini buat makan malam dan ongkos taksinya. Pulanglah. Terimakasih sudah menemani Agung,” Bramasta menyelipkan beberapa lembar uang merah di tangan Sol.
“Terima kasih banyak Pak.” Sol membungkukkan badannya pada Bramasta.
“Pak Anton sudah menghubungi kamu?”
“Sudah Pak, tepat sebelum Bapak dan Nona datang, Pak Anton selesai menghubungi saya. Joker juga sudah diminta untuk diam-diam meninggalkan lokasi dan pulang dengan arah acak.”
“Pakai mobil?”
“Tidak Pak. Mobil tidak bisa dipindahkan karena jalanan sudah dipenuhi mobil polisi, begitu kata Joker. Saat ambulans meninggalkan TKP, suara tembak-menembak mulai terdengar. Pak Anton memerintahkan cleans up all. Peralatan penting dibawa oleh Joker dengan tas gendongnya, sementara mobil dan peralatan yang susah dibawa ditinggalkan di pelataran parkir.”
“Wah.. gawat dong..” gumam Leon.
Sol menggeleng.
Leon mengangguk puas.
“Pulanglah. Ini hari yang berat untuk kita semua. Terutama bagi kamu dan Joker yang berada di TKP,” Bramasta menepuk bahu Sol.
Sol mengangguk lalu berpamitan pada semuanya.
Suara derap langkah dan sepatu terdengar jelas di koridor. Ketiganya menoleh bersamaan. Ada Hans, Anton, Daddy, Mommy, Indra dan Ayah Bunda bersamaan datang.
Tangis Adisti pecah saat melihat Ayah dan Bunda. Ayah pun meneteskan air matanya. Daddy menepuk-nepuk punggung Ayah untuk menenangkan.
Mommy dan Bunda memeluk Adisti bersamaan.
“Bagaimana kondisi Agung?” tanya Hans.
Bramasta menceritakan apa yang tadi disampaikan oleh perawat. Semua mengucap hamdalah, lega karena peluru tidak mengenai organ vital.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Mommy.
“Agung menjadi orang yang berada ditempat dan waktu yang tidak tepat, Tante. Peluru nyasar. Bukan peluru yang sengaja diarahkan kepada Agung,” Indra mengelus punggung Mommy.
“Andai Disti tidak memberi hadiah Kakak motor.. mungkin Kakak tidak akan mengalami kecelakaan ini,” Adisti sesunggukan dengan keras.
Ayah menepuk-nepuk punggung tuan putrinya, “Jangan pernah menyalahi apa yang sudah terjadi karena sama saja dengan menyalahi apa yang sudah ditentukan Allah.”
Suara langkah kaki terdengar di koridor, semua menoleh. Pak Kusumawardhani datang bersama istri. Indra langsung mencium tangan kedua orangtuanya.
“Assalamu’alaikum,” sapa Pak Dhani kepada semuanya. Semua menjawab salam Pak Dhani.
“Tuan Armand sudah diberitahu?” bisik Indra pada Hans.
Hans mengangguk, “Tuan Armand sedang berada di Palembang sekarang.”
Indra mengangguk. Mereka berempat, Indra, Hans, Leon dan Anton, merapat duduknya di pojokan. Masing-masing memantau medsos dengan gawainya.
“Jangan bahas tentang aktivitas Kuping Merah di tempat terbuka seperti ini ya,” bisik Leon, “Terlalu riskan.”
Semua mengangguk setuju.
Para orangtua masih menanyakan tentang kondisi Agung pada Bramasta. Ketika tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter yang berbaju biru keluar dari ruang operasi.
“Keluarga Pasien Agung Aksara Gumilar?” tanyanya.
Ayah berdiri menghampiri dokter, diikuti oleh Bramasta.
Dokter tersenyum menatap mereka.
“Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Semua serpihan peluru berhasil diambil dari dalam tubuh pasien. Kita tunggu pasien untuk sadar ya. Mudah-mudahan tidak ada infeksi ataupun reaksi negatif dari tubuhnya pasca transfusi darahnya.”
Ayah dan Bramasta mengucap hamdalah bersamaan.
“Untuk selanjutnya pasien kita observasi di ruang ICCU dulu ya,” kata Dokter.
“Apa tidak bisa langsung di ruang rawat inap?” tanya Ayah.
“Di ruang ICCU, pasien dipantau 24 jam sehari oleh para tenaga medis, Pak. Selain itu ruangan ICCU itu steril. Para perawat maupun keluarga pasien yang menjenguk harus mengenakan baju khusus dan prosedur sterilisasi khusus sebelum memasuki ruangan,” Dokter menjelaskan dengan ramah.
“Pasien masih belum sadarkan diri, Dok?” tanya Bramasta.
“Belum, Tuan. Kita tunggu saja ya. Mudah-mudahan bisa sadar secepatnya.”
“Kakak Ipar koma?” tanya Bramasta berhati-hati.
“Tidak, kondisi pasien saat ini berada di tingkat kesadaran rendah tetapi bukan koma,” Dokter menjelaskan lebih lanjut, “Tingkat kesadaran manusia diukur dengan GCS, Glasgow Coma Scale, yaitu skala neurologi yang digunakan untuk melakukan nilai kesadaran.”
“Untuk normalnya, berapa angka GCSnya, Dok?” tanya Bramasta.
“Untuk kondisi normal, nilai GCS berada di angka 15, sedangkan nilai terendah GCS adalah 3, untuk pasien koma,” Dokter itu memperbaiki letak kacamatanya.
“Agung berada di skala berapa, Dok?” tanya Ayah khawatir.
“Untuk Pasien Agung, Beliau berada di skala 4 atau yang disebut dengan semi koma. Semi-koma atau koma ringan adalah kondisi penurunan kesadaran di mana pasien tidak dapat memberikan respons pada rangsangan verbal dan bahkan tidak dapat dibangunkan sama sekali,” Dokter tersebut berhenti sejenak untuk memberi tandatangan pada formulir yang disodorkan oleh seorang perawat bedah, “Tetapi jika diperiksa melalui mata maka masih akan terlihat refleks kornea dan pupil yang baik. Pada kondisi ini respons terhadap rangsangan nyeri tidak cukup terlihat atau hanya sedikit.”
“Jadi dalam kata lain, kondisi ini membuat Kakak Ipar tidak merasakan sakit?” tanya Bramasta.
Dokter mengangguk.
Pintu ruang operasi terbuka lebar.
“Sepertinya Pasien sudah siap untuk dipindahkan,” kata Dokter.
.
***
Bahaya sudah lewat tinggal menunggu Agung sadar saja.
Ada yang mau jenguk Agung?
Bawain bunga ya 😁🙏🏼