CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 223 – MEMECAHKAN KASUS MISTERI



“Ton, cari foto-foto Helena yang menampakkan cincin di jarinya..” Hans langsung memerintahkan Anton.


Anton mengambil foto Helena saat menjemput Bryan di bandara. Lalu *zoom in* bagian jemarinya.


“Yupz! Cincin yang sama..”


“Ada apa dengan cincinnya?” Agung memandang Bramasta.


“Perhatikan bentuk cutting permatanya..”


“Gue rasa itu batu emerald,” Leon memicingkan matanya, “Cuttingnya berbentuk tear drop. Kenapa memangnya, Bram?”


“Bentuk tear drop sangat jarang digunakan untuk cincin, biasanya untuk anting ataupun liontin..”


“Lalu?” Hans mengerutkan kening.


“Untuk melekat pada cincin, batu tersebut harus diikat dengan dudukan batu pada cincin. Bentuk seperti itu harus memakai 3 cengkraman ikatan. Zoom lagi, Ton supaya detil batunya jelas..”



(Photo from Google)


“Terus kenapa?” Hans memandang Bramasta lagi dengan tidak sabaran.


“Kalian lihat bagaimana Helena menghantamkan tinjunya pada tubuh gadis itu? Ikatan cincin itu lebih menonjol daripada batunya itu sendiri, pasti membekas di kulitnya. Luka ataupun memar bentuk berupa titik tapi membentuk segitiga.”


Indra mengangguk paham dengan maksud Bramasta.


“Hans, Lu punya catatan forensik mayat gadis belia yang ditemukan di rawa-rawa? Yang diceritakan oleh August Bachmeier.”


“Ah ya.. Gue ngerti.. Artinya, cincin itu tidak pernah lepas dari jemari Helena bahkan saat ia melakukan aksi bejatnya sekalipun. Jejaknya bisa dilihat...” Hans memandang Anton.


Anton mengangguk mengerti lalu mencari file yang dimaksud.


“Lu dapat catatan ini darimana Hans?” Indra menatap catatan yang kini terpampang pada layar.


“Ada deh.. Koneksi Bro.. koneksi..” Hans terkekeh.


“Sepertinya.. karena luka itu tidak dianggap sebagai penyebab luka fatal korban jadinya diabaikan begitu saja oleh penyidik ya?” Agung menatap laporan dalam Bahasa Jerman dengan murung.


“Bisa jadi..” Anton mengangguk.


“Scroll down, Ton.. Ya, di situ disebutkan tentang banyaknya luka dan memar berbentuk tiga titik. Yang tidak diketahui penyebabnya...” Indra menunjuk pada kalimat berbahasa Jerman.


“Mon Dieu! Kita memecahkan misteri kematian kasus belasan tahun yang lalu..” Leon menutup mulutnya karena takjub sendiri.


“OK.. kita dapatkan Helena. Sekarang kita fokus pada Bryan..” Hans menekan tombol pause-nya lagi untuk melepaskan freezze gambar.


“Oh my God.. harus ya kita menonton Bryan? Muak banget lihat aksinya..” Anton menghembuskan nafas kasar.


"Tidak sekedar menonton, Ton. Kita mencari petunjuk.. Karena tidak ada kejahatan yang sempurna, pasti ada celahnya yang diabaikan oleh si pelaku,” Bramasta menonton sambil bersandar.


“Siapa namanya? Gadis yang digarap Bryan?” Hans memandang Indra.


“Elise, yang digarap Helena bernama Irma. Gue cuma tahu nama depannya saja. Kata Lothar, Elise mengubah namanya saat mulai pulih. Dan Irma juga mengubah namanya saat menikah.”


“Kita tampilkan mereka dengan nama awal mereka saja,” Hans memandang yang lainnya. Yang lainnya mengangguk setuju.


Hingga rekaman berakhir, mereka masih belum bisa menemukan “rekam jejak Bryan.” Semua terlihat lelah dan lesu. Karena isi rekaman itu betul-betul menyedot energi dan emosi mereka.


Gawai Hans berbunyi. Hans menerimanya lalu pergi meninggalkan ruang rapat tanpa memberitahu mereka.


Mereka mengobrol membahas isi rekaman, satu sama lainnya. Tidak berapa lama Hans kembali sambil mengacungkan flashdisk.


“Oh my God..lagi??” Agung mengusap wajahnya.


“Kita gak bisa mendapatkan bagian tengah rekaman. Ini 25% bagian akhir dari rekaman. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan petunjuk.”


“Anton, are you OK?” Leon menatap lekat pada Anton yang tengah mengelap tengkuknya dengan tisu.


“It’s not good to watch. So badly_Bukan tontonan bagus. Jahat banget_!” Anton mengusap wajahnya.


Indra yang duduk di samping Anton menepuk-nepuk punggungnya.


“Be strong, be brave. For Elise and Lothar Schuemaker.”


Anton mengangguk sambil mencoba tersenyum. Dia mengambil selembar tisu lagi untuk menyeka pelipisnya.


“Ini akibat pita yang merekat, gambarnya tidak bisa sejernih yang pertama.”


Gambar berangsur membaik. Noise-nya berkurang. Semua lebih suka menonton dari proyektor karena tampilannya yang lebih besar daripada lewat monitor cahaya yang ada pada meja rapat.


Tubuh Irma, gadis yang dihajar Helena sudah tidak karuan. Wajahnya bengkak dan penuh lebam. Perut, punggung dan lengan penuh darah bekas sabetan cemeti.


Sementara tubuh Elise sudah tampak lemas dan diam tak bergerak. Tapi Bryan masih bergerak dengan kasar dan beringas di atasnya.


“Astaghfirullah.. gue gak tega melihatnya..” Agung mengusap wajahnya sambil menundukkan wajahnya.


“Bukan cuma Lu, Gung. Gue yakin kita semua merasa seperti itu..” Indra berkata pelan sambil matanya tetap pada layar proyektor.


“Itu!” Leon berdiri sambil menunjuk ke arah proyektor.


Hans segera mempause video. Lalu memundurkannya.


“Yang mana, Bang?”


Mata Leon menatap lekat pada adegan di proyektor.


“Mundurin lagi.. ya stop!”


Semua menatap lekat pada layar proyektor yang adegannya di-freeze-kan. Tampak Bryan membungkukkan tubuhnya di atas punggung Elise. Sepintas seperti sedang menciumi pundak dan punggung Elise dengan mata terpejam.


“Kenapa sih?” Bramasta mencondongkan tubuhnya ke depan mengamati gambar yang dizoom dan di-freeze itu.


“Lihat.. lihat baik-baik..” Leon memandang pada Hans sekarang, “Mainkan lagi dengan slow motion sekarang, Hans. Kalian lihat baik-baik..”


Hans menuruti Leon. Dia mengatur speed video. Video bergerak lambat.


Bryan membuka mulutnya lalu menggigit kulit punggung Elise. Bukan hanya di satu tempat tapi di beberapa tempat.


Kemudian terlihat tubuh Bryan yang mengejang dengan bagian hitam matanya menghilang menjadi putih semua. Otot wajahnya berkeriut tegang. Jelek sekali.


Hans mem-pause adegan. Lalu menatap Leon.


“Bryan menggigit korbannya saat dia hampir menuju *******. Artinya ada cetakan giginya pada kulit para korbannya. Setidaknya akan berbekas memar,” Leon menjelaskan.


“Tapi cairan tubuh kan bisa dilacak identitas DNAnya. Bryan memakai pengaman sepertinya untuk perlindungan dirinya dari penyakit menular s3k su4l juga untuk identifikasi DNA..” Hans mengerutkan keningnya, “Air liurnya di bekas gigitan korban, kenapa luput dari pemeriksaan petugas forensik ya?"


"Bisa jadi, sudah diperiksa oleh petugas forensik tapi power and money talk. Ingat, Bryan Amsel selalu ditugaskan di negara berkembang yang tingkat korupsinya sangat tinggi..” Indra menyandarkan punggungnya.


“Atau bisa jadi dia sudah menghapusnya. Membersihkan tubuh korbannya terutama tubuh korban yang meninggal,” Bramasta memandang Hans.


Anton tanpa diminta menampilkan laporan autopsi dari kepolisian Filipina. Juga foto-foto kondisi mayat.


Hans menunjuk pada salah satu foto.


“Lihat luka pada perut korbannya. Ini luka sayatan pisau. Apakah kesadisan Bryan menjadi meningkat?”


“Oh my God..” Anton menundukkan wajahnya.


‘’Ton, fokus di laporan forensik..” suara Leon menyadarkannya.


“Bahasa Tagalog, Bang..” Anton mengetik dan menggeser-geser mouse, “Tunggu.. saya pakai aplikasi translator..”


“Gue bisa Bahasa Tagalog, Ton. Walaupun pasif. Tadi sepintas gue lihat, ada disebut memar bekas gigitan dengan gigi yang tidak beraturan di punggung korban..” Leon maju ke arah layar proyektor, menunjuk kalimat berbahasa Tagalog yang ia maksudkan.


“Ton, Lu punya video pesta di villa TKP tempat pesta kedutaan diadakan?” Leon berkata lagi pada Anton.


“Ada Bang. Bisa lebih spesifik lagi?” Anton menggeser mousenya untuk mencari video yang dimaksud.


"Rekaman saat Bryan sedang mengobrol di pesta. Saat dia tertawa terbahak dengan gelas champagne di tangannya. Gue ingat giginya terlihat. Gigi atasnya gingsul yang menumpuk di dalam,” Leon menatap Anton dengan tidak sabar.


“Setdah Bang Leon sampai ingat detil kecil dari Bryan..” Indra menggelengkan kepalanya.


“Selalu kenali musuhmu. Perhatikan dengan cermat karena suatu saat akan bermanfaat,” Leon tersenyum lebar.


“Padahal gue yang berhadapan langsung dengan Bryan saat di lounge hotel saja tidak memperhatikan detilnya. Yang gue ingat hanya wajahnya yang besar dan menyebalkan saja,” Anton terkekeh lalu menekan tombol enter.


.


***


Bramasta dan Leon yang selalu memperhatikan hal detil ternyata berguna banget saat memecahkan kasus pembunuhan yang sudah berlangsung lama.