
Agung mendekati Ayah dan Bunda dengan langkah perlahan, senyum cengiran menghias wajah tampannya. Duduk di antara Ayah dan Bunda. Bramasta ikut duduk di sofa. Kantong infusnya dikaitkan pada tiang infus beroda.
“Kenapa Kakak tidak berterus terang pada Ayah atau Bunda?” Ayah membuka percakapan.
“Bukannya Kakak tidak mau berterus terang, Yah. Tapi kemarin Kakak masih dalam keadaan kalut dan merasa malu diberhentikan dengan cara seperti itu. Kakak tidak mau menambah beban pikiran Ayah dan Bunda,” Agung menarik nafas untuk melegakan sesak yang menghimpit dadanya, rasa bersalah pada Ayah dan Bunda, “Rencananya Kakak baru akan cerita setelah Kakak sudah bekerja di tempat yang baru.”
“Agung kan sudah bekerja di tempat yang baru. Perusahaan yang jauh lebih baik daripada Buana Raya. Kenapa Agung belum cerita pada Ayah dan Bunda?” tanya Daddy.
“Kejadian sore ini, Pak. Betul-betul unpredictable_tidak diperkirakan_.”
Daddy mengangguk.
“Jadi Kakak sudah bekerja di tempat yang baru?” tanya Ayah.
Agung mengangguk, “Posisi Kakak juga lebih baik daripada di Buana Raya.”
“Dimana Kak dan kakak sebagai apa?” tanya Bunda.
“Sanjaya Group, sebagai Manajer Akunting.”
“Ya Allah.. Nepotisme?”
Agung menggoyang-goyangkan kedua tangannya, “Tidak Yah. Alhamdulillah tidak nepotisme. Bahkan Pak Alwin baru tahu Kakak bergabung di Sanjaya Group saat berada di UGD tadi.”
“Lalu?”
Bramasta menceritakan pegawai pecatan yang menjadi pembicaraan di kalangan petinggi perusahaan dan pengusaha karena proses pemecatan yang tidak biasa dan kemampuan pegawai tersebut yang luar biasa. Indra juga menambahkan cerita tentang rekrutmen dari papinya. Ayah dan Bunda mengangguk-angguk mengerti.
“Alhamdulillah, Allah Maha Baik pada keluarga kita, Kak. Kakak hanya sebentar jadi penganggurannya,” kata Bunda.
Agung mengangguk.
“Allah juga melindungi Adisti, selalu menjaganya dari marabahaya,” kata Mommy.
“Jadi setelah kejadian ini, rencana Hari H-nya bagaimana Pak Alwin? Mau ditunda atau diteruskan?” tanya Ayah.
“Dilanjutkan saja,” kata Pak Alwin.
“Kalau dipercepat jadi besok juga saya akan melakukannya dengan senang hati,” kata Bramasta sambil tersenyum.
Mommy memukul lengan Bramasta, “Ngelunjak kamu, Bram.”
Bramasta terkekeh.
Suara erangan dari bed Adisti. Dia mengaduh kesakitan memegangi kepalanya.
Agung berlari mendekati bed. Mengubah posisi bed menjadi setengah duduk.
“Dek, minum ya supaya gak dehidrasi. Bibir Adek udah kering-kering begitu..” Agung menyodorkan botol air mineral berikut sedotannya. Adisti menyesap, menelan dengan perlahan. Menyesap lagi.
“Perempuan itu, si Medusa, dia berteriak-teriak menyebut Nyonya Hilman.”
“Medusa?”
“Adek menamainya Medusa. Handle pintu butiknya adalah kepala Medusa, sepertinya mengambil dari logo designer internasional. Dia pemilik The Ritz.”
“Versace,” kata Mommy.
Adisti mengangguk.
“Cek video part 1, dengar pakai headset, mungkin kita bisa mendengar lebih jelas apa yang dikatakan perempuan itu,” kata Hans.
Masing-masing mengeluarkan headset nirkabelnya. Mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan wanita itu.
***
19.00
Sekali lagi, pria tersebut memutar ulang tayangan video kejadian sore itu. Sorot matanya menyala geram menatap penuh kebencian wanita yang menarik kerudung gadis di depannya. Dia mematikan videonya.
Melangkah keluar dari mobilnya yang diparkir di bawah naungan pohon agar tidak tersorot cahaya lampu. Langkahnya mantap menuju gedung dengan penampilan cantik dan elegan berneon sign warna pink stabillo, The Ritz. Gedung 3 lantai dengan 2 lantai digunakan sebagai tempat usaha dan lantai teratas digunakan sebagai hunian pemiliknya.
Dia membuka pintu kaca dengan handle kepala Medusa. Serbuan udara dingin dan aroma lilac menyerang hidungnya. Seorang resepsionis cantik mengangguk ramah padanya.
“Teh Rita ada?”
Gadis itu mengangguk ramah. Pria itu sudah beberapa kali berkunjung menemui Ibu Rita dan selalu mendapatkan akses spesial untuk langsung menemui Ibu Rita di lantai atas.
“Ibu sepertinya ada di lantai atas. Semenjak sore tadi dia tidak turun kemari.”
Pria tadi mengangguk. Langkahnya ringan meninggalkan si gadis resepsionis di posnya. Dia menaiki tangga dengan hati-hati agar langkahnya teredam dengan baik oleh karpet yang membungkus anak tangga. Dia mendorong pintu kaca. Berdiri menyender kusen pintu, memperhatikan wanita yang ada di video tengah hilir mudik merapikan bantal-bantal di sofa.
Wanita itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna kuning telur rebus. Cocok dangan kulitnya yang berwarna putih dan rambutnya yang berwarna madu. Cantik seperti biasa. Tapi pria itu tidak terpana lagi dengan kecantikannya seperti yang lalu-lalu.
“Hai,” pria itu menyapa sambil tersenyum.
Wanita itu terlonjak kaget, “Kamu. Ngagetin banget sih?”
Pria itu mendekati si wanita. Berdiri di hadapannya.
“Kamu kenapa ke sini? Suami Teteh sedang otw pulang loh. Masih di pesawat sih..” tangannya menyentuh dada kemeja pria itu. Mempermainkan kancingnya.
“Kamu kangen Teteh? Mau main quicky?” matanya mengerling nakal.
Si Pria tidak menjawab. Tangannya terulur pada rambut si wanita. Rambut berwarna coklat madu yang dulu begitu dipujanya. Tangannya dililit-lilitkannya pada rambut panjang yang mengikal di ujung-ujungnya.
Membuat gerakan melingkar besar pada rambutnya. Semakin banyak rambut yang menggulung di tangan si pria. Sekuat tenaga, disentaknya rambut coklat madu itu. Jerit wanita melengking. Kepalanya tengadah. Sudut matanya berair karena rasa sakit pada kulit kepalanya.
Pria itu membelai rahang cantik wanita itu dengan ibu jarinya.
“Bagaimana rasanya?” tanyanya.
“Kamu ingin bermain kasar? Bukan begini caranya,” wanita tadi berbicara pelan menahan perih pada kulit kepala yang terasa panas.
Pria itu melonggarkan tarikannya. Lalu menyentaknya lagi kuat. Wanita itu menjerit tertahan.
“Bagaimana? Teteh suka?” pria itu terkekeh.
Dia melonggarkan tarikannya. Menyentakkannya lagi berkali-kali hingga tangannya terasa capek.
PLAKK. Telapak tangan si pria menyentuh pipi mulus wanita itu. Dia menjerit.
Pria itu mendekatkan mulutnya ke telinga si Wanita, berdesis mengerikan, “Jangan pernah menyebutku gila!”
Rambut si Wanita ditariknya lagi, “Ini supaya kamu merasakan sakitnya rambut dijambak, seperti yang kamu lakukan sore tadi!”
Si Wanita merasakan ketakutan yang sangat. Pria yang dikenalnya sebagai pria yang polos, lugu dan manis berubah menjadi pria yang dingin dan kejam.
PLAKK. Telapak tangan pria itu mendarat lagi di pipi si Wanita. Air mata membasahi kedua pipinya. Kedua pipinya terasa panas.
“Dan ini, karena kamu sudah menghancurkan hubungan kami!” DUGG pria itu meninju perut si Wanita.
Tubuh si Wanita merosot jatuh. Meringkuk seperti bola sambil memegangi perutnya. Beberapa kali dia terbatuk.
Pria tersebut berdiri menjulang di depan si Wanita. Dengan ujung sepatunya, didengakkannya rahang si Wanita agar mereka bisa saling bertatapan, “Ingat, jangan sampai kamu menyentuh gadisku lagi. Atau kamu akan berakhir tragis.”
Pria itu menuruni tangga sambil bersiul. Di lantai 2 berpapasan dengan pegawai salon, keduanya saling menganggukkan kepala. Di teras, pria tadi berdiri dengan kaki terbuka dan melipat tangannya di dada. Menunggu.
Sebuah Pajero warna hitam memasuki pelataran parkir. Pria tersebut berjalan ke arah mobil tersebut. Seorang pria berkulit kuning dengan perut agak buncit namun berwajah tampan keluar dari dalam mobil.
“Tuan Ferdi Gunaldi?” tanya pria itu yang dibalas dengan anggukan.
“Jaga istri Tuan dengan baik. Jangan sampai dia menjadi terlalu liar mengumbar nafsunya apalagi dengan klien-kliennya. Rencana perkawinan saya dihancurkan oleh istri Tuan. Dan saya sudah berkali-kali meniduri istri Tuan. Saya yakin, bukan dengan saya saja istri Tuan bermain-main. Jaga istri Tuan supaya tidak menjadi ****** murahan.”
Pria itu berlalu tanpa memberi kesempatan kepada Ferdi Gunaldi untuk menjawab. Berjalan menembus remang-remang cahaya menuju mobilnya.
Ferdi Gunaldi tersadar dari ketidaksadarannya. Bergegas dia membuka pintu utama. Sapaan resepsionis tidak ia hiraukan. Dia berlari ke lantai paling atas. Membuka pintu dengan kasar. Menyapu pandangannya pada ruangan yang rapi dan bersih. Lalu melihat istrinya tengah meringkuk di lantai.
Menggunakan telapak sepatunya, dia mendorong pelan bahu istrinya. Istrinya terlonjak kaget. Menatap cemas pada wajah suaminya yang tampak dingin balas menatapnya.
“Ada apa ini?” tanya Ferdi. Si Istri berusaha bangun tetapi ia hanya mampu untuk duduk di atas lantai.
“Siapa pria muda tadi?” si Istri menundukkan padangannya.
“Jawab kalau aku tanya!!” tangannya mencengkeram rambut istrinya.
“Cukup. Cukup Fer! Rambutku sudah habis dijambak oleh pria tadi. Jangan sentuh rambutku lagi. Sakit!” suara istrinya melengking di akhir kalimat.
“Uuuh, chayank.. kamu dibuat kesakitan oleh pria itu? Bagaimana rasanya?”
Istrinya tidak menjawab. Tangannya sibuk memijat-mijat kulit kepalanya.
“Apa yang membuatnya mengamuk padamu?”
“Aku menyentuh gadis yang dicintainya. Sore tadi. Videonya viral. Sial*n! Brengs*k banget ada yang merekam kejadian tadi!” tangan si Istri menggenggam marah.
“Nanti akan aku lihat videonya. Sekarang ceritakan padaku semuanya. Kita sudah sepakat untuk saling jujur kan?” Ferdi tersenyum tampan pada istrinya. Istrinya mengangguk lemah.
“Dia mantan klien, baju pengantin. Keluarga Anggoro.”
“Anggoro Putro?” istrinya mengangguk.
“Whoa… you got a big fish_kamu menangkap ikan yang besar_!”
“Dulu.. tapi batal. Mereka tidak membayar sepeserpun baju yang sudah aku buat.”
“Why_Kenapa_?”
“Gadisnya membatalkan pertunangan mereka karena memergoki aku dan dia di ruang fitting.”
“What_Apa_?? It’s so funny_Lucu banget_!” Ferdi terkekeh, ‘Why?”
“Ayolah Fer, kita sudah sepakat untuk tidak mengganggu kesenangan kita masing-masing. Aku suka para pria muda yang lugu dan polos. They need to traine_Mereka butuh dilatih_. And I’m their trainer_Dan akulah pelatihnya_. I was born to be their trainer_Aku dilahirkan untuk menjadi pelatih mereka_.”
Ferdi mengangguk-angguk sambil terkekeh.
“Keluarganya menyita DVR CCTV yang ada di area butik.”
Ferdi makin tergelak, “How stupid are you_Bodoh banget kamu_! Meninggalkan barang bukti penting.”
“Kamu sering menidurinya?”
“He is the best that I got_Dia yang terbaik yang pernah aku miliki_. His social background_Latar belakang sosialnya_, make him more s*xy_membuatnya semakin s*ksi_!”
Keduanya terkekeh bersama.
Ferdi melangkahkan kakinya menuju pantry. Membuka lemari pendingin lalu mengambil minuman alkohol dalam kaleng. Menenggak isinya sambil berjalan mendekati istrinya. Menawarkan minumannya pada si Istri. Si Istri ikut menenggaknya. Buih putih minuman berleleran di dagunya. Dia mengelapnya dengan punggung tangan.
“Bagaimana dengan mu?” si Istri tengadah menatap suaminya yang berdiri di depannya sementara dia masih bersimpuh di atas lantai, “3 bulan tidak pulang, petualanganmu pasti luar biasa.”
Ferdi mengangguk. Matanya menerawang sambil tersenyum tampan, sangat tampan.
“3 bulan selalu ada barang baru yang datang setiap minggunya. Untuk di-fit & proper test.”
Dia terbahak. Si Istri tersenyum. Dia tahu, barang baru berarti gadis baru. Fit & Proper Test berarti mencicipi gadis baru itu sebelum dijual.
Bisnis hitam suaminya sebagai pengusaha dunia malam di Batam. Dia sendiri mempunyai bisnis hitam prostitusi online yang serba rahasia dan pelanggan eksklusif. Menyediakan layanan gadis ataupun pria muda.
Ferdi menatapnya dengan tatapan memuja.
“Aku kangen padamu,” dia membuka ikat pinggangnya. Logo Giorgio Armani terlihat jelas pada gespernya. Ferdi menggulung ikat pinggangnya pada satu tangannya. Dengan dagunya dia meminta istrinya untuk membuka dressnya.
“Ayolah, Fer.. jangan malam ini. Tubuhku sudah tidak karuan sekali rasanya oleh pemuda tadi.”
“No..no..no.. Istriku sayang yang cantik ini harus mendapat hukuman dariku. Sebenarnya aku sudah melihat videomu dengan gadis berkerudung itu sebelum aku naik pesawat tadi. Kamu harus dihukum, Sayang. Karena kamu sudah membuat keributan. Sesuatu yang diharamkan dalam hubungan simbiosis mutualisme kita. Orang-orang akan melihat kita dengan lebih dekat, Sayang. No way_Tidak boleh_!”
“Fer..” Istrinya memandang dengan tatapan memohon.
“Kamu sudah mendapatkan f*replay dari pemuda tadi kan? Sekarang aku tinggal melanjutkannya saja,” tangannya bergerak membuka risleting pada punggung gaun istrinya, ada tato bunga matahari kecil pada punggungnya. Dia mengelus perlahan tato istrinya.”You are my sunshine_Kamu adalah cahaya matahariku_. I promise, no blood at all_Janji, gak bakal ada darah sama sekal_i. Kamu pasti bakal menyukainya, seperti biasa…_”
Suara cambukan disertai jeritan terdengar memenuhi ruangan sunyi itu yang dilindungi dengan pintu dan jendela kedap suara.
***
Catatan Kecil:
DVR CCTV adalah pusat pengolahan data dari keseluruhan perangkat CCTV, berbentuk box pipih dan disimpan di tempat tersembunyi, hanya bisa diakses oleh orang tertentu.