CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 61 – PERSIAPAN PENGAJIAN



Gawai Adisti berdering. Panggilan masuk dari Agung.


“Assalamu’alaikum, Kak.” Jeda.


“Iya itu dari handphone Abang. Ada yang berusaha menelikung dengan menggoda Abang. Untung Abang Bramasta merekam semuanya. Ayah dan Bunda tidak kenal perempuan tersebut. Kakak kenal gak?” Jeda sebentar.


“Ini lagi diselidiki oleh para pengawal. Abang Bramasta sudah balik ke kantor, baru saja.” Jeda.


“Situasi sudah terkendali kok. Ayah dan kerabat rencananya akan rapat ba’da Jum’atan nanti. Sekarang sedang makan siang semua. Kakak udah makan?” Jeda.


“Perempuan itu masih diinterogasi oleh para pengawalnya Abang. Nanti lebih jelasnya Kakak tanya ke Ayah saja sepulang kantor. Kakak di kantor sampai sore?” Jeda


“Alhamdulillah kalau ba’da Jum’atan Kakak bisa pulang. Supaya bisa ikut rapat nantinya. Gak ada Kakak saat seperti ini, Disti kasihan ke Ayah. Harus menangani semuanya sendirian..” Jeda.


“OK. Sampai nanti ya Kak. Jangan mampir-mampir nanti saat pulang.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam.”


Sepasang suami istri menghadap Ayah dan Bunda di ruangan tengah yang dipakai untuk rapat keluarga bersama para kerabat dekat. Mereka sedang menonton bersama video yang dibuat Bramasta tadi dengan menghubungkan gawai Ayah dengan TV.


“Kang Gumilar, hapunten pisan. Duh, kami jadi merasa tidak enak dengan kejadian tadi..” kata Sang Suami.


“Aya naon_Ada apa_, Sep?” tanya Ayah pada sepupunya, Yosep yang tinggal di Cianjur.


“Si Irma eta tatanggi abdi. Putrana Pa Lurah. Sanes dulur urang_Si Irma itu tetangga saya. Anaknya Pak Lurah. Bukan saudara kita_.”


“Naha atuh anjeuna ngiring kadieu_Kenapa kok dia bisa ikut ke sini_?” tanya Bunda.


“Tah eta, Teh. Abdi ge teu nyangka anjeunna nekat ngiring kadieu. Da teu samobil. Manehna nyandak mobil nyalira_Nah itu Teh. Saya juga gak nyangka dia nekat ikut ke sini. Karena gak semobil. Dia bawa mobil sendiri_,” istri dari Yosep tertunduk, “Sewaktu kejadian tadi, saya dan A Yosep sedang belanja jeruk untuk pengajian nanti. Begitu kami sampai tadi langsung dapat cerita dari A Dharma. Setelah kami cek ke rumah tetangga yang jadi tempat interogasi, rupanya si Irma.”


“Eulueh…” Ayah mengelus dada.


“Si Irma dengar dari Santi, anak sulung saya, tentang undangan Adisti-Bramasta dari Kang Gumilar, terus dia maksa ingin ikut. Sudah dibilangin acara ini hanya untuk keluarga tapi dianya keukeuh. Katanya dia penggemar berat Bramasta. Anak-anak kami saja tidak ada yang ikut karena Santi baru melahirkan dan Dela ada acara di sekolahnya. Kami tidak tahu dia nekat kemari dengan kendaraan sendiri. Kami tidak menyangka bakal ada insiden seperti ini.”


Para kerabat yang lain geleng-geleng kepala, “Teu boga kaera nyaa_Gak punya malu ya_.”


“Geulis-geulis tapi kandel kulit beungeut_Cantik-cantik tapi muka tebal_.”


“Geulis tapi gelo kos nu teu boga adab_Cantik tapi gak punya adab seperti orang gila_.”


“Memangnya dia janda?” tanya Bunda.


“Muhun Teh. Baru 2 bulan jadi janda. Menikah 3 tahun tapi suaminya gak tahan dengan tingkah lakunya yang kedul pisan_pemalas banget_ tapi hobinya minta duit melulu buat beli baju, aksesoris juga makan di restoran,” kata istri Yosep.


“Subhanallah..”


“Jadi si Irma ke sini atas inisiatifnya sendiri, tidak ada yang menyuruhnya untuk datang atau dibayar orang untuk membuat kerusuhan di sini?” tanya Ayah.


Asep mengangguk, “Muhun Kang.”


“Ya sudah. Tolong panggilkan salah satu pengawal ke sini.”


Insiden Irma membuat para kerabat yang membawa saudara-saudaranya demi menyaksikan pasangan yang tengah viral menjadi sadar diri. Mereka memulangkan saudara-saudara dan keluarga mereka yang tidak termasuk keluarga inti.


Para kerabat dekat setuju. Karena ini untuk kebaikan bersama. Jangan sampai acara penting dan sakral dinodai dengan tragedi karena kelalaian manusia.


Para kerabat wanita tampak memisahkan diri ke ruang makan. Mereka mempersiapkan kue-kue yang disajikan di piring untuk acara pengajian sore nanti ba’da Ashar. Kue dalam box dan nasi box baru saja datang dari toko bakery dan jasa catering yang dipesan.


Sementara kerabat pria membantu mempersiapkan sound system dan mikrofon yang akan dipakai. Beberapa membantu menggelar karpet di carport dan tenda. Dan sepupu perempuan Adisti berkumpul di kamar yang dipakai Adisti untuk mempersiapkan souvenir pengajian. Beberapa tetangga ikut membantu mempersiapkan semuanya.


“Assalamu’alaikum,” salam Agung bertepatan dengan Adzan Ashar.


Agung menyalimi kerabat-kerabat yang sepuh dan menyalami sepupu-sepupunya yang berkumpul di teras. Bunda menghampiri Agung, Agung langsung menyalimi Bunda.


“Alhamdulillah Kakak bisa pulang lebih awal. Bunda kasihan ke Ayah. Harus menangani ini sendirian. Ditambah lagi dengan insiden yang membuat Bramasta marah tadi sampai-sampai membatalkan makan siang di sini,” Bunda berkata sambil memeluk Agung.


Agung mengelus-ngelus pundak Bunda, “Jangan khawatir Bun.. Abang Bramasta sudah bertindak tepat dengan merekam semua percakapannya dengan wanita itu.”


Bunda menyusut air mata yang menggenang di sudut matanya, “Bunda khawatir Nak Bramasta akan menilai buruk keluarga besar kita, Kak.”


“Bunda jangan berpikir terlalu jauh seperti itu. Kakak yakin Abang Bramasta bukan orang yang seperti itu. Abang sudah merasa wanita itu bukan kerabat kita tapi penyusup. Sudah ya.. Bunda jangan khawatir ya. Ayah mana?”


“Ayah sudah berangkat ke masjid.”


“Ya sudah Kakak menyusul Ayah ya Bun. Tolong simpankan tas Kakak di kamar Bunda saja dulu. Assalamu’alaikum,” Agung menyerahkan tas ranselnya kepada Bunda. Lalu bergegas ke masjid.


“Eh, beurat geuning!” kata Bunda sambil menggelengkan kepalanya, “Si Kakak mah…”


Bunda mengetuk kamar Adisti, “Dek..” Bunda membuka pintu kamar.


“Eh, lagi sholat..” Bunda melihat baju dan kerudung yang akan dikenakan Adisti saat acara pengajian nanti sudah dipersiapkan dengan baik. Tergantung rapi di dekat meja rias.


Tumpukan goodybag yang berisi souvenir juga sudah tersusun rapi di dekat tempat tidur Adisti. Bunda membuka salah satu goodybag untuk mengecek isinya. Ada pashmina dan juga sajadah yang digulung dalam plastik mika bening terpisah. Dihias cantik dengan bunga artifisial di atas tutupnya. Parfum syar’i non alhohol, tasbih elektronik dan buku dzikir pagi dan petang dengan nama Adisti dan Bramasta pada sampulnya dikemas dalam satu plastik mika.


Bunda tersenyum haru saat mengelus bordiran pada tas goodybag yang terbuat dari kain blacu berwarna krem. Bordiran dengan benang berwarna ungu tua sama dengan warna tali pegangan tasnya. Tertulis Adisti dan Bramasta. Baru tadi pagi tas goodybag datang sementara isinya sudah datang sejak kemarin. Orang-orang Bramasta dari B Group yang mempersiapkan semuanya. Bunda mengucap hamdalah, mensyukuri atas semua kemudahan yang Allah berikan kepada keluarganya.


“Bunda?” tanya Adisti, “Ada apa?”


“Nggak kenapa-napa, Dek. Bunda bahagia dan terharu Adek diberi kemudahan setelah melalui beragam kesukaran.”


“Alhamdulillaah..” Adisti melepas mukenanya, “Adek jadi pengen nangis nih Bun.”


“Nggak.. jangan nangis. Calon pengantin jangan nangis, nanti mukanya bengep.”


“Kata Kakak, Abang Bramasta mungkin jatuh cinta ke Adek karena wajah Adek yang bengep setelah jatuh di jurang.”


“Isssh si Kakak..” Bunda tidak jadi melow karena perkataan Adisti malah sekarang Bunda terkekeh, “Udah ah, Bunda mau sholat terus siap-siap. Kamu juga Dek..”


***


Yang wajahnya bengep tapi tetap cantik, ayo acungkan jarinya..


Jangan lupa tinggalkan jejak: like, komentar, vote, penilaian bintang ataupun hadiahnya 😁


Love you, Readers 🌷🌷🌷