CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 179 – ROMBONGAN PEMBEZUK DARI SEKOLAH



“Bisa jadi itu hanya sekedar mimpi, Bro..”


Indra menggeleng.


“I'm not sure, Bro. It seems very real for me...” Indra mengangkat kedua bahunya.


“Calm down, Bro. Kita lihat nanti. Kalau mimpi itu masih berlanjut, bisa jadi itu sebagai petunjuk buat Lu.”


Indra mengangguk mengiyakan.


“Kita ke kamar yuk. Nge-teh. Tadi gue udah ngopi di taman bareng Dinda..”


“Ciyeeee,” Indra menepuk lengan Agung, “Udah gak jadi kanebo kering, sekarang?”


“Issh.. Adinda juga ngomong begitu pagi tadi...” Agung mengernyit sambil mengelus bekas keplakan Indra.


Indra tergelak lalu mulai beranjak menuju ruangan Agung.


Bunda dan Ayah menjawab salam Agung dan Indra. Agung langsung menuju pantry. Merebus air panas untuk membut teh dengan menggunakan teko listrik.


“Dinda sedang apa, Bun?” tanya Agung saat melihat tirai bednya tertutup.


“Gak tahu.. belajar mungkin. Gak kedengaran suaranya. Tapi sesekali terdengar suara dia tertawa,” kata Bunda sambil mengiris marble cake untuk disuguhkan pada Indra yang sedang mengobrol dengan Ayah.


“Dinda.. sedang apa?” tanya Agung dari pantry.


“Eh, Om Agung.. ada Bang Indra juga..” Adinda memunculkan wajahnya dari balik tirai.


“Bang Indra gak ngantor?” tanya Adinda.


“Nanti sebentar lagi. Tadi Abang ada perlu dengan Om kamu..” Indra menekankan kata Om Kamu yang membuat Agung berdecak kesal.


“Kabar baik untuk kita semua, besok Kakak dan Dinda sudah diperbolehkan pulang,” kata Agung kepada semuanya sambil tersenyum lebar.


“Alhamdulillah..” kata Indra, “Disti sudah tahu?”


Agung menggeleng, “Belum ada yang tahu kabar ini.”


“Alhamdulillah.. Bunda juga sudah ingin cepat pulang. Kangen rumah. Kebun gak ada yang urus..”


“Nanti Ayah bantuin, Bun,,” Ayah terkekeh.


“Dinda juga nanti bakal bantuin Bunda. Tenang saja, Bun. Ajari Dinda untuk berkebun juga ya Bun.." kata Adinda sambil merangkul Bunda.


"Dulu, yang sering merangkul Bunda seperti itu si Kakak.. sekarang malah calon istri Kakak yang ngerangkulin Bunda,”Ayah masih terkekeh.


“Ciyeee yang sudah diakui,” indra mengambil seiris Marble Cake.



“Belum resmi, Bro.”


”Terus kapan mau diresmiinnya? Ngomong aja, nanti gue bakal bantu kok.”


“Thanks a lot Bro.. tapi setelah Adinda tadi bicara, gue baru nyadar. Ini bakal jadi acara khitbah teraneh..”


“Aneh bagaimana, Kak?”


Agung memandang ke arah Adinda sejenak. Adinda hanya tersenyum simpul.


“Adinda yatim piatu, tinggal di rumah Ayah dan Bunda. Sementara Ayah dan Bunda itu orangtuanya Kakak, siapa yang akan mewakili Adinda untuk menerima khitbah dari Kakak?”


Ayah dan Bunda saling berpandangan.


“Gampang itu sih.. Adinda kan sudah diangkat anak oleh Papi dan Mami juga oleh Om dan Tante Al,” Indra mengambil irisan marble cake-nya yang kedua.


“Tapi kan mereka baru mengenal Dinda beberapa hari yang lalu..” tukas Agung.


“Saya ingin, orang yang mewakili saya sebagai keluarga adalah orang-orang yang mengenal Papa dengan baik, mengenal saya dari saya kecil..” Adinda menundukkan kepalanya.


Ayah mengangguk-angguk mengerti.


“Baiklah, nanti Ayah akan hubungi Pak RT dan para tetangga Dinda sebagai keluarga Dinda. Setuju?” tanya Ayah sambil memandang semuanya.


‘Memangnya acara khitbahnya kapan, Yah?” tanya Indra.


Ayah menunjuk pada Agung yang sedang cengegesan memandangi Adinda, “Tuh tanyakan saja pada yang punya acara.”


“Eh, apa Bro?” Agung gelagapan.


“Isssh dasar ya. Belum apa-apa sudah mulai alay...” Indra mencibir.


“Gue cuma alay tapi kagak bucin,” Agung langsung memberi alasan pada Indra.


“Ya..ya..ya.. nanti semua akan bucin pada waktunya..” Indra menatap Agung dan Adinda bergantian.


Ayah dan Bunda tertawa melihat kelakuan duo petakilan.


“Jadi kapan?”


“Hari terakhir Adinda ujian akhir kelulusan.”


Adinda membulatkan matanya dan menutup mulutnya yang membentuk O dengan telapak tangannya.


“Loh, Dinda baru tahu?” Indra menatap keheranan pada Adinda.


Adinda mengangguk lalu menatap Agung.


“Om serius? Berarti setelah siangnya saya ujian, malamnya Om mengkhitbah saya?”


“Iya. Kenapa? Keberatan? Sebenarnya saya malah inginnya malam ini juga saya mengkhitbah kamu.”


“Setdah!” Indra menggelengkan kepalanya, “Gaskeun, Gung!”


Ayah dan Bunda menggelengkan kepalanya. Bunda akhirnya menepak lengan atas Agung.


***


“Adinda tidak usah memikirkan tentang ujian prakteknya ya. Nanti kalau memungkinkan, tubuhnya sudah fit, akan ada ujian susulan,” kata Bapak Kepala Sekolah.


“Terimakasih banyak Pak..” Adinda mengangguk sambil tersenyum malu.


“Kalau memang belum pulih benar juga tidak usah memaksakan diri ya Din,” Ibu Walikelas menatap Adinda dengan rasa sayang, “Selama ini Adinda selalu berada di tiga besar. Nilai-nilai Adinda sudah cukup kok untuk lulus.”


“Untung saja mulai tahun ini kelulusan siswa ditetapkn oleh pihak sekolah ya dari hasil akumulasi nilai sejak kelas 16 atau kelas 1,” kata Ayah yang mendapat anggukan dari semuanya.


“Beruntung sekali ya Adinda diasuh oleh Keluarga Pak Gumilar. Mereka dikenal sebagai keluarga yang luar biasa..” kata Bapak Ketua Yayasan.


“Ah, kami hanya orang-orang biasa saja kok..” sahut Ayah tidak enak hati memandang Adinda.


Adinda hanya tersenyum simpul sambil menundukkan kepalanya.


Dari sofa L, Agung mengakhiri meetingnya lalu menatap ke arah bed Adinda. Dia berjalan sambil memasukkan gawainya ke dalam saku celana.


“Wah.. suatu kehormatan sekali ada Nak Agung bisa bergabung dengan kami. Bagaimana dengan luka bekas tembakannya?” tanya Kepala Sekolah.


“Alhamdulillah, saya bisa pulih dengan cepat dan peluru tidak mengenai organ vital dari tubuh saya,” Agung tersenyum.


“Itu sebabnya Pak Agung sudah ngantor lagi ya Pak, meskipun WFH,”kata Ibu Guru Walikelas.


“Iya Bu Guru. Saya gak tega meninggalkan pekerjaan dan team saya.”


“Tapi kan Nak Agung enak.. tidak pelu bekerja terlalu keras karena Nak Agung adalah kakak iparnya Bramasta, pewaris dari Sanjaya Group,” Bapak Ketua Yayasan terkekeh.


Agung menatap Bapak Ketua Yayasan tanpa senyum. Ucapannya terdengar meremehkan.


“Masuk ke Sanjaya Group bukan hal mudah, Pak. Mereka tidak mengenal sistem orang titipan yang harus diterima dan menduduki posisi tertentu. Tidak ada nepotisme di sana. Begitu juga di B Group,” Agung tersenyum kaku, “Kami bekerja secara profesional.”


Semua memandang Bapak Ketua Yayasan. Lalu Bapak Kepala Sekolah dan Ibu Guru Walikelas memandang Agung dengan tatapan meminta maaf.


Ayah berdehem.


“Om Agung..” Adinda menatap cemas.


Agung mengangguk pada Adinda lalu tersenyum menenangkannya.


"Alhamdulillah mulai besok, mereka berdua sudah diijinkan untuk pulang oleh dokter,” Ayah mengalihkan pembicaraan.


Semuanya memandang kepada Ayah sekarang.


“Wah.. syukurlah. Semoga nanti Adinda menjadi lebih cepat pulih ya,” kata Ibu Guru.


Adinda mengangguk sambil tersenyum. Bunda yang ada di samping Adinda mengelus punggungnya lembut.


“Nanti Adinda tinggal di rumah Pak Gumilar?” tanya Bapak Kepala Sekolah.


Ayah mengangguk.


“Sejak saya dan istri mengenal Adinda, Adinda sudah kami anggap sebagai anak sendiri. Adisti juga langsung akrab dan menganggapnya sebagai adiknya.”


“Lalu Pak Agung menganggap Adinda sebagai apa?” tanya Ibu Guru sambil tersenyum.


“Sebagai calon istri. Setelah ujian tertulis berakhir, rencananya saya akan segera mengkhitbahnya, Bu Guru. Supaya saya bisa menjaganya dengan lebih baik."


"Masyaa Allah.. begitu lebih baik. Tapi nanti Adinda meneruskan kuliah kan?” tanya Ibu Guru lagi.


“Insyaa Allah. Adinda harus kuliah. Seperti yang almarhum Papanya inginkan,” kata Agung sambil tersenyum.


“Ayo diminum dulu tehnya, Bapak-bapak dan Ibu Guru..” suara Bunda dari dapur terdengar.


***


20 menit setelah tamu pulang, pintu kamar terdengar di ketuk. Ayah sudah berangkat mengajar. Sedangkan Agung ada di bawah, meeting di kedai kopi bawah.


Bunda membukakan pintu sambil menjawab salam.


“Wa’alaikumussalam..” Bunda menatap heran pada anak muda di hadapannya yang memakai sweater putih dan bercelana seragam abu-abu.


“Ma’af Bu.. ini kamarnya Adinda Amelia?” tanya anak muda itu.


Bunda mengangguk. Menatap ingin tahu pada wajah tampan di hadapannya.


“Adik ini siapa ya?” tanya Bunda.


“Saya teman Adinda. Teman satu sekolah. Boleh saya bertemu dengan Adinda, Bu? Saya janji tidak akan lama..” Anak Tampan itu menangkupkan telapak tangannya di dada.


Bunda menggeser tubuhnya, mempersilahkan Anak Tampan itu masuk.


“Nama Adik siapa?” tanya Bunda.


“Saya Ivan,” jawabnya sambil tersenyum.


“Baik.. tunggu sebentar ya. Ibu lihat dulu Adinda sedang apa..”


Bunda mempersilahkan Ivan untuk menunggu di sofa bed. Tirai bed Adinda tidak tertutup rapat. Terlihat Adinda tengah serius menekuri laptopnya dengan headset terpasang di kedua telinganya.


“Dinda.. ada temannya yang mau jenguk..” kata Bunda sambil membuka tirai.


Adinda yang tengah asyik belajar mendongak menatap Bunda sambil melepas headsetnya.


“Ya Bun? Ada apa?” tanyanya.


“Ada teman Dinda. Rapikan kerudungnya..”


Adinda mengernyit. Dia memandang punggung yang ditutupi sweater putih.


“Kemari saja, Nak. Adinda masih belum bisa banyak bergerak,” kata Bunda.


Adinda membelalakkan matanya saat melihat wajah teman yang menjenguknya.


“Kamu? Darimana kamu tahu saya dirawat di rumah sakit ini?”


“Saya dengar paman saya hendak menjenguk kamu tadi bersama Kepsek dan Ibu Guru. Saya ikuti mereka,” Ivan tersenyum dengan wajah tengil dan bangga dengan perbuatannya.


Dia membuka tas slempangnya. Lalu mengeluarkan buket bunga mawar pink dan baby breath sederhana.


“Buat kamu, Din. Ma’afkan semua kesalahan saya dan teman-teman saya yang sudah menyakiti kamu. Mohon terima bunga dari saya ya..” Ivan mendekat sambil menyodorkan bunganya pada Adinda.


Bunda yang tidak paham mengernyit. Merasa janggal dengan kalimat Ivan.


Adinda hanya terdiam menatap buket bunga yang disodorkan padanya.


“Tolong maafkan saya, Din. Tapi perasaan saya ke kamu masih tetap sama. Saya akan menunggu kamu sampai kapanpun itu..” Ivan berdiri dengan tegak.


Adinda menatap nanar pada sosok yang baru datang dan berjalan tegap ke arah bed-nya.


“Kamu tidak perlu menunggu Adinda. Jangan dekati Adinda lagi karena teman-teman kamu dan perempuan-perempuan kamu akan mengganggu dan bahkan melukai Adinda lagi.”


Ivan menoleh. Begitu juga Bunda yang menatap dengan wajah melongo.


Agung menyentuh bahu Adinda sambil memandang lurus mata Ivan.


“Adinda calon istri saya. Kamu tidak perlu menunggunya lagi sampai kapanpun.”


.


***


Ivan dimunculin di marih.


Babang Agung jadi unjuk gigi.


Selamat Idul Fitri ya Readers semua.


Mohon ma'af lahir dan batin.