CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 180 - TINDAKAN BUNDA



Ivan menatap tidak percaya pada Agung dan Adinda. Bibirnya tersenyum miring merendahkan.


Dia tertawa kecil.


“Din? Lu ciyus? Gak salah Lu?”


Adinda memicingkan matanya. Agung menatap Ivan tanpa berkata apapun. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikeluarkan oleh mulut anak muda itu.


“Yang gue tahu, Lu murid cewek cerdas di sekolah. Gue sudah lihat nilai-nilai Lu semuanya dari meja paman Gue..”


“Terus?” Adinda menatap tidak suka pada Ivan.


“Cewek cerdas itu dimana-mana mikirin pendidikannya. Kuliah. Nah Lu, baru lulus nanti langsung mau main rumah-rumahan dengan om-om ini...” Ivan tertawa mencemooh.


Agung mengetatkan rahangnya. Dia mencengkeram head bed yang ada di belakang Adinda dengan erat.


“Memangnya kenapa? Kenapa kalau Adinda menjadi istri saya?”


Ivan terkekeh pelan.


“Om, gak pantes aja lihatnya. Ya walaupun tampang Om gak seperti om-om pada umumnya tapi tetap saja gak pantas. Adinda terlalu belia untuk menjadi istri Om,” Ivan menyeringai.


"Jadi, menurut kamu, Adinda lebih pantas dengan kamu?” Agung menegakkan punggungnya.


Ivan mengangguk yakin.


Agung mengangkat sebelah alisnya.


“Kamu yakin?”


“Tentu saja, Om. Kami sepantaran,” Ivan tersenyum bangga.


“Karena sepantaran lalu kamu merasa lebih baik dari saya?”


Ivan mengangguk lagi disertai dengan kekehannya.


“Agama kamu apa?” tanya Agung.


“Saya Islam, Om. Sama dengan Adinda. Kami seiman dan seamin kan?”


Agung terkekeh mendengar kalimat terakhir Ivan, “ Seiman dan seamin.. Bahasa novel dan lagu banget..”


Ivan berhenti terkekeh. Matanya menatap Agung nyalang.


“Terus mau Om apa?”


“Jauhi Adinda. Lupakan Adinda. Cari gadis lain saja yang pantas dengan kamu. Kamu itu tidak pantas untuk bersanding dengan gadis baik-baik seperti Adinda.”


Wajah Ivan memerah.


“Saya tahu petualangan asmara kebablasan kamu dengan beberapa perempuan yang dekat dengan kamu. Saya juga tahu kamu dan anak buah kamu itu suka ngumpul sambil minum miras kan? Sambil menonton DVD tidak senonoh dan mungkin juga langsung mempraktekkan apa yang ada pada DVD itu bersama peremuan-perempuan kamu..”


Adinda dan Bunda terkesiap. Adinda menutup mulutnya sambil memandang Ivan dengan mata membulat.


“Ivan.. gak nyangka gue..”


Ivan tergagap.


“Jangan ngarang, Om. Jangan fitnah. Saya bisa menuntut Om dengan tuduhan pencemaran nama baik!”


“Oh ya?? Apa buktinya Siapa saksinya? Orang-orang di ruangan ini tidak akan mau bersaksi untuk kamu. Toh mereka tidak mengenal kamu.”


Ivan terdiam tapi tidak lama kemudian dia terkekeh.


“Om punya bukti apa untuk semua tuduhan Om?”


Adinda dan Bunda menoleh cemas pada Agung. Agung berdehem.


“Tempat ngumpul gank kamu saat hari sekolah itu di warung pojokan sekolah kan? Tapi saat hari libur, kalian memakai pavilyun kosong yang ada di belakang rumah salah satu anggota gank kalian,” Agung menatap Ivan yang tidak bisa berkata-kata, “Pavilyun tempat kamu dan perempuan-perempuan kamu praktek pelajaran Biologi.”


Ivan terlihat kaget.


Adinda terkesiap lagi.


Bunda menngeleng-gelengkan kepala, “Na’audzubillah mindzaalik. Robbihabli minassholihiin..”


“Nggak! KAMU BOHONG!” Ivan menatap Adinda sambil menunjuk pada Agung, “Dia bohong, Din. Jangan percaya!”


“A Agung gak pernah berbohong ke gue. Gue percaya sama A Agung. Dia menjaga gue. Kalau tidak ada A Agung pada waktu itu di gang samping gerai donat, anak buah Lu pasti sudah berhasil melakukan pelecehan kepada gue, alasannya karena gue menolak cinta Lu!”


Adinda menatap Ivan dengan berapi-api.


“Dan gegara gue menolak cinta Lu, para dayang-dayang Lu mukuli gue di kamar mandi sekolah. Main keroyok mereka. Gue jadi curiga, anak buah Lu dan para dayang-dayang Lu melakukan bullying verbal dan fisik ke gue, jangan-jangan karena suruhan Lu?” telunjuk Adinda menuding pada Ivan.


Lutut Ivan gemetar. Begitu juga dengan tangan dan bibirnya.


“Nggak Din.. sumpah! Gue gak pernah menyuruh mereka untuk berbuat seperti itu. Gue gak pernah meminta mereka untuk menyakiti Lu. Karena Gue sayang ke Lu!”


Adinda membuang muka.


Ivan menatap Agung dengan takut-takut.


“Jadi.. Om itu Pak Agung Aksara Gumilar?”


Agung mengangkat sebelah alisnya.


[Setdah ini bocah! Setelah Om sekarang Bapak!]


“Ma’afkan saya Om! Ma’afkan!” Ivan membungkukkan badannya berkali-kali pada Agung.


“Din.. gue gak pernah menyuruh mereka buat melakukan itu semua ke Lu. Itu inisiatif mereka sendiri. Mereka semua sudah gue hukum. Ma’afin gue!”


Adinda menatap lurus ke depan, tidak mau menatap Ivan yang memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


“Din.. please!”


“Lu pulang aja, Van. Gue gak mau ketemu Lu lagi. Bunga dari Lu, bawa aja lagi. Gue masih punya bunga dari A Agung,” Adinda menunjuk bunga Peony pink yang kini mekar sempurna di ujung meja beroda.


“Nak Ivan pulang saja ya. Kehadiran Nak Ivan di sini sudah mengganggu ketenangan Adinda. Adinda sedang pemulihan. Dia butuh suasana tenang,” Bunda menyentuh pelan pundak Ivan.


Ivan mengangguk patuh. Dia membawa kembali buket bunga yang ia letakkan di kaki Adinda.


Lalu membalikkan tubuhnya dengan diantar Bunda menuju pintu. Samar-samar dia mendengar percakapan Adinda dan Agung.


“Are you OK?” tanya Agung sambil meraba dahi Adinda menngecek suhu.


Adinda mengangguk.


“Sore nanti, teman-teman dari kantor Aa yang lama mau datang membezuk. Dinda dampingi lagi ya seperti waktu itu?”


Adinda tersenyum lebar lalu mengangguk.


Agung terkekeh lalu membantu Adinda untuk turun dari bed.


Bunda mengantar Ivan hingga koridor menuju lobby VIP.


“Nak Ivan, kalau Ibu tahu siapa Nak Ivan, Ibu pasti tidak akan mengijinkan Nak Ivan untuk membezuk Adinda.”


Ivan berhenti berjalan lalu menoleh pada Bunda


“Kenapa?”


“Karena Ibu sudah melihat sendiri bagaimana memar-memar pada wajah Adinda akibat pukulan yang dilakukan oleh teman-teman perempuan Nak Ivan. Kamu gak lihat bagaimana Adinda saat itu kan?”


Ivan terdiam. Kepalanya tertunduk.


“Ibu juga sudah melihat apa yang dilakukan oleh teman-teman gank Nak Ivan di gang belakang gerai donat. Bagaimana mereka mengiring Adinda dari toko buku hingga gang belakang itu. Bagaimana mereka melecehkan Adinda dan mempersekusi Adinda. Ibu sudah melihat semuanya tanpa blurring pada wajah pelaku.”


Ivan menatap Bunda dengan wajah yang tidak dapat ditebak. Matanya bergetar menatap Bunda.


“Saya tidak pernah menyuruh mereka melakukan hal sekeji itu kepada Adinda.”


Bunda mengangguk mengerti.


“Saya juga tidak pernah tahu mereka merencanakan hal itu. Semua diluar sepengetahuan saya,” lanjut Ivan lagi.


“Nak Ivan tahu kata solidaritas?” tanya Bunda, “Memang bukan karena perintah Nak Ivan tapi ini akibat dari efek yang timbul setelah Adinda menolak cinta Nak Ivan. Mereka merasa tindakan Adinda sudah menyakiti dan menyingung perasaan Nak Ivan oleh karena itu mereka bermaksud memberi Adinda pelajaran."


"Solidaritas buta, solidaritas yang kebablasan," kata Bunda lagi.


Ivan menerawang, menyerapi kata-kata Bunda.


"Tahu tidak kenapa Adinda menolak cinta Nak Ivan?” tanya Bunda.


“Karena dia sudah punya Om Agung?” Ivan menoleh pada Bunda.


Bunda menggeleng, “Bahkan pada saat itu, Ibu sangat yakin mereka belum pernah bertemu dan belum mengenal satu sama lainnya.”


Ivan terperanjat. Tubuhnya dihadapkan pada Bunda.


“Lalu kenapa?”


“Kata Adinda, hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus menjadi pacar kamu.”


“Seberapa rumit?”


“Kamu tahu kasus penyanderaan Sekretaris Sanjaya Group di Lounge Hotel X?” tanya Bunda.


Ivan mengangguk.


“Apa hubungannya dengan Adinda?”


“Wanita yang tersangkut kasus itu adalah ibu tirinya Adinda. Dan pria lokal yang bersamanya adalah pacar ibu tirinya semenjak ayahnya masih ada.”


Ivan menggeleng masih tidak mengerti.


“Remaja perempuan yang ada semeja dengan mereka seharusnya adalah Adinda yang akan mereka jual kepada orang asing dari kedutaan Jerman.”


Ivan berdiri goyah.


“Adinda diperankan oleh orang lain, karena setelah subuh, Adinda berhasil diselamatkan dari rumahnya sendiri dalam keadaan shock, terluka secara fisik dan mentalnya. Ibu tirinya memukuli, pacarnya berusaha melecehkan Adinda. Beruntung, Anak Ibu dan teman-temannya berhasil menyelamatkan Adinda.”


Pipi Ivan basah oleh air mata.


“Saya.. saya tidak tahu hidup Adinda sebegitu rumit. Di sekolah dia terlihat normal seperti anak lainnya hanya cenderung lebih pendiam,” Ivan menyeka pipinya dengan bahunya.


“Di pagi buta itu juga, Adinda baru mengetahui, kematian ayahnya karena diracun oleh ibu tiri dan pacarnya. Dia yatim piatu sekarang.”


“Ibu.. tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Adinda dan Om Agung. Saya tidak akan mengganggu Adinda lagi. Saya.. saya sadar diri siapa saya. Saya tidak pantas untuk gadis sebaik dan selembut Adinda,” Ivan membungkukkan diri.


Bunda menyentuh pundak Ivan. Menepuk-nepuknya pelan.


“Ibu yakin, Nak Ivan adalah anak yang baik. Berubahlah agar bisa mendapatkan jodoh yang terbaik. Bila berharap mendapat wanita sholeha maka panntaskan diri dulu utuk menjadi sholeh.”


“Saya... b4jingan, Bu. Saya anak breng$*k.”


“Bila Nak Ivan bertobat dan kembali ke jalan yang benar, maka itu semua akan menjadi masa lalu Nak Ivan. Jangan diulangi lagi.”


“Bagaimana caranya, Bu?”


“Ubahlah lingkup pergaulan Nak Ivan. Karena pertemanan itu mempengaruhi perilaku diri kita. Apakah kita bisa mewarnai teman ataukah justru teman yang mewarnai kita. Iya kalau warnanya indah dilihat, kalau tidak?”


Ivan terdiam masih mencerna ucapan Bunda.


“Bertemanlah dengan teman-teman yang membawa aura positif, yang agamanya bagus, yang makanan dan minumannya terjaga dari hal haram, yang perkataannya bukan perkataan yang buruk dan sia-sia."


Ivan mengangguk mengerti.


"Mmm.. bunganya?"


“Berikan saja pada ibumu. Sambil meminta maaf atas perilaku Nak Ivan yang telah mengecewakannya. Dan mintalah do’a pada ibumu kebaikan dunia dan akherat. Karena do’a ibu itu makbul.”


Ivan mengangguk sambil tersenyum. Dia mengambil tangan Bunda lalu mencium punggung tangan Bunda dengan takzim.


“Ibu.. terima kasih banyak. Terima kasih untuk semuanya.”


Bunda mengangguk lalu membelai kepala Ivan yang masih menunduk.


“Bunda do’akan semoga Nak Ivan menjadi pribadi yang lebih baik, sukses dunia akherat.”


“Aamiin,” Ivan menatap Bunda penuh haru dengan mata berembun, “Saya pamit, Bu. Assalamu’alaikum..”


“Wa’alaikumussalam..” Bunda menatap Ivan yang berjalan menuju lift yang terbuka.


Ivan melambaikan tangannya pada Bunda sebelum pintu lift tertutup.


Bunda kembali ke ruangan Agung dan Adinda sambil tersenyum. Hatinya lega. Tidak ada dendam dalam hati Ivan terhadap Adinda ataupun Agung.


.


***


Mudah-mudahan Ivan berubah menjadi orang baik ya, Readers, seperti Prasetyo Anggoro.


Maaf late posting.


Lebih dari 1500 kata malam ini untuk Readers.


Bantu Author untuk promosikan novel ini ya.. 🍓