
Bramasta membuat panggilan kepada Daddy sambil menyalakan loud speaker.
“Assalamu’alaikum, Dad. Lagi ngapain?”
“Wa’alaikumussalam. Lagi nemenin Mommy bikin muffin. Mom, topping yang kacang mede banyakin ya. Lagi. 2 sendok lagi. Yang itu punya Daddy ya..” Daddy berbicara dengan Mommy.
“Dad..” kata Bramasta.
“Iya ada apa? Minta dilamarin anak gadis orang?”
“Eh, kok Daddy tau sih?”
“Hah? Tahu apa?”
“Lamarin anak gadis Keluarga Gumilar. Nanti malam ya Dad.”
“Eh, tar dulu. What are you talking, Son_Apa yang kamu omongin, Nak_?"
“I’m telling the truth_Aku ngomong yang sebenarnya_."
“Son_Nak_?"
“Hmm”
“Are you serious_Kamu serius_?"
“Absolutely serious_Benar-benar serius_ . Tadi Bram sudah melamar di depan kedua orangtua dan di depan Adisti juga kakaknya. ”
Terdengar suara kekehan Daddy.
“That’s my son. At least_Itu baru anakku. Akhirnya_...
“Nanti malam, Daddy dan Mommy mengajukan lamaran resmi ya.”
“OK, insyaa Allah. Kita datang bareng ya.”
“Thanks a lot, Dad. Love you both_Terimakasih banyak, Dad. Sayang kalian berdua_ Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Bramasta memutuskan panggilan teleponnya. Memandang Indra di sampingnya yang menatap layar handphonenya dengan gelisah.
“Sebentar lagi, Tante bakalan nelepon nih..” tak berapa lama notifikasi panggilan masuk dari Tante Al, “Tuh kan..”
Bramasta menepuk punggung Indra sambil terkekeh, “Jelasin, Ndra.. jelasin. Ceritain semuanya ke Mommy..”
Indra mengangkat panggilan Mommy sambil berjalan menghampiri Anton.
Menjelang sore, Bramasta pulang ke rumah utama. Saat memasuki rumah, segala kehebohan sudah terdengar dari pintu utama.
Ada beberapa kotak akrilik bening dengan hiasan bunga arifisial dan pita berwarna emas. Berjejer rapi di sepanjang lantai ruang tengah. Beberapa kotak berisi baju dengan kerudung sesuai warna baju. Beberapa kotak berisi sepatu dan sandal. Clutch, tas tangan, tote bag. Kue-kue dan aneka cake dalam box cantik. Kotak berisi kosmetik, perawatan tubuh dan parfum. Ada 2 buah kotak yang menarik perhatian Bramasta. Kotak tertutup berwarna emas dengan hiasan bunga, renda dan pita. Tangan Bramasta menyentuh penutup kotak.
“Hey..NO!” suara Mommy melengking dari lantai dua membuat Bramasta terlonjak kaget.
“Ya Allah.. Mommy. Bram sampai kaget..” Bramasta memegangi dadanya.
“No, kamu gak boleh nyentuh kotak itu.”
“Penasaran, Mom. Tertutup dan beda sendiri..”
“Makanya dibuat tertutup supaya gak kelihatan isinya.”
“Apaan sih isinya?”
Layla yang turun dari tangga langsung menjawil tangan adiknya yang masih berusaha menyentuh kotak itu.
“Gak boleh ya gak boleh. Verboden!” kata Layla.
“Apa Kak isinya?”
“Underwear. Masih mau lihat?” Layla menatap galak.
Bramasta terkekeh, “Nggak deh..”
Bramasta memeluk kakaknya. “Thanks ya udah mau bantuin lamarannya Bram.”
Layla menepuk-nepuk punggung Bramasta, “You’re my the only brother. Everything will I do for you_Kamu satu-satunya adikku. Apapun akan aku lakukan untukmu_."
“Bang Leon mana?” tanya Bramasta.
“Di kamar lagi boboin Eric.”
Mommy menuruni tangga sambil membawa kotak beludru berwarna biru. Ada nama gerai perhiasan berkualitas teremboss pada penutupnya. Salah satu perusahaan Mommy.
“Ini anak bujang satu-satunya bikin heboh banget deh. Ngerjain kita semua buat nyiapin ini. Untung kita dikelilingi orang-orang baik yang mau bantuin kita,” Mommy memeluk Bramasta, “Kamu keren banget sih Bram. Iiiiih anak Mommy ini memang luar biasa. Out of the box banget.”
“We’re so proud of you, _Kami sangat bangga padamu_,Bram," Layla ikut memeluk adiknya.
“Kalian ngomong apaan sih? Memang Indra cerita apa aja?” tanya Bramasta.
“Indra gak banyak cerita. Dia Cuma ngirimin video,” kata Mommy.
“Video? Video apa?” tanya Bramasta.
“Kamu gak tahu ada video tadi siang di site?”
“Hah?? Video apa? Siapa yang buat?”
“Daddy sampai nangis tahu nontonnya..” kata Mommy.
“Terus, Mommy gimana?”
“Mommy nangis kejer,” kata Daddy sambil masuk membawa kaleng pelet makanan ikan.
“Nangis kejer minta disiapin semua barang buat nanti malam. Semuanya harus perfect. Semuanya harus cantik karena calon menantunya cantik luar dalam, begitu katanya.”
Bramasta terkekeh geli.
“Mmmuuuach,” Bramasta mengecup pipi Mommy, “Sayang Mommy..”
“Jadi penasaran dengan calon istrinya Bram,” Layla tersenyum haru melihat kebahagiaan adiknya.
“Udah semua kan barang-barang bawaannya?”
“Belum. Satu lagi belum datang. Kayaknya bentar lagi.”
“Apa?”
“Dari florist, hand bouquet.”
Daddy menatap Bramasta serius, “Son, mau kapan nikahnya?”
“A.S.A.P. (as soon as possible)_sesegera mungkin_ ."
Daddy terkekeh.
Bramasta menuju kamarnya. Selesai mandi lalu membuka gawainya. Mengecek laporan beberapa pekerjaan pada hari ini. Lalu menghubungi Indra, loudspeaker diaktifkan.
“Assalamu’alaikum Ndra. Kata Mommy lu ngirim video. Video apaan?”
“Wa’alaikumussalam.” Indra terkekeh.
“Video lamaran yang paling ajib yang pernah ada.”
“Kerjaan siapa tuh?”
“Siapa lagi kalau bukan Anton?”
“Ndra, lu datang sama Om dan Tante Dhani ya.”
“Kenapa gue harus datang sama orangtua gue? Kan yang mau lamaran lu, bukannya gue..”
“Biar rame, Ndra. Lagian lu kan udah seperti abang gue.”
“Iya.. insyaa Allah.”
“Ajak Anton juga. Video buatannya bikin Mommy nangis kejer tadi siang..”
“Hah??”
“Sampai ketemu di sini ya. Kita berangkat bareng.”
“OK.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Setelah sholat Isya berjamaah, iring-iringan mobil dari rumah utama Keluarga Sanjaya mulai bergerak ke rumah Keluarga Gumilar. Butuh waktu 30 menit perjalanan normal. Ada mobil patwal di depan yang memandu dan membuka jalan. Perjalanan malam itu hanya ditempuh dalam waktu 20 menit.
Penghuni komplek Keluarga Gumilar heboh dengan kedatangan iring-iringan mobil mewah dengan dikawal mobil polisi di depannya. Apakah komplek mereka kedatangan tamu setingkat pejabat tinggi ataukah keluarga sultan? Semakin kasak-kusuk karena iring-iringan mobil berhenti di depan rumah Keluarga Gumilar. Keluarga yang seharusnya mengadakan hajatan besar beberapa hari yang lalu tapi tidak jadi karena pertunangan anaknya dengan anak pengusaha terkenal dibatalkan menjelang hari H. Penyebab pembatalan tidak diketahui pasti dengan mereka. Mereka berspekulasi sendiri.
Keluarga Gumilar tidak memasang tenda. Bramasta sudah memberitahu jumlah orang yang hadir dari pihaknya. Ayah dan Bunda merasa rumah mereka mampu menampung semua tamu. Kursi-kursi sewaan yang dibungkus kain berwarna putih berpita emas memenuhi carport, garasi, teras dan halaman samping rumah. Meja parasmanan tertata rapi di ruang tengah.
Ayah, Bunda dan Agung menunggu di depan gerbang rumah ditemani Pak RT dan tetangga sekitar. Daddy dan Mommy turun terlebih dahulu. Lalu diikuti Layla dan Leon yang menggendong Eric. Kemudian Bramasta bersama Indra dan Anton. Paling akhir adalah pasangan Kusuma Wardhani, orangtua Indra.
Melihat Bramasta dan Indra, serentak orang-orang yang berkumpul meneriakkan nama mereka.
“Ada Bramasta dan Indra di komplek kita..!”
“Bram.. aku padamu!”
“Indra, lihat sini dong..”
“Ih, mimpi apa sih kita, komplek mendadak kedatangan para cogan sultan? Itu siapa sih yang megang kamera? Ganteng juga. Mirip Oppa Korea.. Taehyung versi jangkung. ”
“Itu ada bule ganteng juga gendong bayi.. Iih, imut banget sih..”
Bramasta hanya mengangguk sopan dan sambil tersenyum kepada mereka. Tangannya memegang hand bouquet. Tubuhnya terlihat gagah dengan balutan batik berwarna coklat dan hitam. Langkahnya mantap menghampiri keluarganya yang tengah mengobrol dengan Ayah dan Bunda juga para tetangga.
Bramasta menyalimi Ayah dan Bunda lalu menyalami semua tetangga yang ikut menyambut keluarganya. Ayah dan Bunda mempersilahkan masuk. Acara berlangsung tanpa basa-basi dan kalimat-kalimat yang rumit. Semua berlangsung apa adanya secara kekeluargaan. Gelak tawa lebih sering terdengar dari rumah Keluarga Gumilar.
Saat Bramasta menyerahkan hand bouquetnya kepada Adisti, Bramasta hanya menatap sebentar wajah Adisti. Adisti menunduk malu dengan wajah merona. Gamis dengan lengan balon berwarna peach membuat Adisti semakin cantik. Tangannya masih memakai gendongan yang warnanya senada dengan bajunya.
“Nak Bram kok cuma sebentar menatap calon istrinya?” tanya salah seorang tetangga.
Bramasta tersenyum malu, “Kalau saya lihat kelamaan, khawatir saya nanti maksa minta dinikahkan besok. Masyaa Allah, cantik banget Pak, calon istri saya.”
Semuanya tertawa mendengar jawaban Bramasta. Adisti semakin merona pipinya. Mommy menyerahkan kotak perhiasan kepada Bunda. Bunda membuka kotak tersebut, lalu terkesiap kaget. Ibu-ibu tetangga saling bergumam. Adisti melirik Bunda dengan tatapan bertanya.
“Bu Alwin, apa ini tidak berlebihan?” tanya Bunda.
“Insyaa Allah tidak, Bu. Saya dan suami sudah lama menantikan saat seperti ini. Sudah lama sekali ingin melihat Si Bungsu kami untuk melepas masa lajangnya. Apalagi tadi siang dia melamar Adisti dengan begitu jantan meminta langsung kepada orangtua gadis yang diinginkannya. Sungguh kebanggaan tersendiri bagi kami selaku orangtua Bramasta,” Mommy menepuk-nepuk tangan Bunda, “Kami ingin memberikan yang terbaik bagi gadis pilihan anak kami.”
Mommy memakaikan cincin, gelang dan kalung pada Adisti dibantu Bunda. Tanda pengikat hubungan, antara calon mempelai dan antara 2 keluarga.
“Selain perhiasan, kami juga membawa hantaran pernikahan karena malam ini kami tidak sekedar datang untuk melamar Adisti tetapi juga menetapkan tanggal pernikahan mereka,” suara Daddy terdengar sangat berwibawa saat berbicara. “Apalagi tadi siang Bramasta berkata ingin segera pacaran dengan Adisti setelah menikah, is that right, Son_bukan begitu, Nak_?"
Semuanya tertawa. Bramasta menjawab dengan mengacungkan 2 jempolnya ke arah Daddy. Secara simbolis, Layla menyerahkan kotak hantaran kepada Bunda. Kemudian kotak-kotak lainnya menyusul dibantu para tetangga.
Setelah makan malam, pembicaraan mengenai acara ijab kabul dan resepsi, disepakati dilakukan di hari yang sama dan tempat yang sama untuk kepraktisan. Untuk tempat dan waktu, Bramasta menatap Anton. Anton membuka gawainya untuk melihat skedul pekerjaan, membuat perhitungan kasar dengan cepat, lalu mengacungkan 5 jarinya pada Bramasta. Bramasta mengangguk mengerti.
“Saya ingin menikah di lokasi pertama kali kami bertemu,” Ayah dan Bunda tertegun. Adisti menatap Bramasta. Bramasta juga menatap Adisti. Bramasta tersenyum lalu mengangguk sambil mengangkat alisnya, meminta persetujuan Adisti. Adisti balas tersenyum dan mengangguk. Hatinya menghangat.
“Sekarang lokasinya masih dalam tahap pembangunan. Baru hari ini dimulai,” Bramasta berbicara dengan yakin, “ Insyaa Allah, selesai dalam 5 hari, untuk persiapan acara kita beri waktu 2 hari. Jadi insyaa Allah, pernikahan akan digelar seminggu dari sekarang. Bagaimana?”