CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 40 – ANGGORO PUTRO



08.45 Pajero Hitam milik Tuan Alwin sudah memasuki pelataran parkir di luar gedung Anggoro Group. Hans duduk di depan, Tuan Alwin dan Armand duduk di belakang. Mata Hans lekat mengawasi gerbang utama.


Tangannya bersandar pada tepi jendela yang tertutup rapat sambil menggigit-gigit buku jari telunjuknya. Tuan Alwin tengah membaca print pesan chat yang dikirimkan oleh Nyonya Hilman kepada Adisti. Wajahnya tampak geram dan gusar.


6 menit menunggu, sedan Jaguar Hitam memasuki gerbang utama langsung menuju drop off teras lobby.


“Here we go_Ini dia_,” gumam Hans, “Jalan, Pak.”


Armand membereskan berkas-berkas ke dalam tas kerjanya begitu mobil memasuki gerbang.


Hilman Anggoro sudah turun dari mobilnya. Tas kerjanya tampak dibawakan oleh petugas yang menyambutnya. Langkahnya yang sedang menaiki tangga menuju lobby terhenti begitu melihat dari ekor matanya, sebuah mobil hitam memasuki area drop off teras lobby. Dia membalikkan tubuhnya. Lalu berjalan menuruni tangga lagi menuju teras lobby begitu tahu siapa yang turun dari mobil SUV hitam itu.


“Alwin Sanjaya?” tanya Tuan Hilman sambil mengulurkan tangannya.


“Assalamu’alaikum, Hilman,”sapa Tuan Alwin sambil menerima uluran tangan Tuan Hilman.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Tuan Hilman, “Long time no see_Sudah lama tidak berjumpa_, ada apa pagi-pagi begini sudah mengunjungiku?”


“Ma’af mengunjungimu pagi-pagi begini. Tapi ada hal yang sangat urgent yang tidak bisa aku tunda lagi,” wajah Tuan Alwin tampak serius saat mengucapkan kalimatnya.


Tuan Hilman mengangguk. Dia tahu apa arti kata urgent bagi kalangan seperti mereka. Urgent berarti sesuatu yang mendesak dan bersifat sensitif.


“Ayo, kita langsung ke ruanganku saja,” kata Tuan Hilman memimpin jalan menuju lift.


Tuan Alwin dan rombongannya mengikuti Tuan Hilman. Mereka memasuki lift yang lengang. Lift khusus para eksekutif yang tidak boleh dinaiki oleh sembarang pegawai.


“Aku membawa sekretarisku, Hans dan lawyer perusahaan kami, Tuan Armand.”


Mendengar kata lawyer, kening Tuan Hilman berkerut. Dia memandangi Tuan Armand yang mengulurkan tangannya kepadanya. Menilai wajah dan penampilannya, barulah Tuan Hilman menyambut uluran tangan Tuan Armand. Tuan Alwin mengetatkan rahangnya melihat adegan di depannya.


TING. Lift berdenting, pintu terbuka pada lantai 7. Tuan Hilman kembali memimpin jalan. Sebuah koridor dengan karpet berwarna dasar biru cyan dengan motif berwarna biru navy meredam langkah mereka. Seorang sekretaris wanita yang berwajah menarik dan berpakaian sopan membungkukkan badannya ke arah mereka.


“Selamat pagi, Tuan-tuan,” sapanya. Matanya penuh tanya menatap rombongan itu menghilang di balik pintu ganda yang terbuat dari kayu tebal di hadapannya.


Segera diperiksanya buku agenda kegiatan Tuan Hilman hari ini. Ia yakin tidak melewatkan apapun dalam menyusun jadwal. Benarkan, tidak ada jadwal tamu pagi ini, bahkan sepagi ini. Jadi pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak direncanakan sebelumya. Dia mengenali dua orang dari mereka, Tuan Alwin Sanjaya dan Hans, sekretaris dan tangan kanan Tuan Sanjaya yang pernah menolak undangan makan malam darinya, karena Hans tidak ingin menyakiti istrinya, begitu katanya.


Tuan Hilman mempersilahkan semuanya untuk duduk di sofa. Dia menuju mejanya, meletakkan tas kerjanya di sana lalu kembali ke sofa.


“Ada apa sebenarnya, Tuan Alwin?”


“Hans?” Tuan Alwin menggerakkan kepalanya kepada Hans. Hans mengangguk. Dia menyodorkan tablet yang sejak tadi ada dalam genggamannya kepada Tuan Hilman. Tuan Hilman mengernyit.


“Apa ini?” tanyanya.


“Ini adalah rekaman CCTV di rumah sakit XXX pada hari Senin pagi sekitar pukul 09.12,” kata Hans.


Rekaman CCTV memperlihatkan Alphard Putih yang berhenti di drop off teras lobby rumah sakit diikuti mobil SUV Hitam di belakangnya. Tiga orang pria berpakaian stelan hitam keluar dari mobil SUV lalu segera membukakan pintu penumpang mobil Alphard. Seorang wanita muda turun dari pintu depan membantu seseorang untuk turun dari mobil dari bangku tengah. Terlihat jelas Nyonya Alwin tampak di kamera, di sampingnya seorang gadis muda berkerudung dengan gendongan tangan pada tangan kirinya asyik berbincang seru. Lalu seorang wanita di samping gadis pun ikut berbincang. Wanita pertama berada di paling depan, sementara kedua wanita mengapit gadis muda yang cedera pada tangannya. Berempat mereka tertawa.


Tiga lelaki yang berada di SUV Hitam berjalan di belakang para wanita. Ketika tiba-iba salah satu diantara mereka berlari ke sebelah kanan menendang troli yang tiba-tiba meluncur dan seorang lainnya membantu menghentikan laju troli tersebut.


Lalu selanjutnya lelaki yang di belakang dan wanita yang berdiri paling depan membuat gerakan tubuh melindungi para wanita dan gadis di tengah. Kemudian security rumah sakit berlarian menjaga mereka, membentuk barikade mengawal ketiganya masuk ke dalam lobby.


“Lalu maksudnya bagaimana? Apa hubungannya dengan saya?” tanya Tuan Hilman.


“Bapak tidak mengenali gadis muda dan wanita di sebelahnya?” tanya Hans.


Tuan Hilman memutar ulang rekamannya. Kepalanya didekatkan pada layar tablet. Dia tidak berhasil mengenali si gadis dengan cedera tangan karena berkali-kali tangan gadis itu tampak memperbaiki letak kerudungnya. Tapi ia mengenali wanita di samping si gadis.


“Ibu Gumilar?” suara Tuan Hilman terdengar tidak yakin. Tengkuknya terasa dingin.


Tuan Alwin mengangguk.


“Gadis itu Adisti dan wanita yang di sebelahnya adalah bundanya, Ibu Gumilar.”


“Adisti, calon menantu kami dan Ibu Gumilar adalah calon besan kami.”


“Hmmh,” Tuan Hilman tersenyum miring, “Bekas Prasetyo.”


“Bekas??” Tuan Alwin meremas tangannya geram. Tuan Armand menyentuh siku Tuan Alwin untuk memintanya menahan diri.


“Ya. Bekas tunangan Prasetyo, anak saya,” kata Tuan Hilman, “Pertunangan dibatalkan menjelang sebulan pernikahannya. Dibatalkan karena kami merasa dia tidak layak untuk anak kami. Bibit, bebet dan bobotnya tidak sebanding dengan keluarga kami.”


Tuan Alwin dan Hans terkekeh.


“Jangan memutar balikkan fakta, Tuan Hilman. Kami tahu yang sebenarnya terjadi.”


“Gadis itu mengoceh apa saja pada kalian? Jangan terperdaya dengan wajah manis dan tutur katanya. Bramasta pemuda yang baik dan cenderung polos terhadap perempuan. Hartanya bisa habis diporoti olehnya dan keluarganya.”


“Memangnya, selama Adisti menjadi tunangan Prasetyo, dia minta dibelikan apa saja?”


Tuan Hilman terdiam. Matanya bergerak gugup.”Ng… itu, banyaklah permintaannya. Mulai dari barang-barang perempuan, gadget, motor…”


“Sekelas Prasetyo, pewaris utama Anggoro Putro diminta barang-barang perempuan, gadget dan motor langsung merasa kehilangan banyak uang? Bahkan hadphone yang dimiliki Adisti harganya dibawah 2,5 juta. Masa tunangan Prasetyo diberi gadget seharga makan siang kita? Motor scoopynya seharga 15-20 jutaan, come on_ayolah_... Prasetyo cuma mampu belikan tunangannya motor? Kondisi second pula. Kenapa gak sekalian mobil supaya tunangannya nyaman, tidak kehujanan, kepanasan dan keanginan,” Tuan Alwin menatap tajam Tuan Hilman.


“Kami sudah tahu semuanya, Tuan Hilman. Tidak perlu memutarbalikkan fakta untuk melindungi anggota keluarga Anda,” Tuan Alwin tersenyum datar, “Adisti membeli sendiri handphone dan motornya dari uang penghasilannya selama menjadi pegawai di Anggoro Group dan penjualan lukisannya," Tuan Alwin menatap tajam Tuan Hilman. Hatinya merasa tercubit dengan pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh Hilman Anggoro.


“Kejadian di The Ritz saat fitting baju pengantin. Bukankah orang-orang anda sudah merampas rekaman CCTV yang ada di ruangan tersebut?”


Tuan Hilman menatap pias.


“Kami juga sudah tahu sepak terjang anak anda, Prasetyo 2 bulan sebelum pertunangannya dibatalkan. Beberapa kali petualangan cinta satu malam dengan gadis-gadis yang diperkenalkan istri anda sebagai alternatif calon istri cadangan yang memenuhi syarat versi kalian,” Tuan Alwin menambahkan lagi saat melihat mulut Tuan Hilman ternganga mendengar penjelasannya, “Jaringan hotel Sanjaya dan B Group masih memiliki rekaman CCTV Prasetyo semenjak masuk lobby, lorong kamar hingga di pintu kamar.”


“Dari CCTV jalan juga terlihat anak anda beberapa kali mengunjungi The Ritz di saat jam tutup operasional. Kira-kira apa yang dilakukan antara anak anda dan Rita Gunaldi hingga terbit fajar di sana, Tuan Hilman. Jangan lupa, Rita Gunaldi ini masih menjadi istri sah seorang pengusaha rumah hiburan di Batam, Ferdi Gunaldi,” Tuan Alwin duduk bersandar pada sofa, mengamati perubahan wajah Tuan Hilman.


“JADI APA SEBENARNYA MAU KALIAN SEPAGI INI??” Tuan Hilman mulai terpancing emosinya.


“Hans..” Hans mengangguk. Dia membuka file rekaman CCTV dari arah luar UGD.


Video menampakkan troli makanan ada di depan UGD di tepi dekat hand railing pengaman. Saat mobil Alphard Putih memasuki area drop off, seorang pria berbaju serba hitam, masker dan topi hitam mendekati troli. Dia berpura-pura melihat-lihat pemandangan lalu lintas sambil sesekali menolehkan wajahnya ke arah teras lobby. Begitu rombongan dari Alphard Putih mulai berjalan ke arah lobby, dia mendorong troli sekuat tenaga dengan kakinya. Terlihat seperti gerakan yang tidak disengaja tetapi dilakukan hati-hati dan cermat dengan menghitung jarak antara kemiringan ramp dan kecepatan laju troli agar saat target berada di jalur lintasan troli.


“Artinya, kejadian di teras lobby rumah sakit adalah rekayasa. Penyerangan terhadap rombongan Nyonya Alwin, Tuan Hilman,” kata Hans.


“Ini rekaman setengah jam sebelum peristiwa,” Hans membuka file pada tabletnya.


Video menampakkan pria yang tadi melapisi pakaian hitamnya dengan seragam bagian petugas catering, memindahkan troli makanan ke depan UGD.


“Ini rekaman satu jam sebelum peristiwa,” Hans membuka file pada tabletnya lagi.


Video rekaman CCTV yang berada di luar gedung. Pengambilan sudut gambarnya luas, mulai dari gerbang utama untuk masuk hingga gerbang keluar.


“Anda mengenali mobil yang datang itu, Tuan?” suara Hans terdengar lembut namun dingin.


“Pemilik jaguar hitam bukan saya saja kan?” Tuan Hilman terdengar gusar.


“Perhatikan dengan seksama.”


Pria berbaju dan masker serta topi hitam itu mendekati mobil Jaguar Hitam yang terparkir di depan gedung. Kaca jendelanya sedikit diturunkan. Penumpang di belakang memperlihatkan kertas-kertas, mungkin foto kepada pria serba hitam itu. Lalu penumpang belakang menurunkan lagi kaca jendelanyya untuk memperlihatkan layar gawainya kepada pemuda tadi. Dan akhirnya pemuda tadi membungkukkan badannya ke arah penumpang di bangku belakang. Mobil keluar dari pelataran.


“Saya tidak melihat korelasi video-video tersebut dengan saya,” Tuan Hilman masih kebingungan. Tuan Alwin dan Tuan Armand saling berpandangan.


“Baiklah, serang kita coba zoom in Jaguar hitamnya saat memasuki gerbang. Kenal dengan mobil ini, Tuan? Ah sayang sekali nomor polisinya terhalang oleh atap mobil putih ini ya. Ok…kita maju lagi,” Hans mempercepat rekamannya hingga ke adegan pria serba hitam itu tampak mendekatkan wajahnya pada jendela mobil saat penumpang belakang menyodorkan layar gawainya. Zoom in pada tangan yang memegang gawai, “Ini bisa dipastikan tangan seorang wanita dari ukurannya. Perhatikan juga nail art yang tampak pada semua kukunya. Nail art dengan hiasan Kristal Szwarowsky bukan barang pasaran dan murah, Tuan Hilman. Saya sudah mengecek harganya di beberapa salon nail art hingga ke Singapura. Per kepingnya dihargai 3 juta rupiah. Ini gambar nail artnya.”


Hans menyodorkan lembaran foto tentang nail art berikut harga dan nama salon yang menjualnya. Hans juga menyodorkan foto hasil pembesaran dari tangan wanita penumpang mobil Jaguar Hitam itu.


“Sekarang Anda ingat, kuku siapa yang berhiaskan nail art mewah itu? Atau kalau Anda masih tidak mengingatnya, coba Anda lihat nama pemilik M-Banking tersebut,” Tuan Hilman tampak semakin pias, Hans melanjutkan, “Liliana Sukma. Bukankah itu nama istri dari Tuan Hilman?”