CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 185 – GEN NGAMBEK



Tangannya masih gemetar akibat aktivitas yang memacu jantung, adrenalin dan keringat juga kejangan otot, Adisti menunjukkan gawainya pada suaminya.


“Jadi contoh konsep fotonya seperti ini, Bang..” jemarinya yang masih gemetar men-swipe beberapa foto.


Bramasta memandangi wajah dengan peluh pada kening dan anak rambut istrinya yang basah sambil terkekeh pelan.


“Oh my... are you serious?”


“Yes I am,” Adisti melirik suaminya dengan pipi merona.


“Buk Istri masih mau lanjut lagi presentasinya?"


Adisti mengangguk-angguk beberapa kali. Membuat peluh yang ada di pelipis meluncur ke pipi. Bramasta mengelap dengan ujung telunjuknya.


“OK.. Abang menyimak.”


Dia berbaring miring menghadap istrinya yang tiarap. Tangan kirinya menopang kepalanya.


Mengamati istrinya yang berbicara penuh semangat dengan tersenyum. Terasa lucu baginya mengingat keadaan mereka saat ini, tubuh lengket oleh peluh, dada masih berdebar keras sementara istrinya masih antusias menceritakan ide proyeknya dengan jemari yang masih gemetaran.


Dia tidak pernah menyangka akan melakukan hal seperti ini sebelumnya. Bernegosiasi dan presentasi di atas tempat tidur. Alhamdulillah-nya dilakukan dengan istrinya sendiri.


“Isssh.. Abang merhatiin nggak sih? Dari tadi senyum-senyum sendiri mulu..” Adisti mencebik kesal sambil menarik selimut linen menutupi dadanya.


“Iya..” Bramasta tersenyum lebar memandang istrinya.


Adisti melirik sebal.


“Abang suka dengan ide foto-fotonya. Abang setuju dengan ide-ide Disti. Tapi jawab dulu pertanyaan Abang, ya?”


Adisti berhenti mencebik. Dia tersenyum kecil. Memiringkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya sambil tangannya memegangi tepian kain linen yang menutupi dadanya.


“Itu gak usah dipegangin gitu kenapa sih?” tangan Bramasta dengan jahil menarik tangan Adisti.


“Dih Abang..” Adisti menepis tangan suaminya, “Udah dong.. jangan ganggu konsentrasi Disti.”


Bramasta tertawa lalu meraih wajah istrinya. Mencium pelipis kanannya lalu berbisik tepat di telinga istrinya, “I love you more than ever, Wifey.”


Adisti tersenyum lebar menatap suaminya. Pipi suaminya tampak merona. Semburat pink lembut pada kulit berwarna terang mempesona Adisti. Dia berusaha merekam warna yang tertangkap oleh matanya untuk dipindahkan pada kanvasnya nanti.


Gawai Disti mengarah pada wajah suaminya. Terdengar bunyi jepretan kamera. Bramasta mengangkat sebelah alisnya. Kemudian tertawa.


“Why?”


“Terlalu indah untuk dilewatkan.”


“Apanya?”


“Momennya, ekspresi Abang, bagaimana mata Abang bercahaya saat mengucap kata cinta pada Disti,” Adisti terhenti sejenak, lalu tersenyum. Telunjuknya mengarah pada pipi sejajar tulang hidung suaminya yang lurus, menelusuri pipi hingga di belakang tulang pipi, berbicara sambil dengan berbisik, “Disti paling suka bagian ini. Semburat merah jambu. Warnanya incredible banget. Entah nanti Disti akan mencampur warna apa saja untuk menghasilkan pink seperti ini dan gradasi halus warnanya..”


Nafas Bramasta tercekat. Sentuhan ujung telunjuk Adisti membuat tengkuknya merinding. Belum lagi Adisti yang berbicara sambil berbisik yang membangkitkan sesuatu di bawah sana.


Dengan cepat, Bramasta meraih telunjuk Adisti. Menyesapnya kuat yang membuat Adisti terlonjak.


“Abang ih. Ngagetin aja..”


Bramasta terkekeh senang.


“Jadi apa yang mau Abang tanyakan pada Disti?”


Bramasta memandang tak percaya pada istrinya.


“Jago banget sih merusak momen romantisnya kita?” meraih bantal lalu menutupi wajahnya dengan bantal.


“Siapa?” Adisti memandang tidak mengerti pada suaminya. Merebut bantal yang menutupi wajah suaminya dengan sekali tarik.


“Padahal kan tadi Abang jadi pengen lagi..”


Adisti mencibir.


“Tadi aja jadi kulkas jadul yang freezernya penuh bunga es. Sok-sokan ngambek. Sok-sokan jual mahal. Sekarang malah minta nambah..”


Bramasta bergerak cepat memeluk istrinya.


“Iya... Ma’afin Abang... Udah dong jangan diungkit lagi. Abang malu..”


“Disti gak janji, Bang.”


“Kenapa?” kening Bramasta berkerut.


“Karena wanita diciptakan untuk menjadi ahli sejarah. Jadi sampai kapanpun bakal selalu dikenang dan suatu saat bakal diungkit-ungkit lagi..”


“Dih! No way! Don’t do that, please..” Bramasta meletakkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


“Tadi Abang mau nanya apa sih ke Disti?” Adisti memainkan daun telinga Bramasta.


“Ah, ya. Abang ingin tahu kenapa Disti sampai punya ide untuk memakai anggota gank berikut pasangannya sebagai model fashion brand dari b Group?”


“Karena kita semua sedang dibicarakan dengan hangat di publik. Animo publik juga sangat besar terhadap kita. Busana yang kita kenakan selalu dibahas netizen. Kejadian yang menimpa Kakak, belum lagi yang baru saja terjadi di Hotel X. Orang-orang membahas Sanjaya dan B Group dengan arah yang positif.”


Bramasta menerawang sambil mengangguk.


“Ditambah lagi dengan kejadian semalam di Singapura. Bang Leon tidak memberitahu kita. Tapi Anton berhasil mengendus beritanya. Publik Singapura tengah heboh membahas tentang aksi Bang Leon semalam.”


“Bang Leon ngapain?” Adisti terperanjat kaget.


“Bang Leon seorang diri menggagalkan aksi penodongan dengan kekerasan terhadap 2 turis manula asal Amerika. Tidak sengaja, aksi Bang Leon terekam beberapa kamera CCTV yang ada di wilayah tersebut.”


“Masyaa Allah...” Adisti langsung mengetik nama Leon Iskandardinata pada gawainya.


Sederetan artikel tentang kejadian semalam di sekitar Orchard muncul di layar gawai Adisti. Dengan antusias Adisti membaca salah satu artikel tersebut. Juga menonton video rekaman CCTV yang merekam kejadian tersebut.


Bramasta mengangguk., “Martial art-nya memang bagus ya Bang Leon tuh. Lihat bagaimana Bang leon melepaskan diri dari cengkeraman orang yang memitingnya dari belakang.”


Adisti mengangguk, “Basic bela diri Bang Leon apa sih?"


“Pencak silat.”


Adisti melongo, “Sebule itu?”


Bramasta terkekeh, “Casing doang yang bule. ********** Sunda asli.”


“Memangnya Abang pernah lihat ********** Bang Leon?” mulut Adisti ternganga.


“Hissh! Maksud Abang, soulnya. Casingnya termasuk seluruh fisiknya lah. Kak Layla juga sama dengan Disti dulu sewaktu baru menikah dengan Bang Leon.”


“Sama apanya?”


“Sama-sama gak bisa jalan..” Bramasta terkekeh keras.


“Dih!” Adisti mencubit lengan atas suaminya.


“Woiyy sakit woiyy!” Bramasta berguling menjauh hingga jatuh ke lantai.


Gawainya di atas nakas berdering. Segera duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut linen, meraih gawainya.


“Oh My God! It’s Mommy in video call,” matanya memandang Adisti.


“Nah loh!”


“Assalamu’alaikum Mom...” Bramasta langsung mengucap salam begitu menyentuh tombol terima.


Jeda agak lama. Adisti yang masih berbaring mendengarkan sambil memandangi plafon, menoleh pada suaminya.


“Kenapa? Kok gak dijawab Mommy?” bisiknya.


Bramasta menggeleng. Sebelah tangannya membelai rambut istrinya.


“Mom... Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumussalam. Bram, kamu gak bikin Disti nangis kan? Awas loh kalau kamu sampai bikin menantu kesayangan Mommy menangis. Indra udah cerita semua ke Mommy karena Indra mengkhawatirkan istri kamu. Kamu tuh ya, kalau lagi ngambek Mommy hafal banget. Luar biasa nyebelin!” suara Mommy yang merepet membuat Adisti terkekeh pelan.


Bramasta melongo memandangi wajah Mommy yang sedang marah.


“Eh?”


“Kamu di mana sekarang? Disti bagaimana keadaannya sekarang? Kalau kamu sampai bkin Adisti menangis, Mommy gak segan-segan buat menghukum kamu, Bram. Daddy juga pasti marah besar ke kamu. Sudah punya istri yang baik, cantik dan smart seperti Disti kok malah disakiti secara psikis dan verbal oleh suaminya!”


“Mom..!” Bramasta melirik Adisti yang menyembunyikan wajahnya dibalik selimut linennya.


“Jadi suami tiu harus sabar Bram. Ingat, istri kamu itu tulang rusukmu yang bengkok. Jangan pernah mencoba untuk diluruskan karena akan patah.”


“Mom..!”


“Mommy gak mau tahu, kalau sampai Disti ngambek ke kamu, mendiamkan kamu, Mommy gak mau bantuin. Faites juste face à la colère de votre propre femme! Mommy ne veut pas interférer!_Hadapi kemarahan istrimu sendiri! Mommy gak mau ikut campur!_”


“Oh My God!” Bramasta memejamkan matanya dngan kesal.


“Kamu lagi ngapain sih? Jam segini berkeringat seperti itu mana gak pakai baju lagi!” Mommy memicingkan matanya.


“Jangan-jangan kamu menghabiskan waktu sore ini dengan peralatan olahraga kamu yang kamu umpetin di dalam lemari dinding? Mommy tahu kamu umpetin di situ.”


Adisti menoleh cepat ke arah suaminya. Meminta penjelasan suaminya karena sebagai istrinya pun dia tidak tahu suaminya mempunyai perlengkapan olahraga di ruangan kantornya.


Bramasta hanya tersenyum lebar pada istrinya sambil mengangkat kedua bahunya.


“Mommy dan Daddy ada di kafetaria bawah. Buruan turun. Ajak Adisti juga. Awas kalau mata Adisti terlihat sembab habis menangis. Mommy bakal buangin semua peralatan olahraga kamu, Bram!”


Mommy mematikan panggilan videonya. Bramasta menatap gawainya dengan nelangsa.


“Padahal Bram belum ngomong apapun ke Mommy..”


Adisti terkekeh sambil menutupi mulutnya.


“Kenapa?” Bramasta mencebik memandang istrinya, “Seneng ya melihat Abang diomeli Mommy?”


“Bukan..bukan begitu,” Adisti masih terkekeh, “Kayaknya Disti tahu gen ngambeknya Abang itu menurun dari siapa...”


Bramasta makin mencebik. Dia mengambil kimono satin milik Adisti di hanger dekat nakas.


Gawainya berdering lagi.


“Oh my God.. apalagi ini? Sekarang Daddy yang menelepon,” Bramasta menekan tombol menerima panggilan dan loudspeaker.


“Assalamualaikum Dad..”


‘Wa’alaikumusalam. Kalian ada dimana sih? Kenapa ruangan kamu terkunci, Bram? We have to talk. Daddy tunggu di ruangan Indra.”


Daddy mengakhiri panggilannya.


Bramasta dan Adisti saling berpandangan. Lalu bergerak panik bersamaan. Menuju kamar mandi.


.


***


Nah lo! Daddy ada di depan ruangan kantor Bramasta.


Panik gak tuh.. panik gak..??