
“Nggak ah. Walaupun Abang senang kita bisa jalan bareng, senang dengar celotehan Disti, merasa bahagia berada di dekat Disti, tapi Abang gak mau putar balik untuk memperpanjang jarak ke rumah,” Bramasta menurunkan speed laju mobilnya lalu menoleh ke arah Adisti yang tengah memandanginya dengan mata bulat coklatnya.
“Kenapa?” tanya Adisti.
“Karena Abang takut khilaf lagi kalau kita sedang berdua. Disti terlalu menggemaskan sih. Bisa gak diturunkan sedikit tingkat menggemaskannya Disti?”
Adisti terperangah lalu menunduk malu. Pipinya merona.
“Gak bisa, Bang. Udah setelan pabriknya begitu...” gumam Adisti tapi masih terdengar oleh Bramasta.
Bramasta terkekeh.
“Tuh kan, baru aja diomongin untuk diturunin malah makin melonjak lagi tingkat kegemasannya. 2 hari lagi, Abang bisa bebas unyel-unyel Disti ya.”
“Unyel-unyel bagaimana sih?”
“Ng... Gimana ya. Abang juga gak tahu,” Bramasta memandang jalanan lagi.
“Lah gimana sih?” Adisti memandangi jendela sampingnya.
“Kayaknya gak bisa dijabarkan menggunakan kalimat deh. Langsung prakteknya kali ya?” Bramasta terdiam.
Keduanya tersadar lalu menoleh bersamaan, “Eh?!”
Keduanya terdiam dengan wajah memerah.
Bramasta berdehem untuk menghilangkan serak yang tiba-tiba terasa, “Ehem..Disti bahagia bersama Abang?”
Adisti mengangguk dan tersenyum, “Iya. Bahagia.”
“Alhamdulillah ..” Bramasta memutar kemudinya untuk masuk ke dalam komplek perumahan.
Ayah dan Bunda sudah menunggu mereka, beberapa kerabat jauh sudah berdatangan. Di depan rumah, tenda putih besar sudah terpasang dengan beberapa kain berwarna ungu dan hijau gelap sebagai aksennya.
Saat Bramasta turun dari mobil, orang-orang yang berada di dalam rumah berhamburan keluar. Mereka ingin melihat sosok Bramasta yang fenomenal. Bramasta tersenyum ke semua orang. Lalu melangkah ke pintu samping, membukakan pintu untuk Adisti, membantu Adisti untuk keluar dari mobil sambil melindungi kepala Adisti agar tidak terbentur. Perhatian kecil dari Bramasta membuat kerabat dan tetangga yang menyaksikan menjadi riuh bapernya.
“Duh, Bang.. kok jadi seperti penyambutan begini. Disti jadi malu..” bisik Adisti saat keluar dari mobil.
“Hati-hati melangkahnya.”
Adisti dan Bramasta menyalimi Bunda dan Ayah juga kerabat dan tetangga yang berkumpul di rumah Adisti.
“Ma’af ya Ayah dan Bunda tidak bisa menjemput di rumah sakit,” kata Bunda kepada Bramasta dan Adisti.
“Gak apa-apa Bun, kan ada Kakak dan Abang. Lagian juga Disti sudah besar,” kata Adisti.
“Iya anak gadis Bunda sudah besar. 2 hari lagi sudah dipersunting anak orang. Jadi bagian keluarga lain,” kata Bunda sambil memeluk Adisti.
“Dipersunting Abang, Bun…” protes Bramasta.
“Iya dipersunting Nak Bramasta anak dari Bapak dan Ibu Alwin Sanjaya,” ralat Bunda sambil tertawa.
“Ih Abang apaan sih..” sergah Adisti.
Bramasta tertawa menanggapi ucapan Adisti.
“Kita makan siang lebih awal ya soalnya kita mau Jum’atan. Nanti kita sholat Jum’at bareng Nak Bram,” kata Ayah.
Bramasta melirik arlojinya lalu mengangguk.
Masuk ke dalam rumah, interior rumah berubah sama sekali. Meja dan kursi disingkirkan entah kemana. Lemari-lemar buffet besar yang berfungsi sebagai partisi ruang sudah dipinggirkan menempel pada dinding. Lantai ditutupi oleh karpet tebal. Hanya meja makan dan kursinya yang masih di tempat semula.
Para wanita sedang mempersiapkan makan siang. Kerabat berkumpul di ruang tengah. Bramasta berada di sana, duduk di atas karpet bersama kerabat Adisti. Beramah tamah dan saling kenal. Sungguh Bramasta tidak bisa mengingat semua nama kerabat Adisti, dia hanya mengingat nama kerabat-kerabat yang menurutnya mudah diingat dan memiliki hubungan dekat dengan keluarga Gumilar.
Mereka banyak bertanya pada Bramasta tentang kehidupannya, bisnisnya, juga keluarganya. Pertanyaan umum oleh orang kebanyakan yang biasanya begitu ingin tahu dengan kehidupan para famous. Bramasta merasa jengah. Beberapa kali dia merendah dengan mengatakan kehidupan pribadinya biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa seperti kehidupan orang-orang pada umumnya untuk menghindari pertanyaan lanjutan yang semakin ingin tahu kehidupan pribadinya. Adisti yang melihat dari kejauhan segera memberitahu Ayah untuk membantu Bramasta yang tidak suka ditanya-tanya tentang hal-hal pribadi. Ayah yang paham bergegas menghampiri Bramasta, duduk di sampingnya lalu menepuk pundaknya.
“Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Nak Bram. Kita ke Gazebo saja ya,” kata Ayah. Bramasta mengangguk dan merasa lega.
Mereka berdua sudah sampai di gazebo. Tidak ada orang di gazebo. Hanya ada sedikit orang yang berada di halaman samping terutama di dekat kolam ikan.
“Ada apa Yah?” tanya Bramasta.
Ayah terkekeh, “Tidak ada apa-apa..”
“Loh, kata Ayah ada yang harus dibicarakan dengan Bram?”
“Adisti melihat Nak Bram tidak nyaman ditanya-tanya oleh para kerabat. Jadi Adisti meminta Ayah untuk mengevakuasi Nak Bram.”
Bramasta terkekeh. Lalu merangkul Ayah, “Thank you so much, Ayah.”
Ayah mengibaskan tangannya, “It’s OK.”
“Maafkan sikap para kerabat yang terlalu ingin tahu ya, Nak Bram. Yang mereka tahu Nak Bram itu selebriti dan berasal dari kalangan terpandang juga penusaha ternama. Jadi dipandangan mereka kehidupan Nak Bram itu luar biasa menariknya. Kehidupan para sultan menarik minat mereka.”
Bramasta mengangguk, “Bram mengerti, Ayah.”
Ayah menatap Bramasta dengan bersungguh-sungguh, “Nak Bram, kalau ada kerabat yang mendekati Nak Bramasta dengan niat ingin mendompleng bisnis, mendompleng nama ataupun mencari kerja di perusahaan Nak Bram atau Sanjaya Group, tolong abaikan saja. Jangan ditanggapi dan jangan dipenuhi bila memang tidak memenuhi standar dan kebutuhan perusahaan. Jangan mentang-mentang Adisti menjadi istri Nak Bram lalu kerabat lainnya bisa seenaknya meminta pekerjaan ataupun kerjasama apalagi pinjaman modal untuk mereka.”
“Terimakasih Ayah sudah mengingatkan hal ini. Insyaa Allah, B Group dan Sanjaya Group akan tetap professional. Tidak ada nepotisme apalagi bila kandidatnya tidak memiliki kecakapan yang distandarkan oleh perusahaan.”
“Alhamdulillah.”
“Kerabat Adisti banyak banget ya.”
“Ini belum datang semua. Rencananya besok mereka datang semua. Tapi Ayah heran, kok sebanyak ini ya? Perasaan Ayah dan Bunda tidak mengundang kerabat sebanyak ini. Dan beberapa wajah-wajah mereka tidak familiar bagi Ayah dan Bunda.”
Bramasta kaget. Menoleh cepat pada Ayah.
“Kok bisa Yah?”
“Sepertinya ada yang bukan kerabat kami tapi ngotot ingin ikut kemari. Mungkin karena viralnya kisah kalian di dunia maya dan TV.”
“Bram jadi mencemaskan keamanan Adisti, Yah.”
“Insyaa Allah Adisti aman, Nak Bram. Terimakasih sudah mengkhawatirkan anak Ayah.”
“Menurut Bram, sebaiknya Ayah bicarakan lagi dengan kerabat utama. Lagipula The Cliff juga tidak terlalu luas untuk menampung banyak orang kan? Mengingat tepian The Cliff adalah jurang.”
Ayah mengangguk mengerti, “Nanti Ayah bicarakan dengan Bunda ya Nak Bram. Ayah cari Bunda dulu.”
“Ayah,tolong pastikan Adisti selalu didampingi dengan kerabat yang bisa dipercaya saja.”
“Iya. Ayah akan pastikan itu. Nak Bram di sini saja dulu. Ayah mencari Bunda dulu ya.”
Bramasta mengangguk. Dia duduk bersandar pada dinding gazebo sambil menyelonjorkan kakinya. Mengambil gawainya sambil mengirim pesan chat dengan Indra menceritakan pembicaraannya dengan Ayah.
Seorang wanita berkulit kuning langsat berwajah manis dengan lipstik merah menyaladan mengenakan rok selutut berwarna pink muda mengucap salam kepada Bramasta.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Bramasta sambil tersenyum menyapa kerabat Adisti.
“Sendirian saja di sini?” tanyanya sambil tersenyum sambil melepaskan kait sandalnya hendak masuk ke gazebo, “Saya temenin ya.”
Bramasta mengerutkan keningnya. Merasa jengah dengan tingkah laku wanita di depannya.
“Tidak usah. Saya sedang menunggu Ayah dan Bunda di sini karena ada sesuatu yang dibicarakan.”
“Sambil menunggu mereka datang, boleh dong saya temani supaya Bramasta tidak bosan menunggu.”
***
Jangan lupa tinggalkan jejak "like" pada setiap babnya ya. Jangan jadi silent reader supaya Author makin semangat nulisnya. Beri bunga dari tombol hadiah ataupun nonton iklannya juga udah bikin Author hepi 😁😁🙏🏼