
“Mom, perjelas saja. Kasihan Adindanya,” kata Bunda sambil mengusap sudut matanya karena tertawa tadi.
“Begini ya Dinda,” Mommy berdehem, “Kami semua sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga kami. Jadi panggil kami seperti mereka ya. Daddy dan Mommy. Ayah dan Bunda kepada Bapak dan Ibu Gumilar. Om dan Tante kepada Bapak dan Ibu Dhani. Understand?”
“Kok ke Papi dan Mami manggilnya Om dan Tante sih? Gak asyik banget,” Indra mencebik.
“Lah kan yang lainnya kompak banget manggil Papi dan Mami dengan sebutan Om dan Tante. Cuma kamu sendiri, Ndra yang manggil kami Papi dan Mami,” jawab Pak Dhani yang membuat tawa seluruh orang.
“Ya Allah, Pi.. Indra kan anak Papi dan Mami, masa harus ikutan manggil Om dan Tante sih? Atau jangan-jangan Indra sudah dicoret dari kartu KK?” Indra memandang Papi dan Maminya dengan tatapan sedih.
Bapak dan Ibu Dhani terkekeh puas bisa mengerjai anak semata wayangnya yang sering jahil.
“Adinda panggil kami Abang saja ya?” kata Bramasta, “Seperti Adisti memanggil kami semua dengan sebutan Abang.”
Adinda mengangguk sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, gue gak akan dipanggil Om lagi. Bisa habis diledekin Layla nih..” gumam Leon.
Bramasta dan Indra yang berada di samping Leon terkekeh.
“Jadi Adinda mau manggil saya Abang? Atau Kakak seperti Adisti memanggil saya?’ tanya Agung.
Adinda menatap Agung dengan pipi memerah. Lalu menggeleng.
“Om Agung tetap saya panggil Om.”
Semua tergelak mendengar ucapan Adinda.
"Kenapa” tanya Hans.
“Sudah nyaman memanggil Om kepada Om Agung.”
Agung menatap Adinda tajam, “Gak ada panggilan lain selain Om?”
Adinda ditatap seperti itu menjadi ciut nyalinya, “Bagaimana kalau Akang?”
Yang lain melongo menatap Adinda.
“Akang?” tanya Agung jengah, “Kamu mau saya panggil dengan sebutan Nyi?”
Meledak tawa semuanya.
“Ih Om Agung, tega banget,” Adinda mencebik, “Di sekolah saya, senior laki-laki dipanggil Akang sedangkan senior perempuan dipanggil Teteh.”
“Bodo amat..” Agung memalingkan pandangannya.
Adisti mengernyit.
"Ya sudah senyamannya Adinda saja manggil Kakak. Jangan memaksakan kehendak,” kata Adisti.
“Gitu aja ribut sih Kak?” tegur Bunda.
“Makanya jangan galak-galak ke cewek, jadi aja dipanggil Om..” Ayah terkekeh.
“Ceritain sewaktu Lu di alam bawah sadar dong,” pinta Leon.
“Memangnya masih ingat gitu?” Hans meragukan.
“Lah, baru juga beberapa jam sadar, masa lupa?” sergah Anton.
Agung terdiam berpikir, mencoba mengingat. Kemudian menunjuk Adinda lalu memanggilnya untuk mendekat dengan isyarat tangannya.
Adinda dengan ragu-ragu dan takut mendekat.
“Ada apa Om?”
“Papa dan Mama kamu titip salam.”
Semua terdiam saat Agung mulai berbicara.
“Papa? Mama?” suara Adinda bergetar dan parau, “Wa’alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.”
“Seperti apa Mama, Om? Papa tidak banyak menyimpan foto Mama karena Mama tidak suka difoto.”
Agung terdiam lagi. Berusaha mengingat.
“Mama kamu cantik. Warna kulitnya sama dengan kulit kamu. Bentuk alis dan matanya juga sama dengan kamu. Juga warna rambutnya.”
Agung berhenti lagi.
“Keduanya tampak bahagia. Pakaiannya putih bercahaya.”
Adinda terisak. Tangannya memegang erat handrail bed Agung.
“Saya sedang berbincang dengan mereka saat mendengar suara Adek mengaji. Lalu suara Abang Bram yang memanggil-manggil saya. Kemudian mereka menyuruh saya untuk pulang. Karena belum waktunya saya berada di sana.”
Bunda termangu mendengar ucapan Agung. Air matanya luruh. Ayah merangkul Bunda untuk menenangkan.
“Mereka berkata, “Titip Puput kami.” Nama kamu sebelum Adinda itu Puput ya?” Agung memandang Adinda dengan kepala dimiringkan.
Pecah isak tangis Adinda. Bunda dan Mommy bergegas menghampiri Adinda. Memeluk sambil menenangkan Adinda.
Adisti tidak kuat menahan harunya. Begitu juga dengan Bu Dhani.
Saat isakannya mulai agak reda, Adinda mengangguk kepada Agung.
“Kata Papa, sewaktu saya masih berada dalam perut Mama, mereka menyiapkan nama untuk saya begitu jenis kelamin bayi diketahui. Putri Amelia Rahmat. Nama panggilannya Puput. Tapi karena sedari saya lahir tubuh saya lemah, para orangtua menyarankan Papa untuk mengganti nama saya menjadi Adinda Amelia Putri.”
“Jangan sedih. Papa dan Mama kamu bangga dengan kamu. Yang saya ingat dari percakapan kami, Papa kamu mengatakan, belajar ikhlas menerima keadaan tanpa harus membenci kenyataan karena Allah akan gantikan semuanya dengan lebih baik.”
Adinda terisak lagi. Dahinya diletakkan di atas handrail bed.
“Kenapa rasanya menyesakkan seperti ini, Om? Kenapa rasanya semenyakitkan ini, Om? Saya kangen mereka. Saya hanya bisa menemui mereka dalam mimpi, itu pun jarang sekali. Dan wajah Mama selalu terlihat kabur karena saya tidak pernah melihat Mama,” Adinda terisak keras.
Agung menatap Bunda. Bunda mengangguk mengerti mendekati Adinda setelah menyeka mata dan pipinya.
Adinda mengangguk dan langsung masuk ke dalam pelukan Bunda.
“Kangen sekali, Bun. Hingga rasanya sakit sekali di sini,” Adinda memukul-mukul dadanya sendiri.
“Mau buat Mama dan Papa Dinda bahagia di alam sana?”
Adinda mengangguk.
“Kapanpun Adinda kangen kepada mereka, bacakan al fatihah untuk mereka. Kapanpun Adinda punya rejeki, sedekahlah dengan niat untuk mereka,” Bunda membelai rambut Adinda.
Adinda mengangguk mengerti.
“Adinda,” panggil Agung, “Kamu gak perlu sedih karena kamu ditinggal sendiri di dunia ini. Papa dan Mama kamu menitipkan kamu kepada saya. Dan saya berjanji dengan mereka untuk menjaga kamu.”
“Selama ini saya bukan orang yang suka berjanji karena takut saya tidak menepati janji yang saya ucapkan. Tetapi entah kami berada di alam apa tadi, saya berani mengucapkan bersedia untuk menjaga kamu. Melindungi kamu semampu saya,” Agung tampak mengernyit memegangi dada kanannya.
“Kakak kenapa?” Adisti cemas menatap kakaknya.
“Sakit...” Agung mengernyit.
“Om...” Adinda menghampiri bed Agung.
Indra yang terdekat dengan head bed langsung menekan tombol perawat. Semua orang mundur dari tepi bed untuk memberi ruang kepada tenaga medis.
Tidak berapa lama seorang perawat memasuki ruangan.
“Ya ada apa?” Kemudian dia melihat Agung yang mengernyit sambil memegangi perban pada dadanya.
“Terasa sakit ya? Nanti saya masukkan pain killer ke dalam infusannya supaya nyaman lagi,” katanya sambil mengeluarkan tube ampul dari kaca. Lalu menyuntikkannya kepada infusan bening.
“Tahan dulu ya,” Perawat itu tersenyum memandang Agung, “Menunggu obatnya masuk ke pembuluh darah dulu.”
Bunda membawa Adinda ke sofa L untuk duduk di sana. Mengobrol dengan para orangtua.
Ayah menghampiri Agung. Membelai kepalanya.
“Kakak anak laki-laki Ayah yang kuat,” kata Ayah sambil tersenyum.
“Kakak anak laki-laki Ayah yang keren juga, Yah,” Agung memandang Ayah sambil tersenyum lebar.
Bramasta berdehem.
"Ayah, anak laki-laki Ayah sekarang bukan cuma Kakak Ipar loh..” protes Bramasta.
“Iya..iya.. anak laki-laki Ayah semuanya keren,” kata Ayah sambil terkekeh.
“Ck!” Hans berdecak, “Kalian berdua ini betul-betul bocah banget ya..”
“Iri bilang dong, Bunny!”
Hans terlihat kaget. Menoleh dengan cepat kepada Agung yang memasang cengiran di wajahnya.
“Siapa yang beritahu Agung tentang Bunny?” bisik Hans.
Anton menggeleng, Bramasta menggoyangkan kedua tangannya.
“Bukan Disti, Bang..”
Leon tampak bingung, “Siapa Bunny?”
Indra memandang Hans, “Lu jadi Bunny?”
Agung terkekeh sambil memegangi dadanya.
“Bang Hans gak usah tanya siapa-siapanya. Gue denger sendiri kok semalam, kalian video call-an dengan Mbak Hana..”
Anggota Kuping Merah menatap Agung dengan tatapan yang sulit dimengerti.
“Tuh kan semalam Disti ngomong apa saat kita selesai vicall-an dengan Mbak Hana, seperti ada yang mengawasi kita. Ternyata Kakak dalam wujud halus...” Adisti menaikkan kedua alisnya saat memandang ke arah Agung dengan tatapan aneh.
“Beneran, Bro?” tanya Anton kepada Agung, “Lu gak panik saat melihat roh lu meninggalkan jasad lu, Bro? Seperti di cerita-cerita Hollywood..”
“Issh apaan sih. Gue malah gak tahu sedang meninggalkan jasad gue. Pokoknya semalam gue sedang berada bersama kalian tapi gak bisa berinteraksi dengan kalian. Gue cuma dekat-dekat Adek aja..”
“Pantas saja Adek Disti bawaannya merinding terus semalam..” Adisti mendekat pada suaminya.
Bramasta meraih tangan Adisti, menariknya mendekat untuk berada di pelukannya.
“Isssh, atuhlah!” Indra menyikut Bramasta, “Di sini banyak jomblowan fiisabilillah.”
“Gile bener.. bahasanya tinggi banget. Jomblo fiisabilillah!” Leon tertawa sambil memegangi pundak Hans.
Hans yang dipegang merasa risih dipegangi seperti itu, “Ih, apaan sih?”
“Tau tuh, mereka berdua. Gue denger Abang Bram punya rencana buat cium si Adek di depan gue. Supaya jiwa jomblo gue meronta-ronta dan gue jadi cepat sadar,” Agung memandang ke arah Bramasta dan Adisti bergantian. Yang dipandang memamerkan cengiran mereka.
“Ciyeeee sekarang bawaannya pengen sosor-sosoran mulu. Udah gak pakai mimisan lagi sekarang, Bram?”
Bramasta langsung merah padam karena malu.
“Ciyeee merah tuh mukanya..” Leon terbahak lagi.
.
***
Gak.. Babang Bram udah gak mimisan lagi. Udah pro sekarang mah 😁
Jadi, pertemuan Agung dengan Papa Mamanya Adinda itu di alam apa? Alam roh?
Entah ya.. Author gak berani bahasnya.