
02.45 RUMAH SAKIT XXX
RUANG RAWAT INAP VIP 2
Agung terbangun karena suara-suara dari bed di sebelahnya. Dia membuka matanya dengan kening berkerut.
Efek hangover karena nyawa yang berkumpul sepenuhnya membuat otaknya lambat mencerna. Mengira suara-suara tersebut berasal dari dalam mimpinya.
Ketika kesadarannya mendekati penuh, bergegas ia menarik tirai yang membatasi dengan bed sebelahnya.
Adinda terpejam dengan kening berkerut. Keringat sebesar biji jagung ada di dahi dan pelipisnya. Membasahi bergo instan yang dikenakannya.
Tangannya bergerak-gerak. Memukul dan mencakar udara di atasnya. Suara rintihan bercampur kata-kata yang tidak jelas terdengar di telinga Agung.
Agung mendekati Adinda. Menyibak selimut yang membelit tubuhnya. Agung menepuk-nepuk lengan atas Adinda.
“Dinda.. Din.. bangun. Bangun Dinda..”
Adinda tidak bereaksi. Tangannya menggapai di udara seperti mencari pegangan. Agung meraih remote bed lalu meninggikan bagian punggung. Posisi Adinda setengah duduk dengan mata terpejam gelisah.
“Dinda.. Din, ssssh, sudah tiak apa-apa. Itu cuma mimpi. Kamu sudah aman sekarang. Tidak akan ada yang mengganggu kamu lagi. Dinda, bangun!”
Suara tirai disibak cepat. Ayah bergegas mendekati Adinda dan Agung.
“Ada apa, Kak?”
“Dinda, sepertinya bermimpi buruk. Tapi dia tidak bisa dibangunkan.”
“Dia seperti ini dari tadi?”
Agung mengangguk.
“Dinda, bangun, Nak. Ini Ayah. Bangun yuk..” Ayah berusaha membujuk.
Kemeja piyama yang dibelikan Adisti sudah kuyup menempel pada kulitnya. Begitu juga dengan kerudung bergonya.
“Ayah, tolong bangunkan Bunda untuk mengganti baju Dinda. Kakak mau panggil perawat,” Agung menekan tombol perawat.
Ayah mengangguk.
Tidak berapa lama terdengar pintu yang digeser. Seorang perawat dengan senyum ramahnya muncul.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Suster, tolong.. Adinda dari tadi begini terus. Tidak bisa dibangunkan,” Agung mengguncang lengan Adinda.
Perawat tadi segera menghampiri dengan sigap. Memeriksa nadi dan denyut jantung dengan menggunakan stetoskop lalu memeriksa tekanan darah Adinda.
“Pasien mengalami mimpi buruk. Ini reaksi wajar bagi seseorang yang telah mengalami kejadian traumatik. Dampingi saja, Tuan Agung. Jangan sampai pasien membuat gerakan tanpa sadar yang melukai fisiknya,” Perawat tersebut tersenyum.
“Tidak perlu obat penenang?” tanya Agung.
“Selama pasien hanya seperti itu, tidak perlu Pak. Karena kasihan kalau selalu diberi obat peenang. Obat penenang itu termasuk jenis psikotropika,” perawat membereskan peralatannya.
”Nanti setelah pasien tersadar, segera beri minum putih hangat, ya. Khawatir Pasien mengalami dehidrasi,” Perawat membuka panel di dinding, lemari yang berisi linen rumah sakit, termasuk seprai dan baju pasien.
“Saya akan mengganti baju Pasien ya. Untuk lebih mudah, gunakan baju rumah sakit saja ya.”
Agung mengangguk.
“Bisa tolong lepaskan kerudung Pasien?” tanya Perawat
“Eh??” Agung menatap perawat dan Adinda bergantian.
“Dia belum menjadi mahrom saya, Sus..”
Perawat itu mengangkat kedua alisnya. Terdengar suara Bunda terkekeh pelan.
“Biar saya bantu ya Sus. Kakak keluar dulu,” Bunda menepuk tangan Agung.
Perawat sudah keluar selama 5 menit. Agung masuk ke dalam tirai bed Adinda.
Bunda sedang mengelus rambut Adinda sambil membacakan surat al Fatihah.
"Dinda bangun, Bun?" tanya Agung.
Bunda menggeleng sambil bibirnya terus mendawamkan al Fatihah.
“Kenapa tidak dipakaikan kerudung lagi?” tanya Agung saat melihat rambut Adinda hanya ditutupi oleh handuk kecil.
Bunda sudah selesai membaca al Fatihah. Lalu memandang Agung, “Kasihan, badannya masih berkeringat dingin. Entah Adinda sedang mimpi apa. Pakai handuk saja untuk membantu menyerap keringatnya.”
Agung mendekati Bunda.
“Coba Kakak bangunkan. Bunda mau tahajud dulu. Kakak sudah sholat?”
Agung mengangguk. Dia duduk di kursi bekas Bunda duduk. Menyentuh sedikit lengan Adinda yang tertutup selimut linen dari bed.
Selimut wool sudah terlipat rapi dan diselipkan di ujung bed oleh perawat. Perawat tadi hanya memakaikan selimut linen pada Adinda mengingat keringat yang keluar.
“Dinda, Sayang, bangun yuk. Dinda bangun dulu sebentar ya. Nanti bobo lagi. Minum dulu Dinda..”
Adinda bergerak gelisah lagi. Tangannya bergerak-gerak. Kemudian mencekal kuat tangan Agung. Begitu kuatnya hingga Agung meringis merasakan sakit dan pedih. Kuku Adinda melukai kulitnya.
“Ssssh.. sudah tidak apa-apa. Ada saya disini menjaga kamu. Gak usah khawatir.”
Cengkeraman tangan Adinda masih kuat. Agung menepuk-nepuk kedua tangan Adinda yang mencengkeram tangannya. Seolah menjadikannya sebuah pegangan.
Memperhatikan wajah Adinda yang seperti itu, hati Agung terenyuh. Seperti kisah Puteri Tidur yang pernah ia baca dulu bersama Adisti sewaktu kecil.
Bedanya, Puteri Aurora tertidur dengan tenang sedangkan Adinda tertidur dengan gelisah.
“Tuan Puteri, bangun..” bisik Agung dengan suara tercekat menahan sedih.
“Tuan Puteri...”
Cengkeraman pada tangan Agung melonggar. Agung tercengang tetapi lega.
Mungkinkah?
Agung berdebar saat mencoba lagi.
“Puteri...” Agung berdehem menghilangkan rasa gugup dan tenggorakan yang serasa tercekat.
“Put, Puput bangun..” Agung dapat merasakan respon Adinda.
Tangannya berhenti menggapai di udara. Agung merasa lega. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Adinda untuk berbisik.
“Puput, bangun Sayang.. Puput bangun dulu, ya?”
Agung menjauhkan wajahnya dari telinga Adinda. Matanya bertemu dengan mata Adinda yang tengah menatapnya dengan penuh keheranan.
Agung terkesima menatap mata Adinda sedekat ini.
“Om sedang apa?” tanya Adinda sambil memicingkan matanya.
“Tadi Om mencoba membangunkan kamu.”
“Kenapa?”
“Kamu tidurnya gelisah. Bergumam, tangannya menggapai-gapai, berkeringat seluruh tubuh, sampai-sampai harus diganti baju dan hijabnya.”
Adinda memandangi bajunya. Sekarang ia mengenakan baju pasien rumah sakit berwarna baby blue, baju dengan ikatan di bagian belakang.
“Om yang gantiin baju saya?” tangan Adinda reflek menutupi dadanya.
“Nggak.. bukan..” Agung dengan cepat menggerakkan tangannya, “Bukan saya. Saya gak akan berani. Saya gak selancang itu.”
“Terus siapa?”
“Suster dan Bunda.”
“Terus kenapa tadi bangunin saya sampai sedekat itu?” mata Adinda terpicing curiga,
“Om mau mengambil kesempatan dalam kesempitan, ya?”
“Eh???” Agung terperanjat.
“Kamu minum dulu dupaya tidak dehirasi,” Agung menyodorkan botol air mineral berikut sedotannya pada Adinda.
Adinda menerimanya lalu menyesap air dalam botol dengan mata menatap tajam pada Agung. Agung berdiri gelisah.
“Jadi? Benar kan?”
“Apanya yang benar?”
“Om mau mengambil kesempatan dalam kesempitan?”
“Kamu ngaco,” sergah Agung, “Kamu pikir saya cowok keren apaan hingga berbuat serendah itu?”
Agung menatap kesal pada Adinda. Harga dirinya terluka dengan tuduhan Adinda.
“Jadi tadi ngapain?”
“Karena kamu gak bisa dibangunin. Kamu baru bisa bereaksi setelah saya memanggil kamu “Puteri”. Panggilan Adinda tidak mempan untuk menarik kamu keluar dari alam bawah sadar kamu,” Agung menatap Adinda tajam. Mode kanebo keringnya kembali aktif
“Dan kamu baru bisa bangun setelah saya membisikkan kalimat, “Puput, bangun,” tepat di telinga kamu.”
“Eh?” Adinda menatap Agung dengan kening berkerut.
“Kamu masih tidak percaya pada saya?” Agung melangkah mendekat, “Tanyakan saja pada Ayah, Bunda dan perawat yang bertugas jaga malam ini.”
“Ma’af..” Adinda tertunduk.
Agung melunak. Dia duduk lagi di kursi samping bed.
“Memangnya kamu mimpi apa?”
Adinda berpikir keras. Kemudian menggeleng.
“Entahlah. Saya lupa.”
“Kamu baca do’a tidak sih sebelum tidur?”
“Ya baca dong.”
“Berwudhu sebelum tidur?”
Adinda mengangguk.
“Ya sudah. Minum lagi. Nanti saya bacakan Al Mulk sebagai pengantar tidur kamu. Tapi nanti kamu hafalkan ya. Muroja’ahnya ke Bunda atau ke Teh Disti.”
“Apa itu muroja’ah?” tanya Adinda.
“Setoran hafalan bacaan surat. Sudah benar atau belum bacaannya."
Adinda mengangguk. Agung bangkit untuk melihat Ayah dan Bunda, ternyata Ayah dan Bunda sudah melanjutkan tidur lagi. Hari ini memang hari yang melelahkan buat semuanya.
Agung berta’awudz lalu mengucap basmalah. Kemudian membaca surat Al Mulk di samping Adinda yang menyimak bacaan Agung.
Saat sudah selesai membaca, Agung menurunkan sandaran bed Adinda agar dia bisa berbaring dengan nyaman.
“Om, kenapa Om membangunkan saya dengan memanggil Puput?” tanya Adinda.
Matanya menerawang memandangi plafon putih di atasnya.
“Entahlah. Om juga tidak tahu..”
Agung menutupi kuapnya dengan tangan kanan. Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga sangat lelah dan mengantuk.
“Tidurlah. Om akan berjaga di samping kamu. Selalu ingat, saya ada selalu di samping kamu, menjaga kamu. Supaya kamu tidak mengalami lagi tidur yang gelisah seperti tadi.”
Adinda merasa terharu dengan apa yang sudah Agung lakukan.
“Om tidur saja di bed.”
Alis Agung terangkat sebelah, “Maksud kamu, saya ikut berbaring di bed kamu?”
“Eh?!” Adinda tampak kaget, “Di bed-nya Om lah. Enak saja..”
Agung terkekeh.
“Sudah, tidur lagi. Saya juga mengantuk.”
Agung meletakkan kepalanya miring dengan lengannya sebagai bantal di tepi bed Adinda. Tidak berapa lama, Agung tertidur.
Adinda yang baru saja terbangun menjadi susah memejamkan matanya lagi. Dia menatap wajah Agung. Menghafal bagaimana setiap lekukan di wajah Agung.
Ujung jari telunjuknya menyusuri bentuk alis Agung yang memanjang. Tidak menyentuh, hanya hampir menyentuh. Lalu menyusuri lekuk mancung hidung Agung.
Ketika tiba-tiba Agung mencekal tangan Adinda lalu membuka matanya.
“Sekarang siapa yang mengambil kesempatan dalam kesempitan?” tanyanya dengan tatapan mata tajam.
“Eh?! Bangun??” Adinda terkesiap. Pipinya merah padam karena malu.
"Ma'af Om..."
.
***
Maaf telat up.
Sedang terkena radang tenggorokan.
Readers semoga sehat semua ya supaya shaumnya lancar. 🍓