
Adinda mengerjap.
“Cincinnya belum disiapkan?”
Agung memandang Adinda dari kursi kerjanya. Menikmati ekspresi wajah keheranannya.
“Kirain udah disiapkan sewaktu Om ngajak saya bicara di taman rumah sakit waktu itu...” ada nada kecewa pada suara Adinda.
Agung tersenyum. Dia menghampiri Adinda sambil membawa tabletnya.
“Sudah kok.. Besok sore sudah bisa diambil.”
“Terus, maksudnya nanya tentang cincin ke saya, apa?”
Agung menatap gemas pada bibir yang mencebik itu.
“Itu buat cincin menikah kita nanti...”
Mata Adinda membulat lucu.
“Bukannya kalau orang menikah, memakai cincin pertunangannya?”
Agung menggeleng, menatap Adinda.
“Gak juga..”
“Om Agung kok gak menanyakan ke saya tentang model cincin yang saya inginkan?” tanya Adinda balas menatap Agung, tapi tidak lama.
“Kan kamu sendiri yang bilang terserah..”
“Gitu ya?”
Agung mengangguk, lalu menyerahkan tabletnya setelah menyalakannya terlebih dahulu.
“Tadinya Om ingin bikin surprise buat kamu. Tapi pasti nanti kamu penasaran. Ini ada 5 gambar cincin couple. Salah satunya adalah cincin kita. Kamu tebak yang mana, OK?”
Mata Adinda melebar melihat gambar katalog dari perusahaan perhiasan terkenal. Perusahaan perhiasan yang sedang terkenal saat ini dan sering mengadakan pameran di mall-mall besar.
“Om gak salah?”
“Apanya?”
“Harganya..”
“Memangnya kenapa?”
“Mahal banget...”
Agung mengusap wajahnya sambil menahan senyum. Sebulan gajinya di Sanjaya Group.
“Kan saya mau khitbah anak satu-satunya dari keluarga alm Bapak Adang Rahmat. Simbolik untuk ikatan hubungan kita, that i’m yours and you are mine.”
Pipi Adinda merona. Dia tidak berani menatap Agung sekarang.
“Tapi kan... gak perlu semahal itu..”pelan suara Adinda berucap.
Agung tertawa.
“Jangan dipikirin harganya. Karena kamu berharga buat saya. Makanya saya ingin mengkhitbah kamu dengan tanda pengikat yang terbaik juga.”
Adinda menoleh pada Agung. Tapi kemudian menoleh ke arah pintu karena diketuk dari luar.
“Ya, masuk..” kata Agung sambil berjalan ke arah mejanya.
“Assalamu’alaikum Pak Agung,” suara wanita yang lembut terdengar, kemudian dia menyadari ada orang lain di ruangan itu, “Eh, sedang ada tamu rupanya.”
Adinda menatap wanita bertubuh ramping dan berpenampilan anggun itu. Dia ingat, wanita itu bernama Kinanti, yang mengharapkan perhatian lebih dari Agung. Adinda hanya tersenyum lalu mengangguk pada wanita itu.
Sambi menegakkan tablet di tangannya, matanya pun ikut mengawasi meja Agung.
“Ada apa?” tanya Agung sambil membuka laptopnya.
“Ng... ini berkas laporan yang perlu ditandatangani Bapak,” Kinanti menyodorkan map kuning dengan anggun.
“Laporan yang tadi siang, sudah kamu serahkan ke Pak Dhani?” tanya Agung sambil membaca berkas yang dibawa Kinanti.
“Sudah Pak,” menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
Agung menandatangani berkas. Lalu membalik halamannya, membacanya dahulu sebelum menandatanganinya lagi.
Kinanti melirik Adinda yang tengah melihat-lihat gambar cincin couple dari tablet. Bibirnya menekuk ke bawah. Tapi hanya sebentar. Kemudian mencoba membuat percakapan dengan Adinda.
“Pulang sekolah langsung ke sini, Dek?”
Adinda yang merasa dipanggil “dek” langsung menurunkan tabletnya. Kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Diajakin lunch bareng..”
“Dating lunch_Kencan makan siang_?” tanya Kinanti lagi dengan maksud terselubung.
Agung memberi kode pada Adinda untuk tidak menjawab. Dia tahu kemana arah pembicaraan Kinanti.
“Sudah? Ada lagi?” suara Agung terdengar dingin membuat Kinanti tergagap.
“Ah..i..iya Pak,” Kinanti menerima berkas yang disorodokan Agung, memeriksanya sebentar lalu mengangguk, “Bapak ikut lembur kan malam nanti?”
“Lembur? Lembur untuk apa?”
“Pengerjaan revisi laporan yang salah entry itu Pak..”
“Kan sudah ada pendelegasian tugasnya. Lagipula saya dan Pak Dhani ada meeting yang gak bisa diganggu sore hingga malam nanti,” Agung mengerutkan keningnya lalu memandang pada Adinda, “Dinda, coba kamu lihat Papi kamu di ruangannya, kayaknya sudah kembali dari meeting deh..”
Adinda mengangguk lalu meninggalkan tabletnya di atas meja.
Kinanti terhenyak menatap Adinda.
“Calon istri Bapak itu anaknya Pak Dhani? Adiknya Pak Indra?”
Agung mengangguk.
“Kenapa?”
“Bukannya Pak Indra itu anak tunggal?”
Agung mengangguk lagi.
“Adinda anak angkatnya Bapak dan Ibu Kusumawardhani, adik angkatnya Indra,” Agung tersenyum, “Bukan itu saja, dia juga menjadi anak angkatnya Tuan dan Nyonya Alwin Sanjaya, adik angkatnya Kak Layla dan Abang Bramasta. Oh ya.. satu lagi.. Pak Hans Alvaro juga menganggap Adinda sebagai adik angkatnya juga. Jadi kalau ada yang macam-macam dengan Adinda akan berurusan langsung dengan mereka.”
“Oh..” wajah Kinanti terlihat terkejut mendengar pemberitahuan Agung.
“Ada lagi yang mau ditanyakan?”
“Ah.. nggak ada Pak.. Terimakasih banyak..”
“Ya.. sama-sama..”
Setelah 30 menit Adinda belum kembali ke ruangannya, Agung menyusulnya ke ruangan Pak Dhani.
Dari luar terdengar suara tawa Adinda. Hati Agung terasa menghangat mendengarnya. Agung menganggukkan kepalaya kepada sekretaris Pak Dhani yang mejanya berada di luar ruangan Pak Dhani.
“Assalamu’alaikum..” salam Agung.
Semua yang ada dalam ruangan menjawab salam. Sebelumnya, Pak Dhani menanyakan tentang penerimaan Adinda terhadap berita pers release hasil otopsi papanya lewat pesan chat. Agung menjelaskan semuanya pada Pak Dhani juga WAG Kuping Merah.
“Betah banget kamu di kantor Pak Dhani..” Agung tersenyum pada Adinda.
“Iya dong.. di kantor Papi ada karaokenya..”
“Memangnya kamu bisa nyanyi?” Agung mengangkat sebelah alisnya.
“Dia jago banget nyanyinya, Gung. Lagu-lagu lawas dia hafal. Katanya sering nyanyi sama Papanya..”
Adinda mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
“Papi malah cerita-cerita ke Daddy, padahal Daddy sedang ada di heli bareng Bang Hans. Daddy jadi pengen ikutan nyanyi..” Adinda terkikik geli.
Agung memandang Pak Dhani yang juga terkekeh mendengar cerita Adinda.
“Ayah bakalan kaget deh kalau tahu..”
“Memangnya kenapa, Om?”
“Ayah dan Bunda penyuka lagu-lagu lawas. Dulu sewaktu kecil, suka main kuis TV, Berpacu Dalam Melodi,” Agung tersenyum lebar menatap Adinda.
Agung dan Adinda tertawa.
Gawai Pak Dhani berdering, panggilan masuk. Dia menerimanya di kursi kerjanya meninggalkan Agung dan Adinda.
Agung menyentuh siku Adinda.
“Dicariin Bunda. Kata Bunda, kamu ingin diajak ke majelis.." Agung menunjukkan chat Bunda dan dirinya.
“Eh iya...” Adinda terkesiap.
“Pak Supir dalam perjalanan ke sini dari jemput Ayah di B Group. Nanti pulang bareng Ayah ya..”
Adinda mengangguk.
“Asyiiiiik bareng Ayah. Ayah bawa oleh-oleh apa ya dari Garut?”
“Ya gak tahu.. Dah, pamit dulu ke Papi. Beresin dulu barang-barang kamu di ruangan saya..”
“Iya Om..,” Adinda bergegas salim pada Pak Dhani yang masih menelepon lalu meninggalkan ruangan bersama Agung.
Adinda menatap Agung dengan senyum lebarnya, Agung menatapnya curiga.
“Om.. boleh ambil minuman lagi gak buat saya bawa pulang?” Adinda berbincang sambil berjalan di koridor.
“Gak,” tangan Agung dimasukkan ke dalam saku celananya.
“Satu aja..”
“Nggak.”
“Ih.. Om Agung pelit.”
“Biarin.”
“Isssh..”
“Nanti malam insyaa Allah saya akan belikan untuk kamu. Kamu ingin minuman apa saja?”
Mata Adinda berbinar.
“Beneran Om? Saya mau fanta hijau, coca cola, tebs, rootbeer, coffee soda,...”
“Nooooo,” Agung menatap Adinda, “3 saja. Gak boleh lebih dari 3. Saya bakal kena omel Ayah dan Bunda nanti..”
“Iya..” bibir Adinda mencebik.
Agung tertawa, “Yey ngambek..”
“Om Agung mau dibawain apa nanti? Saya kan mau ikut Bunda ke majelis.”
“Choky-choky, krip-krip dan kue pang-pang ya..” Agung terlihat sumringah.
“Om? Gak salah?”
“Kenapa?”
“Kok nama-nama kuenya pengulangan semua?”
“Kuadrat maksudnya?”
Adinda mengangguk. Agung tampak berpikir.
“Eh iya ya..” dia terkekeh sendiri.
“Gak nyangka, selera Om Agung bocil banget ya.”
“Mungkin itu sebabnya saya dapat jodoh bocil juga ya..” Agung memasuki ruangannya sambil terkekeh.
“Siapa yang bocil?”
“Kamu.”
“Saya bukan bocil.”
“Kan kamu manggil saya Om. Berarti karena kamu merasa bocil. Iya gak?”
“Bukan begituuu.”
“Terus?”
“Pokoknya saya bukan bocil!”
“Bocil,” Agung tersenyum lebar mengamati Adinda yang mengambek, "Tapi saya suka. Saaaaayaaang banget dengan bocil kesayangan..”
“Apaan sih Om Agung. Jelek tahu,” Adinda mencibir, “Lagian mana ada bocil yang bisa bikin bocil?”
“Eh??!” Agung terlonjak kaget.
“Kenapa Om?”
“Itu.. omongan kamu..mana ada bocil bisa bikin bocil.. maksudnya bagaimana?”
“Om Agung jaman SMAnya belajar biologi gak sih? Masih ingat kan dengan pelajaran biologi? Tentang reproduksi manusia?”
Agung mengangguk.
“Tahu dong umur tingkat kematangan reproduksi manusia?”
Agung mengangguk lagi.
“Jadi secara biologis, saya bocil bukan?”
Agung menggeleng.
“Nah, makanya.. jangan sebut saya bocil lagi. OK?”
Agung tidak berani menjawab atau membantah lagi.
(Setdah nih bocah...) Agung menghela nafas sambil memandang Adinda dengan mata terpicing.
Gawai Agung berbunyi.
“Wa’alaikumussalam Yah. Iya.. ini Adinda sudah siap kok. Kami turun sebentar lagi. Iya, di teras lobby saja.” Jeda.
“Iya.. wa’alaikumussalam..” jawab Agung.
Agung menatap Adinda.
“Ayah sudah hampir sampai. Yuk kita turun sekarang.”
Agung membawakan tas sekolah Adinda.
Adinda masih sempat menyambar kaleng soda yang baru sepertiga diminumnya berikut tabung keripik kentangnya.
"Saya bawa aja ya Om.. buat bekal di mobil."
"Ngemil mulu.."
"Kata orangtua jaman dulu, saya nuju mamayu. Gak apa-apa Om.. kan saya masih dalam taraf pertumbuhan..”
“Terserah deh..”
Sampai di teras lobby, bertepatan dengan mobil Ayah yang sudah masuk ke pelataran Sanjaya Group. Langsung menuju teras lobby.
Agung dan Adinda menyalimi Ayah yang duduk di kursi depan. Agung membukakan pintu untuk Adinda.
“Jangan lupa pesanan saya tadi, ya.”
“Iya.. saya pamit ya Om. Assalamu’alaikum..” Adinda melambaikan tangannya.
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Ayah. Daah, Bocil....” kata Agung sambil menutup pintu, mengabaikan seruan Adinda.
Mobil melaju meninggalkan Sanjaya Group.
.
***
Semoga Babang Agung gak mimisan setelah disinggung tentang pelajaran Biologi reproduksi manusia...
Author mau ngakak dulu lihat ekspresi Babang Agung...😂😂😂