
Terapi selesai. Mereka keluar ruangan setelah mengucapkan terima kasih kepada para petugas. Perawat yang tadi mengantar mereka memandu menuju lobby. Lobby tampak tidak terlalu ramai karena dikondisikan seperti itu agar pengamanan lebih mudah.
Saat Bramasta dan Adisti memasuki lobby, orang-orang berbisik-bisik sambil menatap mereka. Beberapa ada yang memanggil dan melambaikan tangan. Beberapa ada yang mengabadikan kehadiran Bramasta dan Adisti di lobby.
Adisti dan Bramasta tersenyum dan melambai ke arah orang-orang yang memanggilnya.
“Bang Bram, untung kita pakai bajunya serasi ya. Padahal kita gak janjian,” Adisti berkata pelan sambil memandang rok kotak-kotak warna biru putih yang dikenakannya dan kerudung biru muda polos yang sewarna dengan kemeja kota-kotaknya Bramasta.
“Namanya juga jodoh,” Bramasta membungkukkan badannya mengambil kartu pada sebuah buket bunga. Membacanya lalu menunjukkan pada Adisti.
CEPAT SEMBUH, ADISTI. WE LOVE YOU!
Bramasta membungkuk lagi, mengambil kartu dari buket yang lainnya.
BRAMASTA & ADISTI, YOU ARE ROCK.
Adisti berlutut membaca kartu-kartu yang ada pada buket bunga yang diletakkan di lantai. Matanya berkaca-kaca. Tidak menduga dengan dukungan yang ia dapatkan dari orang-orang yang bahkan tidak ia kenal ataupun mengenalnya. Simpati dan empati yang luar biasa untuk tindakan yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Bramasta menoleh saat mendengar isak lirih Adisti.
“Kenapa?” ia berjongkok di samping Adisti. Tidak terlalu dekat dan berusaha keras untuk tidak meyentuh Adisti, “Disti?”
Adisti tidak menjawab. Menyeka air matanya dengan punggung tangaannya. Wajahnya tertunduk.
Bramasta berdiri dan berjalan ke arah konter cemilan. Membeli tisu dan jus apel dalam kemasan kotak. Segera kembali di dekat Adisti. Berlutut di samping Adisti yang masih berlutut dan menangis. Bramasta membuka tisunya. Menyerahkan selembar pada Adisti.
“Terimakasih Bang Bramasta.”
“Iya..jangan nangis lagi, please. Abang jadi ikutan mellow nih.”
“Mereka gak kenal Disti. Disti juga gak kenal mereka. Tapi kok bisa mereka memberi dukungan simpati dan empati yang luar biasa seperti ini? Disti terharu, Bang.”
Bramasta mengangguk, “Semoga Allah membalas kebaikan mereka.”
“Aamiin.”
“Nih, haus ya? Biasanya habis nangis haus kan?”
“Kok Abang Bramasta tahu sih? Pas banget Disti lagi pengen jus apel dingin..”
Bramasta tersenyum lebar, “Beneran deh, rasanya pengen unyel-unyel pipi Disti.”
Adisti memegang pipinya “Gak boleh.”
“Malam Senin boleh, ya?”
Adisti menatap Bramasta lalu meringis sambil mengedikkan bahunya, “Ih Abang ih…”
“Apa? Kenapa?” Bramasta membantu Adisti untuk berdiri dengan memegang sikunya karena tangan kirinya masih digendong, “Becanda juga..”
Perawat yang mengantar menyaksikan interaksi mereka sambil tersenyum, “Nona, di teras ada karangan bunga spesial untuk Nona.”
Bramasta mengajak Adisti berjalan menuju teras. Orang-orang melambaikan tangan sambil memanggil nama mereka. Adisti balas melambai dengan senyum malu-malu. Bramasta sesekali balas melambai dengan senyum kecil.
Adisti menutup mulutnya yang melongo saat melihat karangan bunga papan di teras lobby. Membaca kalimat-kalimat penuh penyemangat dari para pengirim bunga yang entah siapa membuat hatinya hangat. Matanya berkaca-kaca lagi. Karangan bunga papan dari Taekwondo Indonesia dan Karate Indonesia membuat Adisti menangis tergugu sambil menutupi wajahnya. Bramasta merasa serba salah.
Bramasta mendekati perawat yang memandu mereka.
“Mbak, maaf saya bisa minta tolong?”
Perawat itu mengangguk.
“Tolong peluk Adisti. Dia butuh pelukan untuk ditenangkan. Saya belum boleh memeluknya. Bukan mahromnya. Belum halal,” Bramasta menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
Perawat tersebut tampak terkejut lalu memandang penuh rasa hormat pada Bramasta, “Baik, Tuan.”
Perawat tersebut menghampiri Adisti, mengulurkan tangannya untuk memeluk. Adisti menyambut pelukannya. Menangis tergugu dalam pelukan perawat. Perawat tersebut menepuk-nepuk punggung Adisti.
“Padahal saya bukan siapa-siapa, Mbak,” kata Adsiti di sela tangisnya, “Tapi perhatian besar mereka sungguh menyentuh.”
“Nona gadis pemberani. Nona gadis yang kuat. Nona menjadi inspirator para gadis muda untuk menjadi gadis yang pemberani dan kuat.”
Bramasta mengamati mereka berdua dengan tangan berada di dalam saku celananya. Dia lega Adisti berangsur tenang dan berhenti menangis. Dia menyerahkan tisu untuk Adisti.
“Jangan kecewakan penggemar baru Disti. Tetaplah seperti ini, menjadi role model yang baik bagi para gadis muda, ukhwatun hasanah,” Bramasta menatap mata Adisti sebentar kemudian dialihkan tatapannya. Bibirnya tersenyum.
Adisti terkesima. Dia menatap bahu Bramasta. Lalu tersenyum. Mereka melangkah masuk. Menyapa orang-orang mengucapkan terimakasih dan melambaikan tangan ke arah mereka dengan tersenyum. Seorang pengawal mendekati Bramasta, membisikkan sesuatu kepadanya. Bramasta menganggukkan kepala.
“Ayo bergegas. Kita harus bersiap untuk konferensi pers.”
Adisti mengangguk.
Di dalam Kamar Calon Pengantin, hanya ada Daddy, Mommy, Hans, Indra dan Agung. Yang lainnya sudah pulang. Hans, Indra dan Agung masing-masing sibuk berkutat dengan laptopnya masing-masing memeriksa dan mengerjakan pekerjaannya. Daddy dan Mommy tampak santai mengobrol.
“Assalamu’alaikum, “ Bramasta dan Adisti memasuki ruangan.
Semuanya menjawab salam. Bramasta dan Adisti menghampiri Daddy dan Mommy untuk salim.
“Bagaimana Bang? Kencang teriakannya?” tanya Agung menggoda.
“Kayaknya bisa ngalahin lengkingan suara Celine Dion.”
Agung dan Indra terkekeh. Adisti mencebik.
“Ejek terooooooos. Gaskeun. Lanjutkan…” Adisti menaiki bednya.
“Dih ngambek..” kata Bramasta menghampiri Adisti.
“Mau ngapain?” tanya Adisti.
“Maaf.. Jangan ngambek.. Nanti Abang beliin jus apel yang 1 liter.”
“Beneran?”
“Insyaa Allah. Udah ngambeknya ya..”
“Iya.”
“Iya..”
“Senyum dong jangan manyun mulu..”
“Tapi biar manyun tetap cantik kan?”
“Iya sih..”
Agung dan Indra saling bertukar pandang.
“Kalian ngapain sih?” tanya Agung
“Negosiasi,” Bramasta dan Adisti menjawab berbarengan.
“Negosiasi apaan? Jus apel 1 liter buat gak ngambek lagi?” Indra mencemooh.
Bramasta dan Adisti saling pandang lalu terkekeh bersama.
Agung dan Indra saling bertukar pandang lagi dengan wajah tidak mengerti.
Mommy terkekeh mendekati mereka. “Kalian,” menunjuk Agung dan Indra, “Gak bakal mengerti. Gak bakal paham.”
Lalu menunjuk pada Bramasta dan Adisti, “Dan kalian, buruan mandi. Baju kalian udah Mommy siapkan.”
Adisti keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang sudah disiapkan oleh Mommy. Baju kotornya dilipat rapi dalam kantong baju kotor yang nanti akan dibawa pulang Agung.
Mommy menemani Adisti di bednya yang ditutup tirainya.
“Cukup size bajunya?” tanya Mommy kemudian menatap puas pada Adisti yang sudah memakai baju yang ia persiapkan.
“Makasih banyak ya Mom..” Adisti memeluk Mommy.
“Mom,” panggil Adisti.
“Hmmm?”
“Semenjak Disti jatuh, Disti belum keramas. Karena luka jahitan yang belum kering. Ditambah lagi kejadian kemarin yang malah jadi bertambah jahitannya. Gimana dong? Masa mau jadi pengantin rambutnya bau? Malu…”
Mommy tersenyum. Menepuk sandaran kursi meminta Adisti untuk duduk di kursi itu, “Masih sakit gak kulit kepalanya?”
“Sudah gak begitu sakit. Tapi belum berani pakai ciput. Luka jahitannya jadi tertekan.”
Mommy membantu mengeringkan rambut Adisti dengan hair dryer yang ia bawa.
“Iya sih.. bau,” kata Mommy sambil terkekeh.
“Dih Mommy…” Adisti merasa malu, “Gunting sekarang aja ya, untuk sementara.”
“Disti yakin?”
“Lagipula juga bentuk rambut Disti udah gak karuan. Ceplak ceplok pitaknya dicukur petugas medis untuk jahit kulit kepalanya.”
“Iya.. Mommy gunting sementara aja ya. Besok kita panggil hair dresser untuk merapikannya lagi.”
Adisti mengangguk. Dia membuka laci lalu menyerahkan gunting medis yang tadi siang dia pinjam saat perawat yang membawa obat datang.
Mommy mengikat jadi satu dalam ikatan ekor kuda longgar. Lalu dengan hati-hati mulai menggunting rambut Adisti di atas ikatan karet. Ikatan ekor kuda ada di tangan Mommy. Rambut pendek Adisti tergerai dengan model bob asimetri.
“Duh.. Disti tetap saja imut dengan rambut dipotong darurat seperti ini,” Mommy memuji.
“Mommy, thanks a lot,” Adisti memeluk Mommy lalu mencium kedua pipinya. Mommy terkekeh.
“Jadi ingat masa Layla kecil dulu..” Adisti dan Mommy terkekeh.
Adisti mengambil tas kecil bergambar kucing oyen. Membersihkan wajahnya lalu memakai pelembab. Memakai alis mata, BB cream. Sedikit mewarnai matanya dengan eyeshadow. Membubuhkan bedak tabur dengan kuas besar. Lalu memakai blush on tipis warna oranye pink. Merapikan bedaknya lagi dengan kuas besar. Sementara itu Mommy membubuhkan bedak bayi pada kulit kepala Adisti untuk menyerap minyak.
“Disti cepat banget dandannya,” kata Mommy, “Tapi hasilnya rapi dan gak berlebihan.”
Adisti hanya tertawa.
“Apaan nih?” seru Indra dari sofa U, “+62’s Sweetheart?”
“Apa Ndra?” Mommy menyibak tirai, “Apaan?”
“Trending video sore ini, tentang Adisti dan Bramasta di lobby. Disti tadi ke lobby?” tanya Indra.
“Iya.. diminta ke lobby untuk melihat bunga-bunga pemberian orang-orang,” jawab Adisti menghampiri.
Indra menoleh, “Masyaa Allah… cantiknya…”
Bramasta keluar dari kamar mandi, mendengar pujian Indra, “Woiiy.. calon bini gue itu. Gak boleh dilihat lama-lama.”
“Issssshh.”
“Positif kan komentarnya?” tanya Mommy.
“Mostly_kebanyakan_ positif,” jawab Indra, “Widiiih disamakan dengan keluarga kerajaan Inggris segala.”
“Siapa?” tanya Bramasta.
“Adisti doang yang disamakan dengan Lady Diana dan Kate Middleton,” Indra menatap Bramasta, “Sorry, lu gak dianggap seperti Pangeran Charles ataupun Pangeran William.”
“Alhamdulillah… Gue kan jauh lebih baik daripada mereka. Meskipun Pangeran Charles udah jadi raja sekarang,” kata Bramasta penuh percaya diri.
Mommy mengangkat 2 ibu jarinya ke arah Bramasta. Hans dan Agung terkekeh.
“Tapi netizen menanyakan, kok jalannya jauh-jauhan sih? kok saat Adisti menangis bukannya dipeluk Bramasta malah dipeluk perawat?” Indra membaca komentar pada video.
“Isssh masa kaya gitu aja ditanyakan sih?” Bramasta duduk di samping Indra, “Mom, jadi nanti konferensi persnya bagaimana?”
“Nanti Bram dan Disti bicara langsung didampingi Indra dan Agung. Tadi Mommy sudah bicara dengan Indra dan Agung,” Mommy melihat gawainya, “Mommy dan Daddy mengawasi kalian dari ruang direksi di sebelah ruang meeting ya. Hans nanti dampingi dan bantu kalian.”
“Terus nanti Disti harus ngomong apa?” tanya Adisti pada mereka semua.