CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 172 – MEMBUKA JALAN



“Sudah hampir pukul 22.00, kami pamit dulu. Mau menonton breaking news,” kata Ayah kepada semuanya lewat video call.


“Bang Hans, Bang Indra, dan Bro Anton, thanks alot ya untuk semua yang kalian lakukan hari ini. Terim kasih sudah banyak membantu dalam kasus Adinda. Terimakasih juga sudah menghajar para penjahatnya. Sampaikan terimakasih gue pada Bunga,” Agung tersenyum lebar di layar gawai Adisti.


“No need to mention it_Gak udah sungkan_," sergah Hans sambil melambaikan tangannya.


“Vielen dank, bruder Indra_Terimakasih banyak, Bang Indra_,” Agung menunjukkan kedua jempolnya.


Indra tertawa, “Gern geschehen_Sama-sama_. Nah gitu dong mencoba bahasa Jerman. Gak sebelibet bahasa Perancis kan lidahnya?”


“Beberapa kosa katanya ada yang mirip Inggris ya,” kata Agung.


Indra mengangguk, “Lu gak perlu ke Goethe Institute, Gung. Sama gue aja.”


Agung tertawa. Kemudian mengucap salam untuuk semuanya. Video call berakhir.


Mereka semua beralih ke TV sekarang. Menanti siaran breaking news tentang kejadian di lounge hotel X.


Daddy memandang Hans dengan tatapan tajam. Kemudian menelengkan kepalanya ke kiri. Hans mengangguk mengerti.


Mereka berdua berdiri lalu berjalan menuju ruang kerja Bramasta. Daddy mencolek lengan Bramasta yang tengah memegang remote.


Bramasta menyerahkan remote kepada Anton. Dia mengikuti Daddy dan Hans ke dalam ruangannya.


Mereka bertiga tidak berbicara. Begitu memasuki ruang kerja, Hans menutup pintu. Lalu berdiri dengan tegap menghadap Daddy yang sudah duduk di sofa bersama Bramasta.


“Duduk, Hans. Ini bukan sesuatu yang formal. Bukan tentang pekerjaan juga,” kata Daddy.


“Ya Tuan,” Hans mengangguk lalu duduk di sofa bersama mereka.


“Well?” Bramasta memandang Daddy.


“Ini tentang Anton. Daddy dan Hans punya rencana untuk Anton terhadap keluarganya,” Daddy membuka percakapan.


Daddy lalu memandang Hans. Hans mengangguk mengerti lalu menceritakan renacana mereka berdua untuk Anton, si Bungsu dalam Gank Kuping Merah.


Bramasta mengangguk-anggukkan kepala. Setuju dengan rencana mereka, sweet revenge. Setuju juga dengan tindakan Hans dengan tiak terlalu terburu-buru menjalankan rencananya.


“Omongan Addisti tentang Anton, apa itu benar?” tanya Daddy.


Hans mengangkat bahunya. Dia menatap Bramasta.


“Kata Kakak Ipar, Adisti tidak pernah seperti itu sebelumnya. Setelah kecelakaan Adisti jatuh dari jurang, Adisti mulai seperti itu.”


“Dia punya kemampuan melihat masa depan?” tanya Daddy.


“Entahlah. Wallahu’alam.”


“Ini bukan kejadian pertama yang pernah Daddy lihat. Dia pernah berbicara tentang jodoh Indra juga kan?” tanya Daddy.


“Betul, Tuan. Dan semuanya terucap seperti diluar kesadaran Adisti sendiri."


Bramasta mengangkat kedua bahunya.


“Apa yang terjadi hari ini sudah membuka jalan untuk rencana kita terhadap Anton, Tuan,” Hans memandang kepada Daddy.


Daddy mengangguk.


“Biasanya dia menyebunyikan wajahnya dengan baik saat kamera mengarah kepada dirinya,” Daddy tersenyum lebar.


“Keluarganya akan melihat anggota keluarga mereka yang sudah mereka buang dan tidak dianggap dalam layar TV. Tidak sabar rasanya menunggu bagaimana reaksi keluarganya besok pagi,” Hans tersenyum lebar.


“Waspadai manuver mantan pacarnya,” sergah Bramasta, “Dia bukan perempuan yang baik-baik kalau melihat jejak digitalnya dan aktifitas sosialnya.”


“Kalian berdua, amatilah sosial media Anton, mantannya dan juga keluarganya” kata Daddy sambil berdiri.


“Dad.. kita bukan orang nganggur loh..” protes Bramasta.


Hans hanya tersenyum tipis.


“Ayo.. kita kembali lagi ke ruang tengah sebelum yang lainnya bertanya-tanya kemana kita..” ajak Daddy sambil terkekeh.


“Jadi voice note yang tadi siang lu kirim ke gue itu gak sengaja kepencet?” terdengar suara Indra menanyai Anton.


Anton mengangguk sambil terkekeh.


“Kejadiannya sewaktu Bryan menyiram Syarifudin alias teman prianya ibu tiri. Auto kaget gue,” Anton mengambil seiris kue bolu dari piring saji, "Saking kagetnya, tuh HP nyaris meluncur, kepencetlah voice note-nya dan ternyata terkirim ke Lu, Bro."


“Sebenarnya gue kasihan sih lihatnya. Mukanya kan udah dipermak habis oleh Agung pagi tadi. Bengep gak karuan lah. Ditambah disiram kopi hitam panas oleh Bryan. Kalian kan tahu sendiri bagaimana pihak hotel kalau menyajikan kopi panas...” Anton tertawa.


“Melepuh, Bro..” Leon ikut terkekeh.


“Disti gak bikin asinan lagi?” tanya Daddy sambil duduk di sebelah Pak Dhani.


“Eh iya tuh, asinan campur buatan Disti enak banget. Kita aja sampai rebutan makannya. Gak ada yang mau ngalah,” kata Pak Dhani.


“Nggak buat, Dad, Beh. Gak ada bahannya di kulkas. Di supermarket bawah gak lengkap. Lagipula malam ini Abang gak ngijinin Disti buat cemilan.”


“Kenapa?” taya Daddy.


“Malam ini dapur tutup, Dad,” Bramasta meraih tangan Adisti lalu dikecup punggung tangannya sambil ia duduk di samping istrinya.


“Dih, gitu amat..” protes Daddy.


“Kasihan Disti hari ini capek banget, Dad. Pas subuh tadi dia mempermak wajah ibu tirinya Adinda. Siapa namanya tadi?” Bramasta menjelaskan.


“Endah Mawar kalau gak salah ya?” Indra menatap Bramasta.


“Eh, iya.. by the way, maksud Lu bagaimana, Bram? Disti memermak wajah si Endah ini?”


Bramasta tertawa sambil merangkul istrinya erat.


“Apa tadi pagi istilahnya Disti? Abang lupa lagi..” tanya Bramasta pada istrinya.


Adisti terkekeh malu, “Kepret bolak-balik.”


Semua yang ada di ruang tengah tertawa geli mendengar kalimat Adisti.


“Kok bisa sih?” tanya Mommy sambil mengambil tisu dari kotaknya.


“Dia mau kabur diam-diam, Mom. Begitu tahu pintu depan sudah diblokir oleh kita, dia playing victim. Marah-marah menuduh kita masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin,” Adisti menjelaskan.


”Dia mengusir kami. Dia bilang itu rumahnya, propertinya,” Adisti tampak bersungut kesal, “Saat Disti bilang, ini rumah Adinda, dia gak terima. Malah marah-marah dan teriak-teriak. Bahkan hendak memukul Disti.”


“Kan bikin gemes...” sambung Adisti disertai cengirannya.


“Agung tahu apa yang dilakukan Disti?” tanya Bu Dhani.


“Pada saat itu, Agung tengah membawa Adinda dalam gendongannya menuju mobil. Bram bisa lihat Agung melirik Adisti tapi tidak berbicara apapun. Dia fokus dengan Adinda,” kata Bramasta.


“Kakak tahu kok. Saat di rumah sakit setelah Adinda tertidur, Kakak mengucapkan terimakasih karena sudah diwakili menghajar si ibu tiri.”


“Memangnya Agung tega memukul perempuan?” tanya Indra.


“Ya pasti nggak lah. Makanya kalau ada perempuan yang macam-macam ke Kakak, pasti Disti yang maju.”


“Macam-macam bagaimana?” tanya Bramasta.


“Ya... genit, caper, gitu deh..” Adisti tersenyum lebar kepada suaminya, “Soalnya Kakak juga begitu ke Disti. Dari jaman Disti kelas 5 SD selalu dikawal Kakak. Teman-teman laki-laki yang sok akrab dengan Disti selalu digalakin bahkan kalau perlu dipepet.”


“Kalian saling melindungi satu sama lainnya?” Hana menggeser duduknya.


Adisti mengangguk sambil memperlihatkan cengiran nya.


“So sweet banget sih hubungan kalian,” Layla terkekeh.


“Tapi mulai kemarin, tugas Disti diambil alih oleh Adinda..” tukasnya.


Semua memandang Adisti dengan penasaran.


“Diambil alih bagaimana?” tanya Mommy penasaran.


“Adinda cerita ke Disti, Kakak meminta dirinya untuk tetap di samping bed Kakak karena ada rekan kerja satu divisi yang mengejar-ngejar Kakak. Kakak gak mau memberi harapan apapun kepada wanita tersebut tapi tidak mau menyakiti hatinya juga..”


“Ya ampun...” Mommy membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya, “So sweet.. Bikin meleleh hati.”


“Memangnya Daddy kurang sweet, Mom?” tanya Leon.


Daddy langsung berdehem dan melirik tajam pada Leon.


Yang dilirik langsung menangkup kan kedua telapak tangannya lalu diletakkan di atas keningnya, “Ampun yang Mulia. It was really kacaletot teu dihaja_gak sengaja keseleo_".


“Hisssh, ini bule satu ini kayaknya minta dibuat kacaletot biwirna_keseleo bibirnya_,” Daddy memandang gemas menantunya.


“What is kacaletot??” Mommy memandang Leon dan Daddy bergantian.


Semuanya tertawa melihat tingkah mereka.


“Srimulat family on the stage,” kata Indra sambil menyesap kopinya.


Mereka membubarkan diri setelah tayangan breaking news berakhir.


“Hans, besok kamu tidak usah ke kantor. Istirahat saja dulu 2 hari di rumah. Memar di pelipis kamu akan banyak menarik perhatian,” perintah Daddy.


Hans mengangguk, “Baik, Tuan Alwin. Terimakasih banyak.”


Hans memandang Hana dengan senyum lebarnya.


“Honey... I’m yours for 2 days next.”


“Hhhh,” Indra mendengus, “Alamat Mbak Hana gak bakal keluar kamar ini mah..”


“Terus Baby Andra sama siapa?” tanya Leon.


“Titipin ke Disti aja,” kekeh Indra.


Bramasta mencebik, “No way!”


“Kalian ih, kepo banget sih?” Hana tertawa.


.


***


Catatan Kecil:


Goethe Institut adalah institut kebudayaan Republik Federal Jerman yang aktivitasnya ada di banyak negara. Di dalamnya disediakan beragam kursus bahasa Jerman mulai dari level A1-C2.


Kompak dan akur banget ya mereka. Adem banget.


Bantu promosikan novel ini ya Readers..


Love you so much❤️