
Anton mengerutkan keningnya sambil memandang pada Hans. Hans mengangguk.
“Vielen Dank für die Info, Herr Karl. Ich hoffe, es gibt einen klaren weg für diesen fall_Terimakasih banyak atas infonya, Tuan Karl. Semoga ada jalan terangnya untuk kasus ini_”.
Indra masih berucap beberapa kalimat sebelum akhirnya dia menutup gawainya lalu menatap pada semua orang diruang tengah.
“Bryan, menjadi the untouchable man di negaranya. Dia punya backing yang sangat kuat sekali di sana.”
“Siapa?” Daddy dan Hans bertanya bersamaan.
“Helena Schmidt.”
Daddy dan Hans saling berpandangan lalu menggeleng.
“Gak kenal..”
“Perempuan?” Adisti ikut bertanya.
“Helena Schmidt, dikenal publik sebagai wanita besi dari Jerman, tokoh dibalik majunya Ultrich Muller sebagai kandidat kanselir,” Anton membacakan biodata milik Helena Schmidt.
“Kalau di Inggris ada Margaret Tatcher yang mendapat julukan wanita besi karena ketegasannya, di Jerman ada Helena Schmidt ini ya?” Adinda ikut bersuara.
”Pinter kamu,” Agung melirik Adinda dengan senyuman lebar.
“OK.. Kita rapat di WAG ya atau mau kumpul di tempat biasa malam ini?” Bramasta memandang anggota Kuping Merah.
“Lebih enak kumpul deh,” usulan Leon diangguki oleh lainnya.
“Request, Dis.. Buatin salad buah atau asinan Bogor lagi ya..” Indra menaikturunkan alisnya.
Adisti mencibir.
“Setuju! Gue belum pernah coba asinannya..” Leon menepuk-nepuk punggung Layla.
“Daddy ikut ya..” Daddy memandang semua anggota Kuping Merah dengan senyum lebarnya.
“No way...” Bramasta menggeleng sambil menatap Mommy, “Kasihan Mommy nanti ditinggal sendiri. Biasanya kita meeting sampai menjelang tengah malam, Dad.”
“Mommy ikut dong..” suara Mommy sumringah sekali.
Bramasta memandang Hans dan Indra, seolah meminta bantuan mereka. Keduanya hanya mengangkat bahu. Bramasta menghembuskan nafas kasar. Menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
“Kenapa? Gak boleh ya?” suara Mommy terdengar sedih sekarang.
“Eh, nggak kok Mom.. Bukan begitu..” Bramasta merasa tidak enak hati.
“Gesture kamu tuh Bram.. nyebelin tahu!” Mommy mencebik, “Mommy kan juga ingin diajari bikin asinan juga oleh Disti. Boleh gak Dis?”
Adisti cepat mengangguk karena tidak tega dengan Mommy.
“Boleh Mom.. Silahkan saja. Kita buat sama-sama ya. Kalem, praktis kok. Disti punya alat buat motong-motongnya automatically. Jadi kita gak capek. Paling cuma cuci buah atau kupas buahnya doang..”
“Beli dimana, Dek?” tanya Bunda tertarik dengan alat yang dimiliki Adisti.
“Di online, Bun.. Disti lagi mabok belanja online,” Bramasta menjawab sambil tertawa, “Kemarin ngotot mau beli robot penyapu yang ada di toko online.”
“Robot penyapu?” Adinda mengerutkan keningnya.
“Kok Kakak jadi membayangkan robot pembersih berbaju pelayan miliknya Richie Rich?” seloroh Agung, "Irona, namanya."
Leon, Hans, Daddy dan Ayah terbahak keras.
“Siapa sih Richie Rich?” Adinda mengerutkan kening lagi.
“Tokoh kartun karya Walt Disney. Bocah cilik super kaya, saking kayanya bahkan makan dan minumnya dari wadah emas sejak brojol dan punya air mancur koin emas di rumahnya,” Agung menjelaskan panjang lebar sambil menatap Adinda, “Wah, anak jaman now gak kenal tokoh legend sekelas Richie Rich ya?”
“Itu artinya Om tua banget. Buktinya yang paham Richie Rich itu hanya Ayah, Daddy, Bang Leon dan Bang Hans saja..” Adinda tersenyum lebar disambut kekehan dari kaum Hawa di sana.
Agung terdiam. Kemudian berdiri dan menyuruh Adinda mengikutinya.
“Sini.. Kalau kamu ingin tahu tentang Richie Rich...”
Adinda mengikutinya dari belakang. Agung mengarah pada lemari pajangan yang banyak piala dan trophynya. Lalu membuka penutup pintu gesernya. Beragam buku komik dan buku cerita jaman Agung dan Adisti kecil tersusun rapi di sana.
Layla dan anggota gank Kuping Merah ikut mengerumuni lemari pajangan. Suara wah karena takjub terdengar.
“Sebanyak ini?”
“Serapi ini?”
“Edun pisan ini mah. Lengkap banget!”
“Bro, kapan-kapan gue pinjam ya. Boleh ya..” Hans menatap serius pada Agung.
“Boleh. Asal rapiin lagi, disimpan di tempatnya semula. Kasihan Bunda yang beresinnya.”
“Itu ada serial Tini dan Lima Sekawan. Bini gue demen banget tuh. Nanti kapan-kapan gue ajak Hana ke sini ya?” Hans membaca dengan cepat judul-judul buku yang ada.
“Boleh.. asal ajak Baby Andra juga. Bunda pengen main seharian sama Baby Andra..” Bunda menyahut dari sofa ruang tengah.
“Wah.. kode tuh Bram,” Leon menatap adik iparnya, “Jangan tunda-tunda.”
“Kami gak pernah menunda, Bang..” Bramasta ikut membaca judul-judul buku di sana.
“Dinda.. no way,” Agung menyentil punggung tangan Adinda yang hendak mengambil buku cerita serial Lima Sekawan yang ada di sana, “Boleh baca setelah ujian selesai. Fokus belajar dulu.”
“Jangan ngambek.. nanti cakepnya hilang..” Agung berkata lirih.
Indra dan Bramasta yang ada di belakangnya sontak ber-ciyeeee. Semuanya terbahak saat melihat wajah Agung dan Adinda yang memerah.
***
APARTEMEN LANDMARK
UNIT PENTHOUSE
“Terus, robot penyapunya gak jadi?” Mommy membantu mengupas ubi oranye.
Adisti menggeleng lalu mencebik.
“Diketawain Bang Bram dan Hyung Anton.”
“Memangnya apa kata mereka?”
“Robot penyapu seharga 400 ribu itu sama dengan mobil-mobilan yang bisa belok ataupun mundur otomatis saat ada penghalang di depannya..”
Mommy terkekeh.
“Ciyus harganya cuma 400 ribu? Terus komentar pembelinya bagaimana?”
“Ada yang bilang puas tapi banyak yang tidak puasnya. Cuma bisa menghisap debu halus saja. Kertas bahkan tisu tidak mampu terhisap.”
Mommy terkekeh lagi.
“Gak jadi dong?”
“Gak jadi beli yang di toko online itu. Nanti Hyung Anton yang cariin sesuai speknya.”
Mommy mengangguk, “Anton itu cerdas banget ya anaknya?”
Adisti mengangguk, “Banget Mom. Tapi kasihan, masih jomblo karena belum bisa move on dari cinta monyetnya..”
“Dih! Biarin saja. Biar dewasa dulu hatinya,” Mommy tersenyum. Dia tahu rencana yang dibuat suaminya dan Hans untuk Anton.
Semua anggota gank Kuping Merah lengkap hadir di ruang tengah penthouse Bramasta. Termasuk Agung yang datang diantar oleh driver Bunda. Ditambah Daddy dan Mommy yang tempak sudah segar setelah mandi dan beristirahat di ruang tidur tamu.
“Kalian jangan su’udzhon dulu ke Daddy ya. Daddy ikut meeting kalian ini bukan sekedar demi asinannya Disti. Tapi alasan utamanya karena Adinda itu sudah jadi anak angkat Daddy dan Mommy. Jadi sebagai orangtuanya, kami wajib memantau perkembangan kasus Bryan ini,” Daddy mengawali meeting saat semuanya duduk di sofa dengan tambahan sofa dan meja dari balkon yang dibawa masuk dengan bantuan para pengawal.
Semuanya manggut-manggut mendengar penjelasan Daddy.
“Pak Gumilar sudah meminta Daddy untuk mewakilinya,” Daddy menjelaskan lagi, “Tapi ngomong-ngomong asinannya mana, Dis?”
“Belum siap, Dad. Tunggu 30 menit lagi supaya meresap bumbunya,” kata Adisti.
Daddy mengangguk.
“Tadi apa saja yang dibicaraka Tuan Karl, Ndra?” Bramasta memandang Indra.
Indra mengangguk.
“Kata Tuan Karl, berita tentang Bryan yang dideportasi dan dipersonanongratakan tidak muncul di surat kabar manapun,” Indra menatap semuanya, “Artinya ada tangan-tangan yang sangat berkuasa yang ingin menutupi berita tersebut.”
Semuanya menatap Indra dengan muram.
“Lagi.. kita berurusan dengan orang-orang berkuasa tapi menyalahgunakan wewenangnya,” Hans menghembuskan nafas panjang, terlihat lelah.
“Kirain cuma di negara miskin atau berkembang saja terjadi penyalahgunaan kekuasaan seperti itu ya..” Anton mengotak-atik keyboard laptopnya, berusaha menelusuri berita tentang Bryan di surat kabar Jerman.
Leon yang ada di sebelahnya ikut menekuri layar laptop Anton.
“Beneran gak ada ya,” ucapnya yang mendapat anggukan dari Anton.
“It’s about money talk. Orang-orang yang tidak memiliki iman, tidak beragama ataupun tidak taat terhadap ajaran agamanya akan mudah terbujuk dengan uang,” Daddy menyesap tehnya, “Sebanyak apapun kekayaannya, dia tidak akan pernah merasa cukup.”
“Bahkan akan semakin ingin lagi dan lagi untuk menambahkan pundi-pundi kekayaannya dengan cara apapun,” Mommy ikut bersuara.
“Pejabat yang diberi kekuasaan, mendapat gaji yang tinggi, fasilitas kelas premium, tunjangan yang banyak dimaksudkan untuk tidak melakukan praktek korupsi kan? Tapi kenyataannya masih saja, ya? Manusia memang tidak ada puasnya ya..” pandangan Adisti menerawang.
“Dari ucapan Bang Hans, kenapa kita tidak melakukan cara yang sama seperti kasus sebelumnya?” Agung menatap Hans.
Bramasta yang tengah berpikir langsung menjentikkan jarinya, “Biarkan netizen yang berbicara dan beropini untuk merepotkan mereka.”
Indra menganggukkan kepalanya, "That’s why.. sore tadi gue bilang butuh Prince Zuko.”
“Lu siap Ton, menghadapi serbuan hacker Jerman?” Bramasta menatap lekat Anton yang duduk di hadapannya.
“Kan ada Bang Hans, ada Shadow Team.Insyaa Allah...” Anton memberikan cengiran tengilnya.
“OK. Semua setuju Prince Zuko akan tampil lagi?” Bramasta menyapukan pandangannya.
Semua yang hadir di sofa tengah mengangguk setuju. Termasuk Daddy dan Mommy.
.
***
Readers setuju gak, Prince Zuko on the stage lagi?
Bantu Author promosikan novel ini ya..🙏🏼🌷