CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 21 – MENGATUR STRATEGI



Sudah 2 hari pasca mengantarkan Adisti pulang dari rumah sakit, Bramasta terlihat gelisah. Beberapa kali menghela nafas. Mereka baru selesai meeting di luar kantor. Indra melirik Bramasta yang ada di sampingnya.


“Kenapa sih?” tangannya mengganti persneling.


“Nggak..”


“Lu kangen? Datengin lah.”


“Malu. Kemalaman buat bertamu.”


“Teleponlah.”


“Udah, nelepon emaknya. Tapi gak dikasihin ke anaknya, pas di telepon, emaknya lagi di pengajian.”


“Lah?” Indra terkikik geli, “Kenapa gak ditelepon langsung?”


Bramasta merogoh saku dalam jasnya. Menggoyangkan handphone dengan warna girlie di tangannya.


“Oh iya, handphone-nya di lu. Aktifin, Bos.”


Bramasta menekan tombol power. Butuh waktu hampir semenit, layar pembuka muncul. Tak lama kemudian nada notifikasi pesan masuk terdengar beberapa kali. Bramasta dan Indra saling pandang. Segera menekan tombol aplikasi pesan chat berwarna hijau.


“Lunar Art & Gallery, Ibunya Tiyo, Erna, Bocil, Andrew Smith.”


“Eh, kok ada bule?” Indra mengangkat sebelah alisnya, “Cek foto profilnya, Bos.”


“He eh. Bule beneran. Masih muda, ganteng lagi.”


“Wah, saingan lu nih kayaknya.”


Bramasta cemberut menatap jalanan.


Tangannya menyentuh nama Ibunya Tiyo.


Ibunya Tiyo_Heh, miskin! Kakak kamu mengadu apa ke Tiyo?_


Ibunya Tiyo_Puas kamu?!! Sekarang anak saya memusuhi ibunya sendiri. Gara-gara kamu dan kakak kamu! Brengsek kalian semua!_


Ibunya Tiyo_Jangan harap kamu dan kakak kamu bakal selamat ya!_


“Wah..wah..wah..” Bramasta menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nyonya Besar mengamuk.”


“Berarti Tiyo tidak tahu-menahu dengan apa yang keluarganya perbuat pada keluarga Adisti?”


“Maybe..”_mungkin_ Bramasta mengangkat bahunya.


Tangan Bramasta menyentuh nama Lunar Art & Gallery.


Lunar Art & Gallery_Assalamu’alaikum, Teh Adisti.


Besok bisa datang ke Lunar jam 11.00? Ada yang berminat dengan lukisan, “Purple Veil”. Buyernya meminta untuk bertemu langsung dengan pelukisnya. Ditunggu balasannya ya Teh. _


Bramasta mengecek jam masuk pesan. 10. 35 pagi tadi.


Bramasta mengetik balasannya.


Adistii_Wa’alaikumussalam. Maaf saya tidak bisa datang besok. Saya masih dalam pemulihan._


Adisti_Insyaa Allah kalau hari Selasa saya bisa._


Tak berapa lama notifikasi pesan masuk berbunyi.


Lunar Art & Gallery_Teteh sakit apa?_


Lunar Art & Gallery_Nanti saya bicarakan dengan buyer dulu ya Teh. Syafakilah Teteh Cantik (emot love)_


“Ndra, cari tahu dong, kurator Lunar Art & Gallery itu cewek atau cowok?”


“Kenapa emangnya?”


“Di-chat dia menyebut Adisti dengan Teteh Cantik terus pakai emot hati segala..”


“Terus napa?” cengir Indra, “Adisti memang cantik kan?”


“Hhhhh!”


Indra terbahak, “Malam nanti jadi kan kita ketemuan dengan Agung dan lawyer kita?”


Bramasta mengangguk, “Insyaa Allah. By the way_Omong-omong_, tentang sewa tanah Pak Gumilar sudah beres?”


Indra mengangguk, “DP sudah ditransfer pagi tadi. Sore nanti gue langsung ke rumahnya untuk tanda tangan draft sewa.”


“Ndra,” Bramasta tersenyum lebar kepada Indra.


“Hmm?”


“Salam ya buat Adisti..”


“Cih.”


Jam 18.30 Bramasta sudah sampai rumahnya. Bergegas sholat Maghrib lalu memesan makanan, dan membersihkan tubuhnya. Suara bell di pintu terdengar tepat setelah dia memakai baju rumah. Pesan antar makanan. Baru saja meletakkan bungkusan besar pesanannya di atas meja pantry, bel pintu berbunyi lagi.


“Assalamu’alaikum,” Agung mengucap salam begitu pintu dibuka.


“Wa’alaikumussalam. Masuk A. Gak susah kan nyari alamatnya?” tanya Bramasta.


“Yang Abang sebut rumah ternyata apartemen toh..” Agung memandang sekeliling ruangan apartemen yang cukup luas itu dengan kagum.


“Home sweet home, A. Mau apartemen ataupun rumah biasa, sama-sama rumah untuk saya.”


Agung mengangguk.


“Adisti bagaimana A?”


“Alhamdulillah kakinya sudah tidak lemas lagi. Sudah bisa jalan-jalan sendiri tanpa harus dipegangi.”


“Naik tangga?” Bramasta bertanya dengan nada cemas.


“Nggak.. belum dibolehin oleh Bunda atau Ayah.”


Bramasta mengangguk puas.


Terdengar nada nomor akses masuk ditekan dari luar.


“Assalamu’alaikum,” suara Indra memenuhi ruangan.


Mereka menjawab salam sambil ber-hi five.


“Alhamdulillah.. pengertian banget, lu Bram. Tau aja kita lagi pada lapar.”


“Ya iyes lah. Yuk makan dulu. Cuci tangan dulu sana di pantry.”


“A, tadi siang saya aktifin handphone Adisti. Ada beberapa pesan masuk. Yang saya buka cuma dari Ibunya Tiyo dan Lunar Art & Gallery,” Bramasta memandang Agung yang tengah menyantap makan malamnya, “Yang Lunar, saya bales chatnya, maaf ya.”


“Memangnya Lunar nge-chat apa?”


“Bentar, saya ambil dulu,” Bramasta menyerahkan handphone Adisti.


“Selasa? Kenapa gak Senin saja sepulangnya dari rumah sakit?” tanya Agung.


“Senin, saya jadwalnya masih penuh, A.”


Indra terbatuk lalu terkekeh.


“Lagi pula selesai kontrol dan fisioterapi tidak tahu jam berapanya.”


Agung mengangguk setuju.


“Berarti nanti Adisti ke Lunar diantar Abang? Tidak mengganggu jadwal Abang?”


Bramasta mengangguk, “Tapi jangan bilang Adisti kalau saya yang bakal antar ya A. Bilang aja nanti ada yang jemput.”


Agung memandang Indra. Indra menganggukkan kepala berulang kali pada Agung sambil tersenyum lebar.


“Ehm,” Agung berdeham saat mereka semua sudah selesai makan. Meja makan sudah bersih rapi. Aroma kopi dari mesin coffee maker menguar memenuhi udara.


“Bang,” Agung memanggil dengan ragu.


“Ya?” tangannya menuang air berwarna gelap dan panas dari teko coffee maker.


“Abang suka sama Adek?”


Tangan Bramasta berhenti menuang kopi. Indra yang sedang mencuci piring menengok ke arah mereka berdua.


“Kelihatan banget ya?” Bramasta balik bertanya.


Agung tersenyum, “Seterang matahari di siang hari yang cerah.”


Indra terkekeh geli.


“Boleh gak?” Bramasta bertanya lagi.


“Kalau saya sih iyes, gak tahu yang lainnya,” Agung meraih kopi yang disodorkan Bramasta lalu membuka bungkus gula.


“Gue juga iyes,” kata Indra, “Kenapa lu setuju, Gung?”


“Gue percaya Abang bisa jaga Adek. 3 kali Abang udah jagain Adek. Saat di jurang, di tangga dan saat Tiyo datang,” Agung mengaduk kopinya, “ Gue denger saat Abang ngomong ke Tiyo. “Adisti dalam perlindungan saya. Jangan temui lagi Adisti. Jangan ganggu lagi Adisti dan keluarganya.” Saat itu gue yakin, Abang orang yang tepat buat Adek.”


“Terimakasih banyak, A sudah mempercayai saya. Saya janji akan selalu menjaga Adisti dan tidak akan menyakitinya.”


Agung mengangguk.


“Bos, yang lu tembak Adisti atau kakaknya sih?” Indra menepuk keras lengan Bramasta.


“Kan gue minta ijin dulu ke kakaknya,” Bramasta balas memukul.


Bel pintu berbunyi. Indra membukakan pintu.


“Assalamu’alaikum,” suara bariton menyapa mereka semua. Penampilan rapi, wajahnya tampan dan berusia pertengahan 40an. Di tangannya ada kotak donat besar. Kotak berpindah tangan pada Indra.


“Asyik..cocok banget nih dengan kopi,” Indra meletakkan kotaknya di meja makan, “Kita mau ngobrol dimana nih?”


“Di balkon aja ya biar fresh udaranya,” kata Bramasta.


Cangkir-cangkir kopi dan kotak donat berpindah ke meja rendah di balkon yang dikelilingi sofa rotan berbentuk L dengan busa tebal yang nyaman.


“A Agung, ini Pak Armand, lawyer perusahaan B Group dan Sanjaya Group,” Bramasta memperkenalkan keduanya. Keduanya saling berjabat tangan.


“Jadi bagaimana?” tanya Pak Armand.


Bramasta menceritakan garis besarnya lalu Agung menjelaskan detilnya. Pak Armand mengangguk-angguk.


“Istri Hilman Anggoro memang dikenal tajam mulutnya dan arogan di kalangan sosialita. Beberapa klien saya ada yang bermasalah dengan istri Hilman Anggoro. Sepertinya memang wataknya seperti itu. Beruntung adik A Agung ini tidak jadi menikahi anaknya. Berabe punya mertua seperti di sinetron cap ikan terbang kan?”


“Tapi kalau dibawa ke jalur hijau untuk hal seperti ini, buktinya masih terlalu lemah. It will be wasting time, energy and money too_Cuma buang waktu, tenaga dan juga uang_."


“Jadi bagaimana Pak?” tanya Indra.


“Ini sudah ada ancaman lagi buat A Agung dan Adisti. Tunggu saja hingga Nyonya Hilman itu bergerak dan beraksi. Baru kita balas bereaksi. Langsung saja ke Anggoro Putro. Ancam dengan pemutusan kerjasama atau yang seperti itu.”


“Tapi kalau tindakan Nyonya Hilman membahayakan Adisti, bagaimana Pak?”


“Itu sudah beda lagi, sudah masuk ranah pidana bukan perdata lagi. Lindungi Adisti supaya tidak ada orang asing yang mendekatinya. Bisa kan?”


Ketiganya saling berpandangan. Lalu mengangguk.


“Senin nanti, siapa yang mengantar Adisti kontrol ke rumah sakit?” tanya Bramasta.


“Ayah dan Bunda. Saya gak bisa nganterin, A. Ada meeting dengan direksi.”


Bramasta mengangguk.


“Jangan beritahu Adisti tentang hal ini ya A. Beritahu Bapak dan Ibu Gumilar saja supaya lebih waspada.”


Indra mengetik sesuatu di gawainya. Tidak berapa lama suara notifikasi pesan masuk terdengar dari gawai Bramasta.


Indra_Minta tolong Mommy. Nyonya Hilman tidak akan berani menyentuh Adisti kalau ada Mommy._


Bramasta_Are you sure?_Kamu yakin?_


Indra_100%. Bilang aja ke Mommy, jagain calon mantu (emot mata love)_


Bramasta_(emot ngakak)_


“Senin nanti berangkat jam berapa dari rumah?” tanya Bramasta.


“Sepertinya pagi, Bang.”


“OK. Nanti ada yang jemput ya buat ke rumah sakit.”


“Bang, terimakasih banyak ya. Abang bantuin banyak banget buat keluarga saya.”


Indra menepuk bahu Agung.


“Don’t mention it_Jangan sungkan_. Dia lagi jagain calon bini idaman masa kecilnya. Tulisan tangan Adisti, huruf G-nya mirip semut kan?”


Agung terkekeh sambil mengangguk. Pak Armand tampak bengong melongo.


“Apa hubungannya huruf G kecil yang mirip semut dengan calon istri Bramasta?” tanya Pak Armand.


“Panjang ceritanya Pak. Nanti saja tunggu undangannya,” kata Indra sambil mencelupkan donat ke cangkir kopinya.


Pak Armand tertawa, “Rasanya tidak sabar melihat Bramasta melepas masa lajangnya. Setidaknya bisa mematahkan berita yang pernah beredar yang membuat Nyonya Alwin memberi somasi kepada stasiun TV negara tetangga dan beberapa media cetak di sana.”


Tidak berapa lama Pak Armand mohon diri. Bertiga mereka masih mengobrol di balkon.


“Sudah ketemu Pak Gumilar?” tanya Bramasta kepada Indra.


Indra mengacungkan jempolnya. Donatnya dicelupkan lagi ke dalam kopinya. Diangkat dan dimasukkan ke mulut dengan cepat agar kopi tidak menetes ke tangannya.


“Terus?”


“Kata Adisti, wa’alaikumussalam. Itu kan yang sebenarnya pengen lu denger?”


Bramasta terkekeh. Agung menatap tidak mengerti.


“Kalian ngomong apa sih? Apa hubungannya ketemu Ayah dengan Adisti menjawab salam?” Agung mengambil donat. Mencoba menikmati donat seperti cara Indra. Saat dimasukkan ke dalam mulut, wajahnya mengernyit.


“Kenapa? Enak kan rasanya?” tanya Indra.


“Dih. Benyek kayak giitu, apa enaknya?” Agung mengambil tisu untuk membersihkan leleran kopi di tangannya.


“Tadi… tanda tangan kontrak sewa tanah. Bramasta juga titip salam buat adik lu.”


Bramasta masuk ke dalam. Kemudian kembali lagi membawa paper bag kecil berwarna navy blue dengan nama jaringan toko gadget di beberapa kota besar milik B Group. Disodorkannya kepada Agung.


“Buat Adisti. Pakai nomor baru. Data kontak telepon sudah disalin ke nomor barunya. Sudah ada nomor kontak saya, Indra juga Anton.”


Agung mengangguk. Dia tidak membuka ataupun mengintip isi paper bag-nya.


“Thanks a lot. Adisti memang jadi seperti terputus dengan dunia luar pasca dia tidak boleh memegang handphone. Tapi mau bagaimana lagi. Adisti juga tidak mengeluh hidup tanpa handphone.”


“Jarang banget ya, anak muda jaman now yang bisa hidup tanpa gadgetnya terutama medsosnya.”


“By the way, medsos Adisti apa?” tanya Bramasta.


“Dia menghapus semua medsosnya pasca putus dari Tiyo.”


Bramasta mengangguk.


“Lusa jadi? Rencana ke lokasi Adisti jatuh?” tanya Agung.


“Insyaa Allah. Kita pergi pagi aja ya. Sekalian di lokasi mulai ada pekerjaan pembuatan pagar pengaman.”


Malam itu, sebelum tidur, Bramasta mengecek aplikasi pesan chat-nya. Tersenyum melihat foto profil Adisti sudah terisi. Masih online.


Bramasta_Assalamu’alaikum, Disti. Belum tidur?_


Jeda agak lama. Kemudian terbaca “sedang mengetik”. Bramasta tersenyum.


Adisti_Wa’alaikumussalam. Kirain udah tidur.


Tadi Disti mau nge-chat ragu-ragu. Takut ganggu Abang. (Emot menutup bibir)_


Adisti_Abang, jazaakallahu untuk handphone-nya. (Emot bunga tulip)_


Bramasta_Waiyyaki jazaakallahu.


Maaf Abang tidak tahu warna kesukaan Disti. Abang juga tidak tahu Disti ingin handphone apa._


Adisti_Disti suka kok Bang (emot tersenyum). Disti gak butuh gadget yang canggih banget, nanti malah jadi mubazir._


Bramasta_Disti, dah malam. Tidur ya.


Insyaa Allah besok kita chat lagi ya._


Adisti_Iya Bang. Abang juga tidur ya.


Jangan begadang. Jaga kesehatan.


Assalamu’alaikum Bang Bram.(Emot tersenyum)_


Bramasta_Wa’alaikumussalam. Have a nice dream. Sleep tight_ Semoga mimpi indah, ya. Bobo yang nyenyak_._


[Aih, jadi seperti ini rasanya…] Bramasta terlentang sambil melebarkan kakinya di atas kasur. Bibirnya tersenyum lebar.


[Seperti ini rasanya chat dengan orang yang kita suka...] Kakinya ditekuk lalu digerakkan seperti mengayuh sepeda di udara. Wajahnya ditutupi bantal lalu terkikik sendirian.


Kecapaian, Bramasta terlelap sambil memeluk bantal di dadanya. Tidur dengan wajah tesenyum. Malam Jum’at yang paling berbeda dalam hidup seorang Bramasta.


Catatan Kecil:


Kurator adalah pengurus atau pengawas institusi warisan budaya atau seni. Tugasnya adalah untuk memilih dan mengurus obyek museum, galeri atau karya seni yang dipamerkan.