CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 159 – BE STRONG, ADINDA!



Tanpa menunggu lama, Agung meraih tubuh Adinda. Menggendongnya dalam dekapannya. Posisi tubuh Adinda masih meringkuk menyembunyikan wajahnya.


Di ruang tamu, langkah Agung terhenti sejenak. Dia melihat adiknya menampar bolak-balik pipi si Ibu Tiri.


Agung tidak berkomentar. Dia melanjutkan langkah panjangnya menuju mobil. Bramasta mengikuti langkah Agung. Orang-orang berkerumun di depan rumah.


“Dinda?” seorang bapak mendekat, “Dinda kenapa?”


Agung tidak menjawab.


“Harus dibawa ke rumah sakit, Pak,” Bramasta menjawab untuk Agung.


“Tolong buka pintunya,” Agung berdiri di depan pintu tengah.


Bapak yang tadi membukakan pintu mobil.


Dengan hati-hati, Agung memasuki mobil. Bramasta melindungi kepala Adinda dengan tangannya agar tidak terantuk.


“Kursinya mau direbahkan?” tanya Bramasta.


Agung bergumam pelan pada Adinda. Adinda tidak menjawab. Saat mencoba mendudukkan tubuh Adinda di kursi, Adinda berontak. Dia semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Agung.


“Dinda.. Dinda duduk ya?” bujuk Bramasta.


“JANGAN DEKATI SAYA! JANGAN SENTUH SAYA!” Adinda meraung.


Bramasta terkejut. Kemudian menatap Agung dengan tatapan bertanya.


Agung menggeleng. Matanya mengembun. Agung duduk dengan Adinda yang meringkuk di pangkuannya.


Jaket digeser ke bagian depan tubuh Adinda sekarang. Posisi Adinda masih sama seperti pertama Agung membawanya dari dalam kamar.


“Bang, tolong ikut kami. Ajak Adek juga. Siapa tahu dia bisa menenangkan Adinda.”


Bramasta mengangguk. Dia duduk di depan. Adisti yang sudah menyusulnya langsung duduk di kursi tengah di samping kakaknya yang memangku Adinda.


Seorang bapak-bapak berlari menghampiri Bramasta. Bramasta menurunkan kaca jendelanya.


“Adinda, apa yang terjadi dengan Adinda?” tanyanya dengan suara terengah.


“Saya tidak tahu, Pak RT. Untuk lebih jelasnya, tanyakan pada Pak Hans yang tadi mendampingi Pak Agung di dalam sana.”


Pak RT mengangguk mengerti.


“Kami ke rumah sakit dahulu, Pak. Nanti akan saya kabari tentang Adinda.”


Pak RT mengangguk lagi.


“Hati-hati di jalan.”


Gawai Bramasta berdering, “Assalamu’alaikum Ndra.” Jeda.


“Iya, tolong siapkan petugas medis di sana. Sepertinya serangan shock. Persiapkan juga untuk visum juga. Beritahu Bunda untuk menunggu kami di UGD. Adinda belum bisa diajak berkomunikasi.” Jeda.


“Jangan ada berita yang bocor ke media dulu. Gue udah ngomong dengan Hans tentang hal ini. Supaya kita bisa meringkus orang yang memiliki kekebalan diplomatik. Walau tidak bisa dihukum di negara ini setidaknya dia di-persona non grata-kan.” Jeda.


“Identitasnya sudah dilacak oleh Anton. Dari Kedutaan Jerman. Gue yakin ini bukan kasus woman traffickingnya yang pertama. Ada kemungkinan juga dia seorang predator, pedofil.” Jeda.


“OK. Kami sudah on the way. Sampai ketemu di sana ya. Assalamu’alaikum.”


Bramasta mengakhiri panggilannya. Dia menengok ke belakang. Adisti tengah berlutut di depan kakaknya. Membujuk Adinda untuk membebaskan kepalanya dari perlindungan lututnya.


“Dinda sudah aman sekarang.. Kepalanya ditegakkan ya, supaya nafasnya tidak tersengal begitu..”


Adinda tidak bereaksi. Tubuhnya semakin ditempelkan pada Agung.


“Dinda.. ini Teteh. Teh Adisti. Ingat kan?”


Air mata jatuh dari sudut mata Agung. Dia mengusapnya dengan menggunakan bahunya.


“Dinda, dengar suara Om Agung?”tanya Agung.


Adinda masih tidak menanggapi. Tubuhnya masih bergetar. Baju dan rambutnya basah oleh keringat dingin. Nafasnya juga masih tersengal-sengal.


“Dinda kedinginan?” tanya Agung lagi.


“Bang Bram, pinjam jaketnya, Bang,” kata Agung.


Bramasta langsung melepas jaket yang sedang dikenakannya. Adisti membantu menyelimutkan jaket pada Adinda.


Pak Andi melajukan mobilnya dengan cepat. Langit masih gelap, belum banyak penduduk yang beraktifitas di jalan raya pada jam itu.


Mobil langsung menuju teras UGD. Indra, Ayah dan Bunda sudah menunggu di teras bersama petugas medis yang membawa bed brankar.


Bramasta dan Adisti turun terlebih dahulu. Kemudian Agung sambil menggendong Adinda.


“Ssssh...sssh.. tidak apa-apa. Dinda bobo di bed ini dulu ya. Om Agung tidak kemana-mana kok. Om Agung di sini, temani Dinda.”


Adinda tidak bereaksi, hanya cengkeramannya pada kaos Agung semakin kuat. Agung


meringis merasakan jahitannya di punggung jadi tertarik oleh cengkeraman pada kaosnya.


“Dinda.. kasihan Om Agungnya. Luka operasinya sakit lagi tuh..” bujuk Adisti.


Adinda masih sama. Bunda dan Ayah meneteskan air matanya melihat kondisi Adinda. Mereka menyaksikan apa yang terjadi di ruang tengah rumah Adinda melalui laptop Agung.


Akhirnya Agung mengalah. Dia naik ke atas bed sambil memangku Adinda. Bunda dan Adisti mendampingi Agung ke dalam ruang UGD.


“Dek, kamu sudah sholat shubuh belum?” tanya Bunda.


“Belum Bun.. Adek yakin, Kakak juga belum..”


“Susul suami Adek supaya bisa berjama’ah. Bunda yang temani Dinda. Setelah sholat, segera kemari ya.”


Adisti mengangguk lalu bergegas menyusul suaminya.


“Kakak akan sholat setelah Adinda tertangani ya Bun. Dari tadi dia gak mau lepasin Kakak. Dia ketakutan setiap mendengar suara laki-laki. Bang Hans dan Bang Bram juga tadi dibentak oleh Dinda..”


Bunda mengelus punggung Adinda dengan penuh rasa sayang, “Dinda yang sabar ya.. Dinda kuat, Dinda bisa melewati ini semua.”


Suara Bunda yang lembut juga sentuhan Bunda membuat Adinda bereaksi. Kepalanya mulai mendongak. Lepas dari himpitan kedua lututnya. Kedua tangannya masih mencengkeram baju yang dikenakan Agung.


“Bun..” bisik Agung.


Bunda mengangguk.


Air mata Agung luruh di pipinya, “Dinda Bun.. Masyaa Allah, akhirnya..”


Tangan Agung memijat lembut tengkuk Adinda untuk menghilangkan pegal yang pasti dirasakan.


“Dinda dengar suara Bunda?” tanya Agung.


Adinda tidak menjawab, dia hanya menyandarkan kepalanya di dada Agung. Matanya menatap kosong ke arah Bunda.


“Dinda.. ini Bunda, Nak. Bundanya Om Agungnya kamu, juga Bundanya Teh Adistinya Abang Bramasta. Dinda ingat?” Bunda berusaha membuat percakapan dengan Adinda.


“Kita mengobrol 2 hari yang lalu di kamar rawat inap Om Agung. Obrolan yang membuat Adinda memakai hijab karena rasa sayangnya Adinda kepada Papa. Karena Adinda khawatir, Papa akan dimintai pertanggungjawaban karena Dinda tidak menutup aurat. Masih ingat?”


Adinda melirik Bunda. Kemudian menggerakkan kepalanya perlahan ke arah Bunda. Matanya fokus menatap pada Bunda.


“Bunda.. Bun..!” suara Adinda terdengar memelas.


Agung mengelap pipinya yang basah dengan bahunya.


“Mereka jahat Bun.. mereka membunuh Papa. Mereka meracuni kopi Papa,” suara Adinda terdengar jelas di ruang UGD ini.


Seorang perawat menghampiri sambil membawa papan klip di tangannya.


“Mereka membuat Dinda jadi yatim piatu, Bun!”


“Sssh...sssh...” Agung berusaha menenangkan Adinda.


“Laki-laki itu menarik paksa jilbab Dinda, Bun! Dia merobek baju Dinda!!” suara Adinda penuh amarah.


“Dinda.. sabar Nak.. Bunda dan Ayah sudah tahu semuanya,” Bunda memeluk Adinda sambil mengelus punggungnya.


Tirai disibak dari luar. Seorang pria berjas putih dengan stetoskop tersampir pada kedua bahunya masuk. Agung mengenalinya. Dokter Felix.


“Selamat pagi.. Kita ketemu lagi, Tuan Agung. Bukannya Tuan Agung masih menjadi pasien di VIP 2 ya?”


Agung mengangguk.


“Urgent, Dok. Saya harus meninggalkan rumah sakit sebelum shubuh tadi.”


“Ah ya, saya mengerti. Saya periksa dulu ya..”


Bunda melepaskan pelukannya pada Adinda lalu mundur agar Dokter Felix bisa memeriksa dengan mudah.


“Ma’af Nona Adinda, kita periksa dulu ya..”


Adinda menoleh menatap tajam pada Dokter Felix.


“PERGI! JANGAN SENTUH SAYA!” tubuhnya menjadi kaku. Nafasnya tersengal lagi.


.


***


Get well soon Adinda....